
Adzan subuh terdengar berkumandang, Melvin yang tengah terlelap mulai membuka mata, melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Ia lantas bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Melaksanakan dua rakaat dengan begitu khusyuk. Menengadahkan kedua tangan beberapa menit dengan lantunan doa-doa yang sepenuh hati ia panjatkan kepada Allah, Sang Penguasa Alam Semesta. Selesai bermunajat, Melvin berjalan ke arah meja tempat ia menaruh ponsel. Dilihatnya ponsel sejenak, tampak wajahnya seperti tengah berpikir sesuatu. Ditekannya deretan beberapa angka lantas dia klik tombol panggil, seketika wajahnya tampak tegang.
Rupanya pemilik nomor tadi telah menerima panggilan dari ponsel melvin.
"Waalaikumsalam, i-iya hallo, a-aku Melvin," ucap melvin dengan terbata-bata.
"Apa kamu baik-baik saja. Semalam, kamu pulang jam berapa dengan laki-laki itu. Kamu nggak di apa-apain 'kan sama laki-laki itu dan pacarnya," tanya Melvin yang ternyata tengah menelpon Atina. Ia nampak terdiam mendengar jawaban dari Atina di seberang sana.
"Nggak penting, aku tau nomor kamu dari siapa. Yang terpenting, aku udah tau kalau kamu baik-baik saja, itu udah cukup.Ya sudah, maaf kalau mengganggu waktu kamu. Aku tutup dulu teleponnya, Assalamu'alaikum," ucap Melvin tampaknya merasa lega setelah berhasil menghubungi atina dan tahu kalau atina baik-baik saja.
Semalam, Melvin merasa menyesal, kenapa ia harus langsung pergi begitu saja setelah menolong Atina dari amukan seorang perempuan bar-bar. Ia sangat menyayangkan akan tindakannya itu. Dan, pada akhirnya, ketika sampai rumah, yang ada hatinya merasa gelisah. Tapi, mau balik ke restoran tempat Atina berada juga tidak mungkin.
Sementara itu, di rumah Atina. Ia terlihat bengong sendiri di depan meja rias kamarnya. Ia masih tak percaya kalau barusan Melvin menelepon dan lagi-lagi yang bikin dirinya tidak habis pikir, kenapa sikap Melvin seolah-olah merasakan kekhawatiran yang berlebihan. Sampai-sampai subuh buta berani menelepon dirinya.
"Mas Melvin emang nggak bisa ditebak, kadang baik banget dan perhatian. Tapi, disisi lain juga kadang kasar kalau berbicara, suka ngebentak dan juga cuek. Akunya yang terlalu bodoh sampai nggak bisa menilai Mas Melvin atau karena Mas Melvin emang mempunyai sifat ganda. Haduuh ... Pagi-pagi udah di bikin pusing aja sama ni orang. Tapi ... ngomong-ngomong, dia tahu nomor ponselku dari siapa ya?" Gumam Atina asik dengan pikirannya sendiri.
Tok..tok...tok terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Tin ... kamu sudah bangun belum?" tanya seseorang dibalik pintu yang ternyata Bapak Atina, Pak Roni.
"Iya Pak, bentar, Atina udah bangun dari tadi kok," balas Atina melangkah membukakan pintu. Pak Roni berdiri sembari menatap putri nya.
"Ada apa Pak?"
"Nanti kamu berangkat ngajar biar Bapak anterin ya, soalnya Bapak mau pinjem motor kamu, ada perlu untuk beli perlengkapan service elektronik. Motor Bapak sepertinya harus di bawa ke bengkel. Soalnya, dari tadi dinyalain nggak mau nyala." Terang Pak Roni.
"Ouh, kirain ada apaan Pak. Iya nggak apa-apa Pak. Tapi ... nanti pulangnya Bapak nggak usah jemput, biar Atina pesen ojek aja Pak,"
"Laah, ngapain pesen ojek Tin. Biar Bapak jemput aja, nggak apa-apa."
__ADS_1
"Udah, nggak usah. Bapak anterin Atina aja. Nggak usah jemput. Lagipula Atina nanti mau ada perlu dulu. Jadi, mungkin agak lama,"
"Ouh, ya sudah kalau gitu," setelah itu ayah atina berlalu ke belakang.
Jam menunjukkan setengah tujuh, Atina di bonceng Pak Roni menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Atina pamit sama Pak Roni, bergegas ia masuk ke gedung sekolah.
Bim ... bim ... bim, suara klakson mobil menghentikan langkah Atina.
"Bu Atinaaa...." terlihat Chessy menyembulkan kepalanya keluar dari jendela mobil.
Atina melambaikan tangan dengan senyum menghiasi bibirnya. Chessy segera turun dari mobil dan langsung berlari menghampiri guru nya.
"Duh ... Chessy!! ngapain lari-lari Ches, nanti jatuh lho," tegur Atina.
"He-he...." Chessy hanya cengengesan mendengar teguran dari Bu Atina.
"Chessy, kamu masuk duluan ke kelas ya, Papa mau bicara sama Bu Atina. Sana giih...." Perintah Melvin kepada Putrinya.
"Oke Pa. Chessy masuk dulu Bu Atina," pamit Chessy langsung melangkah menuju ke kelas nya.
Hening beberapa saat, hingga akhirnya Atina mencoba memberanikan diri bertanya.
"Mas Melvin mau bicara apa sama aku,"
Bukannya menjawab tapi Melvin malah bengong seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Maas...!!!" Atina menjentikkan jarinya di depan wajah melvin
"Eh, i-iya sayang ... ups, maksud aku Atina," Melvin keceplosan, membuat atina tersenyum simpul, mendadak wajah melvin seperti kepiting rebus, malu ulah mulutnya yang tidak bisa di rem(Rem nya blong kali yaaa reader hihihi). Atina hanya bisa geleng-geleng kepala sembari memikirkan apa yang mau mas melvin omongin sama dirinya. Sejenak hening, Atina masih menunggu, tapi yang di tunggu lagi-lagi malah diam membisu. Benar-benar aneh, pikir Atina.
__ADS_1
"Lah ... malah bengong. Tadi katanya mau ngomong. Udah ditungguin dari tadi tapi malah diem nggak ngomong juga," ucap Atina mulai kesal.
"Iya-yaa, sebenarnya aku...."tiba-tiba bel sekolah berbunyi bersamaan dengan itu pula datanglah Putra menghampiri Atina dan Melvin yang tengah berdiri tak jauh dari gerbang sekolah. Padahal Melvin belum sempat meneruskan ucapannya.
"Bu Atina, kok nggak masuk. Lagi ngapain??" Putra bertanya tanpa menyapa Melvin yang jelas-jelas ada di hadapan Atina, dari mimik wajah yang terlihat, sepertinya Pak Putra kurang suka kalau Atina berdekatan dengan laki-laki lain, apalagi ini masih di lingkungan sekolah.
Melvin yang bisa membaca gestur tubuh Guru yang bernama Putra ini tak membuat nyalinya menciut sedikitpun. Bahkan ia tetap berusaha bersikap biasa.
"Mmm ... ya sudah Atina, ngomongnya next time aja. Sekarang kamu masuk dulu,udah dipanggil tuh sama Pak Satpam!" ucap Melvin sengaja menyebut putra sebagai satpam Atina. Sontak Putra tersinggung dong, ia menatap tajam Melvin.
"Maksud anda apa, nyebut saya Satpam Bu Atina?!" tanya Putra dengan penuh penekanan.
"Emang tadi saya nyebut nama, nggak 'kan?ngapain anda marah," elak Melvin terlihat santai.
Melihat bau-bau ke arah pertengkaran, Atina langsung menginterupsi Putra untuk masuk lebih dulu.
"Pak Putra, maaf. Pak Putra bisa nggak, masuk duluan. Bentar lagi juga aku masuk," ujar Atina mencoba mencegah keadaan kian memanas.
Mendengar perintah dari wanita yang ia sayangi, mau tak mau putra pun mengiyakan permintaan Atina, padahal hatinya masih dongkol, terlihat kedua tangannya mengepal sembari berjalan meninggalkan Atina dan Melvin.
"Kamu apa-apaan sih Mas, kok ngomongnya gitu sama Pak Putra. Sebenarnya Mas mau ngomong sama aku, apa mau ngajakin ribut Pak Putra, heran deh. Udah ya, aku masuk duluan. Silahkan Mas Melvin bisa langsung pulang." Atina memprotes sikap Mas Melvin terhadap Pak Putra karena menurutnya sikap Mas Melvin tadi bisa memicu pertengkaran.
"Loh ... kenapa kamu marah, kamu nggak terima, aku ngatain tu laki-laki dengan sebutan Satpam. Kenapa? Kamu suka sama dia makanya kamu sampai marah dan ngusir aku?!" Cerocos Mervin dengan sedikit amarah.
"Mas ngomong apaan sih, nggak jelas tau nggak. Lagipula, siapa juga yang ngusir Mas. Aku cuma bilang, Mas pulang aja karena aku mau masuk ke kelas. Tapi, kalau Mas nggak mau pulang dan masih mau di sini, juga nggak masalah. Terserah, Mas aja. Aku masuk dulu," tanpa menunggu jawaban dari Melvin, Atina ngeloyor meninggalkan dirinya.
Melvin hanya diam sambil pandangan matanya mengarah kepada Atina. Ia menghela napas panjang.
"Argh ... siaal, kenapa jadi begini sih?!"
__ADS_1