Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 23 Rencana Pembalasan(POV Sandra)


__ADS_3

Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Mas putra memutuskan pertunangan kami yang sudah berjalan hampir satu tahun lamanya.


"Sandra, aku mau ngomong serius sama kamu." Ucap Mas Putra kala itu ketika kami tengah makan siang bersama di sebuah restoran tak jauh dari tempatku bekerja.


"Mau ngomong apaan Mas, tegang banget gitu mukanya. Santai aja kali Mas?" jawabku masih dengan sedikit candaan agar suasananya tidak begitu tegang.


Mas putra terlihat menarik napas panjang lalu perlahan menghembuskannya. Aku yang kala itu tengah menyeruput jus, seketika langsung berhenti dan masih menyisakan separuh jus dalam gelas.


"Ada apa sih Mas, katanya mau ngomongin hal yang serius. Kok malah diam gitu?ada apa, kenapa? ayo ngomong," desakku pada Mas Putra. Karena sedari tadi ia terlihat diam seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Mas ... M-Mas mau mengakhiri hubungan pertunangan kita San." Jawab Mas Putra lantang.


Sontak aku kaget, tak percaya dengan apa yang baru ku dengar dari mulut Mas Putra.


"Ma-maksud kamu apa Mas? kamu mau mutusin aku? kenapa, apa alasan kamu tiba-tiba mau mutusin aku kayak gini, salahku apa??" Tanyaku mencecar Mas putra dengan bermacam pertanyaan.


"Aku nggak bisa lanjutin hubungan ini Sandra. Kamu nggak ada salah apapun. Tapi, aku yang salah, karena sampai saat ini aku belum bisa mencintai kamu San. Jadi, lebih baik hubungan ini mending kita akhiri saja sampai disini. Aku akan bilang sama kedua orang tua kita nanti," ucap Mas Putra membuat hatiku terasa nyeri, sakit sekali.


Memang, hubungan ini terjalin karena perjodohan dari kedua orang tua kami. Ayahku dan Ayah Mas Putra adalah sahabat dari dulu. Ayah Mas Putra sendiri yang memberikan usul untuk menjodohkan kami. Jelas, mendapat tawaran seperti itu, Ayahku sangat setuju. Beliau tidak pernah memberi tahu akan rencana ini. Awalnya aku menolak, tapi setelah bertemu dengan Mas Putra dan bagaimana cara Mas Putra memperlakukan aku, akhirnya akupun menyetujui perjodohan itu.


Selama hampir 1 tahun ini, hubungan kami baik-baik saja. Mas Putra selalu bersikap manis dihadapanku, ia sama sekali tidak pernah menyakitiku. Kita berhubungan layaknya seperti pasangan lain pada umumnya. Tapi, satu hal yang tidak pernah ia ucapkan kepadaku, kata-kata cinta. Ya ... kata-kata itulah yang selama ini belum pernah ia ucapkan padaku. Pernah aku tanya padanya, apakah ia mencintaiku? Ia hanya bilang semuanya butuh proses. Selalu itu yang keluar dari mulutnya.


"Mas, jangan putusin aku Mas, aku mohon. Aku mencintai kamu Mas. Aku sayang sama kamu. Aku janji akan berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku Mas, kasih aku waktu lagi ya?kita jangan putus ya, Mas." Ibaku sembari terus memegang tangan Mas Putra. Perlahan Mas Putra melepaskan tanganku.


"Sekali lagi Mas minta maaf San, Mas benar-benar nggak bisa ngelanjutin hubungan ini. Kamu berhak mendapatkan laki-laki lain yang benar-benar bisa mencintaimu Sandra. Dan laki-laki itu bukan Aku. Aku harap kamu mau menerima keputusanku San. Aku minta maaf." Mas Putra tetap kekeh dengan keputusannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa Mas, kenapa baru sekarang kamu seperti ini sama aku. Disaat aku sudah bisa mencintai kamu, kamu malah hancurkan semua harapanku ini. Kamu hancurkan hati dan perasaanku seperti ini Mas. Kamu jahat Mas, aku nggak nyangka kamu akan berbuat seperti ini. Aku kira semua kebaikanmu, semua perhatianmu padaku karena kamu sudah bisa menerima aku di hati kamu. Tapi apa, nyatanya itu hanya kedok 'kan. Selama ini kamu baik karena pura-pura 'kan?" Ku keluarkan semua kekesalan ini kepada Mas Putra. Aku merasa dipermainkan. Kalau memang ia tidak mau menerimaku, kenapa dulu tidak ia tolak saja perjodohan itu. Aku yakin sekali, bukan hanya itu alasan Mas Putra mutusin aku. Pasti karena ada wanita lain yang membuat Mas Putra akhirnya lebih memilih memutuskan pertunangan ini.


Aku lantas pergi dari hadapan Mas Putra. Tidak sanggup rasanya terus berada di dekat orang yang sudah menyakiti hatiku.


Sejak kejadian itu, hubungan Ayahku dan Ayah Mas Putra mulai merenggang. Entah sampai kapan mereka akan saling bermusuhan seperti saat ini, aku tak terlalu pedulikan akan hal itu.


...****************...


Malam itu teman-teman kerja mengajakku makan di salah satu restoran seafood yang cukup terkenal di kota kami. Sebenarnya aku malas dan enggan untuk ikut. Tapi, aku juga tidak enak kalau mau menolak ajakan mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Kita berangkat pukul 7 malam, aku memilih untuk berangkat menaiki mobil Ayah. Sesampainya di sana, kulihat teman-temanku telah sampai lebih dulu.


"Sandra ... sini!!" Panggil salah satu temanku yang bernama Ica, ia melambaikan tangannya ketika melihatku baru sampai.


"Hai, udah dari tadi?" tanyaku basa basi.


"Nggak, baru saja sampai beberapa menit. Ayo sini duduk san." Ica menarik kursi disebelahnya dan mempersilahkan aku duduk di dekatnya.


"Mas Putra ... siapa wanita yang bersama Mas Putra itu?" gumamku dilanda penasaran.


Akhirnya, aku memberanikan diri menghampiri mereka. Kulangkahkan kaki ini dengan dilanda emosi. Ternyata ini alasan Mas Putra memutuskanku.


"Owh, jadi wanita ini Mas yang membuat kamu tiba-tiba mutusin aku?" Kusapa mereka dengan senyum seringai. Mereka terlihat kaget memandang ke arahku. Aku hanya menatap tajam keduanya.


"Sandra ... Kenapa kamu ada disini?" tanya Mas Putra.


"Kenapa mas, kamu takut aku ada disini. Jadi, karena wanita jal*ng itu yang membuat kamu mutusin aku Mas?" tanyaku dengan penuh emosi.

__ADS_1


Tiba-tiba wanita yang bersama Mas Putra berdiri.


"Jaga ya ucapan kamu. Datang-datang nggak permisi nggak apa, main marah-marah dan ngatain aku jal*ng. Maksud kamu apa haah!!!" Wah berani juga wanita itu, kelihatannya saja lugu,ternyata bar-bar juga.


"Sebutan itu emang pantas buat loe, wanita jal*ng nggak tau diri!!" bentakku seketika membuat wanita itu tampak geram.


"Cukup San, hentikan!! kamu nggak pantas menyebut Atina seperti itu. Dia bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan!" bela Mas Putra membuat aku ingin sekali tepuk tangan. Owh .. Jadi,namanya Atina. Oke... Aku catat nama itu dalam daftar hitam di pikiranku.


Prook ... Prook ...


"Hebat, hebat ... belain aja selingkuhanmu itu Mas. Heh wanita jala*ng, loe senang 'kan di belain sama Mas Putra. Tapi, loe jangan bahagia dulu. Gue akan buat perhitungan sama kalian. Karena kalian sudah menghancurkan hiduo gue. Awas aja loe, tunggu pembalasan dariku," kudorong wanita dihadapanku itu dengan sekuat tenaga, lantas aku pergi dari hadapan mereka.


Sampai di mobil, aku benar-benar emosi. Kupukul setir mobil berkali-kali meluapkan emosi yang menguasai diriku. Kurang ajar, mereka membuat aku jadi seperti orang tidak waras. Akan kubuat perhitungan sama mereka, terutama pada wanita tadi. Kupacu mobil meninggalkan parkiran. Dalam benak yang kupikirkan, gimana caranya membalas perbuatan Mas Putra dan selingkuhannya itu. Akan ku buat mereka menderita seperti apa yang aku rasakan. Tunggu saja pembalasan dariku. Aku menepikan mobil sesaat. Menghubungi salah satu teman laki-lakiku yang bernama Aditya.


"Hallo Dit, kamu sibuk nggak? aku ada kerjaan buat kamu. Kamu mau nggak?" tanyaku ketika sambungan telepon terhubung dengan Aditya.


"eh, elo San, pekerjaan apa nih. Boleh aja asal bayarannya sesuai," jawab Adit dari seberang sambungan telepon.


"Kamu tenang saja, tugas kamu hanya memata-matai mantan tunanganku. Dan cari tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan mantan tunanganku itu. Apapun itu, kamu laporin semua ke aku. gimana, apa kamu sanggup?" tanyaku.


"oh, oke-oke, beres. Gampang itu ... Kamu nanti sharelok aja alamat mantan tunanganmu itu."


"Oke, nanti aku kirim lewat chat aja alamatnya. Sekalian minta nomor rekening kamu, aku DP 1 juta dulu, kalau kerjaan kamu udah beres, aku bayar kekurangannya."


"Oke... yaudah gue matiin dulu teleponnya. Nanti gue kirimin nomor rekening gue ke elo San, bay!!"

__ADS_1


Akhirnya, sebentar lagi aku akan tau siapa wanita yang tadi bersama Mas Putra. Kalau sudah tahu, aku akan buat perhitungan pada wanita itu.


__ADS_2