
Putra hanya bisa terdiam. Ia merutuki dirinya sendiri. kenapa juga mulutnya harus salah menyebut nama sang istri.
"Mas, kok diam!!" seru Sandra dengan mimik wajah yang serius. Wanita itu terus memandang sang suami tanpa berkedip. "Oh... aku ingat sekarang, Mas. Yang kamu maksud Tin tadi pasti dia adalah Atina 'kan, Mas. Wanita yang pernah kamu sukai 'kan??" tebak Sandra tepat sasaran. Sepertinya Putra harus memberikan alasan yang logis agar wanita di sampingnya itu tidak marah.
"Maaf. Aku tadi nggak sengaja manggil kamu gitu. Tolong jangan di perpanjang karena itu murni ketidaksengajaan saja," lirih Putra tak berani adu tatap dengan mata sang istri.
Sebenarnya Sandra sangat marah akan hal itu. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan memaki sang suami karena sampai saat ini pun laki-laki itu ternyata masih memikirkan wanita yang bernama Atina tanpa sepengetahuan dirinya. Kalau saja tadi Putra tidak keceplosan memanggil dirinya dengan nama wanita itu, pasti sampai detik ini dia tidak akan tahu apa yang sebenarnya laki-laki itu pikirkan. Sakit rasanya memiliki suami tapi justru sang suami masih terus memikirkan wanita lain. Tapi mau dikata apa, semua ini juga adalah pilihannya sendiri. Bukankah Sandra pernah bilang bahwa tak masalah kalau dia tidak memiliki hati Putra, yang terpenting bisa memiliki raga laki-laki itu. Tapi nyatanya sekarang ia sendiri justru sakit hati ketika tahu kalau sang suami masih saja menyimpan wanita lain dalam hatinya. Memang benar kata orang, ucapan itu lebih mudah daripada tindakan. Dan Sandra sangat menyesali akan hal itu. obsesi nya yang terlalu besar kepada Putra nyatanya hanya membawa dia ke dalam kehidupan yang nantinya justru akan seperti neraka buat nya.
Kini keduanya makan dalam diam. Hening tak ada satu obrolan pun yang terdengar hingga tak berapa lama Sandra memilih meninggalkan meja makan ketika ia sudah menyelesaikan makan malamnya. Tak lupa sebelum kembali ke kamar, Sandra terlebih dulu meminta Bu Santi untuk menyiapkan susu hamil dan juga beberapa buah, Sandra juga menyuruh Bu Santi untuk langsung mengantar semua pesanan itu ke kamar nya. Tanpa berpamitan kepada sang suami, Sandra nyelonong pergi begitu saja.
__ADS_1
Melihat perubahan sang istri membuat Putra sedikit merasa bersalah. Meskipun yang terjadi tadi adalah ketidaksengajaan, tapi tetap saja hal itu lantaran pikirannya yang di penuhi dengan nama Atina, sehingga tanpa sadar hal itu justru malah terbawa dalam dunia nyata. Yang mana dunia nyata Putra adalah hidup berdampingan dengan Sandra, bukan dengan Atina.
Putra pun bergegas menyusul sang istri ke dalam kamar guna kembali meminta maaf, setidaknya agar wanita itu tidak terus-terusan murung. Karena ia tahu bahwa wanita hamil harus di buat nyaman hati dan pikirannya, agar tidak berdampak buruk pada janin yang ada dalam kandungan. Maka dari itu, Putra langsung berinisiatif untuk meminta maaf kedua kali sampai Sandra benar-benar bisa memaafkannya.
"San, kamu belum tidur 'kan?" tanya Putra memastikan ketika ia melihat sang istri berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi pintu masuk kamar sehingga ketika Putra masuk, yang terlihat hanya punggung wanita itu.
Sandra sama sekali tak merespon pertanyaan sang suami. Padahal dirinya masih terjaga. Sama sekali belum memejam'kan mata.
"Aku minta maaf soal tadi. Aku nggak bermaksud menyakiti hati kamu. Tadi aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu, bahkan aku sendiri nggak sadar sudah memanggil mu dengan panggilan nama wanita lain. Aku janji, ini yang pertama dan terakhir melakukan itu. Tolong maafkan aku, San. Aku harap, kamu tidak terlalu berpikiran yang aneh-aneh kedepannya hanya karena insiden tadi yang sama sekali tidak aku sengaja. Selamat tidur, istirahat yang cukup." Setelah mengatakan itu, Putra langsung beranjak dari ranjang menuju ke sofa. Baru juga duduk, terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Dengan malas, Putra pun bangkit lagi untuk membuka'kan pintu.
__ADS_1
"Maaf, Mas Putra. Ibu kesini mau nganter ini. Susu hamil dan juga buah yang tadi diminta oleh Mbak Sandra," ucap Bu Santi ketika Putra muncul dari balik pintu. Bu Santi membawa nampan yang berisi segelas susu dan juga beberapa buah-buahan.
"Terima kasih, Bu Santi," ucap Putra menerima nampan dari Bu Santi. Setelah Bu Santi pergi, Putra langsung menutup pintu. Di taruh nampan itu di atas meja dekat ranjang. Putra lantas mencoba membangunkan sang istri agar minum susu terlebih dahulu sebelum lanjut tidur lagi.
"San, bangun, San. Ini susu hamil nya di minum dulu. Tadi sudah dibawakan oleh bu Santi. Ayo bangun dulu, San." Putra terus menggoyangkan tubuh sang istri dengan pelan agar dia terbangun. Sandra yang sebenarnya belum tidur sedari tadi pura-pura menggeliatkan badan sembari memejamkan mata, pura-pura tetap tidur. Putra pun kembali mencoba membangunkan Sandra, di panggil nya nama sang istri supaya bangun. Sayang banget kalau sampai susu hamil nya tidak diminum, begitulah yang Putra pikirkan. Karena sedari tadi Putra terus saja membangunkan dirinya, akhirnya Sandra pun terpaksa harus membuka matanya perlahan.
"Ada apa, Mas. Kenapa kamu bangunin aku??" tanya Sandra dengan suara lirih agar Putra tidak curiga kalau dari tadi dirinya hanya pura-pura tidur.
"Maaf, San. Aku terpaksa bangunin kamu. Ini... tadi Bu Santi bawakan susu dan juga buah, katanya tadi kamu yang suruh. Sekarang kamu minum dulu susu nya. Habis itu boleh lanjut tidur lagi," Putra langsung mengambil segelas susu itu lantas ia berikan kepada sang istri. Tanpa protes, Sandra langsung mengambil susu dari tangan Putra dan ia minum susu itu sampai habis tak tersisa. Ia serahkan kembali gelas yang sudah kosong kepada suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Sandra langsung merebahkan diri di ranjang dengan posisi membelakangi Putra. Melihat hal itu, Putra hanya bisa menghela napas, ia pun menaruh kembali gelas kosong di atas meja dekat dengan buah-buahan yang tadi Bu Santi bawa.
__ADS_1
Karena matanya juga mulai mengantuk, akhirnya Putra menuju ke sofa tempat tadi ia duduk. Dia merebahkan badan di sofa panjang itu, dan tak butuh waktu lama, matanya langsung terpejam.
Sandra yang merasakan keadaan sunyi di dalam kamar, akhirnya mulai menggerakkan badannyake arah samping. Tak di dapati nya sang suami di sampingnya. Ia tengok kesana kemari, ternyata dengan mata kepalanya sendiri, diq melihat kalau ternyata sang suami tidur di sofa. Ternyata setelah pindah ke rumah sendiri pun, kebiasaan sang suami tidak pernah berubah dari awal mereka menikah. Tidak pernah sekalipun Putra mau tidur seranjang dengannya. kalaupun protes, pasti alasannya hanya itu-itu saja, dan itu membuat Sandra semakin malas untuk kembali protes. Entah sampai kapan sang suami akan bersikap seperti itu dan entah sampai kapan pula dirinya akan sanggup menghadapi sikap Putra yang tidak pernah menganggapnya sebagai istri secara utuh, bukan hanya sebagai wanita yang mengandung calon anaknya.