
Sebelum ke kafe itu, Melvin sudah lebih dulu melakukan reservasi. Ia memesan ruang VIP spesial untuk memberikan kejutan kepada Atina. Didalam ruang VIP tersebut, ia menyuruh pihak kafe untuk mendekor ruang dengan berbagai macam bunga dan lampu-lampu hias.
Ia juga memesan menu spesial di kafe tersebut. Semua menu itu harus sudah tersedia 10 menit sebelum kedatangannya.
Kini, Melvin membawa Atina melangkah menuju ke dalam ruang yang telah ia pesan.
"Mas, kita mau kemana?? Kenapa nggak duduk di sebelah sana aja mas. Tuh, ada meja yang masih kosong." tanya atina. Ia heran karena dari tadi melvin terus membawanya memasuki ke arah paling dalam kafe itu. Padahal, sejak tadi ada beberapa meja kosong tapi tidak melvin pilih.
"Udah, kamu ikut saja. Kita akan makan di ruang itu." jawabnya dengan telunjuk mengarah ke arah pintu yang tak jauh dari posisinya sekarang.
Setelah melvin menjawab seperti itu, Atina hanya diam. Ketika pintu ruang VIP terbuka, mulut atina menganga seketika dengan pandangan mata takjub melihat sesuatu yang indah terpampang di depannya. Dengan langkah tergesa tanpa mengajak melvin turut serta, atina langsung masuk begitu saja. Ia edarkan pandangan matanya ke segala penjuru ruang yang sudah di hiasi berbagai macam bunga warna warni di sertai lampu kecil yang berkelap kelip indah. Ia benar-benar terkejut dan kaget. Tak menyangka, melvin akan memberikan kejutan manis seperti ini kepada dirinya.
"Apa kamu suka??" tanya melvin mendekati atina yang tengah berdiri dengan mata berbinar-binar. Ia lantas memandang wajah melvin. Di pandangnya wajah itu dengan senyum merekah yang menghiasi wajah cantiknya.
"M-Mas yang menyiapkan semua ini?? A-aku suka banget Mas. Indah banget ruangan ini!!" seru atina seketika dengan wajah yang terlihat bahagia.
Melvin tersenyum senang karena apa yang ia siapkan berhasil membuat wanita yang sangat ia cintai tersenyum bahagia seperti ini. Lantas melvin mengajak atina duduk di meja yang di atasnya sudah tersedia berbagai macam menu makanan yang sangat menggugah selera.
Atina lagi-lagi terkagum dengan semua perlakuan manis melvin itu. Ia melihat betapa banyaknya makanan yang sudah disiapkan oleh melvin untuknya.
"Mas, kenapa pesan makanannya banyak sekali, sedangkan yang akan makan cuma kita berdua. Apa nanti habis? 'kan sayang kalau nggak kemakan. Jadi mubazir."
"Aku sengaja pesankan semua makanan ini karena aku nggak tau makanan kesukaan kamu apa. Yaudah, aku pesan aja semuanya untuk kamu. Kamu tenang aja Tin, kalau nggak habis 'kan sisanya bisa kita bungkus untuk di bawa pulang. Iya nggak?"
Mendengar penjelasan melvin, atina hanya mengangguk.
"Kenapa tiba-tiba Mas Melvin ngasih aku kejutan seperti ini? aku 'kan nggak lagi ulang tahun."
"Memangnya kalau mau ngasih kejutan harus ketika ulang tahun aja?? nggak juga 'kan??"
"Ya, iya sih. Aku hanya kaget dan heran aja, karena kamu tiba-tiba ngasih aku semua ini."
__ADS_1
" Aku ngelakuin semua ini untuk menghibur kamu agar tidak bersedih, Tin. Aku sudah tahu apa yang menimpa kamu di sekolah kemaren. Maaf, aku baru tau tadi pagi. Itupun karena chessy yang cerita. Makanya aku berinisiatif buat ngasih kamu kejutan ini. Aku harap kamu bisa sedikit melupakan apa yang kamu alami ya. Kamu tau 'kan, aku sangat mencintai kamu. Dan aku nggak mau kamu berada dalam kesedihan yang berlarut-larut. Aku akan selalu berusaha membuat kamu bahagia, dengan cara apapun itu, pasti akan aku lakukan."
Mendengar penjelasan panjang melvin. Seketika membuat mata atina berkaca-kaca. Ia terharu dengan semua perlakuan melvin kepadanya. Padahal, hingga saat ini, ia sama sekali belum memberikan jawaban akan perasaan yang sesungguhnya ia rasakan kepada laki-laki itu.
"Terima kasih untuk semua yang Mas lakukan. Aku sangat bahagia malam ini. Dan Mas juga nggak usah khawatir, aku tidak selemah itu. Masalah seperti apapun, insya Allah, aku akan bisa melalui semuanya dengan baik."
"Ya, aku percaya itu Tin. Aku sangat yakin, kamu adalah wanita yang kuat. Maka dari itu, aku tidak salah sudah memberikan hatiku untuk wanita seperti kamu. Yaah... Walaupun sampai saat ini, kamu belum juga menjawab semua perasaanku ini. Tapi, aku akan tetap sabar menunggu jawaban darimu." Atina langsung salah tingkah kalau melvin sudah membicarakan masalah hati di hadapannya. Ia seketika terdiam, bingung mau mengatakan apa.
"Ayo, sebaiknya kita makan dulu. Keburu dingin makanannya. Kamu mau makan yang mana dulu. Biar Mas ambilkan." Tawar melvin yang melihat atina masih terdiam.
"Ah, nggak perlu Mas. Aku bisa ambil sendiri. Makasih untuk tawarannya." Atina menyendok beberapa menu sekaligus ke dalam piringnya. Ia sudah tidak sabar ingin mencicipi setiap menu yang terhidang di hadapannya.
" Loh, Mas kok nggak makan, malah ngelihatin aku aja. Ayo di makan juga dong Mas. Masa , aku aja yang makan??" Atina langsung menegur melvin, karena sedari tadi, laki-laki itu hanya diam dengan pandangan mata tertuju ke arahnya.
"Aku senang, ngeliat kamu makannya lahap gitu. Dan itu membuat aku jadi lebih tenang sekarang. Aku mikirnya setelah kejadian yang menimpa kamu, nafsu makanmu akan turun. Dan imbasnya, kamu akan jatuh sakit. Tapi, setelah melihat kamu makan seperti ini, aku sangat lega dan rasa khawatirku ke kamu bisa sedikit berkurang."
Atina tersenyum seketika, lagi-lagi melvin benar-benar membuatnya merasa tersanjung sekali. Kemudian, entah dorongan dari mana. Atina mengambil makanan di sendoknya, lantas ia menyodorkan makanan itu ke arah mulut melvin.
Dengan senyum sumringah, tentu saja melvin langsung membuka mulutnya. Ia melahap semua suapan dari atina.
"Nah... kalau di suapi gini, aku akan makan dengan lahap sama seperti kamu, sayang!!"
"Ih, apaan sih, manggil sayang-sayang segala!!" protes atina merasa malu.
"Lho, 'kan Mas emang sayang sama kamu, Tin. Ya, wajar kalau aku panggil kamu dengan sebutan sayang."
"Udah, nih, aa' lagi, biar kenyang!!" Atina kembali menyuapkan sesendok makanan ke mulut melvin.
Tak terasa, sudah hampir 2 jam lebih mereka menghabiskan waktu dinner berdua di kafe itu. Hingga akhirnya, mereka kini tengah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Makasih ya, Mas. Karena malam ini kamu udah bikin aku bahagia." ucap Atina memulai obrolan.
__ADS_1
"Kamu nggak perlu bilang terima kasih gitu. Aku ngelakuin ini, karena aku sayang sama kamu, Tin.Apa yang bikin kamu bahagia, sebisa mungkin akan aku lakuin."
Tiba-tiba tangan kiri melvin meraih tangan atina, lantas ia mengenggamnya dengan lembut.
" Tin, apa kamu sudah punya jawaban atas perasaanku ke kamu??" tiba-tiba melvin bertanya seperti itu, membuat atina menoleh seketika ke arah melvin.
"Apa Mas beneran ingin tahu tentang perasaanku sama Mas?" Melvin langsung menganggukan kepalanya.
"Ngomonglah, agar aku tenang."
"Sebenarnya A-aku ....." Atina terlihat gugup, sehingga ia hanya menggantung ucapannya itu.
"Kok berhenti, kenapa? kenapa nggak di lanjutkan ngomongnya??" Dengan tak sabaran, melvin langsung mencerca atina dengan pertanyaan.
"Udah, ah, Mas. Lain kali aja aku ngomongnya." Seketika atina memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil.
Melvin hanya bisa menghela napas panjang. Terpaksa, ia harus menahan rasa ingin tahu yang besar tentang perasaan atina kepadanya. Kayaknya ia harus lebih sabar lagi menunggu atina siap menjawab pernyataan cintanya tempo hari.
Sesampainya di rumah, atina langsung turun, diikuti melvin di belakangnya.
"Mas, makasih ya untuk malam ini. Makasih juga dah nganterin aku pulang. Maaf ya Mas, kalau aku belum siap untuk memberitahukan perasaanku ini sama kamu. Nanti, kalau aku udah siap, aku sendiri yang akan langsung ngomong sama kamu meskipun tanpa kamu minta, Mas."
"Iya, aku ngerti kok. Ya sudah, aku pulang dulu ya. Salam buat ibu dan bapak kamu, Tin. Maaf, aku nggak bisa mampir karena nggak enak, udah terlalu malam. Kamu masuk sekarang, istirahat dan jangan begadang ya." Setelah mengatakan itu, melvin kembali memasuki mobilnya. Lantas ia melajukan mobilnya perlahan, menjauh dari rumah Atina.
Sesaat setelah itu, melihat mobil melvin sudah menghilang dari pandangan, atina langsung masuk ke dalam rumahnya.
Melvin hanya mengangguk, ia mencoba untuk memahami wanita di depannya itu.
"Ya, kamu tenang aja Tin. Mas akan selalu nungguin jawaban kamu. Ya sudah, aku pulang dulu ya. Salam buat ibu dan bapak kamu. Maaf nggak bisa mampir, karena nggak enak udah malam banget."
Setelah mobil melvin tak terlihat, Atina langsung beranjak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1