
Tiing... Ponsel Atina berbunyi, menandakan ada pesan chat masuk. Ia yang kala itu tengah berbaring di ranjang, langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja rias.
"Tin, apa kamu sibuk? Bolehkah aku ngajak kamu keluar. Pliis, jangan nolak!!" isi chat dari Melvin.
Atina mengetikkan pesan balasan ke nomor Melvin.
"Maaf Mas, aku lagi nggak mood buat ngapa-ngapain. Lain kali saja ya. Maaf sekali." Ia letakkan kembali ponsel itu di atas meja rias. Baru juga merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba ponsel atina berdering. Tanda ada panggilan masuk.
Dengan malas, Atina meraih ponselnya kembali. Ia tekan tombol hijau.
"Iya, halo... kenapa Mas? tadi 'kan chat kamu udah aku bales. Terus kenapa pake acara telepon segala." Ucap Atina dengan nada tak bersahabat.
Entah apa yang di katakan Melvin lewat sambungan telepon. Tak lama, Atina menutup panggilan dari Melvin. Dengan terburu-buru, ia menatap cermin, merapikan penampilannya yang sedikit berantakan. Tak lupa ia meraih hijab instan dan mengenakannya dengan asal. Setelah selesai, ia bergegas membuka pintu kamar, dengan langkah lebar, ia berjalan menuju pintu keluar.
Ceklek.... Pintu terbuka, di sana tengah berdiri seorang laki-laki dengan penampilan rapi, laki-laki itu menatap Atina dengan senyum mengembang menghiasi bibirnya. Ketampanan wajahnya seketika naik berkali-kali lipat.
"Mas Melvin... !!" seru Atina dengan ekspresi terkejut. Ternyata inilah yang membuat Atina nampak terburu-buru keluar dari kamarnya setelah selesai menutup panggilan telepon dari Melvin tadi. Rupanya , ketika menelepon Atina, Melvin sudah berada di depan rumahnya.
"Kamu nggak nyuruh aku masuk nih??" Tanya melvin, membuat atina terhenyak seketika.
"Ah, i-iya, maaf. Silahkan masuk Mas." Dengan salah tingkah, Atina mempersilakan melvin masuk ke dalam rumahnya.
"Mas mau minum apa. Biar aku buatin." Tawar Atina
"Nggak usah repot-repot. Aku nggak haus. Aku kesini cuma mau ngajakin kamu jalan. Itupun kalau kamu mau, kalau nggak mau, aku akan di sini aja sampai besok pagi." Canda Melvin, seketika atina memelototkan mata ke arahnya.
"Huuft... Padahal 'kan tadi aku udah bilang, kalau aku lagi malas mau ngapa-ngapain. Apalagi keluar rumah, lagi nggak mood banget Mas, beneran deh Mas."
" Jangan nolak. Nanti kamu akan menyesal lhoo. Udah sana ganti baju, aku tungguin di sini. Apa kamu nggak kasian sama aku, aku udah sampai sini lho, masa kamu tega bikin aku kecewa Tin? ayolah, mau ya? di jamin mood kamu akan kembali membaik setelah pergi berdua denganku." Dengan segala cara, Melvin mencoba membujuk Atina agar mau di ajak jalan.
Akhirnya , atina menyerah juga. Ia pun lantas mengangguk, mengiyakan ajakan melvin.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Atina sudah berganti baju dan hijab. Make up tipis ia kenakan sekedarnya.
"Yaudah, yuk Mas. Kita jalan sekarang saja. Biar nggak kelamaan." kata Atina mendadak antusias untuk pergi keluar.
Melvin pun nampak tersenyum melihat respon atina saat ini.
"Oke. Ibu dan Bapak kamu mana? Aku mau pamitan sekalian minta ijin sama mereka dulu."
"Nggak perlu, Ibu dan Bapak lagi ke rumah tetangga yang ngadain syukuran rumah baru mereka. Mungkin jam 9 baru pulang. Kita langsung pergi saja. Biar aku pamit lewat chat whatsapp." sahut atina.
"Oh, gitu. Ya sudah, yuk jalan!!"
Setelah mengunci pintu, Atina masuk ke mobil Melvin. Ketika baru duduk di sebelah melvin, ia terheran karena sedari tadi melvin terus menatap ke arahnya.
"Ada apa sih Mas, ngeliatinnya gitu banget. Ada yang salah dengan penampilanku??" tanya atina merasa heran, ia lantas berusaha membenarkan letak hijabnya. Dan meneliti pakaian yang ia kenakan. Tapi, sama sekali ia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.
"Kamu cantik malam ini, Tin!!" celetuk melvin. Seketika membuat wajah atina bersemu merah, ia tampak salah tingkah sendiri.
"Mau ngegombal disini atau mau ngajakin jalan??" Dengan mimik wajah di buat serius, atina melontarkan pertanyaan. Seketika melvin hanya cengengesan sembari garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Sambil nyetir, sesekali melvin melirik ke arah Atina.
"Kalau lagi nyetir tuh yang fokus, pandangan mengarah ke depan. Jangan malah lirik-lirik ke samping." Sindir Atina, sedari tadi ia tau apa yang Melvin lakukan.
"Lah, ini, dari tadi aku fokus kok. Lagian ngelirik cewek cantik nggak apa-apa kali. Sayang aja kalau nggak di lirik. He-he." Mata melvin mengerling sesaat ketika menoleh ke atina. Atina hanya mengendikkan bahunya, ia merasa heran kepada laki-laki di sampingnya itu. Dulu, awal kenal dengan Melvin sikapnya tidak pernah segenit sekarang. Tapi, entah apa yang membuatnya mendadak jadi genit dan suka ngegombal.
"Kok diem aja, Tin??" tegur melvin, melihat atina hanya terdiam.
"Aku hanya lagi heran aja sama kamu Mas."
"Heran denganku?? memangnya kenapa, apa yang membuat kamu heran??"
__ADS_1
" Ya, heran aja. Dulu kamu tuh dingin, cuek dan agak kasar kalau ngomong. Tapi, kenapa kamu sekarang jadi alay gini sih. Mendadak genit dan suka ngegombal. Kamu masih waras 'kan Mas???" Atina terlihat menahan tawa menanyakan tentang kewarasan dari laki-laki di sampingnya itu.
Melvin sontak menoleh sesaat, lalu kembali fokus ke arah depan.
"Yakin, kamu nggak tau kenapa aku jadi seperti ini Tin?? Masa sih kamu nggak tau??"
"hah, maksud Mas. Tau apaan?? Ya... mana aku tau. 'kan yang berubah aneh bukan aku, tapi kamu, Mas." Dengan terheran-heran atina membalikkan posisinya menghadap ke arah melvin yang tengah menyetir.
"Apa?? Kenapa menghadap kesini?? Hmmm pasti kamu mau mandangin wajah tampanku ya?? Sini... agak deketan, biar kamu leluasa memandang wajah tampan yang tiada saing ini. Ha-ha-ha" Seketika tawa melvin meledak setelah ia berhasil membuat wanita di sampingnya itu salah tingkah. Wajah atina tampak merah, dengan gerakan cepat atina melayangkan pukulan ke arah lengan melvin.
Plaak.... Bunyi pukulan itu terdengar nyaring.
"Aduuh... keras banget mukulnya. Masa' sama kekasih sendiri main pukul. Aturan di elus, jangan di pukul gini." sergah melvin dengan tampang memelas. Atina terlihat greget karena sedari tadi melvin terus menggodanya.
"Udah ah, Mas. Jangan ngoceh nggak jelas. Ini sebenarnya Mas mau ngajak aku kemana. Perasaan kok dari tadi lama bener nggak nyampe-nyampe??"
"Sabar. Sebentar lagi juga nyampe."
Benar juga, tak lama, mobil yang melvin kendarai tiba-tiba berbelok ke arah pelataran kafe yang tampak sederhana, tapi sepertinya lumayan nyaman tempatnya.
"Ayo, turun. Kita udah sampai."
Tanpa di komando, atina langsung membuka pintu mobil. Melvin berjalan menghampiri atina yang masih berdiri di sebelah pintu mobil. Ia lantas menggandeng tangan wanita itu.
"Mas, nggak usah di gandeng gini. Aku malu, nanti di liatin orang." Protes atina ketika dengan tanpa permisi melvin langsung menggandengnya.
"Ngapain malu, 'kan yang gandeng calon suami sendiri. Jadi, nggak usah peduliin orang lain." Celetuk Melvin enteng. Ia lantas melangkah dengan diiringi atina di sampingnya.
"A-apa maksud Mas ngomong gitu? calon suami?? siapa maksud mas itu??" Entah atina emang nggak paham, atau pura-pura nggak ngerti, sampai-sampai ia mempertanyakan hal itu kepada melvin.
Mendadak melvin menghentikan langkahnya. Pandangan matanya ia arahkan kepada atina.
__ADS_1
"Aduuh... Bu Guru yang terhormat. Masa gitu aja kamu nggak paham sih. Ini pasti efek perut kamu lagi kosong ya. Makanya suka nggak nyambung kalau di ajak ngomong. Ya udah, ayok kita cepat-cepat masuk. Mas akan pesankan makanan yang enak-enak di dalam. Agar perut kamu bisa langsung terisi. Biar kamu bisa fokus dan nggak lola lagi."
"Ta- tapi Mas....!!" Belum juga melanjutkan ucapannya, melvin langsung menarik tangannya ke dalam kafe.