
Atina pulang ke rumah setelah jam menunjukkan di angka tiga sore. Sebenarnya dia ingin menunggu Melvin pulang, tapi karena Ibunya terus chat untuk segera pulang, terpaksa ia pun akhirnya pulang tanpa menunggu Melvin.
Untuk mempersingkat waktu, Atina memilih jalan alternatif yang mana kalau lewat jalan itu akan memangkas waktu lebih dari dua puluh menit. Hanya saja daerah alternatif yang Atina pilih hari ini lumayan sepi. Padahal biasanya tidak se-sepi sekarang. Mendadak Atina merasa merinding sendiri. Bukan karena takut hantu, melainkan ia takut kalau sampai bertemu dengan orang jahat. Rasa takut itu tiba-tiba hadir. Atina lantas tancap gas sepeda motornya agar cepat sampai di pemukiman warga. Ketika kecepatan motor Atina melebihi 40 km/jam, mendadak dari arah tikungan sebelah kanan muncul mobil hitam menghadang laju motor Atina. Secepat kilat Atina langsung tekan rem motornya. Jantung Atina berdegup dengan kencang ketika ia berhenti tepat di samping mobil hitam itu, jarak antara mobil dan motor hanya kurang dari lima sentimeter. Kalau Atina telat sedikit saja tekan rem motornya, sudah bisa dipastikan motornya akan langsung menghantam body samping mobil di depannya, bukan hanya itu, lebih parahnya nyawa dirinya bisa saja melayang detik itu juga.
Nafas Atina memburu, jantung berdetak dengan cepat. Keringat mulai jatuh membasahi wajah Atina. Dengan Perlahan ia mulai mengatur kembali dirinya agar bisa tenang. Ia turun dan memberanikan diri mengetuk kaca mobil di depannya. Karena sedari tadi tidak ada satupun orang yang keluar dari mobil itu.
Ketika dirinya hendak mengintip ke dalam mobil. Mendadak kepala bagian belakang ada yang memukul dengan keras. Rasa sakit dan juga pusing langsung menjalar seketika. Belum sempat Atina menoleh, pandangan matanya mulai menggelap. Dan seketika itu juga, tubuhnya langsung ambruk ke tanah.
Di rumah Atina.
"Ibu kenapa sih, dari tadi Bapak perhatiin mondar mandir nggak jelas udah kayak setrikaan aja. Diam napa, Bu. Pusing Bapak lihat nya," tegur pak Roni menatap heran ke arah sang istri yang sejak tadi tak bisa diam.
"Apaan sih, Pak. Ibu tuh lagi nunggu Atina. Tadi katanya sudah mau pulang, tapi kenapa sampai sekarang belum datang juga. Ibu telepon, nomor hape nya nggak aktif. Padahal Ibu mau minta anter dia ke rumah Bu Yuni, Pak. Ibu ada perlu sama Bu Yuni," sahut bu Yeni terlihat kesal sekaligus was-was karena sang anak belum nampak juga batang hidung nya.
"Memang nya Atina ada di mana, Bu?"
__ADS_1
"Tadi kata nya lagi di rumah nak Melvin, Pak," tukas bu Yeni.
"Sekarang Ibu hubungi saja nomor Melvin, Bu. Tanyakan padanya, apa Atina masih di sana atau sudah pulang dari tadi??" ide Pak Roni langsung membuat mata bu Yeni berbinar.
"Benar juga kamu, Pak. Kenapa Ibu nggak kepikiran ke sana dari tadi??" ucapnya sembari menepuk jidat. Lantas bu Yeni mengambil hape milik nya yang beliau letakkan di atas meja.
[halo, nak Melvin. Ini Ibu. Ibu mau tanya, apa Atina masih ada disitu?] suara bu Yeni tengah berbicara dengan Melvin lewat panggilan suara.
"Atina sudah pulang dari tadi Bu. Bahkan Melvin juga nggak sempat bertemu dengan Atina karena Melvin baru saja pulang dari kantor, Bu. Tadi Ibu saya yang nemenin Atina ngobrol. Memang nya kenapa ya, Bu? Apa Atina belum sampai rumah. Kata Ibu, Atina sudah pulang empat puluh menit yang lalu. Seharusnya dia sudah sampai rumah sejak tadi, Bu. Kecuali kalau Atina mampir dulu ke tempat lain. Apa Ibu sudah coba telepon Atina?"
"Ibu jangan mikir aneh-aneh ya. Melvin yakin, Atina pasti baik-baik saja. Melvin akan coba cari Atina, Bu. Siapa tahu nanti ketemu di jalan. Ibu jangan khawatir ya. Ya sudah, sekarang Ibu matikan dulu teleponnya. Melvin akan langsung keluar buat nyari Atina, Bu. Ibu tenang ya?"
[Terima kasih, Vin. Maaf kalau Ibu merepotkan kamu. Ibu juga nggak tahu harus berbuat apa. Mudah-mudahan nanti kamu bertemu Atina di jalan ya, Vin. Kalau sudah ketemu dengan Atina, suruh dia langsung pulang. Ibu matikan dulu teleponnya. Assalamualaikum].
Bu Yeni duduk terdiam, pikirannya mulai tak menentu. Entah kenapa, mendadak perasaannya jadi tak enak. Raut wajahnya mendadak gelisah.
__ADS_1
"Bu. Jadi telepon Melvin??" Pak Roni datang dari arah dapur dengan membawa segelas kopi yang masih mengepulkan asap. "Ibu kenapa gelisah begitu. Ada apa? tadi jadi telepon Melvin nggak??" tanya beliau yang heran menatap sang wajah sang istri yang terlihat gelisah.
"Sudah, Pak. Melvin bilang, Atina sudah pulang dari tadi. Tapi kenapa tuh anak belum sampai rumah juga ya, Pak. Ibu jadi khawatir sama Atina, Pak," ujar Bu Yeni semakin mencemaskan putri tunggal nya itu.
"Mungkin lagi mampir ke suatu tempat dulu kali, Bu. Kita tunggu saja. Siapa tahu bentar lagi Atina pulang," sahut Pak Roni. Sebenarnya beliau juga khawatir, hanya saja beliau tak mau menampakkan rasa khawatirnya itu di depan sang Istri. Takut kalau hanya akan membuat istrinya semakin cemas.
"Tapi kalau pun mampir ke tempat lain. Mana mungkin lama banget gini, Pak. Atina juga tadi bilangnya mau langsung pulang, nggak bilang mau mampir dulu ke tempat lain, Pak. Bagaimana ini Pak. Kalau Atina nggak juga pulang, kita harus gimana, Pak!!" teriak Bu Yeni lepas kendali. Saking cemasnya dengan Atina membuat beliau tanpa sadar berbicara lantang kepada sang suami. Melihat kekalutan sang istri, Pak Roni hanya bisa diam. Dia juga sama khawatirnya dengan Bu Yeni.
"Ya sudah. Bapak akan coba cari Atina, Bu. Ibu tunggu saja di rumah. Bapak berangkat sekarang." Akhirnya Pak Roni memutuskan untuk mencari keberadaan sang anak. Beliau sendiri belum tahu mau mulai mencari dari mana dulu. Yang terpenting saat ini, beliau hanya keluar rumah menaiki motor tua nya. menyusuri sepanjang jalan dari arah rumahnya ke jalan menuju rumah Melvin. Pak Roni melajukan motornya dengan pelan. Sesekali ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Atina. Dalam hati beliau selalu berdoa, semoga sebentar lagi tak sengaja bertemu dengan Atina di jalan. Sehingga ia akan langsung menyuruhnya pulang.
Semua jalanan yang biasa Atina lewati sudah Pak Roni telusuri. Namun hingga detik ini, beliau sama sekali tidak bertemu dengan Atina. Entah kemana anak itu. Tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi hingga saat ini.
Karena sudah lelah berputar-putar di jalan tapj tak kunjung bertemu dengan sang anak. Akhirnya, Pak Roni memutuskan untuk pulang. Siapa tahu, saat ini Atina sudah berada di rumah. Dan beliau bisa sedikit lebih lega kalau sampai itu terjadi.
Tak sampai setengah jam, Pak Roni sudah berada di teras rumah nya. Ia memicingkan mata ketika tiba-tiba netra nya menangkap sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah beliau.
__ADS_1
Ketika kakinya mulai melangkah menuju ruang tamu, mendadak telinganya menangkap suara seorang wanita yang tengah menangis. Tak mau menebak-nebak, beliau langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam. Ia kaget bukan main ketika melihat sang istri tengah menangis tersedu-sedu di hadapan seorang laki-laki. Siapa laki-laki itu, kenapa istrinya menangis di hadapan laki-laki itu. Ada apa, apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan-pertanyaan itu singgah memenuhi pikiran pak Roni.