Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 42 Meminta Pertanggungjawaban


__ADS_3

"Mas, bisa kita ketemu hari ini? Ada hal penting yang harus aku sampaikan sama kamu. Aku harap kamu tidak menolaknya Mas." Sandra mencoba mengirim pesan ke nomor Putra. Centang biru, itu tandanya pesan dari Sandra sudah Putra baca. Sandra termenung sesaat menunggu balasan dari Putra. Sudah hampir sepuluh menit lebih tapi pesannya tak kunjung mendapat balasan dari Putra.


"Duh... Mas. Balas gitu doang apa susahnya sih. Tinggal bilang iya, gitu aja lama bener." Keluh Sandra kesal. Sedari tadi ia terus menatap layar ponselnya. Belum ada tanda-tanda pesan masuk dari laki-laki itu.


Karena tak sabar, Sandra kembali mengirim pesan untuk kedua kali ke nomor yang sama.


"Mas, balas pesanku. Atau aku langsung ke rumah kamu sekarang!!"


Tak lama akhirnya Putra Pun membalas pesannya.


[Mau ngomongin apa. Bilang aja sekarang. Nggak perlu ketemu segala. Aku lagi nggak mood buat keluar]


"Nggak. Aku nggak bisa ngasih tau kamu lewat pesan. Aku harus ketemu langsung sama kamu, Mas. Kalau kamu lagi malas keluar, biar aku ke rumah kamu sekarang juga, nggak apa-apa, yang penting aku ketemu dan ngomong langsung sama kamu."


[Nggak perlu. Oke kalau gitu. Mau ketemu dimana?]


"Nah... gitu dong. Nanti ketemu di kafe deket kantor aku aja."


[Oke. Aku kesana sekarang!!]


Senang dong, Sandra akhirnya akan ketemu dengan laki-laki yang selama ini ia dambakan. Dengan senyum-senyum Sandra menuju ke kafe yang ia maksud. Kebetulan semua pekerjaan sudah ia selesaikan. Jadi, ia bisa pulang duluan.


Sesampainya di kafe, Sandra hanya memesan jus jeruk. Sesekali ini arahkan pandangannya keluar pintu kafe, belum nampak kedatangan Putra. Kurang lebih 15 menit menunggu, akhirnya Putra datang. Sandra merasa sangat senang bisa kembali bertatap muka dengan Putra. Sejak kejadian di rumahnya 1 bulan lalu, ia sama sekali belum pernah bertemu lagi dengan pujaan hatinya itu.

__ADS_1


"Mas. Akhirnya kamu datang juga. Aku senang banget bisa bertemu kamu lagi, Mas." Ucap Sandra dengan raut sumringah.


"Kamu mau bicara apa. Langsung saja, aku nggak punya banyak waktu, San!!" Cetus Putra dengan wajah datar. Ia terlihat tidak nyaman berada di dekat Sandra.


"Kamu mau pesan apa, Mas. Biar aku pesankan dulu." Tawar Sandra tak menggubris omongan Putra yang tadi.


"Nggak perlu. Udah, sekarang juga apa yang mau kamu omongin. Langsung saja!!"


"Oke... oke!!" Lantas Sandra membuka Tasnya. Ia mengambil benda pipih panjang seperti stik es krim, terdapat 2 garis merah di tengah stik tersebut. Ia sodorkan benda itu tepat dihadapan Putra.


Untuk sesaaat, Putra hanya melirik benda itu. Ia lantas menatap wajah Sandra sebagai tanda minta penjelasan kepada wanita dihadapannya itu.


"Apa ini. Kenapa kamu tunjukkan padaku??" Tanya Putra. Entah ia memang tidak tahu benda itu, atau hanya pura-pura tidak mau tau.


"Apa!! tespek?? Maksud kamu alat tes kehamilan??"


" Ya, dan kamu tau Mas. Ternyata aku hamil Mas. Tentu kamu sudah tau bukan, siapa ayah dari janin yang aku kandung ini." Tegas Sandra menatap tanpa berkedip ke arah Putra.


"ng-nggak, Nggak mungkin!! Itu nggak mungkin anak aku!!" kilah Putra berusaha menepis semua kenyataan yang sudah Sandra jelaskan barusan.


"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu, Mas. Aku nggak pernah ya... Ngelakuin hubungan terlarang itu selain sama kamu!!" Bentak Sandra penuh penekanan. Ia sangat kesal mendemgar ucapan Putra kepada dirinya.


Wajah Putra seketika berubah sangat kacau. Ia beberapa kali mengusap wajahnya secara kasar, shock dan tentu tidak menyangka kalau kejadian ini akan ia alami. Hanya karena satu kekhilafannya, dalam hitungan hari mampu membuat hancur masa depannya. Mau tak mau, suka tak suka ia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat.

__ADS_1


"Mas. Kenapa kamu diam. Kamu harus menikahi aku secepatnya sebelum perutku semakin membesar, Mas!!" Desak Sandra


"Baik. Aku akan bertanggung jawab. Tapi tolong, beri aku waktu untuk ngasih tau kedua orang tuaku. Jadi, aku harap kamu bisa sedikit bersabar. Aku nggak mungkin nutupin semua ini dari mereka."


"Sebaiknya mereka nggak usah di kasih tahu Mas. Aku takutnya mereka malah akan menentang pernikahan kita. Kamu langsung saja bilang mau melamar aku. Nggak perlu kamu kasih tau kalau aku sudah hamil duluan. Biarkan hanya aku, kamu dan kedua orang tuaku yang tahu tentang hal ini. Gimana? Kalau kamu kasih tahu mereka, yang ada mereka justru akan malah menyalahkan kamu, Mas. Kamu mau bikin mereka kecewa?? Aku yakin ibu kamu pasti akan sangat terpukul kalau sampai tahu kamu sudah menghamili aku."


"Nggak. Nggak mungkin aku menutupi semua ini dari orang tuaku."


"Ya... Terserah kamu juga sih Mas kalau mau ngasih tau mereka juga. Tapi kamu juga harus terima konsekuensinya nanti."


"Arrgh ...ya sudah. Aku pergi dulu. Nanti aku kabarin kamu lagi. Permisi!!" Putra berlalu begitu saja dari hadapan Sandra. Wajahnya tampak sangat kusut, ia benar-benar frustasi menghadapi kenyataan pahit ini. menghamili wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Bagaimana nanti kehidupannya ketika ia harus menikahi wanita itu demi bentuk tanggung jawabnya terhadap janin yang ada dalam kandungan Sandra. Mana mungkin ia bisa bahagia menjalani seatap dengan wanita yang bahkan tak ada secuil pun nama wanita itu dalam hati.


"Kenapa jadi gini sih. Kenapa juga Sandra harus hamil segala. Kalau seperti ini, mau tak mau aku harus menikahi dia. Biar bagaimana pun, aku nggak bisa lepas tanggung jawab gitu aja. Anak itu adalah darah daging ku sendiri. Walaupun kehadirannya karena sebuah kesalahan, tetap saja anak itu tidak bersalah. Ya Tuhan... Kepalaku mendadak seperti mau pecah, pusing banget dengan semua masalah ini. Andai saja yang hamil anak aku adalah Atina, mungkin dengan senang hati aku mau menikah dengannya."


Melihat kepergian Putra dengan muka kacau tidak membuat Sandra merasa bersalah. Ia justru malah tersenyum bahagia karena langkahnya untuk bisa menikah dan bersatu dengan Putra tinggal beberapa jengkal lagi.


"Kamu lihat 'kan Mas. Aku rela ngelakuin apa aja untuk bisa dapetin kamu. Nggak masalah kalau kamu tidak mencintai aku. Setidaknya, aku bisa memiliki kamu." Gumam Sandra dengan senyum penuh kemenangan.


Setelah ini Sandra berencana untuk memberitahukan hasil pertemuannya hari ini dengan Putra kepada sang Mama. Ia akan bilang, kalau Putra bersedia menikahi dirinya. Dan laki-laki itu meminta waktu untuk kelanjutannya.


"Makasih ya Nak. Berkat kamu hadir dalam perut Mama membuat Mama bisa bersatu dengan Papa kandung kamu. Sehat-sehat didalam sana ya Sayang, agar nanti kita bisa bertemu di dunia ini." Ucap Sandra sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Karena sudah sore, Sandra memutuskan untuk segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2