
Karena Sandra sudah setuju dengan ajakannya untuk pindah rumah. Saat itu juga Putra menghubungi pemilik rumah yang akan ia beli. Sebelumnya Putra sudah survei langsung dan melihat kondisi rumah itu, ternyata ia cocok. Rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil Putra rasa sangat cocok untuk dirinya dan Sandra tinggal, setidaknya sampai anak dalam kandungan Sandra lahir.
"Halo, Jon. Rumahnya jadi aku beli. Tapi aku DP dulu ya? Nanti sisanya aku kasih kalau mertua aku sudah kasih izin buat pindah. Bagaimana? Apa boleh aku DP dulu??" ucapnya lewat panggilan telepon dengan pemilik rumah yang akan ia beli.
"Iya, tidak masalah Mas Bro. Nanti aku kirim nomor rekening punya ku. Kalau kamu sudah fix mau pindah. Kabari saja, nanti aku akan siapkan segala sesuatunya. Kamu tenang saja."
"Baiklah, nanti aku transfer DP nya. Aku tutup dulu teleponnya. Terima kasih Jon!!"
Setelah Putra menutup panggilan telepon, ia bergegas menuju ruang makan. Pasti mertua dan Istrinya sudah menunggu di meja makan.
"Mas, kamu kok lama banget. Dari tadi ngapain aja sih?" Belum sempat duduk, Sandra sudah menembaknya dengan pertanyaan yang membuat Putra merasa tak enak kepada mertuanya.
"Maaf, San. Tadi aku teleponan sama temen sebentar. Ada hal penting yang harus aku bahas sama dia. Maaf ya Ma, Pa kalau sudah membuat kalian lama menunggu," ucap Putra, ia lantas duduk di sebelah sang Istri.
"Sudah, nggak apa-apa Putra. Mending kita langsung makan." Mama Sandra terlihat biasa saja. Beliau memaklumi keterlambatan sang menantu.
"Ma, Pa. Aku mau ngomong sesuatu sama Mama dan Papa." Ujar Putra ketika semua anggota keluarga selesai makan.
"Mau bicara apa? kayaknya serius banget!!" sahut Papa Sandra tampak penasaran.
__ADS_1
"Begini, aku dan Sandra sudah sepakat untuk pindah rumah karena kami ingin bisa mandiri, Pa. Aku juga sudah membeli rumah punya teman sekolah dulu yang kebetulan mau di jual. Maka dari itu, sebelumnya aku mau minta Izin Mama dan Papa, aku harap keputusan ini mendapat restu dari kalian. Sandra juga sudah setuju untuk pindah Ma, Pa." Putra mulai mengutarakan niatnya untuk membawa Sandra pindah ke rumah yang sudah ia beli.
"Kalau Papa sih nggak masalah kamu mau bawa Sandra untuk pindah ke rumah baru kalian. Toh memang Sandra juga 'kan sudah jadi tanggung jawab kamu, Put. Hanya saja, kalau menurut Papa, misal pun kalian akan pindah, tunggu lah sampai Sandra melahirkan. Jadi biar dia ada yang jaga selama masa kehamilan."
"Iya, Mama setuju dengan apa yang Papa bilang. Mama nggak akan larang kalian untuk pindah. Hanya saja, sebaiknya kalian pindah ketika anak dalam kandungan Sandra sudah lahir. Agar kalau ada apa-apa dengan Sandra langsung ada yang nolong. Kalau kalian cuma tinggal berdua, Mama malah akan khawatir nanti."
Ucapan kedua mertua membuat Putra terdiam sesaat. Padahal ia ingin secepatnya pindah, tapi apa yang mertuanya bilang itu tak salah. Dan itu wajar, mereka hanya khawatir dengan Sandra. Apalagi kini Sandra tengah mengandung cucu pertama mereka, tentu saja ini hal yang sangat di nanti-nanti. Hanya saja kalau harus menunggu sampai Sandra melahirkan menurut Putra terlalu lama. Sedangkan dia ingin secepatnya pindah dari sana.
"Ma, Pa. Di rumah Mas Putra, Sandra nggak sendiri Ma. Ada ART yang bakalan nemenin Sandra di rumah ketika Mas Putra sedang kerja. Jadi, Mama dan Papa nggak perlu khawatir. Iya kan Mas??" ucap Sandra, ia melirik ke arah sang suami berharap suaminya itu tahu kalau apa yang Sandra bilang itu hanya alasan saja agar kedua orang tuanya mengizinkan untuk pindah secepatnya.
"I-iya Pa, Ma. Aku sudah menyiapkan ART yang aku tugaskan untuk menjaga Sandra selama aku lagi kerja, Ma, Pa," sambung Putra dengan agak gugup.
Mama dan Papa Sandra terdiam sejenak.
"Ya, gimana Ma. Kalau memang disana Sandra ada yang jaga, apa boleh buat. Kita harus memberi mereka Izin untuk tinggal di rumah mereka." Hanya itu yang mampu Papa Sandra ucapkan.
Seketika hati Putra merasa plong. Akhirnya keinginan untuk pindah sudah akan segera terwujud.
"Baiklah kalau itu sudah keputusan kalian. Mama juga akan dukung dan kasih izin sama kalian untuk pindah. Hanya saja satu pesan Mama, tolong jaga kandungan kamu San. Untuk kamu Putra, jaga Sandra sebaik mungkin. Jangan biarkan ia sampai kelelahan. Jadilah suami siaga untuk putri Mama ini. Apa kamu sanggup, Put???" tanya sang Mama.
__ADS_1
"Iya Ma. Aku akan menjaga Sandra dan anak dalam kandungannya. Mama nggak perlu khawatir," jawab Putra Mantap, tak ada keraguan dalam tiap kata yang ia ucapkan.
"Baik. Mama pegang kata-kata kamu. Baiklah, sekarang sebaiknya kalian istirahat. Untuk masalah ini nanti bisa kita bahas lagi di lain waktu ketika kalian sudah benar-benar siap untuk pindah," ujar sang Mama mengakhiri obrolan mereka malam itu.
Setelah itu, Putra membawa Sandra masuk ke dalam kamar mereka.
"Terimakasih karena tadi kamu sudah ngasih alasan ke Mama sehingga beliau akhirnya mengizinkan kita untuk pindah rumah," ucap Putra kepada Sandra ketika mereka baru saja masuk ke dalam kamar.
"Iya, Mas. Aku ngelakuin itu karena aku sangat tau bahwa kamu menginginkan kita secepatnya untuk pindah. Dan maaf kalau tadi aku kasih alasan seperti itu bukan berarti aku meminta kamu untuk menyediakan ART ketika kita pindah nanti."
"Untuk masalah itu, kamu tenang saja. Aku memang sudah mempunyai rencana untuk mempekerjakan orang buat nemenin kamu kalau aku lagi kerja. Jadi kamu nggak perlu minta maaf." Ucapan Putra terlihat tulus, meskipun dalam hatinya belum bisa mencintai Sandra sampai saat ini. Tapi selama menjadi suami, ia berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya itu. Hanya satu yang sampai saat ini belum bisa ia berikan, yaah... Putra belum bisa memberikan nafkah batin untuk Sandra. Tentu kalian tahu sendiri apa alasan yang melatarbelakangi keputusannya itu. "Ya sudah. Sekarang sebaiknya kamu tidur. Ini sudah waktunya kamu istirahat," suruh Putra.
Sandra pun perlahan mulai merebahkan diri di ranjang. Ia selimuti sebagian tubuhnya.
"Mas nggak tidur juga??"
"Nanti, aku belum ngantuk. lagipula masih ada yang harus aku urus."
"Ya sudah kalau gitu. Aku tidur dulu, Mas. Kamu jangan begadang terlalu larut, Mas."
__ADS_1
Putra hanya mengangguk. Lantas ia berjalan menuju sofa, tempat favoritnya ketika berada di dalam kamar.
Tak lama Sandra sudah mulai terlelap. Sementara Putra masih juga terjaga. Entah apa yang membuat laki-laki itu tak bisa tidur sampai selarut ini. Ngantuk seakan enggan hadir menyapa nya. Sehingga memaksa tubuh untuk tetap terjaga entah sampai jam berapa nanti.