
Tak terasa usia pernikahan Putra dan Sandra sudah masuk bulan keempat. Selama itu pula, Putra sama sekali belum menyentuh Sandra. Setiap Sandra protes, ada saja alasan Putra untuk bisa menolak ajakan Sandra.
"Mas, kenapa sih tiap kali aku ngajak kamu gituan pasti kamu nolak. Inget Mas, kita ini udah nikah. Jadi hal itu merupakan hak aku untuk dapetin dari kamu," Ujar Sandra ketika ia dan Putra tengah berada di kamar mereka.
"Sandra, aku 'kan udah pernah bilang sama kamu. kalau pernikahan kita ini tidak sah, karena aku nikahin kamu dalam keadaan kamu lagi hamil. Dan itu dalam agama tidaklah sah, Sandra. Jadi, mana mungkin aku bisa berhubungan badan lagi sama kamu. Aku nggak mau lagi ngelakuin zina seperti dulu. Cukup satu kali aja aku ngelakuin hal kotor itu." Jelas Putra, sudah berkali-kali dia memberi pengertian kepada Sandra tapi hingga detik ini wanita itu tidak pernah mau mengerti.
"Selalu saja itu yang jadi alasan kamu, Mas. Bilang saja kalau kamu emang tidak mau menyentuh aku, Mas. Apa karena aku nggak seksi lagi karena lagi hamil, itu 'kan sebenarnya alasan kamu nolak aku, karena kamu tidak bernafsu melihat bentuk tubuh aku ini. Apalagi perut ku sudah mulai membesar," Cicit Sandra masih kekeh tak mau tahu alasan Putra menolaknya untuk berhubungan layaknya suami istri pada umumnya.
"Terserah kamu mau menilai apa, San. Semua alasan sudah aku katakan. Kamu mau percaya atau tidak bukan urusan ku." Emosi juga lama-lama berada dekat dengan Sandra, maka dari itu Putra memilih keluar kamar.
Putra memutuskan untuk duduk di teras dengan di temani secangkir kopi.
Ia menatap ke arah jalan, pandangan matanya menerawang jauh entah kemana, yang pasti saat ini dirinya merasa seperti raga tanpa nyawa. Hidup tapi tanpa semangat, menjalani sesuatu yang bukan keinginan hati adalah hal yang sangat ia sesali. Tapi, mau tak mau dirinya harus menerima ini semua. Setidaknya sampai bayi yang ada dalam kandungan Sandra lahir, setelah itu ia akan memikirkan kembali langkah apa yang akan ia ambil.
"Sepertinya aku harus pindah dari sini. Rasanya nggak nyaman tinggal bersama mertua. Walaupun mereka baik, tetap saja ada rasa canggung yang justru membuat aku seolah tidak bisa leluasa dalam melangkah. Ya, aku akan membicarakan rencana ini sama Sandra. Mudah-mudahan aja dia mau terima usulan dari aku." Gumam Putra sembari menyeruput secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
Tak lama, datang sebuah mobil memasuki pekarangan. Siapa lagi pemilik mobil itu kalau bukan mertua Putra sendiri.
"Putra. Kamu ngapain duduk diluar gini. Sendirian pula. Sandra mana??" Mama mertua yang baru turun dari mobil langsung menghampiri dirinya.
__ADS_1
"Ada di kamar tadi, Ma. Aku lagi mau nikmatin udara sore aja di teras, Ma." sahutnya langsung mencium tangan Papa dan Mama mertuanya.
"Oh, gitu. Yaudah, Papa dan Mama masuk dulu ya. Gerah banget ini, mau langsung mandi!!" Ucap Mama mertua. Keduanya berjalan menuju ke dalam rumah.
"Papa dan Mama baru pulang??" tanya Sandra ketika melihat kedua orang tuanya baru saja memasuki rumah.
"Iya, yaudah Mama dan Papa ke kamar dulu. Mendingan kamu temani suami kamu di luar. Mama tadi lihat Putra tengah duduk ngopi di teras. Sana gih, kamu samperin dia. Kasian, suami kamu sendirian." Titah sang Mama kepada Sandra. Sementara sang Papa sudah duluan masuk kamar.
"Iya, Ma!!
Sesampainya di pintu depan, Sandra melihat sang suami tengah minum kopi sembari matanya memandang ke arah jalan. Entah apa yang tengah laki-laki itu pikirkan, sehingga suaminya tak menyadari kehadiran sang istri di dekatnya.
"Mas!!" panggil Sandra dengan suara pelan agar tidak mengagetkan sang suami. Putra langsung menoleh tanpa berkata apapun. Sandra duduk tepat di samping sang suami.
"Mumpung kamu ada disini, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," Ucap Putra dengan mimik wajah yang serius. "Apa Mama dan Papa kamj sudah masuk kamar?" tanya Putra sebelum ia memulai berbicara serius kepada sang Istri.
"Udah, mereka baru saja masuk kamar. memang nya kenapa Mas? apa yang ingin kamu bicarakan sama aku??"
"Aku berencana ingin ngajak kamu pindah dari rumah ini. Kita tinggal di rumah yang nantinya akan aku beli. Belum aku bayar sih rumahnya. Nunggu keputusan kamu dulu. Kalau kamu setuju, aku akan langsung bayar rumah itu. Aku nggak nyaman terus-terusan berada disini, tinggal numpang pada kedua orang tua kamu. Ya... Walaupun aku tahu mereka sangat baik. Tapi tetap saja aku merasa kurang nyaman, dan canggung. Gimana, apa kamu setuju dengan rencana ku ini???" Putra ingin tahu seperti apa tanggapan istrinya itu tentang ajakan dirinya untuk tinggal di rumah yang nantinya akan Putra beli.
__ADS_1
"Aku nggak masalah, Mas. Tapi, apa mungkin Mama dan Papa akan ngizinin kita untuk pindah, Mas?? Aku rasa pasti mereka akan menolak rencana kamu ini." Putra merasa lega ternyata Sandra setuju dengan rencananya itu. Tinggal bagaimana cara dia menyakinkan kedua orang tua Sandra agar memberikan Izin untuk membawa putri mereka tinggal di rumah sendiri. Mudah-mudahan saja mereka akan langsung memberikan izin. Jadi tak akan butuh waktu lama untuk dirinya cepat keluar dari rumah itu dan hidup mandiri tanpa ada campur tangan dari siapapun.
"Urusan itu biar nanti aku yang urus. Aku yakin kedua orang tua kamu pasti memberi izin. Oh ya, satu lagi. Rumah yang nanti akan aku beli itu ukurannya tidaklah sebesar rumah kamu. Apa kamu akan mempersoalkan hal itu??"
"Nggak masalah. Asal aku hidup sama kamu, aku terima saja apapun yang kamu kasih ke aku."
"Syukurlah kalau seperti itu. Ya sudah, mending kamu masuk dulu. Aku masih mau duduk disini. Kamu mending istirahat di kamar."
"Tapi aku masih mau disini Mas." Rengek Sandra.
"Ini sudah terlalu sore, sebaiknya kamu masuk saja."
Melihat ketegasan dari ucapan Putra, membuat Sandra akhirnya mengalah. lantas ia pun masuk ke dalam rumah.
Matahari yang kian lama kian tenggelam membuat keadaan sekitar mulai gelap. Putra akhirnya memutuskan untuk menyusul sang Istri masuk ke dalam rumah. Langkahnya lebih ringan karena puas menghirup udara sore di depan. ketika sampai di dalam, ia tak mendapati keberadaan kedua mertuanya. Yang terlihat hanya ART yang tengah sibuk di dapur memasak untuk makan malam nanti.
"Lagi masak apa Bik?" tanya Putra mendekati ART nya itu. Ia terlihat tengah mengaduk-aduk sesuatu dalam panci.
"Eh, Mas Putra. Ini... Bibik lagi bikin rawon Mas. Tadi nyonya besar yang minta di buatin. Mas Putra ada perlu apa? Mau minum Atau mau ngemil sesuatu. Nanti biar bibik siapkan."
__ADS_1
"Nggak, aku nggak lagi pengen apa-apa. Kesini cuma mau nyapa bibik aja. Dari tadi kayaknya fokus banget masak nya. Ya sudah, aku tinggal ke kamar dulu Bik. Yang enak ya masaknya, biar aku nambah terus makan nya nanti," canda Putra.
"Siap Mas!! Dijamin masakan Bibik akan bikin Mas nagih terus," celetuk ART itu membuat Putra menyunggingkan senyum sesaat. Setelah itu ia pun berlalu menuju kamarnya.