Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 8 Pulang Ke Rumah


__ADS_3

"Hari ini ibu sudah boleh pulang ya, tapi tetap obatnya jangan lupa diminum ya bu," ucap dokter yang menangani Atina.


"Iya Dok, terima kasih," sahut Atina.


Setelah dokter keluar, Melvin menghampiri Atina.


"Aku urus dulu biaya administrasinya, kamu siap-siap dulu, nanti setelah selesai semua, aku langsung kesini lagi buat antar kamu pulang." Melvin bergegas melangkahkan kakinya ke luar ruangan.


"Tunggu Mas ... Aku ambilkan dulu uang untuk bayar biaya rumah sakit, kebetulan aku ada uang cash di tas," cegah Atina ketika melihat Melvin hendak keluar ruangan.


"Nggak perlu, biar saya yang bayarin. Uangmu simpan aja untuk keperluan lain."


"Tapi Mas...."


"Udah, nggak apa-apa, kamu diem aja disini dulu, oke!" tegas Melvin ketika atina hendak menyela ucapannya lagi.


Atina hanya bisa pasrah, sebenarnya ia merasa tidak enak hati karena dari kemaren sudah merepotkan melvin. Ia tidak mau sampai berhutang budi pada Melvin.Tapi, apa boleh buat. Kalau harus menghubungi orang tuanya juga tidak mungkin, karena pasti orang tua Atina juga lagi sibuk mengurus neneknya yang sedang sakit, kalau atina kasih tahu tentang keadaannya sekarang, yang ada malah menambah beban pikiran orang tuanya. Maka terpaksa ia menerima semua kebaikan yang Melvin kasih saat ini. Ketika sedang termenung sendiri, terdengar pintu ruangan dibuka. Muncullah Melvin dari balik pintu, ia lantas masuk dan heran melihat Atina yang tengah duduk melamun di tepi ranjang rumah sakit.


"Heh, kok malah melamun!" suara melvin mengagetkan atina.


"Eh ... anu ... Mas, kok dah balik. Cepet banget, kapan masuknya, kok aku nggak dengar suara pintu dibuka." Atina gugup karena tiba-tiba Melvin ada dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat.


"Gimana mau dengar, lha wong dari tadi melamun kok. Jangan suka ngelamun, apalagi ini rumah sakit, nanti kalau kamu kerasukan gimana, aku yang repot!"


"Apaan sih, ngomongnya kok gitu banget, bikin merinding aja!" sewot Atina.


"Dibilangin juga. Ya sudah, yuk pulang, nanti aku anter sampai rumah. Oh ya, sampai lupa. Tadi aku dah hubungi sekolah tempatmu mengajar, aku udah minta izin langsung sama Kepala Sekolah, kalau kamu hari ini tidak masuk karena baru kena musibah. Jadi, nanti kamu istirahat aja di rumah. Chessy juga sudah tahu kamu baru keluar dari rumah sakit. Tadi ketika di lobi rumah sakit, Chessy sempat telepon nanyain keadaan kamu."


"Terima kasih banyak Mas, udah bantuin aku. Maaf ... awal bertemu, aku kira Mas orangnya galak dan cuek banget. Tapi ternyata Mas bisa baik juga," ungkap Atina jujur.


"Ya ... aku sudah bisa menebak kalau kamu akan berfikiran seperti itu tentangku.Jadi, aku nggak masalah. Lagipula aku juga berpikir, kirain kamu itu wanita galak yang pemberani. Eh, taunya penakut juga, he-he-he!"


"Siapa yang penakut, sok tau banget!"


"Laah, tadi malam buktinya nggak bisa tidur 'kan pas aku tinggal keluar sebentar nunggu sopir rumah nganterin pakaian ganti. Kamu takut 'kan, makanya nggak berani tidur karena ketakutan ha-ha," refleks tangan atina memukul lengan melvin. Buugh....


"Aduuh ... Sakit banget, itu tangan apa besi. Keras amat nyampe nyeri nih lenganku," Melvin pura-pura meringis kesakitan, ia berkali-kali mengusap lengan yang tadi dipukul atina.


"Masa gitu aja sakit, jadi laki-laki lemah banget!" Atina ngeloyor pergi mendahului langkah Melvin, tak tinggal diam, Melvin lantas mengejar sampai posisinya kembali sejajar dengan Atina.

__ADS_1


"Kalau aku lemah nggak mungkin aku kuat ngangkat tubuh kamu kemaren. Mana berat pula'?!"


"Apa ... ja-jadi kemaren kamu yang ... tapi tunggu ... tadi kamu bilang aku berat, yang benar saja.Badanku langsing gini kok dibilang berat. Jangan fitnah!"


"Ya berat, mungkin kamu banyak dosanya, makanya jadi berat walaupun tadi kamu bilangnya langsing," gurau melvin sembari tersenyum jahil.


"Issh, bodo amat ah!" Tak mau lagi menanggapi celotehan Melvin, Atina langsung bergegas melangkah. Merasa dicuekin, Melvin hanya bisa garuk-garuk kepala.


Keduanya lantas menaiki mobil menuju kediaman atina. Sesampainya di teras rumah Atina, terlihat Bu Yeni tengah menyapu halaman depan. Bu Yeni menghentikan aktivitas menyapunya ketika ia melihat sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah. Ia menatap heran ke arah mobil itu.


Selang beberapa detik, Atina dan Melvin keluar dari mobil secara bersamaan. Sontak Bu Yeni merasa heran, Ibu Atina menatap anaknya secara intens. Yang ditatap hanya bisa menelan ludah dan salah tingkah. Karena selama ini, Atina tidak pernah pulang membawa teman laki-lakinya.


"Assalamu'alaikum Bu...." ucap atina sembari mengulurkan tangan ke arah ibunya. Setelah mencium tangan ibunya, lantas Atina menyuruh Bu Teni dan Melvin masuk rumah karena atina mau menjelaskan tentang kejadian yang kemaren menimpa dirinya. Mereka bertiga duduk, Atina beranjak ke dapur untuk memanggil bapaknya, sekaligus bikin minum buat melvin.


Setelah semua berkumpul di ruang tamu, Atina mulai memperkenalkan melvin terlebih dahulu.


"Pak, Bu ... kenalkan, ini Mas Melvin Papanya salah satu murid Atina di sekolah. Jadi, kemaren Mas Melvin dan anaknya yang bernama chessy mengantar Atina pulang. Ketika sampai depan warung Bu Ika, ketika mau menyeberang jalan ,Atina keserempet motor. Atina pingsan seketika. nah, Mas Melvin ini yang menolong Atina dan membawa Atina ke rumah sakit. Ni atina baru aja pulang dari rumah sakit setelah rawat inap semalam disana." Atina menjelaskan Secara keseluruhan apa yang menimpanya.


Bu Yeni dan Pak Roni terkejut.


"Astaghfirullah Tin, kenapa kamu nggak ngabarin Ibu sih dari kemaren, kenapa baru sekarang cerita sama kami thoo tin...?!" Bu Yeni menggeleng pelan.


"Ya wajar khawatir, namanya juga orang tua Tin. Lain kali, Ibu nggak mau ya kalau sampai kamu seperti ini lagi.Dalam keadaan apapun, jangan nggak ngomong sama orang tua ketika kamu kena musibah atau sedang dalam masalah, Jujur sama orang tua," nasehat Bu Yeni, Ati atina hanya menganggukan kepala.


"Ouh ya Nak Nelvin, Bapak ucapkan terima kasih ya karena sudah menolong dan menjaga Atina selama di rumah sakit," Pak Roni menatap melvin dengan senyum.


"Iya sama-sama Pak," jawab Melvin singkat, entah kenapa Melvin terlihat canggung ketika berhadapan dengan kedua orang tua Atina.


"Nak Melvin rumahnya dimana? Jauh nggak dari rumah Ibu ini??"


"Mas Melvin ini anaknya Bu Rumana Bu. Ibu masih ingat 'kan Bu Rumana yang tempo hari ketemu di pasar," sela Atina.


Bu Yeni tampak mengerutkan keningnya mencoba mengingat.


"Oh ya, Ibu ingat. Ibu-ibu yang waktu itu kamu...."


"Sstt .... Udah ah bu, jangan ngomongin itu lagi, nanti aku bisa malu, hmm...." potong atina menempelkan jari telunjuknya ke bibir memberi isyarat supaya Ibunya diam. Hampir saja ketahuan, kalau sampai melvin tahu, pasti ia akan diledek habis-habisan.


"Kamu mau ngomong apa tadi bu, kok nggak di lanjutkan. Kamu juga Tin, orang tua lagi ngomong main potong saja. Nggak sopan itu!" ujar Pak Roni membuat atina salah tingkah.

__ADS_1


"Udahlah Pak, Bapak nggak perlu tahu, ini tuh rahasia wanita. Jadi, laki-laki nggak boleh tahu," Jawab bu yeni beralasan.


Sementara, Melvin menatap atina penuh selidik Atina pura-pura bersikap biasa.


Tiba-tiba ditengah obrolan, ponsel Melvin berdering menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. Lantaselvin meminta izin untuk menerima panggilan telepon sejenak, ia bergegas melangkah ke teras rumah Atina.


"Tin, anaknya bu rum ganteng juga ya, badannya macho, tinggi pula udah kayak artis aja." Bu Yeni duduk mendekat ke arah Atina, sambil matanya menatap ke teras.


Sontak mata Atina membulat terkejut dengan perkataan ibunya barusan.


"ehem ... ehem...." Tina-tiba Pak Roni berdehem keras sambil matanya melotot tajam ke arah bu Yeni. Bu Yeni hanya bisa garuk-garuk kepala dan salah tingkah sendiri karena apa yang ia katakan kepada Atina ternyata didengar juga oleh suaminya.


"Inget umur Bu, nggak bisa lihat yang bening dikit," Pak Roni berkata dengan nada tegas.


"Apaan sih Pak, La wong apa yang ibu bilang fakta kok. Kalau Nak Melvin itu ganteng. Tapi, Bapak tenang saja, Ibu nggak mungkinlah naksir sama berondong. Maksud Ibu tu buat tak jodohin sama Atina, kayaknya cocok. Siapa tau 'kan bisa berjodoh."


"Apa apaan sih Bu, ngaco deh kalau ngomong. Malu 'kan kalau Mas Melvin sampai dengar. Udah ah, mending ibu diem dulu ya, jangan ngomong aneh-aneh gitu?!" tegas Atina.


Tak lama Melvin kembali masuk setelah mengakhiri panggilan telepon. Ia kembali duduk ke tempat semula.


"Pak, Bu ... tadi ibu saya yang telepon. Kata beliau, Insya Allah nanti malam mau kesini buat jenguk Atina. Soalnya, kemaren nggak sempet jenguk pas Atina lagi di rumah sakit."


"Iya boleh-boleh, nanti kami tunggu kedatangannya Nak. Oh ya, Nak Melvin sudah sarapan belum? yuk sarapan disini. Tadi ibu sudah sempet masak juga," ajak Bu Yeni.


"Aduuh ... nggak usah repot-repot Bu. Nanti saya sarapan di kantor aja Bu. Soalnya, habis ini mau sekalian ke kantor," tolak Melvin secara halus.


"Jangan nolak ya. Anggap aja, ini sebagai ucapan terima kasih Ibu karena Nak Melvin udah nolongin Atina, mau ya?" Bu Yeni membujuk Melvin. Merasa tidak enak, akhirnya Melvin mengiyakan ajakan Bu Yeni.


Keempatnya lantas berjalan menuju meja makan. Nampak hidangan tersaji di sana. Ada Capcay , Sambal dan juga Ikan goreng terlihat menggugah selera. Akhirnya mereka makan dengan lahap, Melvin yang awalnya nampak canggung kini sudah mulai terlihat rileks, ia begitu menikmati makanannya. Tanpa ia sadari, sejak tadi Atina menatapnya, entah karena terpesona akan ketampanan Melvin ataukah karena ada sesuatu yang atina pikirkan tentang Melvin, tidak ada yang tahu.


"Tambah lagi Nak nasi dan lauknya, kebetulan Ibu masak banyak tadi." Ujar Bu Yeni karena melihat piring melvin yang sudah nampak kosong.


"Iya Bu, makasih. Udah cukup, takut nanti malah kekenyangan. Masakan Ibu enak, saya suka," puji Melvin membuat Bu Yeni tersenyum sumringah.


"Syukurlah kalau Nak Melvin suka dengan masakan Ibu. Loh... Tina, ngapain bengong, kamu nggak makan?" Tegur Bu Yeni.


"Eh ... i-iyaa Bu, ni juga lagi mau makan." Atina nampak gugup karena ketahuan oleh ibunya sedang melamun, Lantas ia mengambil lauk dan juga makanan lainya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Dasar wanita aneh," batin Melvin melihat tingkah Atina.

__ADS_1


__ADS_2