
"Mas, kenapa wajah kamu tampak kesal gitu sih?" Tanya Atina ketika mereka baru saja duduk menunggu Chessy yang tengah membeli buku bersama Alana.
"Gimana nggak kesal Sayang. Aku kesini ngajakin kamu dan Chessy untuk bersenang-senang. Tapi gara-gara Alana semua jadi gini. Perusak suasana tuh orang!!" Kesal Melvin menuding Alana lah yang membuat suasana jadi berubah tak mengenakkan.
"Sabar Mas. Kamu nggak boleh kesal gitu. Lagipula kita juga nggak sengaja 'kan ketemu sama Mbak Alana disini. Terus mau gimana lagi, udah terlanjur ketemu dan Chessy juga sepertinya senang bertemu dengan Mamanya. Buktinya sekarang dia mau ditemani sama Mbak Alana di dalam. Udah ya Mas. Kamu nggak perlu pikirin hal itu. Yang terpenting anak kamu merasa senang hari ini. Itu saja yang harus kamu pikirkan Mas."
"Terus kamu sendiri? apa kamu senang dengan keadaan sekarang ini, Tin? Aku itu ngajakin kamu untuk bikin kamu senang Sayang, tapi malah kayak gini jadinya. Maaf ya Tin, semua jadi nggak sesuai dengan rencana awal kita tadi pagi."
"Udah Mas. Nggak perlu minta maaf gitu juga ah. Mas nggak salah kok."
"Apa sebaiknya kita pergi berdua keliling sebentar Tin. Mumpung mereka lagi didalam."
"Jangan deh Mas. Nanti Chessy nyariin. Dia 'kan belum terbiasa deket dengan Mbak Alana. Kalau nggak ada kamu, ya pasti Chessy malah akan bingung nanti. Udah ya, kita tunggu mereka sampai selesai dulu aja Mas."
Melvin langsung menghela napas panjang. Bener juga apa yang Atina katakan barusan. Kalau mereka nekat jalan berdua meninggalkan Chessy hanya dengan Alana, pasti Chessy akan bingung nyari mereka.
Tak lama, Alana dan Chessy pun muncul di hadapan mereka. Chessy tampak membawa tentengan berwarna putih di tangannya.
"Udah selesai beli bukunya Sayang?" tanya Melvin, ia berdiri dan menghampiri Putrinya.
"Iya Pa. Udah semua. Tadi Chessy dibeliin banyak buku sama Mama." Jawab Chessy sembari mengangkat bungkusan yang ia pegang tepat dihadapan sang Papa.
"Maaf Alana. Kamu nemenin Chessy sampai disini saja ya. Setelah ini, aku masih akan ngajak Chessy dan Atina berkeliling Mall ini. Dan kami butuh privasi. Jadi, aku harap kamu nggak maksa lagi untuk gabung sama kami. Ayo chessy, sekarang jalan-jalan lagi. Katanya tadi kamu juga pengen beli boneka baru."
"Tapi Mas. Aku masih pengen deket-deket sama Chessy Mas." Rengek Alana, ia benar-benar tidak tau malu. Sudah dilarang masih juga memaksa.
"Sepertinya apa yang barusan aku ucapkan sama kamu sudah jelas ya. Jadi tolong ya, nggak usah maksa-maksa lagi. Kami juga butuh waktu untuk bersenang-senang tanpa adanya gangguan dari orang luar. Apa kamu paham!!" Sembur Melvin menatap datar ke arah Alana. Seketika Atina meraih lengan Melvin, ia berusaha menenangkan kekasihnya itu agar bisa mengontrol emosinya. Karena bagaimanapun, mereka kini tengah di tempat umum. Tidak baik rasanya kalau bertengkar ditempat umum seperti saat ini.
"Mas. Udah, kontrol diri kamu Mas. Ini tempat umum. Jangan emosi Mas." Bisik Atina membuat Melvin menurunkan nada bicaranya yang tadi sempat meninggi.
__ADS_1
"Iya, Tin. Maaf, Mas salah udah kebawa emosi duluan."
"Mbak. Sebaiknya Mbak dengerin saja apa yang Mas Melvin bilang. Mbak juga masih bisa bertemu dan dekat dengan Chessy kapanpun yang Mbak mau. Iya 'kan Mas??" Melvin hanya mengangguk.
"Maaf ya. Sepertinya kamu nggak ada hak buat ngomong kayak gitu ke aku. Kamu siapa? Kamu yang justru orang luar disini. Sementara aku ini adalah Mamanya Chessy. Jadi aku yang berhak untuk berada di dekat Chessy dong. Bukan kamu. Siapa kamu, mau mencampuri urusanku dengan Chessy dan Mas Melvin!!" Sungut Alana. Ia tampak tak terima dengan omongan Atina.
"Cukup Alana!! Kamu nggak punya hak bentak-bentak calon istri aku ya. Calon Mama sambung Chessy!!"
Sontak saja ucapan Melvin membuat semua yang ada disitu terkejut. Termasuk Atina. Ia tidak menduga, Melvin akan berbicara lantang seperti itu dihadapan Chessy dan juga Alana.
Chessy yang juga tidak tahu hubungan Papa dan Gurunya itu juga kaget mendengar penuturan sang Papa. Tapi ia memilih diam. Dia sendiri masih bingung dengan semua ini. Mungkin dia belum cukup paham dengan maksud Papanya itu bilang seperti itu.
"Apa!! Calon Istri kamu bilang. Kamu nggak salah Mas memilih dia sebagai calon istri kamu. Yang benar saja kamu Mas??" Ucap Alana seakan meremehkan pilihan mantan suaminya itu. Ia pandangi Atina dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil tersenyum meremehkan. Alana merasa, Atina tidak ada apa-apanya di banding dengan dirinya. Cantik, jelas lebih cantik dirinya. Modis, juga jelas lebih modis dirinya dibanding wanita yang ada di hadapan nya. Lalu apa yang membuat Melvin sampai tertarik dengan wanita biasa seperti Atina itu. Apa karena dia adalah Guru dari Chessy, itukah yang jadi pertimbangan Mas Melvin memilih wanita itu.
"Kenapa? Kamu nggak percaya. Apa perlu aku menikahi Atina sekarang juga biar kamu percaya."
"Mas, sudah cukup. Kamu ngomong apaan sih. Disini ada Chessy lho Mas. Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu dihadapan Chessy Mas." Tegur Atina menarik lengan Melvin agak menjauh dari Alana dan Chessy.
Atina terdiam. Meskipun ia sangat mencintai Melvin, tapi untuk membahas soal pernikahan baginya itu terlalu dini. Sementara hubungan mereka saja terjalin baru hitungan hari. Tidak mungkin Atina memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya dalam waktu dekat. Ia sama sekali belum memikirkan ke arah sana.
"Mas, udah ya. Kita jangan bahas itu sekarang. Oke!! Ini bukan waktu yang tepat Mas untuk membicarakan masalah pernikahan."
"Ma, tolong jangan bikin Papa marah Ma. Aku nggak mau Mama dan Papa bertengkar gini. Sekarang mending Mama pulang saja. Biarkan aku, Papa dan Bu Atina jalan-jalan tanpa adanya Mama lagi diantara kita." Akhirnya Chessy yang tidak suka melihat kedua orang tuanya berdebat terus seperti tadi mencoba membujuk Mamanya untuk mau mengalah.
"Kamu nggak suka Mama ikut Chess?"
"Bukan nggak suka Ma. Tapi Mama 'kan lihat sendiri gimana respon Papa barusan. Papa nggak suka Mama ada disini. Jadi, sebaiknya Mama ngalah saja dulu daripada berdebat terus gini." Meskipun Chessy masih kecil, tapi dia cukup bijak dalam menghadapi masalah di depannya. Terutama masalah kedua orang tuanya.
"Ya sudah kalau gitu Chessy. Mama pergi dulu ya Nak. Nanti Mama pasti akan kunjungi kamu di rumah Nenek. Itupun kalau Papa kamu ngizinin. Mama cuma mau minta satu hal sama kamu. Tolong jangan biarkan Papa kamu menikah dengan Atina ya Sayang. Karena Mama nggak mau kamu punya Mama lain selain Mama kamu ini. Orang yang sudah mengandung kamu. Mama pamit dulu ya." Alana memeluk dan mencium Chessy beberapa kali. Selanjutnya, tanpa berpamitan dengan Melvin dan Atina, ia berjalan meninggalkan Chessy disitu. Chessy hanya memandangi tubuh Mamanya sampai tubuh itu menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"Loh... Chessy. Mama kamu mana?" Tanya Atina, setelah ia kembali seusai bicara berdua dengan Melvin. Mereka tidak menyadari kepergian Alana barusan karena posisi mereka yang membelakangi Chessy dan Alana. Jadi ketika Alana pergi, tak ada yang tau baik Melvin maupun Atina.
"Udah pergi Bu Atina. Tadi Chessy yang minta."
"Kenapa gitu Sayang. Kamu menyuruh Mama kamu pergi?? Kenapa??"
"Chessy hanya nggak mau kehadiran Mama disini membuat Papa marah-marah terus Bu Atina." Sahut Chessy sembari melirik ke arah Papanya. Melvin hanya mengendikkan bahu.
"Huuft... Ya sudah. Sekarang Chessy mau kemana lagi. Biar sekarang Bu Atina yang nemenin kamu ya."
"Mmm ... chessy lapar Bu. Bagaimana kalau kita cari makan dulu aja Bu Atina. Habis itu nanti aku mau beli boneka warna ungu yang besar."
"Oke. Baiklah kalau gitu. Gimana Mas. Kita mau makan dimana enaknya?"
"Terserah kalian pengennya makan apa." Jawab Melvin.
"Chessy maunya makan apa??" tanya Atina merangkul bahu gadis kecil itu.
"Kalau makan seafood aja gimana Pa?" Sahut Chessy bertanya kepada sang Papa.
"Oke, nggak masalah. Ayo kita cari restoran seafood sekarang." Pungkas Melvin.
Ketiganya lantas bergandengan tangan dengan posisi Chessy berada di tengah-tengah antara Atina dan Melvin.
Mereka tampak seperti keluarga yang bahagia. Formasi yang pas. Orang yang melihat pasti akan mengira mereka adalah keluarga kecil yang harmonis dan serasi.
Sesampainya di restoran seafood. Ketiganya memesan makanan sesuai yang mereka mau. Sembari menunggu, mereka terlihat asyik mengobrol dan bercanda.
"Mumpung lagi kumpul gini. Nggak pas rasanya kalau belum mengabadikan momen ini lewat foto selfie. Ayo chessy, Atina. Merapat kesini, kita foto bertiga." Seru Melvin, ia tengah siap mengambil foto bertiga menggunakan kamera hp nya.
__ADS_1
Atina dan Chessy tampak semangat. Merekapun berpose dengan bermacam-macam gaya untuk berfoto.