
Setelah beberapa hari persiapan. Hari ini merupakan hari kepindahan Putra dan Sandra ke rumah mereka sendiri. Selain sang mertua, kedua orang tua Putra juga ikut mengantar.
Selang beberapa menit, rombongan itu sampai di depan rumah yang halamannya cukup luas dengan di tanami berbagai macam tanaman bunga dan juga berbagai jenis tanaman hias lain dalam pot kecil yang berjejer rapi.
Sementara bangunan rumah itu sangat enak di pandang. Perpaduan warna cat yang serasi antara dinding dan pintu membuat rumah baru yang Putra beli itu tampak elegan dan berkesan mahal.
"Rumahnya cantik banget, Nak. Kamu pintar banget milih nya. Halamannya juga lumayan luas, apalagi banyak tanamannya. Pasti bikin betah kalau tinggal disini," celetuk Ibu Putra menatap takjub ke arah bangunan fi depan nya.
"Iya, betul banget. Ternyata menantu ku ini selera nya bagus banget," imbuh Mama Sandra yang sama-sama kagum dengan pilihan rumah yang Putra beli.
Sementara yang lain hanya fokus melihat setiap sudut bangunan itu tanpa memberi komentar.
"Mas, rumah ini apa sudah kamu bayar lunas??" bisik Sandra kepada sang suami. Tidak tau kenapa, ia tiba-tiba ingin menanyakan itu kepada Putra.
"Sudah. Memang nya kenapa? Kok kamu tanya nya gitu??" Putra balik bertanya.
"Ah, nggak... Nggak apa-apa. Cuma pengen tau aja. Nggak masalah 'kan??"
"Iya, terserah kamu mau tanya apa saja, aku nggak akan ngelarang."
"Selamat datang Mas, Mbak..." ucap seorang wanita yang berumur kira-kira lima puluh tahunan.
Beliau ini asisten rumah tangga yang sengaja Putra pilih untuk membantu mengurus rumah sekaligus menemani Sandra ketika dirinya berangkat kerja.
"Dia siapa, Mas??" tanya Sandra menatap wanita di hadapan nya.
"Beliau ini yang akan kerja bantu-bantu disini, san. Beliau bernama bu Santi." Jawab Putra memperkenalkan bu Santi kepada Sandra.
"Perkenalkan... nama saya Santi, mbak," wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Sandra.
"Saya Sandra, Bu," sahut Sandra menjabat uluran tangan bu Santi.
"Mari masuk, Mbak Sandra. Semua ruangan sudah saya bersihkan. Termasuk kamar Mbak Sandra dan Mas Putra," ujar bu Santi mencoba meraih tas milik majikannya itu.
__ADS_1
"Bu, biar tas nya saya saja yang bawa. Ibu tolong siapkan saja minuman dan camilan untuk orang tua kami, Bu," cegah Putra.
"Owh, begitu. Baik, Mas. Saya akan siapkan semuanya saat ini juga. kalau begitu, saya pamit ke dapur dulu Mas. Mari... Mbak Sandra!!" seru bu Santi meninggalkan majikannya menuju dapur. Sandra hanya mengangguk pelan membiarkan bu Santi melakukan tugasnya.
"Kamu duduk dulu, San. Mas mau taruh semua barang ini ke kamar." perintah Putra. Lantas ia berjalan menuju kamar pribadinya dengan membawa dua koper besar di tangan kanan dan tangan kirinya.
Sandra duduk di sofa ruang tengah. Yang mana sebelah kanan terdapat televisi berukuran besar. Semua perabotan sudah sangat lengkap. Ternyata suaminya itu sudah mempersiapkan keseluruhan sehingga dirinya hanya perlu duduk manis tanpa harus memikirkan ini dan itu.
Sementara itu, kedua orang tua Sandra dan kedua orang tua Putra tengah mengelilingi tiap sudut rumah sang anak. Mereka tampak kompak berjalan bersama dengan sesekali di iringi tawa yang entah apa penyebabnya sehingga mereka tampak tertawa begitu lepas tanpa beban.
"Mbak Sandra, ini minumannya dan juga camilan buat Mbak Sandra dan juga keluarga. Ini mau di taruh disini apa di ruang tamu saja, Mbak??" Bu Santi mendadak muncul dari arah belakang. Kedua tangannya memegang nampam yang berisi minuman dan juga beberapa camilan kering dalam toples mini.
"Letakkan di sini saja, Bu Santi," sahutnya dengan tangan menunjuk ke arah meja yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Iya, Mbak."
Semua minuman dan camilan diletakkan diatas meja, semua disusun dengan rapi oleh tangan cekatan bu Santi.
"Silahkan di minum ya, Mbak Sandra. Ibu pamit balik lagi ke dapur. Mau nerusin ngerjain yang lain," pamit bu Santi dengan sopan.
"Iya, sama-sama Mbak Sandra."
Ketika tengah asik menikmati hidangan dari Bu Santi. Tiba-tiba dari luar terdengar rame suara orang tengah bercakap-cakap. Sepertinya itu adalah suara kedua orang tua Sandra dan Putra.
Mama Sandra muncul paling awal, diikuti Mama Putra dan juga kedua Papa mereka.
"Wah... Kebetulan banget udah disiapin minuman dan juga camilan. Tau aja kalau kami lagi kehausan," celetuk mama Sandra. "Ini kamu semua yang bikin, San??" tanya sang Mama sembari mengambil segelas minuman yang langsung beliau minum sampai habis. Tampak sekali kalau beliau ini memang sudah sangat kehausan.
"Bukan kok, Ma. Tadi Bu Santi yang bikin," jawab Sandra.
"Bu Santi siapa??" tanya sang Mama dan juga sang Mertua secara serentak. Hingga tawa keduanya pecah seketika. Mereka merasa lucu karena bisa kompak bertanya seperti itu.
"Bu Santi itu ART di sini, Ma. Mas Putra sendiri yang mempekerjakan beliau."
__ADS_1
"Putra kok nggak bilang sama Mama kalau mau mempekerjakan seseorang disini sih!!" Cetus Mama Vita yang merupakan mertua dari seorang Sandra. Beliau tampak terkejut.
"Aku juga baru tau hari ini, Ma," imbuh Sandra sejalan dengan sang mertua. Putra memang sengaja tidak memberitahu siapapun kalau mau mempekerjakan Bu Santi. Karena bagi Putra, hal itu bukanlah sesuatu yang penting yang harus ia bicarakan dengan keluarga besarnya.
"Udah, nggak usah di permasalah'kan. Itu tandanya, Putra benar-benar sudah matang mempersiapkan semuanya untuk kenyamanan Sandra. Bukankah itu yang lebih penting??" seru papa Vito.
"Putra mana, San??" tanya ayah Hadi yang merupakan ayah Putra.
"Lagi di kamar, Yah. Lagi beresin barang-barang bawaan Sandra dan juga mas Putra."
"Yaudah, ayah mau samperin Putra ke kamarnya dulu," setelah meminta izin pada semua orang yang ada disitu, ayah Hadi langsung berjalan menuju kamar sang anak.
Karena pintu kamar tak tertutup sempurna, membuat ayah Hadi langsung masuk ke dalam.
Ayah Hadi melihat sang anak tengah duduk di tepi ranjang sembari melihat ke arah layar ponselnya. Mungkin saking fokusnya sampai-sampai Putra tak menyadari kedatangan sang ayah.
"Put!!" seketika Putra langsung kaget. Saking kagetnya, sampai-sampai ponselnya jatuh ke lantai. Untung ponselnya itu sudah dipasang temperadgllass dan juga cover pengaman sehingga meskipun terjatuh cukup keras tak membuat ponsel itu rusak.
Melihat itu, ayah Hadi langsung refleks mengambil ponsel milik sang anak. Dan betapa terkrjutnya beliau ketika melihat layar di ponsel milik Putra. Disitu terpampang foto seorang wanita muda mengenakan hijab dengan pose tersenyum sehingga memperlihatkan deretan giginya yang sangat rapi.
"A-ayah!!" panggil Putra dengan ekspresi gugup. Ia terus menatap sang Ayah yang sejak tadi hanya diam sembari menatap ponsel miliknya.
"Siapa wanita ini??" tanya sang ayah dengan mimik wajah serius. "Kenapa kamu dari tadi terus memandang foto wanita ini, Put. Dia siapa? Ada hubungan apa kamu sama wanita dalam foto ini??" dengan mengarahkan ponsel itu ke wajah sang anak, beliau bertanya dengan nada tegas.
"I-itu bukan siapa-siapa, Yah. Cuma teman biasa. Dulu pernah mengajar di sekolah yang sama dengan tempat aku mengajar, Yah," sahut Putra lirih, dia tak berani menatap mata sang ayah.
"Kamu yakin hanya sekedar teman?? Nggak ada yang kamu tutup-tutupi dari Ayah, Put. Jangan bohong sama Ayah, Ingat Putra, kamu itu sudah punya Istri dan istri kamu juga lagi hamil. Ingat itu! Jadi ayah harap kamu tidak melakukan hal-hal buruk yang akan menghancurkan rumah tangga kamu yang baru seumur jagung ini. Apa kamu paham!!" tegas ayah Hadi.
Putra menunduk, ia sama sekali tak tau harus bagaimana. Tadi ketika dirinya baru saja selesai meletakkan koper di dalam kamar, entah mengapa mendadak dirinya sangat merindukan Atina, wanita yang selama ini diam-diam ia cintai. Wajah wanita itu seolah seperti magnet dalam ingatan nya. Semakin berusaha ingatan itu diusir, semakin melekat pula ingatan tentang Atina dalam pikiran seorang Putra.
"Kenapa kamu diam?? Apa ada yang mau kamu jelaskan sama Ayah??" ucapan ayah Hadi seketika membuat kepala Putra mendongak, mengarahkan pandangan matanya kepada laki-laki paruh baya yang berdiri tepat di hadapan dirinya. "Kalau ada yang mau kamu katakan pada Ayah, katakanlah. Ayah akan mendengarkan dengan baik. Siapa tahu dengan kamu mau cerita sama ayah, semua masalah yang sedang kamu alami bisa menemukan jalan keluar," seru Ayah Hadi mencoba membujuk sang anak untuk mau terbuka kepada beliau.
Putra tampak menghela napas panjang. Ia berusaha menata hati dan mentalnya di hadapan sang ayah.
__ADS_1
"Wanita itu adalah orang yang Putra Cintai dari dulu, Yah. Putra jatuh cinta pada dia ketika Putra baru beberapa bulan mengajar di sekolah yang sama dengan wanita itu. Awalnya, Putra berniat untuk melamar wanita itu karena Putra yakin sudah mantap untuk menjadikan dia pendamping Hidup. Hingga akhirnya, semua keinginan itu hancur lebur ketika aku tak sengaja melakukan perbuatan hina dengan meniduri Sandra hingga hamil. Dan aku sangat menyesal akan hal itu, Yah. Aku sangat membenci diriku sendiri yang tak bisa menjaga diri sampai terjerumus melakukan perbuatan zina dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai bahkan sampai detik ini pun rasa cinta itu seolah enggan hadir untuk nya. Jujur, meskipun aku sudah menikahi Sandra, tapi sampai detik ini hatiku masih milik Atina, Yah. Aku sama sekali nggak bisa melupakan wanita itu. Dia wanita pertama yang mampu membuat aku jatuh cinta, Yah. Dialah yang menjadi semangat ku untuk tetap kuat menjalani semua cobaan yang menimpa hidupku saat ini, Yah. Apa menurut Ayah perasaanku ini salah?? Aku hanya berusaha jujur dengan diriku sendiri. Hanya ini yang membuat aku bisa tetap kuat berdiri dalam menjalani kehidupan yang sama sekali tidak aku harapkan!!" Dengan mata berkaca-kaca, Putra mengeluarkan semua perasaan yang selama ini dia simpan dalam hati. Perasaan yang mampu membuatnya kuat sekaligus membuatnya lemah. Rasa cintanya kepada Atina yang semakin hari semakin bertambah membuat dirinya seperti hidup dalam dua dimensi. Kadang pada satu kesempatan, Putra sendiri tak menyadari tengah berdiri di dimensi yang mana saat ini.