
Setelah pulang dari rumah Atina, Putra berencana menyambangi rumah Sandra untuk memberi peringatan kepada wanita itu agar tidak lagi mengganggu Atina.
Perjalanan hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam, mobil yang Putra kendarai berhenti tepat di depan rumah lantai dua milik orang tua Sandra. Putra turun dari mobil, ia sengaja memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Agar mudah ketika mau pulang.
Sesampainya di depan pintu, Putra langsung memencet bel rumah satu kali. Tak lama pintu terbuka, tampak pembantu rumah tangga sandra keluar dari balik pintu.
"Permisi Mbak. Sandra ada di rumah nggak? kalau ada, tolong panggil'kan sekarang ya."
"Ada kok, Mas Putra. Yang nggak ada cuma Papa Mama Non Sandra saja. Karena mereka lagi keluar kota. Silahkan masuk Mas. Nanti saya panggil'kan Non Sandra di atas." ART itu mempersilakan Putra masuk.
Putra langsung masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah menunggu 10 menit lamanya. Sandra muncul.
"Wah... tumben banget kamu kemari Mas. Ada angin apa nih, sampai membuat kamu datang ke sini tiba-tiba." ucap Sandra ketika melihat Putra, mantan tunangannya tengah duduk di ruang tamu rumahnya.
"Kamu 'kan yang ngirim karangan bunga itu ke sekolah di mana aku dan Atina mengajar? Apa maksud kamu San, kenapa kamu berbuat hal yang membuat Atina malu. Dia salah apa sama kamu sampai kamu tega sekali menfitnahnya. Aku 'kan sudah pernah menjelaskan sama kamu, kalau putusnya hubungan pertunangan kita murni karena keputusan dari aku, tidak ada sangkut pautnya dengan Atina." Tanpa berbasa basi, Putra langsung mencerca Sandra. Sementara sandra terlihat tenang menghadapi kemarahan Putra. Ia tetap duduk dengan santai sambil sesekali mengulas senyum.
__ADS_1
"Baguslah, kalau kamu sudah tahu Mas. Jadi, aku nggak perlu repot-repot ngasih tahu kamu, kalau akulah yang sudah ngirim karangan bunga spesial untuk perempuan itu. Cantik 'kan bunga kiriman dariku itu Mas? Aku harus bayar mahal lho untuk beli karangan bunga sebanyak itu."
"Gila kamu ya, San. Mempermalukan orang yang sama sekali tidak punya salah sama kamu. Apa kamu nggak kasihan sama Atina. Nama baiknya tercoreng gara-gara ulah kamu itu. Sekarang juga, kamu harus minta maaf sama dia. Akui perbuatan kamu dan jangan pernah lagi mengusik hidupnya!!" Ucap Putra dengan tatapan tajam.
"Ha-ha.... Minta maaf kamu bilang. Jangan harap ya, aku mau minta maaf sama perempuan itu. Nggak sudi....!! Lagian, kalau kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kenapa kamu harus repot ngurusin hidupnya. Sampai bela-belain kesini hanya untuk menyuruh aku meminta maaf padanya. Jujur aja Mas, kamu suka 'kan sama perempuan itu. Sampai membuat hatimu jadi goyah dan lebih memilih mutusin aku demi bisa bersama dengan perempuan itu. Iya 'kan Mas. Jawab!!" Bentak sandra meluapkan emosinya yang sedari tadi ia tahan.
" Itu bukan urusan kamu. Mau aku suka atau tidak dengan Atina, itu urusanku.
Aku tegaskan sekali lagi sama kamu, Atina nggak ada hubungannya dengan berakhirnya pertunangan kita San. Jadi, salah, kalau kamu mengusik hidupnya. Ia nggak tau apa-apa. Tolong San, hentikan kegilaan kamu itu. Jangan ganggu dia."
"Kamu nggak mau jawab pun aku sudah tahu apa jawabannya Mas. Dari cara kamu membela perempuan itu saja aku udah bisa lihat, kalau kamu ada rasa sama dia. Kenapa Mas? Apa kurang ku sama kamu sehingga kamu sama sekali tidak bisa mencintai aku."
"Tidak Mas. Aku tidak mungkin bisa melupakan kamu Mas. Hatiku sudah terisi oleh nama kamu, nggak mungkin aku ganti dengan yang lain . Aku akan ngelakuin apa saja, asal kamu mau menerima aku lagi Mas. Nggak apa-apa kalau kamu belum bisa mencintai aku, tapi, setidaknya, ijinkan aku tetap berada di sisi kamu Mas. Kita mulai lagi hubungan yang sudah sempat terputus. Kamu mau 'kan Mas Putra??" Sandra berusaha memohon tanpa rasa malu kepada mantan tunangannya itu.
Putra hanya diam, Ia bingung harus bersikap seperti apalagi untuk membuat sandra mengerti, kalau dirinya sudah tidak menginginkan hubungan seperti dulu terjalin lagi.
__ADS_1
"Sudahlah, Sandra. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak akan bisa kamu miliki, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri San. Apa kamu mau hidup selamanya dalam keadaan tersiksa batin karena pasangan yang selalu bersama kamu tidak pernah bisa mencintai kamu. Apa itu yang kamu mau. Hidup hanya dengan raganya, tapi tidak dengan hatinya. Tolong pikirkan lagi ucapan ku ini." Lagi... Putra berusaha memberi nasihat kepada Sandra.
Sandra tertunduk, entah apa yang tengah ia pikirkan. Akankah ucapan Putra barusan mampu menyadarkan dirinya, atau justru malah membuat dirinya semakin ingin memiliki Putra.
"Kamu bisa ngomong seperti itu dengan enteng karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan Mas. Mungkin, bagimu aku egois karena terlalu memaksakan perasaanku ini. Tapi, apa yang baik untuk diriku hanya aku sendiri yang tahu Mas. Orang lain hanya bisanya menilai dari luar saja. Tapi mereka tidak tau apa yang ada dalam hatiku , apa yang aku rasakan. Mereka tidak akan ada yang tau." Sandra terisak, ia tangkupkan kedua tanganya ke wajah.
Putra semakin bingung menghadapi betapa keras kepalanya Sandra. Tapi, Ia tidak memungkiri, hati kecilnya merasa iba melihat Sandra menangis di hadapannya saat ini. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menghampiri.
"Sudahlah, San. Jangan menangis. Sebaiknya aku pulang saja kalau kamu nggak mau berhenti menangis. Lagipula, aku sudah mengutarakan semua yang ada dalam hatiku sama kamu. Ku harap kamu mau mengerti. Dan satu lagi, ini terakhirnya kamu ganggu hidup Atina. Aku tidak akan memaafkan kamu, kalau sampai aku tau, kamu mengusik hidupnya lagi. Ya sudah, aku pamit sekarang. Masih banyak yang harus aku selesaikan hari ini. Stop, sudahi air mata kamu. Jangan sampai ART kamu berpikiran kalau aku ngapa-ngapain kamu sampai menangis seperti ini. Aku pergi dulu, sekali lagi, aku minta maaf sudah menyakiti hati kamu." Setelah itu, Putra langsung beranjak dari duduknya. Tanpa memperdulikan Sandra yang masih terdiam dengan posisi yang sama seperti tadi. Baru beberapa langkah putra berjalan. Mendadak sandra berlari menuju pintu keluar. Ia lantas menutup pintu itu dengan sangat kencang.
Braaaak.......
Putra terkesiap, ia kaget, matanya langsung melotot ke arah Sandra.
"Apa yang kamu lakukan, San?! kenapa kamu tutup pintunya? Aku mau keluar. Buka nggak pintunya!!" Dengan perasaan kaget bercampur heran, Putra menyuruh sandra membuka kembali pintunya. Putra tidak tahu, kalau sebenarnya pintu itu tidak terkunci sama sekali, Sandra hanya menutupnya saja. Tapi, mungkin karena kaget, Putra tidak menyadari akan hal itu.
__ADS_1
Sandra melangkah perlahan mendekati Putra yang masih berdiri tak jauh dari sofa ruang tamu. Tanpa aba-aba , Sandra langsung memeluk tubuh Putra, Ia juga dengan berani dan tanpa malu menci*um bib*r Putra secara buas.
"hmmmf... hmmf.... Apa yang kamu lakukan San?? Hentikan!!" Putra berusaha mendorong tubuh sandra menjauh dari tubuhnya. Seketika Sandra terdorong ke arah belakang. Tapi, entah setan apa yang merasuki dirinya. Ia kembali menyergap Putra dalam dekapannya.