Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 15 Berantakan


__ADS_3

Hampir saja, aku tersungkur ulah perempuan itu. Tapi, tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang menahan tubuhku. Sehingga, aku tak sampai jatuh. Kutolehkan pandangan ke belakang.


Deg....


"M-Mas Melvin!!!" pekik Atina, tiba-tiba mulut ini seolah terkunci, sulit mengeluarkan kata-kata lagi. Hingga akhirnya Mas Meelvin perlahan melepaskan pegangan tangannya menjauh dari tubuhku.


"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanyanya dengan raut khawatir.


"A-aku nggak apa-apa Mas, makasih Udah nolongin aku." Untuk kesekian kalinya lagi-lagi ia datang bak Dewa penolong yang memang diciptakan untuk menjaga dirinya. Entah kebetulan macam apa ini, membuat hatiku berbunga-bunga, senang dan nyaman lama-lama mendapat perlakuan yang begitu manis dari Melvin, walaupun kadang-kadang ia galak dan sedikit kasar kalau berbicara, tapi, aku tidak terlalu ambil hati.


Tiba-tiba putra berjalan cepat menghampiriku yang tengah berdiri terdiam di samping Melvin.


"Tin,kamu nggak apa-apa 'kan? aku benar-benar minta maaf ulah sikap sandra sama kamu ya. Aku nggak tau, kalau dia ada di sini juga. Kalau tau, aku nggak mungkin ngajakin kamu ke sini."


Dengan wajah memelas dan penuh penyesalan, Putra meminta maaf di hadapanku. Aku memang sangat kesal dengan sikap perempuan yang mengaku tunangan putra itu. Karena, ia berhasil mempermalukan aku di depan umum. Akibat kejadian itu, orang-orang yang ada di situ memandangku dengan sinis. Mungkin mereka mengira, bahwa aku adalah wanita perebut seperti yang sandra bilang tadi. Mereka ternyata termakan oleh omongan sandra.Tapi, aku tidak akan takut karena aku tidak salah.


Mas melvin tiba-tiba berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun ia lontarkan. Aku berusaha memanggilnya. Tapi, ia sama sekali tidak merespon panggilan dariku.


Timbul perasaan kecewa ketika melihatnya melangkah menjauh dariku. Padahal, baru beberapa detik yang lalu ia bersikap seolah peduli padaku, tapi sedetik kemudian ia nampak dingin dan terkesan cuek. Ah, entahlah, apa mungkin ia memiliki dua kepribadian ganda???


"Tin, sebaiknya kita pulang sekarang yuk. Nanti makanannya kita bungkus saja ya." Putra membuyarkan lamunanku


Jujur sebenarnya, aku ingin sekali pergi mengejar Melvin. Tapi, aku juga tidak enak kepada mas putra, karena bagaimanapun aku ada disini karena ajakan darinya. Kalau aku tiba-tiba pergi begitu saja yang ada malah ia nanti kecewa dan semakin merasa bersalah atas insiden barusan yang berhasil mempermalukan aku.

__ADS_1


Mau tak mau akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah bersama mas putra. Di dalam mobil hening, tak ada percakapan apapun. Aku masih asik dengan pikiran ku. sementara mas putra... ah, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki di sampingku ini.


"Maaf , semua jadi berantakan karena ulah mantan tunanganku itu. Kamu pasti malu banget ya tadi. Aku nggak tau kenapa sandra menyangka kalau keputusanku mengakhiri pertunangan kami karena kamu. Padahal kejadian itu terjadi sebelum aku mengenal kamu. Aku benar-benar merasa bersalah sama kamu Tina."


"Sudahlah Mas, kamu tidak perlu minta maaf, karena ini murni bukan kesalahan kamu. Aku hanya mau minta satu hal sama kamu, cobalah bicara sama mantan tunangan mas itu, jelaskan padanya kalau kita tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan rekan kerja, kamu bilang padanya secara baik-baik kalau aku sama sekali nggak ada sangkut pautnya atas berakhirnya pertunangan kalian. Aku nggak mau dia salah paham sama aku, dan dendam kepada orang yang salah," ujarku panjang lebar.


"Tapi aku justru berharap kalau kita bisa memiliki hubungan yang spesial tin, lebih dari sekedar teman. Entah kenapa ketika aku dekat denganmu hatiku merasa tenang, mungkin tanpa aku sadari kalau aku mulai mencintai kamu tin. Apalagi ketika kamu tadi ditolongin sama laki-laki bernama melvin itu, rasanya aku tak rela ia menyentuhmu, kalau saja kamu tau tentang perasaanku ini," batin Putra.


"Mas, kok malah diam?" aku heran sekaligus agak kesal, dari tadi ngomong panjang lebar tapi yang di ajak ngomong malah diam tanpa respon.


"ah ... eh i-iya Tin, pasti aku akan jelasin semua sama sandra Tin, kamu nggak perlu khawatir ya. Aku akan berusaha meluruskan kesalahpahaman ini agar kamu tidak terus-terusan disalahkan ke depannya," jawab mas putra agak terlihat gugup. Entah apa yang dari yang sedang ia pikirkan sedari tadi.


Tak lama mobil berhenti tepat depan rumah, bergegas aku keluar dari dalam mobil. Putra hendak menyusul ku, tapi aku mencegah. Aku menyuruh putra untuk langsung pulang, jujur saja meskipun aku tidak sepenuhnya menyalahkan mas putra tapi akibat insiden tadi entah kenapa membuatku tak nyaman kalau berdekatan dengan nya terlalu lama.


"Aku mohon ya Mas, kamu pulang saja ya, biar nanti aku bilang sama Ibu kalau kamu buru-buru. Jadi, kamu nggak bisa mampir. Lagian, aku juga nggak mau Ibuku tahu tentang kejadian di restoran tadi. Tolong ya Mas, kamu pulang aja, makasih dah anterin aku pulang," akhirnya putra hanya mengangguk pasrah. Setelah memberikan makanan yang ia bawa dari restoran tadi, lantas putra segera melajukan mobil nya menjauh dari rumah atina.


Aku memijit keningku perlahan, mencoba menghela napas berkali-kali untuk lebih menenangkan hatiku yang sejak tadi terasa gelisah tak bertepi.


Ceklek ... pintu kudorong perlahan, ternyata tidak terkunci. Perlahan aku memasuki ruang tamu, tak lupa aku mengunci pintu rumah terlebih dahulu. Tampak sepi, tapi semakin ke dalam terdengar suara dari televisi yang menyala. Mungkin kedua orang tuaku tengah asyik menonton televisi di ruang tengah.


"Tin, sudah pulang. Kok cepet banget, belum juga ada 1 jam udah balik lagi, nggak jadi makan malam kah?" tanya ibuku yang tampak terheran karena aku cepat banget pulangnya.


"Jadi kok Bu. iya, emang tadi kami sempet mau makan di restoran. Tapi, tiba-tiba Mas Putra terima telepon dari Ibunya. Beliau menyuruh Mas Putra untuk segera pulang karena ada sesuatu hal yang mendesak. Yaudah, mau tak mau kita langsung bungkus aja makanan yang tadi udah terlanjur dipesan. Nih ... makanannya Tina bawa pulang," aku terpaksa mengarang cerita bohong agar ibu ku tidak lagi tanya macam-macam. Dengan mata berbinar, Ibuku mengambil bungkusan plastik berisi makanan yang aku sodorkan, beliau buka satu per satu.

__ADS_1


"Hmmm wanginya ... langsung bikin perut keroncongan. Padahal tadi ibu sudah makan malam. Eh ... jadi laper lagi, liat makanan yang menggugah selera ini," sahut ibu tampak sumringah.


"Ya sudah, Ibu makan lagi aja nggak apa-apa, banyak juga 'kan makanannya. Atina masuk kamar dulu Bu, mau bersih-bersih badan. Terus nanti nemenin ibu makan sambil nonton TV. Oh ya, Bapak mana Bu, kok nggak kelihatan," tanyaku celingukan mencari keberadaan bapak.


"Tadi sih lagi ngopi di belakang Tin," jawab ibu sembari tangannya sibuk menata makanan yang ku bawa ke atas piring.


Aku lantas masuk ke dalam kamar membersihkan diri, tak lama aku kembali keluar menghampiri ibu yang tengah siap untuk melahap habis makanan di depannya.


"Bu, Atina panggil Bapak dulu ya, biar ikut makan bersama, bentar Bu," bergegas aku melangkah menuju belakang mencari Bapak. Sesampainya di dapur aku tak mendapati keberadaan Bapak, kursi meja makan tampak kosong. Lantas, ku beralih ke kamar kedua orang tuaku untuk melihat apakah bapak ada di dalam kamar atau tidak.


Tok ... Tok ... Tok.


Ku ketuk pintu kamar perlahan, tapi hening tak ada sahutan.


Aku memberanikan diri membuka pintu kamar, setelah pintu terbuka terlihat Bapak terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup.


"Huuft, ternyata udah tidur. pantes, dari tadi nggak ada sahutan dari Bapak. Ya sudahlah, biarin Bapak tidur. Nggak tega kalau harus bangunin beliau," gumamku lantas berlalu dari kamar.


"Loh, Bapakmu mana Tin, kata kamu tadi mau manggil, kok nggak ada ," tanya ibu sesampainya aku di hadapan beliau.


"Bapak udah tidur di kamar Bu. Tadi udah Atina cek ke kamar." Ku hempakan bokong di samping ibu.


"Oh ... ya sudah, kita makan berdua aja kalau gitu, kita sisain dikit buat Bapak kamu untuk sarapan besok, nanti tinggal di angetin," ujar ibu

__ADS_1


Aku dan Ibu makan dengan lahap.Ternyata kejadian tadi benar-benar menguras energi, sehingga membuat perut kembali lapar. Dan aku bisa melahap semua makanan ini dengan lahap dan yang pasti bisa membuat energi kembali pulih.


__ADS_2