Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 75 Di Lamar


__ADS_3

Melvin sudah memutuskan akan segera melamar Atina. Itu ia lakukan karena dirinya sudah mendapat lampu hijau dari sang anak. Chessy akhirnya memutuskan untuk menerima Atina sebagai Ibu sambung buat nya. Ia merasa kalau Papa nya hanya akan bahagia ketika bersanding dengan Bu Atina, guru tempat dia sekolah.


"Makasih ya Sayang. Kamu sudah mau menerima Bu Atina menjadi calon ibu sambung untuk kamu, Nak. Papa bahagia sekali, Sayang. Papa yakin, Atina akan sangat menyayangi kamu seperti anak kandung nya sendiri." Begitulah obrolan terakhir yang Melvin katakan kepada sang anak ketika tiba-tiba Chessy mengatakan bahwa dirinya bersedia menerima Atina untuk jadi calon Istri sang Papa.


"Sayang. Nanti malam Ibu akan ke rumah kamu. Kamu jangan kemana-mana ya," ucap Melvin lewat sambungan telepon.


"Ada apa, Mas. Tumben Ibu kamu mau main ke rumahku. Apa ada hal yang penting??" tanya Atina heran.


"Kejutan dong! Nanti kamu juga akan tahu sendiri."


"Yaelah... bikin penasaran saja! Kasih tau dong, Mas. Biar aku nggak penasaran gini," rengek Atina mendesak Melvin agar mau memberi tahu tujuan Mama nya hendak datang nanti malam.


"Sabar, Sayang. Nanti malam juga kamu akan tahu kok. Yaudah, hanya itu yang mau Mas katakan. Mas tutup dulu teleponnya, habis ini masih ada kerjaan yang harus Mas selesaikan segera. Gampang sambung nanti ya, Sayang," pamit Melvin.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati nanti kalau mau pulang kerja," sahut Atina.


"Iya, Pasti. Yaudah... Assalamu'alaikum, Sayang," ucapnya dan setelah Atina membalas salam, Melvin langsung mengakhiri panggilannya.


Atina terus menebak-nebak, kira-kira ada apa ya sampai bu Rumana malam-malam mau menyambangi rumahnya.


"Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba Ibu Mas Melvin mau kesini??" gumam Atina sembari berjalan menuju ke belakang guna memberi tahu sang Ibu.


Sesampainya di belakang, ia tak mendapati keberadaan Ibu nya. Atina lantas celingak celinguk mencari di segala penjuru ruang. Mendadak ada yang menepuk punggung nya.


Pluuk!!


"Astagfirullah!!" teriak Atina kaget, ia terlonjak seketika.


"Gitu aja kaget," ucap seseorang dari belakang Atina.

__ADS_1


Atina lantas menoleh. Ia mendapati sang Ibu tengah berdiri tepat di belakang nya.


"Ibu, ih!! Bikin kaget tau nggak!!" sungut Atina cemberut menatap sang Ibu. Ibunya hanya tersenyum penuh kemenangan.


"Dari tadi Ibu perhatiin kamu celingak celinguk noleh kanan kiri nggak berhenti kayak lagi nyari sesuatu. Nyari apaan sih kamu, Tin??" tanya sang ibu.


"Aku dari tadi nyariin Ibu. Tapi nggak ada. Ibu dari mana saja sih? Aku cariin juga!!"


"Lah, ngapain nyariin Ibu. Tadi Ibu duduk di teras. Memang nya ada apaan kamu nyari Ibu??" dengan pandangan heran, Bu Yeni terus memandangi Atina.


"Atina mau ngasih tahu kalau nanti malam Bu Rumana mau kesini, Bu," ungkap Atina.


"Bu Rumana?? Ibu nya nak Melvin??"


"Iya, Bu."


"Tumben mau kesini. Dalam rangka apa??" sambung bu Yeni.


"Ya sudah. Kita tunggu saja nanti malam. Nanti ibu akan beli beberapa camilan di warung."


"Nggak usah, Bu. Biar Atina pesan ke temen Atina saja kalau untuk masalah hidangan buat ibu mas Melvin."


"Ya sudah. Jadi Ibu nggak perlu nyiapin apa-apa lagi nih selain minuman??"


"Iya, Bu."


Malam hari nya...


Ibu Melvin datang sekitar pukul tujuh malam. Dia datang dengan dua orang yang menemani beliau. Keduanya merupakan adik bu Rumana dan sang suami.

__ADS_1


Kini mereka tengah duduk di ruang tamu rumah Atina. Ibu, bapak dan Atina juga ada di ruang itu.


"Begini, Pak Roni dan Bu Yeni. Kedatangan saya dan kedua adik saya kesini dengan tujuan untuk melamar Atina menjadi istri dari anak saya yaitu Melvin. Sebelumnya saya minta maaf kalau hal ini terkesan mendadak buat Atina dan juga keluarga. Tapi Ibu harap, Atina dan keluarga mau menerima niat baik kami ini. Meskipun Ibu tahu kalau hubungan Melvin dan Atina belum terlalu lama. Tapi Ibu yakin kalau Atina ini adalah wanita yang baik yang bisa jadi istri sekaligus ibu yang baik buat Chessy kelak," ucap Bu Rumana mulai mengutarakan maksud dan tujuan beliau beserta keluarga berkunjung ke rumah Atina malam ini. "Ibu tidak menuntut Atina dan Melvin untuk segera menikah. Lamaran ini hanya sebagai pengikat saja buat Atina. Untuk urusan ke jenjang selanjutnya, semua Ibu serahkan kepada Atina dan juga Melvin nanti. Bagaimana Pak Roni, Bu Yeni dan khususnya kamu, Nak??" tanya Bu Rumana. Beliau menatap satu per satu nama yang barusan beliau panggil. Bapak dan Ibu Atina tampak saling tatap satu sama lain. Mereka tidak menyangka kalau kedatangan Bu Rumana ke rumah adalah untuk melamar Atina. Mereka mengira, kedatangan Bu Rumana hanya sebatas silaturahmi semata. Nyatanya itu lebih dari sekedar silaturahmi.


"Kami sebagai orang tua memasrahkan semua keputusan kepada anak kami yaitu Atina. Biar dia sendiri yang menjawab untuk menerima atau menolak lamaran yang Bu Rumana ajukan barusan. Bagaimana, Tin? Apa jawaban kamu, Nak?" Pak Roni langsung menatap ke arah Atina. Yang di tatap justru malah terlihat bingung. Entah bingung untuk menjawab atau bingung karena dapat lamaran yang mendadak seperti ini jadi membuat Atina merasa sangat terkejut, saking terkejutnya membuat dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Bu Rumana dan yang lain, semua kompak menatap ke arah Atina. Mendapat tatapan dari berbagai penjuru membuat Atina langsung terlihat gugup.


"Rileks saja Mbak. Jangan tegang gitu. Tarik napas, hembuskan. Tarik napas lagi lalu hembuskan lagi secara perlahan." Tiba-tiba adik Bu Rumana memberi sedikit dorongan motivasi agar Atina yang terlihat gugup itu bisa mengatasi kegugupannya.


"Baiklah. Sebelumnya terima kasih untu Bu Rumana dan keluarga yang sudah mau berkunjung ke rumah kami ini. Sebenarnya saya sama sekali tidak tahu tujuan Ibu dan keluarga datang kemari karena Mas Melvin tidak mengatakan alasan keinginan Ibu untuk datang kesini. Saya pikir hanya sekedar bersilaturahim semata. Tapi ketika Ibu mengatakan bahwa ingin melamar saya, Jujur saya sangat surprise sekali, Bu. Tak menyangka kalau malam ini akan di lamar. Bismillah ... Saya pasti akan menerima lamaran Ibu karena saya sangat mencintai Mas Melvin dan juga menyayangi Chessy. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menolak lamaran ini," ujar Atina yang sontak saja membuat Bu Rumana dan yang lain mengucapkan Alhamdulillah secara serentak. Terlihat semua orang yang ada di situ tampak bahagia. Senyum mulai menghiasi tiap sudut bibir mereka.


"Alhamdulillah... Ibu senang kalau kamu mau menerima lamaran Ibu, Tin. Terimakasih ya Nak." Bu Rumana berdiri dan langsung memeluk Atina seketika itu juga.


Setelah semua di utarakan. Sebelum pulang, Bu Rumana memyerahkan sesuatu kepada Atina.


"Tin. Ini ada titipan dari Melvin. Dia meminta Ibu untuk ngasih ini sama kamu. Di dalam kotak itu ada surat yang Melvin tulis untuk kamu baca nanti," ucap bu Rumana menyodorkan sebuah kotak yang berukuran sedang berwarna maroon kepada Atina. Atina langsung menerima kotak itu. Ia tampak sumringah sekaligus terlihat penasaran dengan isi kotak tersebut. "Karena ini masih awal lamaran, kami minta maaf hanya membawa bingkisan sekedarnya saja. Nanti ketika lamaran yang resmi, kami akan membawa lebih banyak dari ini," sambung Bu Rumana merendah di hadapan kedua orang tua Atina.


"Aduh, Bu Rumana ini suka banget merendah. Segini itu sudah banyak banget lho Bu. Kami terima kasih banyak untuk semua yang Ibu kasih ke anak kami, Atina. Mudah-mudahan ini akan jadi awal yang baik untuk kelanjutan hubungan Nak Melvin dan juga Atina, anak kami. Mudah-mudahan mereka berjodoh sehingga hubungan ini bisa berakhir di pelaminan. Amiin!!" seru Bu Yeni meraupkan kedua telapak tangan ke wajah guna mengaminkan doa yang baru saja ia ucapkan.


Tak lama setelah acara lamaran yang sederhana itu usai. Bu Rumana dan yang lain langsung pamit pulang. Atina dan kedua orang tuanya mengantar Bu Rumana dan kedua adik beliau menuju teras dan masuk ke dalam mobil. di tatapnya mobil itu sampai tak terlihat lagi. Menghilang di balik tikungan.


Atina dan kedua orang tuanya langsung kembali le dalam rumah.


"Ya ampun, Tin. Ibu nggak nyangka Bu Rumana akan bawa bingkisan sebanyak ini. Sampai-sampai ruang tamu penuh gini," ucap Bu Yeni tampak takjub dengan bingkisan pemberian dari calon besan nya itu.


"Itu di beresin besok saja, Bu. Bapak mau ke kamar dulu ya," pamit pak Roni. Bu Yeni hanya mengangguk pelan.


"Atina juga mau ke kamar ya, Bu. Penasaran mau buka kotak ini." Wajah Atina terlihat bahagia. Tak henti-hentinya ia mengulas senyum sedari tadi.


"Kenapa nggak buka disini saja, Tin. Ibu 'kan juga pengen tahu apa isi nya," pinta bu Yeni.

__ADS_1


"Jangan Bu. Atina mau buka di kamar saja. Ibu tenang aja, nanti Atina kasih tau Ibu deh apa isi kotak ini."


Tanpa menunggu jawaban dari sang Ibu. Atina langsung ngeloyor pergi begitu saja.


__ADS_2