
Pagi itu, ketika masih terlelap tidur. Terdengar suara seseorang mengetuk pintu beberapa kali. Atina yang kala itu masih tertidur seketika membuka matanya. Ia mengucek matanya beberapa kali. Di pandang nya jam yang menempel di dinding. Masih pukul setengah lima pagi. Siapa yang mengetuk pintu se-pagi ini. Begitulah yang Atina pikirkan. ketukan pintu masih terus terdengar. Dengan agak was-was, Atina berjalan menuju ke arah pintu.
"Si-siapa di luar!!" teriak Atina. Ia tak berani membuka pintu kalau belum tahu pasti siapa yang datang.
"Ini aku, Tin. Putra!!" teriak seseorang dari luar.
Mau apa Putra pagi-pagi buta sudah datang. Apa ada sesuatu yang penting sampai se-pagi ini laki-laki itu sudah ada di depan pintu.
Tak menunggu lama, Atina langsung membuka pintu secara perlahan. Di liatnya Putra yang tersenyum kecil begitu melihat dirinya muncul dari balik pintu.
"Mas kok pagi-pagi udah kesini. Ada apa? apa Mbak Sandra tahu kalau kamu keluar dari rumah se pagi ini?" Atina langsung bertanya ketika dia dan Putra baru saja duduk.
"Maaf ya, Tin. Aku ganggu kamu pagi-pagi gini. Aku cuma khawatir sama kamu. oh ya, ini aku ada ponsel lama yang udah tak terpakai. Kamu bisa gunakan ponsel ini untuk menghubungi siapa saja yang ingin kamu hubungi. Aku udah isi nomor baru sekaligus kuota dan pulsa reguler jadi tinggal kamu pakai saja." Putra menyodorkan sebuah ponsel android kepada Atina.
"Tapi Mas. Aku belum terlalu membutuhkan hp, Mas. Jadi sebaiknya nggak usah. Aku juga nggak mau terlalu merepotkan kamu lagi. Setelah kondisi tubuhku agak baikan. Aku akan pergi dari sini dan berencana keluar kota untuk kembali menata hidupku yang sempat hancur ini. Jadi ambil kembali hp ini, Mas," perintah Atina. Ia menolak ponsel yang Putra berikan kepadanya.
"Kamu ngomong apa sih, Tin. Aku nggak akan izinkan kamu pergi dari sini. Aku mau kamu tetap tinggal disini sampai kapanpun kamu mau. Aku sama sekali nggak keberatan. Jadi kamu jangan pernah punya pikiran untuk pergi dari sini. Aku nggak mau kamu jauh dari hidupku, Tin," ucap Putra yang seketika membuat Atina heran.
"Maksud kamu apa ngomong nggak mau jauh dari aku, Mas??" tanya Atina seketika membuat Putra tersedak saliva nya sendiri. Ia terbatuk beberapa kali hingga membuat Atina refleks bangkit dari duduk dan berlari ke belakang untuk mengambil minum.
__ADS_1
Setelah segelas air ada di tangan, Atina bergegas menghampiri Putra.
"Ini Mas! minum dulu." Atina langsung menyodorkan segelas air putih kepada Putra. Seketika Putra langsung meminum air itu hingga tak tersisa.
"Makasih, Tin," lirih Putra. Ia mendadak gugup mendapat tatapan penuh tanya dari Atina. "Ya sudah. Aku pamit pulang dulu, Tin. Ini ponselnya nanti kamu pakai. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa langsung telepon aku. nomorku sudah aku simpan di ponsel itu. Aku pamit dulu," tanpa menunggu jawaban Atina. Putra langsung bangkit dan berlalu keluar. Atina hanya bisa melongo melihat sikap tak biada Putra kali ini. Ada apa dengan laki-laki itu, kenapa mendadak bersikap aneh macam ini. Tak mau terlalu memusingkan hal itu, ia pun memilih ke kamar mandi untuk mengambil wudlu guna melaksanakan sholat subuh.
****
"Mas!! darimana kamu jam segini?!" tanya Sandra ketika tak sengaja ia melihat sang suami masuk ke dalam rumah. Kebetulan dirinya mau ke dapur buat ambil minum. Dan ketika melewati pintu depan, ia melihat sang suami masuk ke dalam rumah.
"Nggak dari mana-mana. Cuma di depan saja," jawab Putra berbohong. Ia berusaha bersikap biasa saja agar Sandra tidak tanya macam-macam kepadanya.
"Ya. Nggak percaya juga nggak masalah." Setelah mengucapkan itu, Putra langsung berlalu begitu saja. Melihat hal itu, Sandra hanya bisa menghela napas panjang. Selalu saja seperti itu. Sang suami dari awal menikah tak pernah sedikit pun bersikap hangat kepadanya. Entah sampai kapan suaminya benar-benar bisa menerima dirinya sebagai istri yang sesungguhnya. Mencintai sendirian itu memang tidaklah mudah. Kita harus punya stok sabar setinggi gunung, seluas lautan. Harus menerima perlakuan dingin pasangan. Dan selalu merasa hidup sendirian walaupun ada pasangan di samping kita.
"Mbak Sandra. Kok melamun di sini?" tegur bu Santi ketika melihat sang majikan tengah berdiri mematung di depannya.
"ah, itu ... Nggak ko Bu. Aku lagi mau ke dapur ambil minum. Ya sudah, aku ke dapur dulu ya, Bu," pamit Sandra. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya itu di hadapan bu Santi.
"Mbak Sandra kenapa ya? Wajahnya tampak murung begitu. Apa dia sedang ada masalah dengan mas Putra?" gumam bu Santi terus memandang ke arah Sandra yang sudah semakin menjauh dari hadapan nya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar....
"Aduh! Tadi kenapa juga sih aku keceplosan ngomong kayak gitu sama Atina. Kenapa ketika berada di depannya, aku tak bisa menahan perasaan ku ini. Rasa cinta dalam hati semakin kuat dan itu membuat aku tak mampu untuk menahan diri. Ah, sudahlah. Sebaiknya aku mandi saja. lagi pula aku juga belum sholat subuh," gumam Putra. Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamar nya.
"Mbak. Mbak Alana lagi ada masalah ya?" bu Santi memberanikan diri bertanya ketika ia melihat Sandra tengah mengambil minum.
"Ah, nggak kok Bu. Kok Ibu tanya gitu?" Sandra balik tanya.
"Ibu liat dari tadi wajah Mbak Sandra terlihat murung. Ibu pikir Mbak Sandra lagi ada masalah. Maaf Mbak, bukannya lancang. Ibu cuma mau bilang, kalau Mbak Sandra ada masalah, Mbak Sandra bisa cerita sama Ibu. Siapa tahu Ibu bisa bantu. Daripada di pendam sendiri malah akan jadi penyakit. Apalagi Mbak Sandra lagi hamil. Nggak baik Ibu Hamil banyak pikiran. Nanti dampaknya nggak baik juga untuk anak yang ada dalam kandungan Mbak Sandra," jelas bu Santi. Untuk sesaat Sandra terdiam. Benar juga apa yang bu Santi bilang. Tak baik menyimpan masalah dalam hati. Mungkin dengan curhat bisa membuat hati lebih enakan dan yang pasti beban dalam dirinya akan sedikit berkurang setelah ia berbagi masalahnya dengan orang lain.
"Sebenarnya banyak yang aku pikirkan Bu. Dan itu jujur saja membuat aku tak nyaman dan tak bahagia. Tapi aku juga bingung cara menghadapi semua ini. Semua usaha sudah aku lakukan, tapi tetap saja tak membuahkan hasil. Dan itu semakin membuat aku tertekan. Tak menyangka pilihan hidupku akan membuat aku menderita seperti ini," terang Sandra dengan mata berkaca-kaca.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan mas Putra, suami Mbak Sandra?" Mendapat pertanyaan itu membuat Sandra hanya bisa mengangukkan kepala. " Kalau nggak keberatan, ceritakan semua sama Ibu. Apa yang mas Putra lakukan hingga membuat Mbak Sandra jadi sedih seperti ini agar Ibu bisa ngasih solusi yang tepat untuk masalah yang sedang Mbak Sandra alami," ucap bu Santi. Ia terlihat prihatin dengan majikannya itu.
Dengan menghembuskan napas pelan. Akhirnya Sandra pun memutuskan untuk menceritakan semua kepada bu Santi. Bagaimana awalnya Sandra bisa hamil dan bagaimana pula akhirnya ia bisa menikah dengan Putra. Semua Sandra ceritakan. Tak ada yang ia tutupi sedikit pun. Terlihat bu Santi mendengarkan dengan cermat apa yang di sampaikan Sandra. Sesekali wajah bersahaja nya menggeleng pelan seakan tak percaya bahwa apa yang Sandra alami akan serumit itu. Bagaimana bisa menikah tanpa dasar cinta. Yang ada pernikahan itu seperti makhluk tanpa nyawa. Kosong tanpa isi.
"Ibu nggak nyangka. Kisah hidup Mbak Sandra akan serumit ini. Ibu tahu apa yang mbak Sandra rasakan. Tapi kalau boleh Ibu bilang. Apa yang Mbak Sandra rasakan ini sudah pasti juga di rasakan oleh Mas Putra," ucap bu Santi lirih.
"Maksud Ibu?" tanya Sandra yang tak mengerti maksud dari ucapan art nya itu.
__ADS_1
"Ya gitu. Sesuai yang Mbak Sandra tadi ceritakan. Mas Putra menikah dengan Mbak Sandra karena sebuah ketetpaksaan. Yang mana hatinya tentu saja menolak akan hal itu. Bukankah menjalani kehidupan bersama seseorang karena sebuah keterpaksaan itu sangatlah tidak mengenakkan bukan. Dan itu sangat sulit lho untuk di jalani. Tapi mau tak mau, Mas Putra juga harus menghadapi ini semua sebagai bentuk tanggung jawabnya atas apa yang ia lakukan bersama Mbak Sandra dulu hingga Mbak Sandra harus mengandung anak di luar ikatan pernikahan. Jadi maksud Ibu, Mas Putra dan Mbak Sandra itu sama. Sama-sama merasakan ketidaknyaman menjalani kehidupan berumah tangga ini. Tapi semua masih terlalu dini untuk menyerah. Usia pernikahan kalian masih dalam hitungan bulan. Masih ada banyak waktu untuk memperbaiki semuanya. Siapa tahu juga ketika anak Mbak Sandra lahir, sikap Mas Putra lambat laun akan berubah jadi seperti apa yang Mbak Sandra mau. Lebih perhatian, lebih hangat dan yang tak kalah bisa mulai belajar mencintai Mbak Sandra. Ibu yakin, Mas putra pasti juga akan berubah pikirannya ketika ia telah memiliki anak nanti. Dilihat dari sikapnya, Mas Putra itu sebenarnya tipe laki-laki penyayang dan nggak tegaan orang nya. Jadi, mana mungkin selamanya ia akan berbuat sesuatu yang akan menyakiti hati Mbak Sandra. Apalagi ketika ada kehadiran seorang anak di antara kalian. Yang perlu Mbak Sandra lakukan sekarang adalah banyak-banyak berdoa kepada Allah. Minta ampun padaNya. Berubah jadi lebih baik dan juga selalu berdoa padaNya agar mas Putra di luluhkan hatinya untuk bisa mencintai Mbak Sandra dan memperlakukan Mbak Sandra dengan penuh kasih sayang. Mbak Sandra harus menambah stok sabar agar apa yang Mbak Sandra harapkan bisa segera terwujud," jelas bu Santi panjang lebar. Sandra terlihat seperti tengah merenungkan apa yang baru saja bu Santi ucapkan padanya.