Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 83


__ADS_3

"Heh, mau lari kemana kamu!!" teriak Rama dengan merintih kesakitan. Ia setengah menundukkan kepala dengan tangan memegang benda pusaka nya yang tadi sempat kena tendang Atina.


Atina terus berlari dengan selimut masih melilit di tubuh polos nya. Ia tak memperdulikan keadaannya saat ini. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya kabur dari laki-laki yang hendak memperkos* nya. Walaupun ia tahu bahwa saat ini dirinya sudah bukan lagi perawan. Tapi tetap saja ketika dalam keadaan sadar tanpa pengaruh obat ia tak akan sudi saat laki-laki itu mau menggagahi nya lagi. Atina Lari tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ketika sudah sampai dekat pintu keluar, tangan Atina langsung menarik gagang pintu dan syukur nya pintu itu dalam keadaan tak terkunci. Ada perasaan lega yang seketika menghampiri dirinya. Tanpa membuang waktu, Atina berlari sekencang mungkin menjauh dari rumah terkutuk itu.


Ia berlari tak tentu arah dan tujuan. ketika sudah agak menjauh dari rumah itu, Atina menghentikan langkah nya sesaat. Ia pandangi sekitar. Tak ada satu orang pun yang nampak. Bahkan jarak antara rumah satu dengan yang lain agak berjauhan.


"Ya Allah... Bagaimana ini. Tak ada satu orang pun yang bisa aku mintai pertolongan. Aku harus bagaimana sekarang. Aku nggak mau kalau laki-laki itu kembali membawa ku masuk ke rumah itu," gumam Atina tampak ketakutan dan juga bingung.


"Dimana kamu, hah! Mau pergi kemana kamu. Jangan macam-macam sama aku ya. Aku akan menyebarkan video kita ke media sosial biar kamu tahu rasa!!" dari arah belakang, teriakan laki-laki bernama Rama langsung tertangkap indera pendengaran Atina. jarak antara dirinya dengan laki-laki itu cukup dekat. Beruntung Atina berada di balik pohon yang lumayan lebat sehingga keberadaannya tak di ketahui oleh Rama. Tapi meskipun begitu, perasaan takut yang luar biasa kembali Atina rasakan. Ia tak tahu apa jadinya nanti kalau sampai Rama bisa menangkap dan membawanya kembali masuk ke rumah itu.

__ADS_1


Atina mengintip sejenak keberadaan laki-laki itu. Aman, laki-laki bernama Rama sepertinya mengarah ke arah lain. Jadi, detik itu juga ia bisa kembali berlari menyusuri jalan berharap ia bertemu dengan seseorang yang mungkin bisa membantunya untuk keluar dari perumahan itu.


Penampilan Atina yang kacau tak membuat dirinya mundur untuk tetap berlari. Ketika ia tengah berada di tepi jalan yang menuju keluar perumahan sepi itu, mendadak dari kejauhan ia melihat sebuah mobil mendekat ke arah dimana Atina berada. Tanpa menyia-nyiakan waktu. Ia pun berlari mendekat ke arah mobil itu. Ia melambaikan tangan beberapa kali ke arah pengemudi mobil. Berharap orang yang ada di dalam mobil tersebut mau menghentikan laju mobilnya. Tak di sangka, mobil itu berhenti tepat di samping Atina berdiri. Tak lama muncul seorang laki-laki yang tinggi dan tampan dari balik pintu mobil yang terbuka. Mata Atina melotot seketika ketika ia tahu siapa laki-laki itu. Mendadak perasaan malu yang amat sangat menghampiri raga nya. Tapi tak ada pilihan lain. Ia harus meminta tolong kepada siapa lagi kalau bukan kepada laki-laki pengemudi mobil dihadapannya saat ini.


"Atina!! Benarkah ini kamu?" teriak laki-laki itu. Ia berjalan mendekat ke arah Atina yang berdiri mematung dengan selimut membungkus seluruh tubuh dan juga menutupi sampai ke rambutnya. "Apa yang terjadi, Tin. Kenapa keadaan kamu seperti ini. Dan kenapa kamu ada di sini? Kamu tahu nggak, semua orang mencari kamu. Kamu kemana saja?" pertanyaan yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat Atina bungkam. Ia seakan mendadak kaku, mulutnya sangat sulit untuk ia gerakkan.


Setelah berada di dalam mobil, kembali laki-laki itu bertanya kepadanya.


"Sekarang cerita sama aku, Tin. Apa yang terjadi. Ini kenapa penampilan kamu kayak gini? Apa kamu mengalami sesuatu yang buruk kah? Bilang sama aku, Tin. Jangan diam saja agar aku bisa menolong kamu," ucap laki-laki itu berusaha untuk membuat Atina berterus terang. mendadak Atina menangis, ia sangat terpukul dan juga hancur dengan nasib yang menimpanya. Hidupnya sekarang sudah hancur, kehormatan sebagai seorang wanita sudah terkoyak. Dan ia tak tahu apakah nanti kedepannya ia akan bisa melanjutkan hidup seperti sedia kala. "Hey, kenapa kamu malah nangis. Ada apa? Tolong katakan sesuatu, Tin? Jangan membuat aku khawatir," bujuk laki-laki itu dengan suara selembut mungkin agar Atina mau terbuka kepadanya.

__ADS_1


Atina berusaha menghentikan tangisan nya. Perlahan ia mendongakkan wajah menatap ke arah laki-laki yang berada di depannya. Dengan menghela napas panjang, ia pun berusaha untuk membuka mulut nya.


"Mas Putra. Tolong bawa aku pergi dari sini sekarang juga. Aku takut laki-laki itu akan menemukan keberadaan ku saat ini. Laki-laki brengsek itu yang selama beberapa hari ini mengurung aku di sebuah rumah yang tak jauh dari sini. Tolong Mas, pergi dari sini sekarang!!" desak Atina dengan suara yang agak serak.


"Baiklah, Tin. Sebaiknya aku akan mengantar kamu kembali ke rumahmu ya. Kedua orang tua kamu pasti bahagia karena kamu sudah kete...."


"Nggak Mas!! Jangan bawa aku ke rumah. Aku nggak mau Mas. Bawa aku kemana saja asal jangan kembali ke rumah. Aku mohon sama kamu, Mas!!" sela Atina langsung memotong ucapan Putra. Ia tanpa sadar berteriak dihadapan Putra dengan raut wajah ketakutan. Melihat hal itu, tentu saja membuat Putra bertanya-tanya. Apakah yang di alami Atina hingga wanita itu tampak sangat kacau bahkan ia juga tampak ketakutan. Tapi karena kasihan. Putra pun mengiyakan permintaan wanita itu. Ia langsung melajukan mobil menuju ke apartemen miliknya yang saat ini kebetulan kosong setelah beberapa hari yang lalu di tinggalkan oleh penyewa karena masa sewa sudah selesai.


"Kamu tenang ya, Tin. Aku akan membawa kamu ke tempat yang aman yang tidak akan ada seorang pun tahu keberadaan kamu. Tapi satu hal yang aku minta, kamu mau kan menceritakan semua yang kamu alami agar aku bisa tahu harus berbuat apa untuk menolong kamu. Kamu tenang saja. Aku tidak akan memberi tahu kepada siapapun tentang apa yang kamu ceritakan dan juga tentang keberadaan kamu kalau kamu tak mengizinkan," ucap Putra dengan lembut agar Atina merasa nyaman berada bersama dengannya. Jujur, pertemuannya yang tak disengaja dengan Atina membuat Putra merasa sangat bahagia tapi sekaligus sedih. Bagaimana tidak sedih, wanita yang sangat ia cintai itu terlihat tampak kacau penampilannya. Bayangkan saja, saat ini wanita itu menutupi seluruh tubuhnya dengan kain selimut. Entah apa yang ia sembunyikan di balik selimut itu. Apa mungkin tubuhnya penuh dengan luka akibat ulah bajingan yang sudah menyekapnya, ataukah karena ada hal lain yang Atina sembunyikan. Amarah dalam diri Putra bergejolak melihat tangisan wanita di sampingnya. Hati Putra seakan tersayat melihat tetes demi tetes air mata yang jatuh membasahi pipi wanita di sampingnya. Kalau saja saat ini dia tak ingat statusnya yang merupakan suami dari wanita lain. Mungkin saja detik ini pula ia akan membawa Atina ke dalam dekapannya. Membiarkan wanita terkasihnya menumpahkan semua beban yang ia pikul saat ini. Ah... Tapi semua itu mustahil ia lakukan meskipun hatinya sangat ingin untuk melakukan itu.

__ADS_1


__ADS_2