Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 38 Temani Aku


__ADS_3

Sebenarnya Atina berusaha untuk bersikap biasa saja ketika melihat Melvin tengah berpelukan dengan Alana. Tapi, entah kenapa hati kecilnya tidak bisa ia bohongi. Perasaan cemburu memicu rasa tidak nyaman dalam dirinya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak seakan menggigit sebagian kecil perasaan dalam hati.


Tanpa di sadari, setetes air bening membasapi pipinya tanpa ia pinta. Dengan langkah lemah ia kembali ke ruang Guru guna mengambil tas yang masih tertinggal disana. Beruntung, sebagian Guru sudah pulang sehingga mereka tidak akan tahu kesedihan yang tengah ia rasakan. Tas sudah berhasil Atina ambil. Dengan cepat ia berbalik badan untuk segera keluar menuju tempat di mana motornya terparkir. Namun tiba-tiba tubuhnya seakan menabrak seseorang.


Bruuk... tubuh Atina yang tak seimbang hampir saja membuat dirinya tumbang. Mendadak sebuah lengan kokoh menahan tubuh Atina dengan begitu lembut sehingga tubuh itu tak sampai menyentuh lantai.


"Mas Putra!!" Teriak Atina ketika ia menoleh ke arah pemilik tangan yang telah menyelamatkan dirinya. Buru-buru ia melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu.


"Kamu nggak apa-apa Tin??" Tanya Putra Lembut, matanya menatap lekat ke arah Atina. Buru-buru Atina menghapus air mata yang sedari tadi tak henti mengalir.


"A-aku, e-enggak apa-apa Mas." Jawab Atina, mendadak dirinya gugup mendapat tatapan yang begitu dalam dari laki-laki dihadapannya.


"Kamu habis nangis?? kamu kenapa. Apa yang terjadi sama kamu hingga membuat kamu menangis gitu?? Kamu lagi ada masalah, Tin??" Seketika Putra terlihat khawatir mendapati wanita yang sangat ia sayangi tengah bersedih.


"Aku nggak apa-apa kok Mas. Tadi cuma kelilipan aja mataku, makanya jadi berair gini. Yaudah, aku pulang dulu ya Mas." Atina hendak beranjak pergi dari hadapan Putra. Ia berusaha menutupi kesedihan itu dari Putra. Namun baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Putra.


"Tin, jangan bohong sama aku. Tadi kamu nangis 'kan? Ada apa, cerita sama aku. Apa ada yang nyakitin kamu. Kalau ada, kamu bilang sama aku. Apa ... ini ada hubungannya dengan Sandra?? Jawab jujur Tin. Aku mau tau, aku nggak suka melihat kamu bersedih seperti ini." Ungkap Putra dengan tatapan sendu menatap Atina. Seketika Atina nampak terkejut dengan rentetan pertanyaan dari laki-laki dihadapannya kini.


"Ada apa dengan Mas Putra. Kenapa tiba-tiba ia seakan khawatir gitu sama aku. Padahal kemaren sikapnya sangat dingin sama aku. Kenapa hari ini mendadak jadi perhatian gini. Ah... sikap kamu sangat membingungkan Mas." Batin Atina.


"Aku nggak apa-apa Mas. Tadi 'kan aku udah jelasin sama kamu. Aku nggak bohong lho. Jadi, Mas nggak perlu bersikap gini sama aku. Lagipula ini juga nggak ada hubungannya dengan Sandra. Semenjak kejadian seminggu yang lalu, wanita itu tidak pernah mengusik hidupku lagi kok Mas." Sahut Atina mantap, ia berusaha menutupi kesedihannya agar Putra tak lagi bertanya.


" Ya sudah, kalau kamu nggak mau cerita. Aku nggak akan maksa. Kamu hati-hati di jalan kalau mau pulang, Tin." Pesan Putra. Laki-laki itu akhirnya menyerah, ia tak lagi memaksa Atina untuk berbicara jujur.


Atina hanya menganggukkan kepala. Bergegas ia keluar dari ruangan itu.


Putra menatap kepergian Atina tanpa berkedip.


"Kenapa kamu nggak mau cerita sama aku Tin. Apa yang membuatmu sampai menangis seperti itu. Aku dari tadi lihat kamu tengah menangis di ruangan ini. Aku sudah lihat semuanya sebelum akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke sini. Kamu tau Tin, hatiku sakit melihat kesedihan kamu. Aku nggak sanggup jika mengetahui kamu sedang bersedih seperti ini." Gumam Putra, matanya menerawang dengan pandangan mengarah ke luar ruangan. Dari kemaren ia bertekad akan bersikap dingin kepada wanita itu agar ia perlahan bisa mulai melupakan Atina dan membuang semua perasaan yang ia pendam kepada Atina. Ia sadar, dirinya bukanlah laki-laki yang baik untuk wanita sebaik Atina. Tapi melihat wanita itu menangis, rasa tak tega lebih mendominasi dalam diri Putra. ia tak bisa acuh begitu saja melihat orang yang ia sayangi tengah dirundung kesedihan.

__ADS_1


Putra memutuskan untuk mengejar Atina. Ia tidak akan membiarkan wanita itu pulang sendirian, sementara ia tahu, Atina sedang tidak baik-baik saja.


Sesampainya di halaman sekolah, Putra tak mendapati Atina di parkiran motor. Putra pun bergegas menaiki motornya. Ia melaju guna mencari keberadaan Atina. Putra yakin, Atina pasti belum terlalu jauh.


...****************...


Dengan perasaan tak karuan Atina melajukan motornya menyusuri jalan pulang. Ketika ia melewati tempat dimana Melvin dan Alana berpelukan, disitu sudah kosong. Baik Melvin maupun wanita itu sudah tidak ada ditempat tadi.


"Bahkan ketika kamu mau pergi pun nggak pamitan dulu sama aku Mas. Apa kamu pergi sama wanita tadi Mas. Sehingga kamu lupa, kalau aku masih ada disini. Kamu pasti sekarang lagi jalan 'kan sama wanita itu. Apa kamu berniat untuk kembali sama dia Mas??" Gumam Atina, ia nampak sangat galau memikirkan tentang kedekatan Melvin dengan mantan istrinya. Pikiran-pikiran negatif terus berseliweran dalam benak Atina. Apalagi sejak kejadian tadi, Melvin sama sekali tidak menghubungi dirinya meskipun hanya sekedar chat whatsapp.


Tak mau pulang dalam keadaan hati yang kacau, Atina memutuskan untuk pergi ke warung bakso langganannya. Makan semangkuk bakso dengan sambal yang banyak pasti akan membuat mood nya kembali membaik.


"Bang, baksonya satu mangkok ya. Sekalian sama es jeruk peras juga. mienya pake so'un aja." Ucap Atina ketika ia baru saja memasuki warung bakso Bang Somad. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi tertata rapi dan sangat bersih. Atina memilih duduk di bangku paling pojok tak jauh dari jendela kaca. Sehingga sembari makan bakso, ia bisa memandang ke arah jalan raya yang dilewati lalu lalang kendaraan.


Hanya butuh waktu 10 menit, bakso dan minuman yang ia pesan tadi telah terhidang di mejanya.


Atina menyiramkan sambal sebanyak empat sendok makan, disusul dengan saos dan juga sedikit kecap. Dengan mengucap Bismillah, perlahan ia mulai menyantap bakso itu. Sensasi panas, pedas dan juga gurih seketika menyatu dalam indra perasanya. Atina terlihat begitu menikmati semangkok bakso itu. Baru beberapa suap ia menyantap baksonya, tiba-tiba kursi didepan tempatnya duduk bergeser, tak lama duduklah seorang laki-laki tepat di depan Atina.


"Loh, Mas Putra!! kamu kok ada disini. Mas Putra ngikutin aku ya!!" Pekik Atina membulatkan matanya menatap laki-laki yang tiba-tiba tanpa permisi duduk ditempat yang sama dengan dirinya.


"Nggaklah, aku kesini karena pengen makan bakso juga kok. Pas masuk warung, tidak sengaja ngeliat kamu lagi makan sendirian. Yaudah aku samperin aja kesini. Nggak apa-apa 'kan kalau aku ikut duduk disini sama kamu, Tin??" Sahut Putra dengan ekspresi santai.


"Yakin, Mas ada disini karena emang sengaja mau makan bakso?? Atau Mas kesini karena buntutin aku dari tadi??" Tanya Atina masih menaruh curiga dengan Putra.


"Hmmm, buat apa juga aku buntutin kamu, Tin. Kayak nggak ada kerjaan lain aja. Aku kesini tuh karena tadi di jalan ngerasain laper. Nah, kebetulan nggak sengaja aku ngeliat warung bakso ini. Ya sudah, aku mampir aja kesini. Kayaknya enak juga siang-siang makan bakso pakai sambal yang lumayan banyak. Kayak punya kamu itu. Ngeliat kamu makan aja udah bikin perut aku makin keroncongan. Nggak sabar juga pengen segera ngerasain baksonya." Ujar Putra berusaha menyakinkan Atina agar ia tak lagi menaruh curiga padanya.


Sebenarnya sejak tadi Putra sengaja membuntuti wanita dihadapannya ini karena merasa khawatir. Putra takut, Atina tidak konsen dijalan dan akan membahayakan dirinya nanti. Maka dari itu Putra inisiatif untuk mengawal Atina hingga sampai depan Rumah. Namun tak disangka, wanita itu justru membelokkan motor yang ia kendarai tepat didepan warung bakso. Sontak saja hal itu membuat Putra tersenyum senang. Setidaknya, meskipun dalam keadaan sedih. Atina tetap memikirkan isi perutnya. Tidak seperti kebanyakan orang, ketika tengah di rundung kesedihan, pasti nafsu makannya akan berkurang, bahkan hanya untuk melihat makanan saja rasanya enggan.


"Iya deh, aku percaya aja sama kamu Mas. Aku harap kamu bicara jujur ya." Seru Atina lalu kembali menyantap bakso yang masih tersisa beberapa butir di dalam mangkok.

__ADS_1


Tak lama pesanan Putra juga tiba.


"Wiih, Aromanya harum bener. Kayaknya enak nih baksonya!!" Celetuk Putra, wajahnya seperti orang yang belum makan beberapa hari.


"Baksonya emang nggak diragukan lagi soal rasanya. Juara pokoknya. Mas tau nggak, bakso sini tuh langganan aku lho, bahkan aku udah dari SMA sering makan bakso di sini." Cerita Atina, mengenang kembali masa-masa dirinya sekolah, masa-masa yang menurutnya sangatlah menyenangkan.


"Oh ya. Pelanggan setia dong kamu, Tin!" Sahut Putra


"Yups... Betul banget."


"Hmmm, enak banget. Bener apa yang kamu bilang Tin. Rasa dagingnya itu dominan banget, gurihnya juga nggak bikin eneg di perut. Nggak salah kalau kamu sampai berlangganan di warung bakso ini Tin." Putra heboh sendiri, sesekali ia menyeruput kuah bakso yang masih bening, karena putra tidak menambahkan saos dan kecap ke dalam baksonya. Hanya sambal saja sebanyak 3 sendok makan.


"Bener 'kan apa yang aku bilang tadi Mas. Ya sudah, kamu terusin gih makannya, Aku pamit duluan ya. Udah habis juga bakso punyaku Mas." Pamit Atina.


"Jangan pulang dulu dong, Tin. Masa aku makan sendirian sih. Nanti dulu ya pulangnya nunggu bakso punyaku habis juga. Pliiis... temenin aku bentar ya." Putra memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Tanpa pikir panjang, Atina pun langsung mengiyakan permintaan putra barusan.


"Iya, iya... aku temenin kamu dulu Mas."


"Nah, gitu dong. Makasih ya!!" Dengen cengegesan, Putra pun melanjutkan makannya. Ia tampak makan dengan lahap dan agak terburu-buru, hingga tak lama tiba-tiba....


"Uhuuk ... uhuuuk!" Putra mendadak tersedak kuah bakso hingga mengakibatkan dirinya terbatuk-batuk.


Gegas Atina langsung menyodorkan minuman ke arah Putra.


"Aduuh... Mas!! hati-hati dong kalau makan, nggak usah buru-buru juga kali. kayak di kejar debt collector aja!!" Seru Atina sembari terkekeh geli melihat wajah putra mendadak merah seperti tomat. Atina juga menepuk-nepuk punggung Putra pelan.


"Gimana, udah mendingan Mas??" Tanya Atina, ketika Putra berangsur-angsur membaik. Tidak lagi batuk-batuk seperti barusan.


"Iya, udah nggak apa-apa. Makasih ya, Tin."

__ADS_1


"Iya sama-sama. Kamu makan pelan-pelan saja Mas. Aku akan nungguin kamu sampai kamu selesai. Jadi, nggak usah buru-buru makannya." Ucap Atina lembut, membuat putra hanya bisa menganggukkan kepala sembari tersenyum ke arah Atina.


"Aku bahagia banget kalau dapat perhatian dari kamu kayak gini, Tin. Aku berharap suatu saat kamu bisa berjodoh denganku Tin. Dan kamu juga mau menerima semua kekurangan yang ada pada diriku ini." batin Putra dengan segala harapannya. Ia berharap, Tuhan akan mengabulkan semua do'a yang selalu ia panjatkan.


__ADS_2