
Hari ini ada yang berbeda dari biasanya, Aku senang banget karena papa yang jemput ke sekolah. Sempat kaget karena selama ini papa tidak pernah yang namanya jemput sekolah, alasannya karena sibuk sama kerjaan. Paling cuma nganter saja itu pun tidak setiap hari. Kadang, Aku pengen banget seperti teman-teman yang dianter jemput sama mama atau papanya. Tapi, Aku sendiri tidak pernah tahu seperti apa wajah mamaku. Papa bilang, kalau mama sudah tiada. Tapi, papa sama sekali tidak bolehin Aku walau hanya sekedar melihat foto mama. Alasannya takut nanti membuat aku sedih kalau melihat foto mama. Padahal, Aku 'kan cuma pengen tau saja wajah mamaku seperti apa. Tapi, karena papa tidak kasih lihat, terpaksa Aku hanya bisa menuruti kemauan papa.Hari ini selain sama papa, Aku juga mengajak Guruku untuk pulang bareng kami, namanya Bu Atina. Bu Atina adalah guru favorit aku di sekolah. Orangnya sabar, humoris dan tidak pernah marah-marah. Kalau aku atau pun teman-temanku melakukan kesalahan, beliau selalu nasehati kami dengan cara yang lembut, tidak pernah sekalipun berkata kasar. Itulah kenapa aku merasa nyaman banget di dekat Bu Atina. Andai mamaku masih ada dan mempunyai sifat seperti Bu Atina, pasti aku bahagia banget.
"Bu Tina, duduk di depan saja ya, bareng Papa aku. Nanti Chessy mau duduk di tengah aja. mau sambil selonjoran kakinya, he-he," pintaku saat bu tina dan aku hendak naik ke mobil papa.
Bu Tina nampak ragu untuk meng-iyakan kemauanku tadi. Sesekali matanya melirik ke arah Papa. Tapi, karena aku terus memaksa dan Papa juga mengizinkan akhirnya Bu Tina pun duduk di depan. Kalau sudah seperti ini, aku merasa seperti mempunyai keluarga yang lengkap. Ada mama, papa dan aku.
"Pa, gimana kalau kita mampir makan dulu ke restoran, Chessy pengen makan seafood Pa. Bu Atina juga sekalian diajak aja biar makin rame, mau ya Pa??" rengek chessy
"Kita langsung pulang saja ya. Nanti chessy bisa minta bi ijah buat masakin seafood. Lagipula setelah ini papa harus ke kantor lagi sayang. Lain kali aja ya makan di luarnya." Melvin mencoba membujuk chessy.
Sebenarnya bukan itu alasan Pak Melvin menolak ajakan anaknya, ia hanya merasa canggung kalau lama-lama berdekatan dengan Atina. Entah karena apa melvin bisa merasakan kecanggungan itu. Dan akhirnya, setelah dibujuk, Chessy pun mau mengerti.
"Ya sudah, Papa anter Chessy pulang aja, habis itu Papa anterin Bu Atina juga ya sampai rumahnya,"
"Iya sayang," jawab Melvin singkat.
Atina dari tadi hanya diam saja, ia bingung harus ngomong apa. Maka lebih baik ia memilih diam.
Akhirnya mereka sampai rumah, setelah chessy masuk rumah. Melvin gegas melajukan mobilnya kembali.
"Rumah kamu di mana, sekalian saya anter pulang," tanya Melvin, pandangannya focus ke depan.
__ADS_1
"Sepertinya nggak perlu anter Mas, biar saya pulang sendiri aja naik ojek. Mas nanti turunin saya aja di depan apotek Waras." Atina merasa canggung hanya berduaan dengan melvin di dalam mobil. Ia jadi salah tingkah dan merasa tidak nyaman.
"Udah ... sebutin aja alamat rumah kamu apa susahnya sih. Saya 'kan sudah bilang mau nganterin kamu sesuai permintaan chessy tadi. Kamu tadi dengar sendiri 'kan chessy yang minta saya buat anterin kamu,"
"Iya saya tau, hanya saja saya nggak mau ngerepotin Mas. Tap...."
"Tunjukkan saja alamat rumahmu. Saya anter sekarang, No debat!" Melvin memotong ucapan atina sehingga atina tak jadi melanjutkan omongannya. Karena tidak mau urusan jadi panjang, lantas Atina menyebutkan alamat rumahnya pada melvin.
"Nah, gitu kek dari tadi. Nyebutin alamat aja susah bener," sungut Melvin.
Tak mau ambil pusing, Atina memilih diam. Setelah beberapa menit, mobil yang mereka kendarai mulai memasuki gang rumah atina.
"Nanti berhenti di warung hijau itu saja Mas. Rumahku seberang warung itu," Tunjuk Atina mengarahkan telunjuknya ke depan.
Sesampainya depan Warung Hijau, Atina bersiap-siap turun. Sebelumnya ia terlebih dulu mengucapkan terima kasih kepada Melvin. Keluar dari mobil, Atina langsung melangkahkan kakinya perlahan. Baru tiga langkah, tiba-tiba dari arah kanan terlihat pengendara motor memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Si pengemudi tidak menyadari kalau ada orang yang hendak menyeberang jalan. Akibatnya, belum sempat pengemudi itu tekan tombol rem, motornya terlebih dulu menyerempet orang didepannya, mengakibatkan motor oleng dan terjatuh menabrak beberapa sepeda motor yang tengah parkir di bahu jalan.
Brak ... Duaar....
Sontak saja Melvin yang berada di dalam mobil kaget. Seketika tatapan matanya mengarah ke luar jendela mobil.
"Atina!" ucapnya spontan ketika netranya menatap seseorang yang tergeletak di pinggir jalan tak jauh dari mobilnya. Lantas ia keluar dari mobil secepat kilat, berlari ke arah tubuh atina yang tergeletak di bahu jalan.
__ADS_1
"Tin, Tina ... hey, ayo jawab. Atinaa!" Melvin menggoyangkan beberapa kali tubuh Atina, tapi atina tetap diam tak ada respon. Kemudian Melvin mencoba mengecek denyut nadi atina. Masih ada denyut nadinya. Darah mengalir dari kening dan juga lutut Atina.
Sementara para warga yang berada di lokasi kejadian berhambur menghampiri korban. Laki-laki yang tadi sempat menabrak Atina ternyata dalam keadaan sadar. Hanya terlihat luka lecet di bagian tangan dan kaki karena tergesek dengan aspal jalanan. Orang-orang menghampiri lelaki itu, memapahnya ke depan toko yang dekat dari situ. Yang lain terlihat merapikan beberapa sepeda motor yang roboh karena senggolan motor laki-laki tadi.
Melvin tampak panik dan khawatir, wajahnya terlihat gelisah. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang menghampiri.
"Looh ini bukannya Atina ya, anak Bu Yeni. Mas tolong tungguin mbak Tina dulu, saya mau kasih tau orang tuanya." Si Ibu berlari menuju rumah atina, menggedor pintu rumah dengan cukup keras.
"Bu ... Bu Yeni. Buka pintunya Bu, cepetan buka pintunya. Itu di depan Atina kecelakaan bu ditabrak motor!!" si Ibu terus menggedor pintu sambil teriak memanggil nama ibunya atina. Tapi sampai beberapa detik, tak juga ada sahutan dari dalam rumah.Rumah nampak sepi tidak berpenghuni.
"Aduuh ... ini Bu Yeni sama Pak Roni pada kemana sih, dari tadi dipanggil nggak ada jawaban. Nggak tau apa, kalau anaknya kena musibah. Ah sudahlah. Mending saya ke Mas yang tadi nungguin Atina."
Tanpa pikir panjang si ibu tadi bergegas menghampiri tempat dimana atina tergeletak. Namun sesampainya ditempat tersebut, atina sudah tidak ada. Si ibu kebingungan, lantas bertanya ke salah satu warga.
"Mas...Atinanya kemana, tadi 'kan tergeletak disitu. Kok sekarang nggak ada. Kemana perginya, terus laki-laki tadi yang nungguin juga nggak ada?" tanya si ibu dengan wajah panik.
"Ouh iya ... tadi mbak tina dibawa sama laki-laki itu bu, katanya mau di bawa ke rumah sakit, soalnya takut terjadi apa-apa sama mbak tina, karena tadi pingsan. Nih laki-laki itu juga ninggalin nomor ponselnya, katanya suruh di kasihkan ke orang tua mbak tina kalau nanti beliau tanya." warga menyodorkan secarik kertas ke si ibu.
"Ya syukurlah kalau cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Ya sudah biar nanti saya yang sampaikan kertas ini ke bu yeni nanti. Soalnya tadi pas tak samperin rumahnya nampak kosong, makasih ya mas."
Si ibu lantas pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Sementara pengendara yang menabrak atina sedang di mintai keterangan sama pak rt, ia menjelaskan semua kronologi kejadian yang menimpanya. Laki-laki itu juga meminta maaf kepada pemilik motor yang ditabraknya tadi. Untung si pemilik beberapa motor yang ia tabrak berusaha legowo. Mereka memaklumi bahwa kejadian itu tidak disengaja. Apalagi setelah tahu alasan kenapa laki-laki itu memacu motor lumayan kencang. Itu semua karena ia menerima kabar kalau istrinya mau melahirkan, sementara di rumah hanya ada istri dan anak sulungnya yang berusia 10 tahun. Atas dasar itu, pak RT lantas meminta laki-laki itu pulang. Tapi sebelumnya, pak RT meminta nomor ponselnya dan juga data identitasnya untuk dicatat. Begitu nanti pihak keluarga atina meminta tanggung jawab, pak RT bisa dengan mudah menghubunginya. Laki-laki tadi memenuhi persyaratan dari pak RT, ia juga berjanji siap bertanggung jawab kalau nanti orang tua korban menuntutnya. Karena dianggap sudah clear, pak RT lantas meminta laki-laki itu untuk segera pulang menolong istrinya. Setelahnya semua warga membubarkan diri dari tempat kejadian kecelakaan.