Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 70 Rencana Menikah


__ADS_3

"Kamu kenapa, Tin. Kok lesu gitu kayak lagi ada masalah aja??" tanya bu Yeni ketika melihat Atina tengah rebahan di depan televisi.


"nggak apa-apa kok Bu, lagi capek aja nih badan," sahut Atina dengan suara parau.


"Tadi siang kamu ke rumah Melvin, Tin?? Apa bener yang jemput kamu kesini supir Melvin. Kenapa bukan Melvin sendiri yang jemput??"


"Iya, bener Bu. Mas Melvin lagi nerusin kerjaan katanya Bu. Tapi gitu lah. Ada pengganggu ketika Atina kesana," cetus Atina dengan agak kesal.


"Pengganggu?? Maksud kamu siapa?"


"Huufft!! siapa lagi kalau bukan Alana, Bu. Mantan istri Mas Melvin. Dia datang ketika Atina ada disana juga."


"Terus ... Apa yang terjadi ketika mantan Istri Melvin bertemu kamu, Tin??" Seketika Bu Yeni langsung di hinggapi rasa penasaran.


"Biasalah, Bu. Dia suka cari gara-gara sama Atina. Kayaknya tuh orang nggak akan berhenti mengganggu selama aku masih berhubungan dengan Mas Melvin, Bu," jelas Atina.


"Terus, sikap Melvin sendiri bagaimana sama wanita itu?" Bu Yeni seolah belum puas dengan jawaban Atina. Dia terus mengorek informasi dari sang anak.


"Untungnya Mas Melvin selalu belain aku, Bu. Dia juga sepertinya masih menyimpan kebencian sama wanita itu, terlihat dari cara dia berbicara, tak pernah bisa halus nada bicara nya. Selalu kasar gitu, kadang aku merasa nggak enak sendiri sama mbak Alana. Nanti takutnya dia berpikir kalau sikap Melvin itu dapat pengaruh dari aku, Bu."


"Udah, biarkan saja dia berpikir begitu. Nggak usah terlalu kamu pikirkan. Dan menurut Ibu, sebaiknya kalau ada wanita itu, lebih baik kamu menghindar saja. Tak usah kamu ladeni, Tin. Takutnya kalau kamu ladeni yang ada dia akan malah semakin membenci kamu," pesan bu Yeni kepada Atina.


"Iya sih, Bu. Tapi kadang aku suka gregetan sama ucapan dia. Suka banget mancing emosi," sambung Atina.

__ADS_1


"Ya, mungkin saja dia emang sengaja bikin kamu marah. Cuekin saja, tak perlu di gubris."


"Iya, Bu."


**********


"Bu, menurut Ibu kalau Melvin nikah lagi bagaimana?" tanya Melvin ketika dirinya dan sang Ibu baru selesai makan malam. Sementara sang anak sudah kembali ke kamarnya sepuluh menit yang lalu.


"Ya, nggak apa-apa. Malah bagus itu. Apa kamu sudah bicarakan ini sama Chessy, Vin??" bu Rumana balik bertanya.


"Belum, Bu. Melvin belum ngomong tentang rencana ini sama Chessy."


"Sebaiknya sebelum kamu memutuskan untuk menikah lagi, kamu minta izin dulu sama anak kamu, Vin. Karena kamu ini sudah ada anak. Jadi di sini kamu itu jangan hanya niat cari istri saja, tapi juga cari Ibu buat anak kamu. Pilihlah Istri yang mana orang itu juga di sukai sama anak kamu, Vin. Apa Chessy sudah tahu kalau kamu punya hubungan sama Atina, Vin??"


"Itu juga yang jadi masalah, Bu. Dulu sebelum Alana muncul, Chessy itu sangat bahagia ketika bersama Atina, Bu. Bahkan dulu Chessy sering meminta aku untuk ngajakin Atina pulang bareng ketika aku kebetulan jemput Chessy sekolah. Tapi sekarang setelah hadirnya Alana dalam kehidupan Chessy membuat dia berubah sikapnya kepada Atina, Bu. Aku sendiri nggak tahu apa ini karena hasutan dari Alana atau bukan,"Jelas Melvin.


"Apa sebaiknya aku jauhkan saja Chessy dengan Alana, Bu? Biar dia nggak terlalu dekat dengan wanita itu. Karena Melvin yakin, perubahan sikap Chessy pada Atina pasti ada campur tangan Alana juga, Bu," duga Melvin.


"Nggak, Ibu nggak setuju kamu ngelakuin itu. Biar bagaimana pun, Alana adalah Mama kandung Chessy, Vin. Jadi kamu nggak boleh memisahkan mereka berdua. Apa yang akan kamu lakukan itu justru malah akan membuat Chessy membenci kamu. Apa kamu mau dibenci sama anak sendiri, nggak 'kan??"


"Terus apa yang harus Melvin lakukan, Bu? Melvin sangat mencintai Atina. Jadi Melvin nggak mungkin kalau harus berpisah dengannya hanya karena penolakan Chessy.


"Ibu ngerti, Vin. Makanya, kamu dan Atina harus bisa sama-sama menaklukkan hati Chessy agar dia mau menerima kalian untuk bersatu. Ibu yakin kalau kalian mau berusaha membujuk Chessy, lama-lama ia akan luluh juga suatu saat nanti."

__ADS_1


"Nggak Pa!! Chessy nggak mau Papa nikah sama Bu Atina!!" mendadak Chessy berteriak, entah sejak kapan anak itu mendengar obrolan antara Papa dan sang Nenek.


"Chessy!!" ucap Melvin terkejut.


"Sayang, kemari dulu. Jangan berteriak gitu sama Papa kamu sendiri. Itu nggak sopan, Nak," tegur sang Nenek. Chessy perlahan mendekati neneknya, lantas ia duduk disamping bu Rumana.


"Maaf, Nek. Chessy hanya nggak mau Papa sampai nikah sama bu Atina, Nek," lirih Chessy menatap sang Nenek.


"Kenapa Ches, apa kamu nggak menyukai bu Atina? apa dia pernah jahat sama kamu sehingga kamu menolak dia untuk nikah sama Papa kamu??" Bu Rumana bertanya sembari mengelus rambut cucunya.


"Nggak, Nek. Bukan begitu. Bu Atina baik kok Nek. Hanya saja Chessy pengen Papa dan Mama kembali bersama. Chessy pengen mempunyai kedua orang tua yang lengkap kayak temen-temen Chessy, Nek. Apa Chessy salah kalau punya keinginan seperti ini?? Hanya itu yang Chessy mau, Nek," ungkap Chessy penuh harap. Gadis itu tidak pernah tahu kalau Papanya tak akan mungkin bisa bersama lagi dengan Alana karena wanita itu pernah menorehkan luka yang sangat dalam sehingga sampai saat ini pun, Melvin masih menyimpan amarah untuk wanita itu. Bagaimana bisa bersatu dengan orang yang di benci.


"Iya, Nenek paham kok. Chessy nggak salah. Hanya saja, Papa dan Mama itu sudah lama berpisah, jadi untuk bisa bersama lagi tidak semudah yang Chessy kira. Itu tidak akan mudah, Nak. lagi pula apa yang menurut Chessy baik belum tentu baik pula untuk Papa dan Mama kamu, Ches," jelas Bu Rumana. Chessy terdiam. Entah diam nya itu karena dia mengerti atau karena dia bingung dengan apa yang neneknya katakan.


"Chessy... seumpama Papa dan Mama tidak bisa bersama lagi. Kamu tetap bisa bertemu Mama kamu kapanpun kamu mau. Kamu nggak perlu khawatir, Papa dan Mama tetap akan menyayangi kamu walaupun kita hidup nggak satu atap," Sambung Melvin berusaha memberi pengertian kepada sang anak.


"Tapi tetap saja rasanya nggak sama Pa kalau tidak tinggal bersama," Chessy cemberut tak setuju dengan ucapan yang barusan di lontarkan oleh Papanya. Ketika Melvin kembali mau membuka suara, Sang Ibu langsung memberinya kode untuk diam.


"Yaudah. Mending Chessy sekarang tidur, Nenek dan Papa kamu juga bentar lagi akan tidur juga ini," perintah bu Rumana kepad Chessy.


"Iya, Nek. Kalau gitu, Chessy masuk kamar duluan ya," pamit gadis itu.


"Kenapa Ibu tadi cegah Melvin? Padahal Melvin belum selesai bicara sama Chessy, Bu." Melvin protes.

__ADS_1


"Sudahlah, Vin. Jangan berdebat dengan anak kamu sendiri. Dia masih kecil. Kasih tau pelan-pelan saja agar dia mengerti," seru bu Rumana.


Akhirnya Melvin pun hanya diam. Ibunya benar, tak seharusnya ia berdebat dengan sang anak. Bagaimana pun, Chessy itu masih kecil. Sebagai orang dewasa seharusnya dia mampu menempatkan diri dengan siapa dia berbicara.


__ADS_2