Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 51 Bertemu Keluarga Sandra


__ADS_3

Setelah berpikir seharian penuh. Akhirnya Putra memberanikan diri untuk berkata jujur dengan kedua orang tuanya tentang masalah kehamilan Sandra.


"Apa!! Itu nggak mungkin. Kenapa kamu bisa sampai melakukan perbuatan keji seperti itu Putra. Berzina dan sampai menghamili anak orang. Kamu mikir nggak sih ketika melakukan dosa itu. Ibu benar-benar nggak nyangka kamu akan ngelakuin hal rendah itu!!" Hardik sang Ibu kepada Putra, beliau terlihat sangat terkejut sekaligus terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia dengar dari anak semata wayangnya.


"Maafkan Putra Bu, maafkan Putra Yah. Putra khilaf hingga berbuat semua itu. Putra nggak sengaja ngelakuin itu semua. Putra minta maaf sama Ayah dan Ibu. Putra akan mempertanggungjawabkan semua itu." Sesal Putra. Ia bersimpuh dibawah kaki kedua orang tuanya. Kedua mata Putra tampak lembab oleh air mata. Sementara sang Ayah hanya terdiam dengan tatapan kosong. Beliau tak bereaksi apapun. Mungkin karena keterkejutan yang menimpa hingga bahkan untuk berkata-kata pun beliau tak mampu.


"Ayah kenapa diam saja. Kita harus gimana sekarang Yah. Orang tua Sandra pasti murka dengan apa yang menimpa putri mereka." Desak Ibu Putra kepada sang Suami.


Untuk sesaat mereka terdiam, hingga akhirnya sang Ayah pun bersuara.


"Kita ke rumah Sandra sekarang. Ayo!!" Beliau bangkit dari duduknya dan langsung keluar menuju teras. Putra dan sang Ibu langsung mengekor di belakang tanpa sanggahan apapun.


Ayah Putra yang bernama Hadi memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya. Putra sempat menawarkan diri, namun Ayahnya menolak. Akhirnya mobil dikendarai sang Ayah. Sementara Putra memilih duduk di sebelah ayahnya.


Dalam perjalanan nampak hening, tak ada percakapan apapun. Ibu Putra yang duduk di belakang kemudi terlihat gelisah. Sesekali pandangan matanya Beliau arahkan keluar jendela mobil berharap kegelisahan yang menerpanya bisa sedikit berkurang. Namun nyatanya semakin dekat dengan tempat tujuan, semakin gelisah pula hati beliau.


"Ya Allah. Mudah-mudahan ketika sampai di rumah Sandra semua akan baik-baik saja. Mudah-mudahan Papa Sandra bisa menahan emosinya ketika melihat wajah Putra. Amin." Batin Bu Vita.

__ADS_1


Tak terasa mobil sudah sampai di pelataran rumah Sandra. Ayah Hadi, ibu Vita dan Putra langsung turun dari mobil. Mereka mengetuk pintu beberapa kali. Ketika Pintu terbuka, Papa Sandra berdiri dengan raut muka terkejut, tidak menyangka akan kedatangan keluarga dari laki-laki yang sudah menghamili putrinya. Seketika wajah beliau memerah seakan emosi tiba-tiba menguasai dirinya. Tapi karena beliau ingat dengan pesan sang istri tempo hari untuk bisa menahan emosi. Akhirnya beliau pun berusaha bersikap biasa.


"Kamu Di. Ayo masuk dulu. Silahkan duduk. Aku mau manggil Sandra dan Mamanya. Tunggu sebentar." Setelah mempersilahkan keluarga Putra duduk, Papa Sandra berlalu ke dalam guna memanggil Istri dan anaknya. Tak lupa beliau meminta ART nya untuk menyiapkan minum dan juga camilan.


Kini semua sudah berkumpul di ruang tamu. Mama Sandra berusaha bersikap ramah kepada keluarga Putra.


"Ayo Vit silahkan dicicipi dulu hidangannya. Maaf hanya ini yang ada. Ayo semuanya, silahkan di minum agar lebih tenang dan tidak tegang gini." Seloroh Mama Sandra berusaha mencairkan suasana yang tampak tegang sedari tadi.


Setelah semua minum. Perlahan Ayah Putra mendekati Papa Sandra.


Ayah Hadi tiba-tiba menangkupkan kedua tanganya sembari menatap ke arah Papa Sandra yang sekaligus merupakan sahabat lamanya itu dengan wajah memelas.


Putra sangat terpukul melihat pemandangan yang sangat menyesakkan dada. Bagaimana sang Ayah merendahkan diri dihadapan Papa Sandra demi mendapatkan sebuah maaf.


"Ayah. Hentikan!! Ayah tidak perlu sampai seperti itu. Disini yang salah aku Yah, jadi akulah yang seharusnya minta maaf sama om Tio, bukan ayah." Putra berdiri sembari memegang lengan ayahnya.


"Tidak Putra. Biar bagaimanapun ayah punya andil karena gagal mendidik kamu sehingga kamu sampai berbuat hal yang merusak masa depan anak Tio. Jadi, sudah seharusnya Ayah juga melakukan ini." Ditepisnya tangan sang anak.

__ADS_1


"Sudah Hadi. Benar apa kata anakmu. Kamu nggak perlu berbuat seperti itu karena ini bukanlah kesalahan kamu. Mereka berdua yang salah." Ucap Papa Tio telunjuknya mengarah ke Putra dan juga Sandra yang kebetulan duduk tak jauh dari Putra.


"Sudah, sudah. Sebaiknya kita duduk dengan tenang. Tidak usah saling menyalahkan. Sebaiknya kita cari jalan keluarnya. Gimana baiknya kedepan, apa yang harus kita lakukan sebagai solusi dari masalah ini. Putra... silahkan kamu kembali duduk. Maaf Pak Hadi, silahkan Pak Hadi duduk juga disebelah Bu Vita. Mari kita bicara baik-baik." Ujar Mama Sandra berusaha menengahi. Semua kembali duduk di tempatnya semula.


"Gimana Putra. Apa kamu bersedia menikahi anak Om sebagai wujud tanggung jawab kamu atas apa yang sudah kamu perbuat pada Putri Om." Tanpa basa basi, Papa Tio langsung bertanya kepada Putra.


"Iya Om. Saya akan bertanggung jawab menikahi Sandra." Sahut Putra mantap. Tak ada lagi keraguan dari nada bicaranya.


Mendengar itu, Sandra tersenyum penuh kemenangan.


"Baik. Om senang kalau kamu memutuskan untuk menikahi Sandra. Baik, kapan kamu siap menikahi Putri Om. Lebih cepat lebih baik, tentu kamu tahu sendiri 'kan apa alasannya. Gimana kalau seminggu lagi. Tidak usah pernikahan yang mewah, sederhana saja asal kalian segera sah jadi suami istri. Gimana, apa kamu bersedia??" Tanya Papa Tio dengan suara tegas.


Putra menoleh ke arah Ayah dan Ibunya. Ia seakan meminta pendapat dari keduanya. Sang Ibu langsung mengangguk satu kali, itu artinya beliau meminta sang anak untuk menyetujui apa yang Papa Sandra inginkan.


"Baik Om. Saya bersedia. Seminggu lagi pernikahan itu akan digelar."


"Baiklah. berarti sudah clear ya. Pagi akad nikah, siangnya langsung resepsi. Tidak usah menyewa gedung. Kita adakan resepsi di rumah ini saja. Biar nggak terlalu makan banyak waktu untuk persiapannya." Usul Papa Tio semua yang ada disitu menyetujui usul beliau.

__ADS_1


Setelah semua di rasa selesai. Pihak keluarga Putra memilih untuk langsung pulang. Mereka akan mulai mempersiapkan segala sesuatunya guna memperlancar acara pernikahan antara Putra dan Sandra.


Meskipun hanya memiliki waktu satu minggu untuk mempersiapkan semuanya. Tapi baik pihak Sandra maupun pihak Putra tidak merasa keberatan. Justru itulah yang harus dilakukan untuk bisa menutupi aib yang ada. Semakin cepat itu semakin baik buat kedua belah pihak.


__ADS_2