Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 81


__ADS_3

Sudah dua hari Atina tak juga pulang, bahkan keberadaannya pun sama sekali belum terdeteksi. Kedua orang tua sudah membuat laporan ke pihak berwajib, mereka di suruh menunggu hingga ada kabar selanjutnya.


Rekan kerja Atina di sekolah juga berusaha ikut melakukan pencarian ketika mereka selesai mengajar. Dan laki-laki yang juga mantan rekan kerja Atina juga mengetahui akan berita hilangnya wanita yang selama ini sangat ia cintai meskipun dalam diam. Siapa lagi kalau bukan Putra. Dia pertama kali tahu berita tentang hilangnya Atina ketika rekan kerja nya dulu memberi kabar lewat panggilan telepon.


"Apa!! Atina hilang. Kok bisa? Gimana ceritanya Bu Fit. Sejak kapan dia menghilang??" tanya Putra. Wajahnya seketika langsung panik. Rasa khawatir mulai menjalar dalam hati dan pikirannya.


[Sudah dua hari dia tidak ada kabar sama sekali. Bahkan kedua orang tua nya juga sudah melaporkan ini ke kantor polisi. Tapi belum ada perkembangan apa-apa. Bahkan jejak Atina sama sekali tak terbaca, Put. Kami semua rekan guru juga sudah berusaha ikut mencari, namun nihil. Sampai detik ini pun dia sama sekali tak nampak batang hidung nya. Kira-kira kamu tahu nggak Put, Atina ada di mana. Mungkin kamu tahu teman Atina siapa saja selain rekan guru di sekolah ini?] Ucap Bu Fitri lewat sambungan telepon. Dia berharap, Putra bisa tahu di mana keberadaan Atina sekarang. Karena biar bagaimana pun, mereka pernah dekat.


"Aku nggak tahu di mana Atina, Bu Fit. Aku juga baru tahu kalau Atina menghilang. Sejak Aku nikah, aku sama sekali tak pernah berhubungan dengan Atina meskipun lewat sambungan telepon. Tapi aku akan ikut membantu mencari keberadaan Atina, Bu Fit. Aku pasti akan bisa menemukan keberadaan dia. Dengan cara apapun akan aku lakukan agar Atina bisa ketemu."


[Iya. Terima kasih, Put. Aku telepon kamu hanya untuk mengabari itu. Ya sudah, aku tutup dulu ya teleponnya. Bentar lagi ada jadwal mengajar. Assalamualaikum...]


"Waalaikumsalam."


"Siapa yang menghilang Mas?" mendadak Sandra sudah ada tepat di belakang Putra ketika ia baru saja selesai menutup panggilan teleponnya. Tentu saja hal itu membuat Putra terlonjak kaget.


"Astagfirullah, Sandra! Kamu ngagetin aja!!" seru Putra sembari mengelus dada beberapa kali.


"Biasa aja kali, Mas. Nggak perlu kaget seperti itu," jawab Sandra ketus.


"Gimana bisa nggak kaget. Kamu muncul tiba-tiba gini," sambung nya.


"Jawab pertanyaan ku tadi, Mas. Siapa yang hilang. Aku tadi sempat dengar kamu bahas-bahas wanita yang hilang. Siapa wanita yang kamu maksud barusan, Mas??" tanya Sandra. Sepertinya dia tidak akan berhenti bertanya kalau dia sama sekali belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya itu.


"Bukan siapa-siapa. Cuma saudara dari teman kerja ku dulu sewaktu mengajar," balas Putra. Ia berusaha menutupi tentang hilangnya Atina kepada Sandra. Ia hanya tidak mau wanita di depannya salah paham dan memicu pertengkaran diantara mereka. Biarlah berita tentang Atina cukup dirinya saja yang tahu. Tak perlu sampai sang istri tahu akan hal ini.


"Rekan kerja kamu siapa? Jangan bilang dia adalah Atina, wanita itu kah yang kamu maksud barusan??" cecar Sandra, sepertinya ia belum puas dengan jawaban yang Putra berikan kepada nya.

__ADS_1


"Yang bilang Atina tuh siapa. Aku nggak ada sebut-sebut nama itu barusan. Kenapa? Apa kamu mengira wanita yang hilang itu Atina??"


"Nggak. Aku nggak bilang gitu. Tadi kan aku tanya sama kamu. Kamu bilang rekan kerja kamu sewaktu mengajar, ya karena aku hanya kenal wanita itu, refleks aja aku nyebut nama dia."


"Salah. Dia nggak ada urusannya dengan yang barusan aku bahas di telepon. Kalau aku kasih tahu juga kamu nggak akan kenal orangnya. Jadi mending nggak usah kasih tahu sekalian."


"Ya, baguslah kalau bukan wanita itu. Aku nggak suka aja kalau kamu masih berhubungan sama wanita sialan itu," ujar Sandra tanpa sadar membuat Putra langsung mengepalkan kedua tangannya. Kuping nya mendadak panas mendengar omongan Sandra yang menyebut Atina sebagai wanita sialan. Kalau nggak ingat saat ini Sandra sedang mengandung anaknya, mungkin telapak tangan miliknya akan mendarat di pipi mulus wanita yang statusnya sebagai istri tersebut. Tak ingin semakin panas, Putra memutuskan untuk keluar rumah.


"Aku pergi dulu, San. Ada urusan penting sama teman aku. Kamu di rumah biar di temani sama Bu santi. Ingat, jangan keluar rumah tanpa aku yang menemani," pesan Putra sebelum dirinya melangkah keluar rumah.


"Urusan apa, Mas. Aku boleh ikut nggak? Bosan aku diam di rumah terus."


"Nggak San. Kamu di rumah saja. Tak perlu ikut karena nanti aku akan lama pulangnya," tegas Putra membuat Sandra manyun seketika.


Setelah mengatakan itu, Putra langsung memasuki mobil dan tak lama ia pun melajukan mobil itu menjauh dari rumahnya.


Rasa cinta yang masih tersimpan rapi untuk wanita itu membuat dirinya tak pernah bisa sedikit pun tak memikirkan Atina. Apalagi dengan berita hilangnya Atina tentu saja membuat Putra terlampau khawatir. Ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga wanita yang sangat ia cintai itu.


Menemukan orang di kota sebesar ini memang lah tidak mudah. Tapi se-sulit apapun tak akan menyurutkan niat Putra untuk bisa menemukan Atina. Bahkan ia juga sempat mampir sejenak ke warung penjual bakso yang dulu pernah ia singgahi bersama Atina. Ketika menginjakkan kaki di warung itu, kembali bayangan masa lalu tergambar jelas di pelupuk mata. Bagaimana dulu ia pernah merasakan sedikit kebahagiaan bersama wanita itu. Bisa makan semangkok bakso dengan di temani wanita spesial, membuat momen itu tidaklah terlupakan.


"Mau beli apa, Mas? Bakso atau Mie ayam??" tanya Bapak penjual bakso ketika melihat Putra berdiri tepat di depan gerobak miliknya.


"Pak. Mau tanya dulu boleh?" Putra malah balik bertanya. Si Bapak tadi langsung tersenyum ramah.


"Boleh, Mas. Mau tanya apa ya?"


"Bapak kenal dengan Atina. Dia adalah salah satu pelanggan bakso di warung ini."

__ADS_1


"Atina... mm... Atina yang mana ya?" Bapak tadi balik bertanya. Mungkin beliau ingin informasi yang lebih detail agar beliau bisa langsung tahu siapa yang Putra maksud barusan.


"Atina yang berprofesi sebagai guru SD tak jauh dari warung ini. Dia sudah langganan di warung ini sejak masih duduk di bangku SMA, Pak," balas Putra. Si Bapak terlihat seperti mengingat-ingat nama itu.


"Ah, iya. Bapak ingat. Mbak Atina anaknya pak Roni ya?" sahut si Bapak setelah beliau ingat nama yang Putra sebutkan.


"Iya. Betul Pak. Bapak kenal juga dengan pak Roni, bapaknya Atina?"


"Kenal, Mas. Pak Roni juga sering beli bakso di sini. Bahkan kadang bareng sama mbak Atina kalau kesini. Tapi sudah lama mereka nggak kesini lagi, Mas. Mungkin udah mau satu bulanan kira-kira. Kalau boleh tahu ada apa ya Mas tanya tentang mbak Atina sama saya?"


"Ah... itu, saya cuma pengen tahu saja, Pak. Kebetulan dulu Atina adalah teman kerja saya sewaktu mengajar di SD sana, Pak." sahut Putra sembari tangannya menunjuk ke arah jalan yang mengarah ke tempat di mana dulu dia pernah mengajar.


"Oh, temannya mbak Atina thoo!!"


"Oh, ya Pak. Saya pesan baksonya satu porsi. Kosongan saja, Pak. Nggak usah di kasih mie dan juga sayuran. Kuah bening nggak pakai kecap."


"Baik Mas. Makan di sini apa bungkus?"


"Bungkus aja, Pak!"


"Oke Mas. Tunggu bentar ya."


"Iya, Pak!!"


Hanya menunggu selama 10 menit, pesanan bakso milik Putra pun sudah selesai di buat. Putra menerima bakso pesanan nya. Setelah selesai membayar, ia pun langsung masuk kembali ke dalam mobil miliknya yang dia parkir di bahu jalan.


Ia menatap warung itu sejenak sebelum akhirnya ia melajukan mobil nya.

__ADS_1


"Aku harus kemana mencari kamu, Tin. Bahkan aku sama sekali tidak bisa menghubungi nomor kamu. Kalau saja nomor hp kamu aktif. Mungkin aku akan dengan mudah melacak keberadaan kamu sekarang. Sepertinya aku harus ke rumah temen aku si Indra. Dia kan detektif yang lumayan bagus di bidangnya nya. Kali aja kalau aku minta bantuan padanya, akan mempermudah aku menemukan Atina," gumam Putra sembari matanya fokus menatap ke arah depan.


__ADS_2