Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 80


__ADS_3

Atina perlahan meneguk air itu hingga tersisa separuh.


"Ayo di habiskan minum nya. Nggak baik kalau makan atau minum tidak sampai habis," seru laki-laki di depan Atina. Ia tampak belum puas kalau Atina belum menghabiskan air itu.


Merasa tak enak hati, Atina pun langsung menghabiskan air yang tersisa separuh itu sampai tandas tak tersisa.


"Sudah aku habiskan. Terima kasih untuk minuman nya." Ucap Atina tanpa rasa curiga hinggap dalam pikirannya.


"Iya, sama-sama. Ya sudah, kamu istirahat lagi. Aku mau keluar cari makanan dulu. Kamu nggak apa-apa 'kan kalau aku tinggal bentar??"


"Iya, nggak masalah. Maaf kalau sudah merepotkan kamu."


"Bos. Minuman tadi sudah di minum sama wanita itu sampai habis. Dia baru saja sadar dan langsung aku suruh minum. Awalnya dia menolak, tapi setelah aku bujuk, akhirnya dia mau juga," lapor laki-laki yang tadi menemani Atina di kamar sampai Atina siuman. Ternyata laki-laki yang bernama Joni itu keluar bukan untuk membeli makanan melainkan melapor kepada bos nya kalau dirinya sudah menyelesaikan tugas yang bos nya kasih.


"Bagus. Kerja bagus!! dengan begini aku akan bisa leluasa untuk menikmati wanita itu, hmmm... Sudah tak sabar rasanya untuk segera memanjakan adik kecil yang lama tak tersentuh sedikit pun," ujar laki-laki yang bernama Rama dengan seringai penuh nafsu.


Sementara sang anak buah terlihat bingung dengan maksud perkataan bos nya itu.

__ADS_1


"Maksud Bos apa. Aku nggak paham. Menikmati wanita itu? Apa jangan-jangan Bos mau ...," terka Joni tak berani melanjutkan kata-kata nya


"Yup, tebakanmu benar sekali. Bagaimana? apa kamu juga mau minta jatah. Kalau mau, nanti nunggu aku selesai dulu. Baru setelah itu giliran kamu, gimana? Kamu mau nggak??" tawar Rama kepada anak buahnya yang bernama Joni.


Mendapatkan tawaran itu bukannya membuat Joni senang, tapi justru ia merasa kasihan sekaligus merasa bersalah pada wanita yang tadi mengaku bernama Atina. Gara-gara dirinya yang tak tahu kalau minuman yang ia kasih tadi mengandung obat per*ngs*ng, dia harus menyaksikan sendiri kehancuran Atina yang tinggal menghitung menit. Setelah reaksi dari obat itu berjalan, sudah di pastikan detik itu juga kehormatan Atina akan terenggut oleh Bos nya. Lantas dia harus berbuat apa untuk mencegah semua itu terjadi. Mendadak kepala Joni terasa seperti gasing yang berputar-putar lumayan kencang.


Berkali-kali Joni menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Melihat tingkah anak buahnya itu, tentu saja membuat Rama terheran-heran.


"Heh!! Kamu kenapa Jon? Ditawari kenikmatan malah geleng-geleng kepala. Kamu nggak mau? Kalau nggak mau juga nggak masalah. Biar aku saja yang menggarap wanita itu sendirian sampai puas, ha-ha-ha!!" tawa Rama tampak sangat puas. Tapi berbeda dengan Joni, baginya tawa sang Bos sangatlah menyeramkan dan bikin merinding.


"A-aku lagi nggak pengen gituan Bos. Lagi pula aku nggak tega ngelakuin itu sama wanita di dalam. Kasihan Bos. Sepertinya dia wanita baik-baik. Apa tidak sebaiknya Bos urungkan saja niat Bos untuk anu sama wanita itu, Bos??" bujuk Joni, dengan memberanikan diri ia berusaha mencegah bos nya itu melakukan nafsu bejat nya kepada wanita yang sama sekali tak bersalah itu.


"Ma-maaf Bos. Aku nggak bermaksud ngatur-ngatur Bos. Mana berani aku ngelakuin itu. Aku hanya merasa kasihan sama wanita itu Bos. Jadi aku mohon sama Bos. Jangan nodai wanita itu. Kasihan dia," ujar Joni masih tetap kekeh mencegah Rama untuk tidak melakukan hal diluar batas kepada Atina. Ia berharap, apa yang dia katakan sama bos Rama akan di dengar. Dan Bos nya itu akan luluh serta membatalkan niatnya untuk melakukan hal nista kepada wanita itu.


Dengan mata melotot, Rama mendekati Joni yang tampak gemetar dan ketakutan melihat reaksi bos nya itu.


"Kamu bosan hidup, Jon!! Sudah berani ya kamu larang-larang aku. Atau bagaimana kalau adik perempuan mu saja yang menggantikan posisi wanita di dalam sana. Bagaimana? apa kamu setuju??" gertak Rama dengan senyum licik, ia sangat tahu kelemahan Joni. Dan Rama menggunakan itu untuk membungkam mulut lancang anak buah nya itu.

__ADS_1


Mendengar ancaman dari Rama, tentu saja membuat Joni hanya bisa bungkam. Ia kesal dan marah atas apa yang Rama ucapkan barusan, tapi ia tidak berani bertindak. Joni sangat tahu seperti apa bos nya itu. Dia adalah orang yang berbahaya dan bisa melakukan apa saja tanpa ampun. Kalau saja bukan karena untuk balas budi, Joni pasti sudah dari dulu pergi jauh meninggalkan pekerjaan yang selama ini ia jalani bersama Rama. Kini Rama perlahan meninggalkan Joni yang berdiri mematung tanpa suara. Ia melangkah menuju kamar di mana Atina di kurung. Joni, ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah Rama melakukan hal di luar batas. Ia takut kalau sampai nekat mencegah Rama, adiknya yang justru akan jadi korban.


"Maafkan aku mbak Atina. Aku tidak bisa menolong kamu. Maaf juga, gara-gara aku kasih minuman itu ke kamu, sekarang hidupmu dan kehormatan mu sebentar lagi akan terenggut oleh Rama," lirih Joni menatap nanar ke arah pintu kamar di mana Atina berada. Rasa bersalah itu membuat dada nya sesak. Sebagai laki-laki, ia merasa seperti seorang pecundang. Membiarkan seorang wanita mendapat perlakuan tak manusiawi di depan mata nya, tapi dirinya justru hanya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun.


Di dalam kamar.


"Ada apa dengan tubuhku," ucap Atina. Ia tampak gelisah, tubuhnya terasa panas, entah kenapa mendadak gairahnya naik seketika. Ia berkali-kali menggeliatkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku, kenapa rasanya aku ingin sekali di sentuh oleh seseorang. Aku harus keluar dari kamar ini. Aku butuh minuman dingin, aku gerah," racau Atina. Tanpa sadar ia membuka hijab dan juga dua kancing kemeja nya. Perlahan Atina mendekat ke arah pintu untuk keluar dari kamar. Baru juga melangkah, mendadak pintu terbuka dengan sendirinya. Muncullah seorang laki-laki asing menatap lekat ke arah Atina. Atina langsung saja kaget melihat laki-laki asing yang berdiri di depan nya. Apalagi saat ini penampilannya sangat berantakan, dan dia juga tak memakai hijab nya.


"Si-siapa kamu!!" tanya Atina dengan nada membentak. Dari raut wajahnya, ia tampak ketakutan melihat laki-laki itu. Namun di sisi lain, ada dorongan dalam dirinya untuk mendekat ke arah laki-laki di depannya, menempelkan tubuhnya dalam dekapan laki-laki asing itu.


"Aku Rama. Orang yang akan memenuhi keinginan kamu. Bagaimana, apa kamu sudah siap. Bagaimana kalau kita mulai permainannya saat ini juga. Aku jamin, kamu pasti akan ketagihan dan akan minta tambah sampai berkali-kali.," ujar Rama tersenyum puas melihat obat yang dia kasih mulai bereaksi pada wanita di depannya. Hal itu bisa ia simpulkan melihat dari penampilan wanita itu. Ya, pakaian Atina yang terbuka bagian dada, hal itulah yang membuat Rama yakin kalau sebentar lagi pasti wanita di depannya akan merengek meminta untuk di puaskan.


Atina dengan setengah sadar mencoba untuk keluar dari kamar itu. Ia yakin bahwa dirinya saat ini tengah dalam bahaya. Tapi yang ia bingung, dimana laki-laki yang tadi sempat memberinya minum. Bukankah dia berpamitan untuk membeli makan siang, kenapa sampai sekarang Atina belum melihat laki-laki itu. Apa jangan-jangan ia di bohongi. Ataukah minuman yang tadi ia minum penyebab dirinya jadi seperti sekarang. Apa yang ada dalam minuman itu sebenarnya, kenapa efeknya membuat gairah Atina naik seketika. Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Atina berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar dan tidak terbawa oleh dorongan dalam dirinya. Ia harus bisa kuat melawan hasratnya itu.


"Hey, manis!! mau kemana?? Bukankah sebentar lagi kita mau senang-senang. Kenapa kamu malah mau pergi. Atau jangan-jangan kamu mau ngelakuin itu di ruangan lain, di dapur mungkin atau di ruang tamu, hmmm," seru Rama dengan senyum licik. Senyuman itu seketika membuat Atina bergidik ngeri, Tapi anehnya justru tubuhnya bereaksi lain. Apalagi saat laki-laki itu memegang lengannya. Ada rasa ingin lebih dari sekedar di pegang.

__ADS_1


Rama menarik Atina kembali masuk ke dalam kamar. Ia hempaskan tubuh Atina di atas ranjang. Lantas Rama mengunci pintu kamar. Ia kembali menatap ke arah Atina dengan penuh nafsu.


Atina yang terus merasa gelisah, panas dan perasaan ingin di sentuh oleh laki-laki di depannya semakin kuat. Hal itu membuat dia sudah tak bisa lagi mengendalikan kesadarannya. Rasa malu dan takut dalam dirinya lenyap begitu saja. Yang ada hanya keinginan untuk segera di tuntaskan hasrat yang kian menggelora. Perlahan namun pasti, ia mulai membuka sisa kancing kemeja nya yang masih menempel di tubuh bagian atas. Hal itu semakin membuat Rama tersenyum penuh kemenangan. Tak perlu bersusah payah memaksa, justru wanita itu dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk ia nikmati segera. Tentu saja itu semua terjadi berkat obat yang ia kasih ke wanita itu.


__ADS_2