
Hari ini adalah hari pernikahan Putra. Tampak kesibukan terlihat di rumahnya.
"Hari ini aku akan menikah. Tapi sama sekali aku nggak merasakan kebahagiaan. Dan untuk hari ini serta seterusnya, aku harus menjalani kehidupan bersama wanita yang sama sekali tidak aku cintai. Andai aku tidak melakukan kesalahan besar itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi." Gumam Putra di kamarnya.
"Hey Bro!! Calon pengantin kok murung gitu mukanya. happy dong, tersenyum. Masa asem gitu mukannya." Celetuk Anjas. Ia yang kemaren baru sampai dirumah Putra, memutuskan untuk menginap di rumah Putra karena sang tuan Rumah yang memaksa nya.
"Ah, kamu Jas, ngagetin aja!! Aku tuh bukan murung, tapi lagi agak ngantuk aja, belum apa-apa nih badan udah lesu duluan." Ujar Putra berbohong. Selain dirinya dan orang tuanya, ia tidak mau siapapun mengetahui apa yang tengah ia rasakan.
"Hmm... gitu. Wajar sih kalau orang mau nikah suka tiba-tiba jadi insomnia. Udah... nggak apa-apa. Mending kamu cuci muka, atau kalau perlu mandi lagi aja biar lebih fres badannya." Usul Anjas, ia duduk di tepi ranjang temannya itu.
"Udah kok tadi," jawab Putra singkat.
Tak lama, ibu Putra masuk kamar. Beliau memberi tahukan kalau perias pengantin baru datang, dan beliau juga meminta anaknya itu untuk bersiap-siap.
"Kamu nggak usah gugup gitu Put. Rileks aja, biar nggak tegang nanti pas akad. Bisa berabe 'kan misal pas akan kamu salah sebut nama calon istri kamu karena terlalu gugup." Ucap Anjas di sertai kekehan kecil. Putra hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan temannya itu.
"Dasar jomblo sok tau lo!!" Sergah Putra
"Hus... Walaupun jomblo. Aku lebih pengalaman dari kamu lho. Jangan meremehkan seorang Anjas." Sahutnya tak terima dengan sebutan yang Putra sematkan untuk dirinya.
"Iya, percaya deh!! Yaudah sono, kamu keluar duluan. Nanti aku mau siap-siap dulu!" Usir Putra kepada temannya itu.
"Oke... Oke!!" tanpa protes, Anjas langsung keluar dari kamar Putra.
Jam sudah menunjukkan diangka delapan pagi. Semua rombongan telah siap menuju ke rumah mempelai wanita. Putra memakai pakaian pengantin bernuansa putih itu terlihat sangat tampan. Ia berjalan paling depan diapit oleh sang ibu dan juga tantenya yang merupakan Kakak dari ayahnya.
Mobil beiringan melaju perlahan ke tempat tujuan. Kurang lebih ada sepuluh mobil yang ikut dalam iring-iringan itu.
Sementara itu di rumah mempelai wanita.
__ADS_1
"Sandra, kamu cantik banget Sayang. Mama sampai pangling ngeliat kamu." Seru sang Mama ketika menghampiri putrinya yang baru selesai di rias.
Mama Sandra terlihat bahagia, rona wajahnya selalu berseri-seri. Anak semata wayangnya hari ini akan menikah, itu tandanya beliau sebagai Ibu akan melepaskan anak itu untuk diambil alih tanggung jawabnya oleh sang suami nanti. Walaupun sang Mama tahu kalau pernikahan itu terjadi karena sebuah insiden, tapi beliau berusaha menerima semua kenyataan ini. Menyesal dan menyalahkan keadaan tidak akan membuat semuanya kembali ke keadaan semula. Maka, ikhlas menerima adalah jalan terbaik untuk saat ini.
"Ah, Mama. Bisa aja. 'Kan emang dari dulu anak Mama ini selalu cantik. Masa Mama lupa." Sahut Sandra dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Iya, Mama tau. Tapi kali ini cantiknya berkali-kali lipat dari biasanya."
Mereka akhirnya tertawa berdua. Tak lama Papa Sandra datang menghampiri mereka.
"Ma, rombongan keluarga Putra baru saja tiba. Kalian siap-siap ya." Ucap Papa Sandra. Seketika mata Sandra berbinar-binar mendengar hal itu. Sebentar lagi, laki-laki yang sangat ia cintai akan menjadi miliknya.
Kini, semua berada di ruang keluarga yang dihias dengan berbagai macam bunga warna warni, ditengah-tengah ruangan terhampar permadani indah dengan diatasnya terdapat meja untuk prosesi melangsungkan akad nikah.
Putra duduk ditengah-tengah tepat didepan meja yang dihias sangat cantik.
Sementara Ayah dan Ibunya duduk tak jauh dari sang anak, diikuti oleh keluarga baik dari pihak ayah dan juga pihak Ibunya.
"Saya terima nikahnya Atina binti Tio ... Ma-maaf semuanya." Seru Putra, ia menyadari bahwa dirinya salah menyebut nama calon istrinya, mendengar itu Papa Sandra sangat terkejut. Bisa-bisanya calon menantunya itu salah dalam menyebut nama anaknya. Siapa itu Atina? Kenapa Putra menyebut nama itu. Pikir Papa Sandra.
Sementara, Ayah putra menghampiri sang anak.
"Maaf ya pak penghulu, pak Tio dan semuanya. Mungkin Putra terlalu gugup, jadi sampai salah nyebut nama calon istrinya." Seru sang Ayah merasa tidak enak dengan semua orang yang hadir disitu. Lantas ia pun membisikkan sesuatu ke telinga sang anak agar anaknya itu lebih fokus dan jangan sampai salah lagi dalam menyebut nama.
"Baiklah. Kita mulai dari awal lagi ya. Mas Putra tidak perlu gugup, rileks saja. Sekarang, apa bisa kita mulai lagi??" tanya pak penghulu. Putra hanya menganggukkan kepala.
"Saya terima nikahnya Sandra binti Tio dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!" Ucap Putra lantang.
"Sah... sah...!!" para saksi berteriak serentak.
__ADS_1
Wajah Putra terlihat biasa saja. Tak ada raut kebahagiaan yang terpancar, justru malah sebaliknya.
"Bahkan di saat-saat seperti ini, hanya wajah kamu yang nampak, Tin. Aku nggak tahu, apakah rasa cinta untukmu yang terlanjur terukir dihatiku bisa dengan cepat aku hapus??" Batin Putra sedari tadi bergejolak.
Dari kejauhan, Anjas menangkap ada yang tidak beres dengan temannya itu. Kenapa di momen bahagia ini justru Putra terlihat sedih. Apakah ada sesuatu yang terjadi sehingga itu mengganggu pikiran teman semasa kuliahnya itu. Anjas pun bertekad, akan mengorek informasi langsung kepada Putra ketika ada kesempatan.
Tak lama, mempelai wanita keluar. Ia di apit beberapa pengiring menuju tempat di mana sang suami berada.
Sandra duduk tepat disebelah Putra. Cincin kawin putra lingkarkan ke jari manis sang Istri, lantas Sandra menciun tangan suaminya itu dengan takzim.
"Mas, aku tau kamu menikahi aku karena terpaksa. Tapi aku minta sama kamu Mas. Bersikaplah seolah-olah kamu bahagia dengan pernikahan ini. Senyum dan tunjukkan raut wajah bahagia ke semua orang yang hadir. Jangan wajah sedih gitu yang kamu tampakkan. Aku nggak mau orang-orang yang melihat akan berprasangka negatif sama pernikahan ini. Apa kamu paham Mas." Bisik Sandra di sela-sela prosesi pemotretan.
Putra hanya menghela napas panjang. Ia pun melakukan apa yang Sandra perintahkan barusan. Bukan karena ia takut kepada istrinya itu, tapi ia juga membenarkan apa yang barusan Sandra bilang. Kalau sampai orang-orang berprasangka buruk pada pernikahan mereka, dampaknya pasti akan buruk untuk kedua orang tuanya.
"Mbak, kok nikahannya Sandra nggak di gedung yang mewah aja sih, malah milih di rumah kayak gini. Situ 'kan kaya, banyak duit, ngapain nikahin anak semata wayang nggak nyewa gedung mewah aja gitu lho, biar lebih keren dan terlihat wah, gitu. Rekan bisnis suami kamu 'kan bukan dari kalangan bawah. Rata-rata mereka semua pengusaha kelas atas. Apa kamu nggak malu Mbak. Denger-denger Nanti resepsinya juga akan diadain disini juga kah nanti malam?? hmmm... Nggak habis pikir aku sama kamu Mbak. Kok bisa, nikahin anak satu-satunya dengan biasa saja kayak gini. Lagipula mana nikahnya juga mendadak banget gini. Apa jangan-jangan ....??" Komen Reni, dia merupakan sepupu Mama Sandra.
"Nggak usah berprasangka buruk Ren. Aku ngadain di rumah juga karena ada alasannya, dan itu juga berhubungan dengan kerjaan Mas Tio yang nggak memungkinkan kita punya banyak waktu untuk nyiapin pernikahan ini secara besar-besaran. Kamu tau sendiri 'kan, kalau nikah nyewa gedung akan memakan banyak waktu. Makanya, karena untuk mempersingkat waktu, kita milih di rumah saja. Lagipula baik keluargaku dan keluarga suami Sandra setuju-setuju saja kok. Mereka malah mendukung apapun keputusan dari pihak kami. Bagi mereka yang penting tuh kesakralan pernikahan ini bisa terjaga, mau dimanapun tempatnya, nggak jadi soal." Sergah Mama Sandra yang bernama Sinta. Ia langsung memotong ucapan Reni karena dirinya tidak mau ada seseorang yang berpikiran buruk tentang pernikahan anaknya ini. Sebisa mungkin Sinta akan menutupi air keluarganya, ia tidak akan membiarkan satu orangpun ada yang tahu tentang keadaan Sandra yang sebenarnya.
"Hmmm ... beneran nih hanya karena alasan itu Mbak?? bukan karena ada yang kalian tutupi dari kami??" Tanya Reni. Tampaknya ia tidak puas dengan jawaban Sinta tadi. Meskipun agaj gugup, tapi Mama Sandra berusaha menahan kegugupannya itu dihadapan sang sepupu.
"Alasan lain apa maksud kamu. Apa yang tadi aku katakan, ya... Itulah alasannya. Kalau kamu nggak percaya juga nggak masalah sih. Aku nggak rugi juga kok Ren." Sahut Sinta dengan nada bicara penuh penekanan dari tiap kata yang ia ucapkan.
"Biasa aja kali Mbak. Nggak perlu sambil ngegas gitu juga. Aku 'kan cuma tanya." Cetus Reni, ia terlihat kesal dengan Sinta.
Sinta terkekeh sendiri sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kok mbak Sinta malah ketawa sih. Emangnya ada yang lucu. Heran banget deh aku." Reni merasa bingung karena tiba-tiba Sinta tertawa sendiri, padahal menurutnya tidak ada yang perlu di tertawakan.
"Aku heran aja sama kamu Ren. Tadi kamu tanya, bahkan sampai sempat berpikiran negatif hanya karena Sandra, putriku nikahnya diadain di rumah. Aku jawab dong semua yang tadi aku katakan. Eh kamu malah marah, bilangnya aku ngegaslah. Lucu kamu tuh. Udah ah, mending aku ngurusin yang lain. Lama-lama disini yang ada bikin aku darting nanti." Sinta langsung ngeloyor gitu aja meninggalkan Reni sendirian.
__ADS_1
Reni terlihat geram sepeninggal Sinta. Ia hanya bisa menghentakkan kaki ke lantai sembari bibirnya mengerucut. Sungguh pemandangan yang menggelikan.