
"Kamu dari mana aja sih, Mas. Kenapa jam segini baru pulang. Aku telepon di reject. Aku chat nggak di balas?" tanya Sandra langsung menginterogasi suaminya ketika baru saja sampai rumah.
"Aku baru juga pulang, udah langsung di interogasi. setidaknya biarkan aku ganti baju dulu, mandi dan makan. Baru boleh langsung kamu interogasi gini," sahut Putra menahan kesal kepada Sandra.
"Ya. Maaf! Aku cuma khawatir aja sama kamu, Mas. Makanya aku tak sabar untuk dengar langsung jawaban kamu."
Putra tak lagi menyahut. Ia lebih memilih masuk ke kamar nya. Sementara Sandra hanya bisa menahan diri untuk tak lagi bertanya.
Ternyata rasanya seperti ini cinta sendirian. Tak ada kehangatan dan juga sikap romantisme dari pasangan kita. Sesuatu yang seharusnya di miliki oleh sepasang suami istri dalam membina sebuah rumah tangga agar awet sampai tua nanti. Tapi itu adalah pilihan hidup yang ia inginkan dulu. Memiliki mas Putra seutuhnya. Dan kini semua yang Sandra inginkan sudah terwujud.
Setelah beberapa menit sehabis makan malam. Putra memainkan ponselnya sejenak di ruang keluarga.
"Mas!!" panggil Sandra menghampiri suaminya.
"Iya. Ada apa?" sahut Putra. Pandangan matanya tak beralih dari benda pipih di tangannya.
"Lusa aku jadwal cek kandungan. Kamu bisa kan nemenin aku, Mas??"
"Hmm... Iya, Insya Allah bisa," jawab Putra datar.
__ADS_1
"Bisa nggak Mas kalau lagi aku ajak bicara, ponsel kamu di letakkan dulu!" ketus Sandra. Seketika Putra pun menoleh ke arah istri nya.
"Memang nya kamu mau ngomong apa lagi, San?" Putra balik tanya.
"Ya, nggak ngomong apa-apa sih. Hanya saja aku merasa tak dianggap kalau kamu masih saja fokus dengan ponsel kamu, sementara ada aku di sebelah kamu, Mas," ujar Sandra timbul rasa kesal dalam diri melihat sikap sang suami. Padahal ini bukan kali pertama Putra bersikap seperti itu padanya. Tapi tetap saja Sandra merasa sakit di perlakukan seperti ini. Sang suami sama sekali tak pernah memperlakukan dirinya secara hangat ketika mereka tengah berduaan seperti saat ini. Mau sampai kapan suaminya itu bersikap seperti ini. Apakah selamanya rumah tangga yang ia jalani akan datar tanpa warna.
"Udah ya, San. Mendingan kamu ke kamar, istirahat. Mas lagi mau hubungi teman Mas. Ini soal pekerjaan, oke!!" suruhnya kepada sang Istri. Sudah kesal ditambah sang suami seolah mengusir dirinya. Bagaimana tak tambah kesal hati Sabdra. Dengan wajah memerah karena marah, tanpa berkata apa-apa, Sandra bangkit dan langsung berlalu meninggalkan Putra di ruang keluarga. Putra hanya bisa menghembuskan napas panjang ketika melihat Sandra sudah berlalu dari sampingnya.
Entah kenapa, bahkan sampai saat ini pun, Putra sama sekali tak nyaman kalau terlalu lama berdekatan dengan Sandra. Meskipun Sandra sudah menjadi istrinya, tetap saja perasaan itu masih sama seperti dulu. Tak bisa ia bersikap seperti suami pada umumnya. Mungkin seperti inilah rumah tangga yang tanpa di dasari cinta. Hampa dan tak bahagia.
Hanya satu wanita yang Putra cintai dan sampai detik ini pun namanya tak pernah tergantikan dalam hati Putra.
Malam ini untuk pertama kalinya Atina tidur di apartemen milik Putra. Dia bersyukur setidaknya saat ini dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, sebagai seorang wanita, Atina merasa dirinya tak lagi sempurna. Mahkota yang menjadi simbol suci bagi wanita nyatanya sudah ternoda oleh kelakuan brengsek seorang laki-laki asing yang sama sekali tak ia kenal.
Perasaan hancur sehancur-hancur nya langsung hinggap pada diri Atina. Malam itu ia kembali menangisi nasib yang harus ia alami. Perasaan marah, takut dan juga benci bercampur menjadi satu kesatuan yang siap meledak kapan saja.
"Ya Allah... Bagaimana kalau aku sampai hamil di luar nikah. Akan seperti apa nanti nya hidup ku ke depan. Bagaimana aku akan menjelaskan pada semua orang. Pada bapak, ibu, mas Melvin dan bu Rum." Batin Atina.
Mendadak perasaan Atina kacau. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Apakah sebaiknya Atina pulang saja dan menceritakan semua yang ia alami kepada Bapak dan Ibunya. Tapi bagaimana reaksi kedua orang tuanya nanti ketika tahu kejadian tragis apa yang sudah menimpa dirinya. Pasti mereka juga akan hancur hatinya. Lantas apakah sebaiknya untuk saat ini biarkan semua beban ia pikul sendiri, tapi sampai kapan ia akan sanggup menghadapi semua beban ini sendirian. Apakah ia akan sekuat itu.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain...
"Apa!! Wanita itu berhasil kabur? Kok bisa sih. Memang nggak kamu jaga sampai bisa kabur gitu, Ram?!" teriak seorang wanita kepada Rama. Laki-laki yang sudah memperkos* Atina beberapa kali dengan memberikan Atina minuman yang sudah ia campur dengan obat per*ngs*ng.
"Panjang ceritanya, An. Yang pasti aku tak pernah lengah dalam mengawasi wanita itu. Hanya saja karena suatu hal, ia bisa kabur dalam hitungan detik. Entah kemana lari nya wanita itu. Padahal saat itu ia kabur hanya dengan memakai selimut untuk menutupi tubuh polos nya," terang Rama seketika membuat wanita yang ternyata adalah Alana mengerutkan kening.
"Maksud kamu, Ram? Pakai selimut? Kok bisa?" tanya Alana yang merasa heran dengan ucapan Rama barusan.
Rama pun akhirnya menceritakan semuanya dari awal. Ketika ia marah sama Atina dan berusaha untuk menyentuh kembali wanita itu, melakukan kesenangan kesekian kalinya seperti yang ia lakukan pada malam hari setelah beberapa menit Atina minum minuman yang ia kasih obat perangs*ng.
Mendengar itu, bukannya sedih. Alana justru tersenyum puas. Akhirnya ia bisa menghancurkan hidup wanita yang menurutnya menjadi penghalang untuk dirinya dan juga Melvin. Rasa empati sebagai sesama wanita tak ia miliki sama sekali. Bahkan justru itulah yang Alana inginkan, membuat hancur siapa saja yang menghalangi dirinya untuk mendapatkan apa yang ia mau.
"Kalau begitu, kamu kirim video itu ke hp ku, Ram. Aku akan jadikan itu sebagai alat agar mas Melvin benci dan juga jijik dengan wanita itu," ucapnya sembari tertawa puas. Di balik wajah cantiknya, ternyata Alana tak ubahnya seperti bidadari berhati busuk. Cantik seperti bidadari, namun jahat seperti dajjal.
Sebuah notifikasi muncul di hp milik Alana. Bergegas ia membuka pesan video yang Rama kirim. Lagi-lagi senyum licik kembali menghiasi bibir wanita itu ketika tatapan matanya mengarah kepada layar pipih yang ia pegang. Di dalam video itu, sangat jelas terlihat betapa Atina menggeliatkan badannya dengan erotis di hadapan laki- laki yang merupakan anak buah suruhan Alana. Dalam video itu sekilas Atina lah yang seperti kehausan akan sentuhan laki-laki. Sementara Rama seolah berperan hanya sebagai pemuas dahaga Atina kala itu. Jelas, siapapun yang melihat video itu pasti akan langsung beranggapan bahwa Atina adalah wanita nakal yang suka mengobral tubuhnya ke semua laki-laki yang ia jumpai. Persis seperti video yang Alana putar saat ini.
"Bagus. Dengan video ini. Aku yakin wanita itu tidak akan mungkin macam-macam. Ini bisa kita jadikan alat untuk membuatnya bungkam dan tak berani lapor polisi. Untuk saat ini, sebaiknya kamu tinggalkan kota ini. tinggalah beberapa bulan di luar kota. Nanti aku akan transfer sejumlah uang sebagai imbalan atas kerja keras kamu, Ram!!" seru Alana. Ia tampak sangat puas dengan hasil yang Rama dapatkan.
"Oke. Nggak masalah. Mau tinggal dimanapun nggak jadi soal. Asal ada uang buat aku untuk memulai hidup baru di kota lain." Sahut Rama menyetujui dengan usul Alana.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu. Nanti sampai rumah akan aku transfer uang nya ke rekening kamu," pamit Alana. Wanita cantik itu pun lantas berlalu dari hadapan Rama. Sementara Rama hanya menyeringai, dirinya tampak senang karena sebentar lagi akan mendapat bayaran yang lumayan gede. Uang itu bisa ia pakai untuk bekal selama tinggal di luar kota seperti saran Alana tadi. Sudah mendapat kenikmatan dari wanita yang masih perawan, di tambah dapat bayaran pula, betapa senangnya Rama kali ini. Ia tak peduli betapa hancur nya wanita yang sudah ia nodai, yang ia pedulikan hanyalah kesenangan hidupnya saja.