
Berkali-kali panggilan telepon dari Melvin masuk namun Atina membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Rasanya masih kesal dengan laki-laki itu sehingga bahkan untuk mengangkat teleponnya pun terasa enggan.
"Tin, itu dari tadi hape kamu bunyi loh. Kenapa didiemin aja. Angkat kek, biar nggak berisik!!" teriak Bu Yeni
"Nggak penting kok Bu. Malas banget mau angkat. Yaudah bentar, biar aku silent aja hape nya." Sahut Atina mengambil hape yang ia letakkan di meja makan.
Baru mau klik tombol silent, tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor Melvin. Karena penasaran, Atina pun membuka pesan itu.
"Tin, tolong angkat teleponnya. Aku mau bicara sama kamu."
Pesan dari Melvin hanya Atina baca saja, tapi tak ada sedikit pun niatan untuk membalasnya.
Atina lebih memilih membantu Ibunya menyiapkan sarapan daripada harus berkutat dengan hape miliknya.
Setelah semua hidangan tersaji di meja makan. Semua penghuni rumah yang hanya terdiri dari Bapak, Ibu dan juga Atina tampak menikmati sarapan mereka dengan penuh syukur.
"Pak, Bu. Atina pamit mengajar dulu ya," Atina mengulurkan tangannya ke arah sang Bapak dan Ibu. Setelah berpamitan, Atina langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Seperti Biasa, di jam kerja seperti sekarang ini, jalanan tidak pernah sepi. Selalu dipadati oleh kendaraan yang hendak menuju ke tempat kerja masing-masing.
Tak sampai satu jam, Atina sudah sampai di sekolah tempat ia mengajar. Motor sudah di parkir di tempat biasa. Lantas Atina beranjak menuju ruang kerja miliknya. Ketika baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara memanggil namanya. sontak langkah itu terhenti seketika.
__ADS_1
"Atina!! Tunggu!!" teriak seorang laki-laki. Seketika Atina menoleh ke belakang.
"Mas Melvin," ucapnya menatap ke arah laki-laki yang tadi memanggilnya. Laki-laki itu terlihat berlari ke arah Atina.
"Tin, Alhamdulillah... Akhirnya aku bisa bertemu kamu," ucap Melvin dengan nafas ngos-ngosan.
"Ada apa Mas. Kenapa Mas manggil aku. Aku harus masuk sekarang," seru Atina, ada nada tak suka dari ucapannya.
"Tin, tolong kasih aku waktu buat bicara sama kamu. Tolong jangan seperti ini. Aku tau aku salah, tapi semua yang terjadi bukanlah sesuatu yang aku sengaja Tin. Tolong percaya sama aku." Melvin memohon.
"Maaf ya Mas. Sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pribadi. Kita berada di lingkungan sekolah, jadi sebaiknya jangan bicarakan hal itu disini." Sahut Atina agak sinis.
"Terus dimana lagi aku harus bicara semua ini sama kamu kalau telepon aku saja sama sekali nggak kamu angkat, Tin. Tolong jangan begini. Aku benar-benar stress karena kamu jauhi gini. Jangan gini Sayang, aku minta maaf sama kamu kalau aku sudah mengecewakan kamu. Tapi apapun yang kemaren malam terjadi, semua itu bukanlah sesuatu yang aku sengaja. Aku disana hanya karena menuruti kemauan Chessy saja, Tin. Dia yang awalnya ngajak untuk ke acara ulang tahun temannya, ternyata berubah pikiran karena Alana mengajak Chessy untuk ikut ke acara pernikahan teman SMA nya. Dan kamu tau, Sandra ... dialah teman Alana, Tin. Awalnya aku menolak untuk ikut mereka karena aku merasa nggak nyaman jalan sama Alana. Tapi Chessy malah mau nangis kalau aku nggak ikut, jadi mau tak mau aku terpaksa ikut menemani mereka ke acara itu. Aku juga sama sekali tidak tahu kalau Sandra itu istri Putra, Tin. Rekan kerja kamu. Aku sama sekali tidak tau itu. Aku harap kamu tidak lagi marah sama aku, Tin. Aku nggak bisa konsentrasi ngelakuin sesuatu kalau kamu masih marah sama aku dan bahkan enggan bicara sama aku. Aku nggak suka keadaan seperti ini. Aku ingin hubungan kita selalu baik-baik saja. Kamu mau 'kan maafin aku??" Terang Melvin panjang lebar. Ada harapan besar dari tatapan matanya. Harapan agar wanita di depannya itu mau memaafkan semua kesalahan yang tak sengaja ia lakukan. Atina masih terdiam dengan tatapan mata mengarah ke arah Melvin. Entah apa yang dipikirkan wanita itu saat ini setelah mendengar semua penjelasan dari seorang Melvin.
"Benarkah kamu sudah mau memaafkan Mas, Tin??" ucapnya memastikan. Atina menaggukkan kepala. "Alhamdulillah, Mas senang banget dengernya. Makasih Sayang, makasih. Bolehkah aku memelukmu sekarang??" Izin Melvin.
"Nggak, ini sekolah lho Mas. Tuh banyak anak-anak disini. Mana mungkin Mas mau meluk aku disini, gila kali!!" seru Atina menolak keinginan Melvin. Perlahan Melvin mendekat ke arah Atina. Lantas ia sedikit memajukan wajahnya tepat disamping telinga Atina yang tertutup hijab.
"Berarti kalau ditempat lain, boleh dong Mas sepuasnya meluk tubuh kamu??" Bisik Melvin membuat Atina seketika membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
"Nggak!! Tetep nggak boleh!! Udah, Mas mending pulang sekarang. Aku harus masuk. Nggak enak di liatin anak-anak nanti," suruh Atina.
"Iya, iya. Yaudah Mas pergi dulu. Kamu hati-hati ngajarnya, jangan galak-galak kayak tadi ntar muridnya pada kabur," ledek Melvin, setelah itu ia langsung bergegas meninggalkan sekolah. Atina hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah Melvin.
Atina masih berdiri menatap kepergian Melvin hingga laki-laki itu tak terlihat lagi.
"Duh, siapa tuh?? Pacar kamu ya Tin??" mendadak ada suara yang berasal dari belakang Atina.
"Astagfirullah... Bu Fitri!! Bikin kaget saja, udah kayak jailangkung nih Bu Fitri ini. Tiba-tiba nongol dari belakang, untung aku nggak sampai jantung'an!!" Atina refleks sedikit berteriak ketika tiba-tiba rekannya itu mendadak muncul.
"Kamu nya aja yang terlalu fokus menatap laki-laki itu Tin, sampai aku kesini, kamu sama sekali nggak menyadari. Ngomong-ngomong siapa laki-laki itu. Wajahnya kok kayak nggak asing gitu ya. Sepertinya ... aku pernah melihat orang itu, tapi dimana ya?? lupa." Bu Fitri mengerutkan kening sembari mengingat sesuatu. Tapi nihil, ia sama sekali tak ingat. "Dia siapa Tin. Aku perhatiin dari jauh, kalian kelihatan akrab banget." Rasa ingin tahu Bu Fitri muncul.Tak sabar menunggu apa jawaban dari Atina.
"Kepo banget Bu Fitri ini. Ada deh, rahasia dong!!" Cetus Atina sengaja membuat rekannya itu penasaran.
"Ah kamu Tin. Masa sama aku pakai rahasia-rahasiaan segala. Kasih tau dong, penasaran nih??" lagi lagi Bu Fitri tak mau menyerah. Terus mendesak Atina agar mau bercerita tentang laki-laki itu.
Teet ... teet...
Mendadak bel berbunyi, semua siswa siswi berhamburan ke halaman sekolah, mereka terlihat mulai berbaris sesuai kelas masing-masing. Sebentar lagi doa pagi akan dimulai.
__ADS_1
"Nah, bel udah bunyi tuh. Ayo Bu Fit, kita ke sana dulu. Temani anak-anak untuk doa pagi." Seru Atina, ia sama sekali tak menghiraukan Bu Fitri yang tengah menunggu jawaban darinya. Tanpa merasa bersalah, Atina ngeloyor meninggalkan Bu Fitri yang tengah manyun karena merasa di cuekin sama Atina.
Tak lama, ia pun terpaksa mengikuti Atina untuk gabung bersama anak-anak karena sebentar lagi doa pagi akan segera di mulai.