Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 55 Izinkan Aku Menjelaskan Semuanya


__ADS_3

Rasanya ingin segera pulang dari acara resepsi pernikahan Putra ketika Atina melihat orang yang ia sayangi tengah jalan berduaan dengan sang mantan istri. Tidak masalah kalau sebelumnya ia berkata jujur dan bilang terus terang padanya. Tapi kenyataan malah sebaliknya, laki-laki itu telah berbohong kepadanya bahkan mengatasnamakan sang anak demi memuluskan kebohongannya itu.


"Bu, aku izin ke toilet dulu ya." Ucap Atina yang kala itu baru saja menghabiskan kue yang Anjas kasih.


"iya, jangan lama-lama," sahut Bu Yeni singkat.


"Biar aku anterin Tin, kamu pasti belum tahu letak toiletnya 'kan. Biar aku tunjukin supaya nggak nyasar." Anjas menawarkan diri. Atina mengangguk, lantas ia berjalan mengikuti kemana Anjas berlalu.


Tak disangka, ketika berada di dalam toilet, ia justru berpapasan dengan Alana. Wanita itu awalnya terkejut melihat Atina ada di depannya, namun detik kemudian bibirnya tersungging sebuah senyum yang entah apa arti dari senyum itu.


"Kamu disini juga rupanya. Pasti kamu juga tahu 'kan, aku kesini sama siapa aja. Gimana menurut kamu, aku dan Melvin pasangan yang serasi bukan? Apalagi diantara kami sudah ada seorang putri yang cantik. Dan kamu tau nggak, Chessy sangat menginginkan Mama dan Papanya kembali bersatu. Jadi, aku harap kamu sadar diri. Sebaiknya mulai saat ini juga kamu harus jauhi Mas Melvin. Karena dia hanya akan menjadi suamiku nanti. Ya... Aku berencana ingin rujuk lagi padanya," ucap Alana dengan senyum mengejek. Atina yang mendengar itu awalnya agak emosi, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa emosi. Yang ada hanya akan membuat wanita di depannya merasa menang.


"Oh ya. Bagus dong kalau gitu. Kalau Mas Melvin mau dan bersedia rujuk sama kamu, aku akan dengan senang hati melepaskannya. Tapi, masalahnya apa Mas Melvin mau rujuk sama wanita yang pernah berselingkuh dibelakangnya. Coba anda pikir, selingkuh itu kesalahan yang amat fatal lho. Tidak semua orang bisa memaafkan seorang yang pernah berbuat selingkuh. Tapi, kalau kamu terlalu yakin untuk membujuk Mas Melvin agar mau rujuk lagi sama kamu, silahkan lakukan apa aja yang kamu mau. Aku sama sekali tidak akan melarang. kamu tau nggak, laki-laki mana saja bisa aku dapetin kalau aku mau. Jadi misal Mas Melvin sudah nggak mau sama aku, ya nggak apa-apa aku nggak masalah." Jawaban Atina seketika membuat Alana tersinggung dan wanita itu juga tidak menyangka kalau respon Atina akan sesantai itu. Alana pikir, setelah mengatakan kalau dirinya akan kembali rujuk sama Melvin akan membuat Atina marah dan merasa rendah diri. Tapi yang terjadi justru malah sebaliknya. Karena kesal, Alana langsung keluar dari toilet meninggalkan Atina yang tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk toilet. Ia menatap kepergian Alana dengan pandangan nanar. Tak dipungkiri, apa yang Alana katakan sedikit mengganggu pikirannya. Tak mau larut dalam pikiran yang tak menentu, ia memilih masuk ke salah satu bilik toilet.


Tak lama setelai selesai, Atina langsung keluar dari toilet. Dilihatnya Anjas tengah berdiri di depan pintu toilet.


"Udah selesai Tin. Kok lama tadi? Kamu baik-baik saja 'kan??" tanya Anjas yang khawatir karena Atina di dalam toilet cukup lama.

__ADS_1


"Iya, aku nggak apa-apa kok. Ayo kita kembali ke depan. Kasian Ibuku pasti bingung sendirian disana." Atina lalu melangkah menuju kembali ke mejanya di mana sang Ibu tengah menunggunya. Belum juga sampai ketempat sang Ibu berada, Atina justru harus bertatap muka dengan Melvin, orang yang saat ini ingin ia hindari.


"A-atina, Ka-kamu ada disini juga!!" Seru Melvin tampak terkejut sampai-sampai ia ngomong pun dengan nada gugup.


"Iya, seperti yang aku katakan tadi di telepon sama kamu Mas. Aku tadi ngajakin kamu kesini, tapi karena kamu nolak dengan alasan mau nemenin chessy ke acara ulang tahun temannya, ya sudah, aku kesini sama Ibu. oh ya, apa acara ulang tahun teman chessy gabung dengan acara resepsi pernikahan Mas Putra ya, kok Mas Melvin bisa ada disini juga sih? Wah, sepertinya seru ya Mas bisa pergi bertiga ke acara ini. Kalian benar-benar terlihat seperti satu keluarga yang harmonis, perfect deh pokoknya." Ucap Atina dengan nada sindiran yang ngena dihati Melvin. Laki-laki itu terlihat salah tingkah dan gugup. Meskipun adanya ia disini tidaklah direncanakan oleh dirinya sendiri. Tapi tetap saja ia sendiri merasa bersalah kepada Atina.


"Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan Tin. Aku bisa jelasin sama kamu. Tolong kamu jangan salah paham sama Mas ya," Melvin berusaha membela diri. Dengan wajah memelas, laki-laki itu berharap agar Atina tidak salah dalam menilai dirinya.


"Nggak ada yang perlu di jelasin sama aku Mas. Semua juga udah jelas bukan? Kamu tenang saja Mas, aku nggak masalah dengan semua ini. Kamu bukan suami aku, jadi silahkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Udah ya, aku permisi dulu. Ibu sudah menunggu. Ayo Anjas, kita kembali ke meja Ibu." Atina berniat pergi dari hadapan Melvin, tapi secepat kilat, tangan Melvin langsung mencekal lengan Atina.


"Tunggu, Tin!! Jangan pergi dulu. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan. Biar kamu nggak salah paham. Setelah itu terserah kamu mau percaya apa tidak sama penjelasan dari aku. Aku mohon sama kamu." Melvin mengiba dihadapan Atina. Sementara itu, Atina hanya diam, wajahnya sama sekali tidak menoleh ke arah Melvin. Anjas yang tak tau apa-apa hanya bisa menyaksikan drama didepannya tanpa ada niatan mau ikut campur, karena biar bagaimanapun, itu bukanlah urusannya.


Melihat Melvin sama sekali tak mengindahkan permintaannya, Atina lantas menarik lengannya secara paksa agar pegangan tangan dari laki-laki itu terlepas. Dan ya, ketika tangannya sudah terlepas dari cengkraman tangan Melvin. Bergegas Atina melangkah meninggalkan laki-laki itu dengan langkah terburu-buru. Melvin hanya bisa pasrah sekarang. Memaksa Atina saat ini tidaklah tepat. Ia akhirnya membiarkan wanita itu pergi dari hadapannya.


"Papa nggak apa-apa 'kan? maafin Chessy ya Pa. Gara-gara Chessy, Bu Atina jadi marah sama Papa." Chessy menghampiri Melvin dan langsung memeluknya. Terlihat wajah penuh penyesalan tergambar jelas di wajah Chessy.


"Chessy nggak usah minta maaf. Semua bukan salah kamu juga Sayang." Melvin berusaha membuat Putrinya tidak sedih karena merasa bersalah. Alana yang sedari tadi berdiri disitu hanya bisa terdiam. Ia tidak mau salah dalam bertindak. Maka diam lebih baik untuk sekarang.

__ADS_1


"Atina... Kamu kenapa lama banget sih ke toiletnya. Ibu dari tadi bingung tau nggak mau ngapain. Nggak ada yang Ibu kenal juga disini." Seru Bu Yeni tampak agak kesal kepada Atina karena anaknya itu terlalu lama pergi ke toilet.


"Maaf Bu. Tadi agak ngantri, jadinya lama." Sahut Atina berbohong. "Oh ya, Anjas. Aku dan Ibu akan pulang sekarang juga. Aku boleh nggak minta tolong sama kamu??" ucapnya menghadap ke arah anjas.


"Mau minta tolong apa. Lagian kok udah mau pulang sih, acaranya belum selesai lho."


"Iya, aku tau. Tapi aku harus pulang sekarang juga. Aku minta tolong, nanti sampaikan salam aku untuk Mas Putra dan Istrinya. Aku pamit ya...."


"Kenapa nggak kamu aja langsung yang nyalamin Putra Tin. Sekalian pulang kalau udah kasih selamat sama Putra."


"Nggak Njas. Kelamaan ngantrinya. Aku harus buru-buru pulang. Tolong banget ya Njas, hanya kamu yang aku kenal disini." Pintanya lagi dengan wajah memelas.


"Baiklah kalau gitu. Nanti akan aku sampaikan salam kamu ke mereka. Kamu pulang naik apa nanti Tin??"


"Naik taksi online Mas. Yaudah aku pamit ya. Yuk Bu, kita pulang sekarang juga." Ucap Atina. Bu Yeni hanya nurut tanpa bertanya kepada Atina. Sepertinya beliau tahu kalau putrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Makanya tiba-tiba ia mengajaknya pulang. Biarlah, ketika sampai di rumah. Bu Yeni akan menanyakan alasan perubahan sikap Atina.


"Nak Anjas, Ibu dan Atina pamit pulang dulu. Terimakasih sudah mau nemenin kami dari tadi, sudah mau ngambilin makan dan minum juga buat kami. Makasih ya Nak." Bu Yeni menyalami Anjas sembari mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.

__ADS_1


Kini, Baik Atina dan Bu Yeni sudah berada di dalam mobil taksi yang mereka pesan. Keduanya sama-sama terdiam, tak ada percakapan apapun dari keduanya.


"Kalau saja tadi nggak ada Mas Melvin. Pasti aku nggak akan buru-buru untuk pulang. Lagian tadi aku juga belum sempat bertemu langsung dengan Mas Putra dan juga Istrinya." Batin Atina. Pandangan matanya mengarah keluar jendela mobil.


__ADS_2