
Malam ini Bu Fitri tidak bisa hadir di acara resepsi pernikahan Putra karena mendadak badannya sedikit meriang. Atina yang kala itu bingung harus pergi kondangan dengan siapa, akhirnya memutuskan mengajak Ibunya untuk menemani dirinya. Sebetulnya, ia sempat meminta Melvin untuk menemani, tapi laki-laki itu terpaksa menolak karena ia sudah berjanji pada Chessy untuk pergi berdua. Katanya sih ke acara ulang tahun temannya. Sejenak Atina berpikir, siapa teman Chessy yang ulang tahun?
"Kamu yakin mau ngajak Ibu ke acara resepsi pernikahan Nak Putra, Tin?? Kenapa kamu nggak ngajak teman kamu aja Tin. 'kan teman kamu banyak. Nggak hanya Guru di tempat kamu ngajar," ucap Bu Yeni.
"Ibu lupa ya. Teman-teman dekat Atina 'kan kebanyakan kerja diluar kota Bu. Udah, mending aku ngajak Ibu aja. Lebih cepet dan nggak kelamaan nanti." sahut Atina, ia selesai berdandan di depan meja Rias. Atina malam ini mengenakan gamis berwarna maroon dengan sedikit pernak pernik yang menempel di gamisnya menambah kesan elegan dan juga berkelas meskipun model gamis yang ia kenakan sangat sederhana. Belum lagi hijab dengan model kekinian menambah aura kecantikan Atina terpancar seketika.
"Loh... Loh..., Ibu dan Atina mau kemana? Kok udah rapi banget gini. Wangi pula." Pak Roni muncul dari dapur, mendapati Istri dan Anaknya sudah rapi, lantas ia pun heran. Karena baik sang Istri maupun Atina belum ada yang memberi tahu beliau akan rencana mereka untuk kondangan.
"oh ya. Ibu lupa bilang sama Bapak. Ibu dan Atina mau ke acara resepsi pernikahan Putra Pak. Itu loh, teman ngajar Atina di sekolah." jawab Bu Yeni
"Yaudah yuk Bu. Kita berangkat sekarang." Ajak Atina. Lantas ia dan Bu Yeni mencium tangan Pak Roni.
Mereka berdua memutuskan untuk naik taksi online. Karena resepsi diadakan di rumah Sandra, maka Atina pun langsung menuju ke alamat sesuai yang tertera di undangan.
Tak lama, taksi yang mereka tumpangi sampai juga di alamat tujuan. Atina dan sang Ibu langsung turun dari mobil.
Respon pertama begitu melihat tempat Resepsi Putra, keduanya terlihat sangat takjub. Bagaimana tidak, meskipun diadakan di rumah pribadi, tapi dekorasi dan penataan tiap sudut tempat acara begitu mewah. Semua dihiasi berbagai macam bunga berwarna warni dengan kerlap kerlip lampu kecil yang menambah kesan mewah dan juga lebih semarak.
Semua tamu undangan seakan berlomba tampil sebaik mungkin di acara malam ini.
__ADS_1
"Bu, ayo kita masuk sekarang." Ajak Atina menggandeng tangan beliau.
Setelah menulis nama di buku tamu, Atina melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru berharap bertemu dengan orang yang Atina kenal. Nihil, ia belum menemukan orang yang di cari. Rata-rata tamu undangan yang hadir adalah orang asing yang sama sekali tidak ia kenal. Apakah Putra tidak mengundang semua Guru di sekolah? Buktinya sampai saat ini ia tidak bertemu dengan rekan seprofesinya di tempat itu.
"Hey, Kamu Atina 'kan??" Sapa seseorang menghampiri Atina yang tengah berdiri berdampingan dengan sang Ibu.
"Hey, kamu ... Aduh, siapa ya, lupa aku nama kamu padahal baru kemaren ketemu," sahut Atina mencoba mengingat-ingat nama laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya.
"Aku Anjas, udah ingat??" sahutnya sembari menatap lekat ke arah Atina.
"Ah, iya benar, Anjas. Maaf aku beneran lupa barusan. Oh ya, kenalkan ini Ibu aku." Ujar Atina, Anjas bergegas menyalami Bu Yeni. Ia mencium tangan beliau sambil memperkenalkan diri.
Bu Yeni menyambut ramah uluran tangan Anjas.
"Makasih Njas. Nanti biar aku ambil sendiri aja. Nggak perlu repot-repot ngambilin kami makan." Tolak Atina lembut. Ia hanya tidak mau merepotkan laki-laki itu.
"Ah, nggak usah sungkan gitu Tin. lagipula aku nggak merasa direpotkan kok. Yaudah, kalau kamu dan Ibu kamu belum mau makan. Aku temenin kamu dan Ibu disini ya. Aku juga bingung mau nyapa yang lain. Nggak ada yang kenal. He-he. Ibu dan kamu nggak keberatan 'kan??"
"Iya, silahkan Nak. Ibu dan Atina senang malah kalau Nak Anjas mau nemenin kami. Kayaknya Atina juga sama, nggak kenal orang-orang yang ada disini selain Nak Anjas dan Nak Putra saja."
__ADS_1
"Iya Bu. Makasih sudah diizinin."
Mereka akhirnya asik mengobrol, terlihat Anjas mengambil beberapa kue dan minuman untuk Atina dan Ibunya. Meskipun Atina sempat menolak untuk di ambilkan, tapi Anjas tetap kekeh mengambil makanan untuk mereka.
Disaat mereka tengah fokus makan, mendadak mata Atina menangkap sosok laki-laki yang sangat ia kenal. Sosok laki-laki itu menggandeng gadis kecil berambut panjang dengan kulit putih. Dan yang membuat Atina merasakan nyeri di hati, ketika ia melihat sendiri sosok laki-laki itu juga berdampingan dengan wanita cantik dan ia pun kenal siapa wanita itu. Entah kenapa melihat sosok laki-laki itu membuat selera makannya hilang seketika. Kue yang baru setengah ia cicipi tak lagi di teruskan padahal hanya menyisakan satu gigitan lagi. Raut wajah Atina juga tiba-tiba mendung. Genangan air yang memenuhi kelopak matanya seakan air bah yang kapan saja mengalir deras membasahi pipi kalau saja tak ada tanggul yang menahannya. Ya, sekuat mungkin Atina menahan agar air matanya tidak jatuh. Apalagi sekarang di sampingnya ada sang Ibu dan juga laki-laki yang baru kemaren di kenalnya.
"Loh Tin. Kamu kenapa. Kok kayak melamun gitu??" tiba-tiba Bu Yeni membuyarkan lamunan Atina. Ia tersentak kaget dan dengan cepat menyeka air mata yang hendak tumpah membasahi pipi.
Anjas juga langsung mengarahkan pandangan matanya ke Atina.
"Ah, Eh, nggak ko Bu. Si-siapa juga yang lagi ngelamun. Atina cuma lagi mandangin orang-orang yang datang. Semua nampak cantik-cantik bahkan udah mau nyaingin pengantin wanitanya. He-he," sahut Atina membuat alasan.
Anjas yang melihat perubahan raut wajah Atina sudah bisa menebak kalau wanita yang ada dihadapannya itu sedang tidak baik-baik saja. Namun apa penyebabnya ia sendiri tidak tahu. Mau bertanya pun ia enggan.
"Itu kuenya jangan disisain Tin, sayang 'kan nanti jadi mubazir. Makan lagi gih." Anjas berusaha membuat Atina lebih rileks dengan tidak menanyakan sesuatu yang justru malah akan membuat mood wanita itu kian memburuk.
"Iya Anjas. Nih aku habisin sekarang ya. Enak banget kue ini, mana mungkin akan aku sisain. Justru yang ada malaj nanti aku akan nambah, he-he," kelakar Atina membuat Anjas tersenyum senang.
"Ya, kalau mau nambah jangan sungkan-sungkan Tin. Ambil aja sepuasmu. Mumpung nggak ada yang ngelarang. Ayo Bu, kalau Ibu mau nambah juga, bilang sama saya. Nanti akan saya ambilkan buat Ibu." Bu Yeni hanya menggelengkan kepala, ia tak mampu menjawab dengan kata-kata karena mulutnya tengah penuh dengan makanan.
__ADS_1
Atina berusaha kembali menata hatinya. Ia juga berusaha untuk tidak menatap sosok laki-laki yang tengah jalan dengan seorang wanita cantik. Ia juga berharap agar sosok itu jangan sampai menyadari akan adanya dirinha disitu.
"Apa ini alasan kamu yang sebenarnya menolak ajakan ku tadi Mas Melvin. Kamu bilang akan nganter Chessy ke acara ulang tahun temannya. Tapi apa, nyatanya kamu justru malah jalan dengan wanita itu ke sini. Acara resepsi pernikahan Putra dan Sandra. Kenapa harus nolak ajakan ku kalau nyatanya tujuan kamu sama-sama mau kesini." Batin Atina bergemuruh. Ia tidak menyangka akan diperlihatkan pemandangan yang justru membuat hatinya teriris. Tanpa sadar ia meremas kuat sendok yang ia pegang. Tentu hal itu membuat Anjas bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi sama wanita dihadapannya itu. Ia yang awalnya tampak ceria tiba-tiba berubah jadi mendung begitu raut wajahnya.