
Alana membawa Chessy ke rumahnya. Ini adalah kali pertama Chessy ke rumah sang Mama.
"Ini rumah siapa, Ma?" tanya Chessy timbul rasa ingin tahu dalam dirinya.
"Rumah Mama, Sayang. Ayo masuk!" Alana membukakan pintu lantas menggandeng tangan Chessy masuk ke dalam rumah.
"Mama sendirian saja tinggal disini?"
"Iya. Nenek dan kakek kamu tinggal diluar kota, Chess. Jadi Mama disini hanya sendiri."
Chessy mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.
"Kamu mau minum Apa, Chess. Biar Mama ambilkan," tawar Alana kepada sang anak.
"Minuman dingin Ma. Terserah Mama aja, asal dingin pasti Chessy minum," Alana lantas berjalan ke arah lemari pendingin yang terletak di dapur. Ia kembali menuju ke ruang tamu dengan nampan berisi dua minuman yang terlihat berwarna orange. Sepertinya itu adalah jus jeruk.
"Ini, Mama bawakan kamu jus jeruk. Ayo di minum dulu, Nak." Perintah Alana, ia menyodorkan segelas jus jeruk ke hadapan Chessy. Di minumnya jus jeruk itu dalam sekali tengguk hinggan tak tersisa satu tetes pun. Alana hanya menggelengkan kepala melihat cara Chessy minum. "Masih haus? Mau minum lagi??" tanya Alana ketika gelas yang ada di tangan Chessy sudah kosong.
"Nggak, Ma. Cukup satu gelas saja. Nanti kepenuhan kalau minum lagi," sahut Chessy menolak tawaran dari sang Mama. Kemudian Ia kembali meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja.
"Mama agak kesal sama Papa kamu, Chess. Sampai segitunya dia belain wanita itu. Sampai-sampai Papa kamu berani bentak kamu di depan Mama dan juga wanita itu. Mama yakin, pasti wanita itu merasa senang karena sudah di bela sama Papa kamu." Alana berusaha mempengaruhi sang anak agar membenci Atina. Tentu saja itu ia lakukan agar Chessy terus menolak hubungan Papanya dengan Atina.
"Sudah Ma, Chessy nggak apa-apa kok. Mungkin Papa bersikap gitu karena Chessy dari tadi ngebantah omongan Papa terus, Ma," sahutnya.
"Ya tapi nggak gitu juga dong, Sayang. Seharusnya Papa kamu itu nggak harus sampai membentak kamu kayak tadi. Mama sedih lho melihat kamu di bentak," Alana memeluk Chessy dan membelai rambut gadis itu. Entah itu ia lakukan karena wujud rasa sayangnya sebagai seorang Ibu atau hanya sebuah kepura-puraan agar sang anak luluh dengan sikap lembutnya itu, sehingga ia akan selalu berpihak padanya.
Triing ... Ponsel Alana berdering menandakan ada panggilan masuk. Alana langsung mengurai pelukannya kepada sang anak. Ia ambil ponsel miliknya lantas dengan segera ia tekan tombol hijau.
"Halo, Mas. Ada apa kamu telepon?" tanyanya tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
__ADS_1
[Kamu bawa Chessy kemana. Katakan sama aku. Aku akan kesana untuk jemput Chessy sekarang!!] Ucap seseorang dari seberang sambungan telepon. Ternyata orang itu adalah Melvin.
"Biarkan Chessy sama aku bentar. Biarkan ia tenang dulu. Kalau sudah tenang pasti aku akan antar ia pulang. Mending kamu urusin dulu wanita sialan itu." Alana berkata dengan tegas.
[Tutup mulut kamu, Ana. Aku nggak rela kamu nyebut Atina dengan sebutan itu. Jadi, jangan pernah lagi kamu menghina dia, ngerti kamu!!] hardik Melvin.
Mendengar bentakan dari Melvin, Alana langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Loh, kok di matiin Ma. Papa ngomong apa Ma?"
"Ah, itu ... Tadi cuma tanya kamu ada dimana kok. Katanya sih mau jemput. Tapi Mama nggak ngasih tahu kalau kamu ada di rumah Mama."
"Mm ... Apa Bu Atina sudah pulang ya Ma. Papa kok udah mau jemput Chessy."
"Mama juga nggak tau sih. Tapi kalau dia udah pulang, malah bagus!!"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Mas juga nggak tau, Tin. Tadi Alana juga nggak jawab ada dimana. Teleponnya di matiin gitu aja. Kalau ada dia, entah kenapa bawaannya pengen emosi terus. Mas nggak suka kalau ada wanita itu, dia itu udah seperti angin topan. Kehadirannya hanya akan membuat sesuatu di sekitarnya jadi porak-poranda. Ya, kayak kita sekarang. Momen yang seharusnya jadi sesuatu yang membawa kebahagiaan untuk kamu, Mas dan juga chessy, harus rusak begitu saja gara-gara wanita tidak tahu diri itu!!" ungkap Melvin penuh emosi.
"Sudah ya, Mas. Jangan emosi terus kayak gitu. Aku rasa mbak Alana itu adalah tipe wanita yang kalau di kasari justru akan semakin nekat. Sebaiknya ubah sikap kamu dalam menghadapi mbak Alana, Mas."
"Maksud kamu ... Aku harus ngomong lembut dan baik-baikin dia, gitu??" Melvin langsung menggelengkan kepala. "Nggak, Tin. Mana mungkin Mas bisa bersikap lembut sama Alana. Meskipun itu hanya pura-pura. Tapi tetap saja itu tidak akan mungkin bisa Mas lakukan lagi. Kamu 'kan tahu sendiri, seberapa besar kebencian Mas sama wanita itu." Melvin protes.
"Iya, aku tau Mas. Maksud aku tuh biar mbak Alana nggak berbuat macam-macam Mas. Kalau Mas tetep kasar gitu sama Mbak Alana. Justru nanti aku juga yang akan kena dampaknya. Pasti dia tidak akan tinggal diam selama apa yang ia inginkan belum terpenuhi. Kamu tau 'kan Mas kalau mbak Alana itu masih mengharapkan kamu kembali lagi sama dia."
"Kalau masalah itu, kamu jangan khawatir ya. Mas nggak akan mungkin mau balikan lagi sama dia. Nggak akan mungkin!!"
"Iya, aku percaya kok sama Mas," sahut Atina. "Mas, aku pulang saja ya. Biar Mas bisa jemput Chessy. Aku yakin Mas, Chessy pasti berada di rumah mbak Alana," Atina menduga itu, Melvin pun seakan sependapat dengan Atina.
__ADS_1
"Kenapa pulang? Sebaiknya kamu ikut saja, Sayang?" tawar Melvin.
"Kalau aku ikut, takutnya nanti Chessy akan semakin salah paham sama aku Mas. Mas pasti ngerti 'kan maksud aku??" tanya Atina berusaha membuat Melvin mengerti akan posisinya saat ini di mata Chessy.
"Mm ... Baiklah kalau gitu. Mas akan antar kamu pulang sekarang. Selesai mengantar kamu pulang, Mas akan coba mendatangi rumah Alana." Terang Melvin, Atina hanya mengangguk.
Tak lama, keduanya pun langsunf berangkat menggunakan mobil.
Setelah selesai mengantar Atina pulang, Melvin langsung bergegas mendatangi rumah Alana. Dan benar saja, di sanalah Chessy berada.
"Ayo Chessy. Kita pulang sekarang. Papa nggak akan mengizinkan kamu berada disini terlalu lama." Ucap Melvin, ia berusaha menggandeng tangan sang anak untuk ikut pulang.
"Pa, boleh nggak kalau malam ini Chessy nginap di rumah Mama??"
"Nggak!! Papa nggak ngizinin!!" tegas Melvin menolak keinginana sang anak.
"Kamu kenapa sih Mas. Chessy itu juga anak aku. Kenapa kamu larang-larang dia untuk dekat denganku, Mama kandung nya sendiri. Heran aku sama kamu, Mas. Kamu berusaha mendekatkan Chessy dengan wanita lain yang jelas-jelas bukan siapa-siapa Chessy. Sementara, dengan mama kandung Chessy sediri, justru kamu malah berusaha menjauhkan."
Melvin tak menggubris omongan Alana. Ia tetap terus menarik tangan Chessy berjalan hendak keluar dari rumah wanita itu.
"Mas. Aku lagi ngomong sama kamu. Kenapa kamu malah main pergi gitu aja. Keterlaluan kamu, Mas. Nggak menghargai aku sama sekali!!" Hardik Alana, ia merasa geram karena di cuekin sama Melvin.
Tanpa peduli dengan teriakan Alana, Melvin langsung masuk ke mobil setelah sebelumnya ia menyuruh Chessy untuk masuk duluan. Ketika tangannya hendak membuka pintu mobil. Alana langsung menarik tangan laki-laki itu dengan lumayan keras.
"Mas!! Jangan bawa Chessy. Aku masih pengen dekat-dekat sama anak aku, Mas!!" Alana memohon dengan memegang lengan laki-laki di hadapan nya.
"Lepaskan tangan kamu. Aku nggak ngizinin Chessy terlalu dekat sama kamu. Kamu bukan Ibu yang baik buat Chessy. Sejak dia dekat denganmu, ia jadi sering membangkang padaku. Dan aku yakin, itu semua ada andil kamu di dalamnya," Seru Melvin. Ia berusaha melepaskan tangan Alana dari lengannya.
"Enak saja mau nyalahin aku. Seharusnya kamu ngaca dulu Mas kalau mau nyalahin aku. Bisa jadi Chessy sering memberontak sama kamu karena sikap kamu sendiri sama dia. Kamu tau 'kan, Chessy tuh nggak setuju kalau kamu memiliki hubungan dengan Atina. Tapi apa, kamu malah dengan egois masih saja menjalin hubungan dengan wanita itu. Kamu hanya memikirkan kebahagiaan kamu sehingga kamu sendiri mengabaikan kebahagiaan Chessy," Alana tak mau kalah terus berusaha memojokkan Melvin.
__ADS_1
"Diam!! Jangan sok tau kamu. Sejak kapan kamu peduli dengan kebahagiaan Chessy. Jangan sok jadi malaikat deh kamu kalau pada dasarnya kamu itu tak lebih dari sesosok Iblis yang sangat menyeramkan!!" setelah mengatakan itu, Melvin langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia tutup pintu mobil miliknya dengan kencang.
Braaak.... Tak lama, mobil melaju dengan kencang meninggalkan Alana yang tengah berdiri mematung memandang mobil Melvin dengan pandangan tajam.