Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 13 Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

"Vin, nanti chessy kamu yang antar ya. Soalnya pagi ini Ibu ada perlu dengan Bu Siska. Nggak apa-apa 'kan kalau hari ini kamu yang anterin?" tanya bu rum sambil membenarkan hijabnya.


"Iya Bu nggak apa-apa, nanti aku yang anterin chessy. Ibu mau pergi Sekarang?" tanya melvin ketika melihat ibunya sudah berpakaian rapi.


"Iya, Ibu pergi dulu ya, pasti sudah ditunggu sama bu siska dirumahnya." seru bu rum buru-buru melangkahkan kakinya ke luar rumah.


Sepeninggal sang ibu, Melvin memanggil putrinya untuk sarapan terlebih dahulu.


"Loh, Nenek mana Pa, kok nggak ikut sarapan?" tanya Chessy ketika ia baru saja duduk di kursi meja makan dan tak mendapati Neneknya.


"Nenek kamu tadi pamit keluar, katanya ada perlu. Nanti, Papa yang akan anter kamu ke sekolah. Sekarang, kamu habiskan sarapanmu dulu ya."


"Baik Pa."


Setelah selesai sarapan, Melvin dan Chessy menuju ke sekolah. Tak lama kemudian mereka sampai di sekolahan chessy.


Mobil sengaja melvin parkir kan ditepi jalan agar ia tak repot putar balik ketika akan ke kantor.


Melvin dan chessy turun dari mobil.


"Sayang, Papa anterin sampe gerbang ya. Bentar, kamu tunggu dulu, nanti kita nyebrang bareng," pinta sang papa


"Baik pa."


Sesampainya di gerbang sekolah, chessy pamitan sama papanya.


"Pa, Chessy masuk kelas dulu ya. Papa nanti hati-hati di jalan," chessy mengulurkan tangan mencium tangan papanya.


"Iya sayang, kamu yang rajin belajarnya dan jangan nakal," pesan melvin kepada anaknya.


Tiba-tiba tak jauh dari sana terlihat Atina datang beriringan dengan motor putra. Terlihat sesekali mereka berbincang dan tertawa Di atas sepeda motor. Atina tidak menyadari kalau ada seseorang yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tajam, siapa lagi kalau bukan Melvin. Setelah chessy pamit masuk kelas, Melvin langsung berjalan hendak ke mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Namun, langkahnya terhenti ketika tak sengaja netranya menatap Atina yang tengah naik motor beriringan dengan seorang pria. Mereka tampak asik bersenda gurau tanpa mereka sadar ada hati yang terselimuti awan gelap ulah sikap mereka.


Pandangan melvin tajam, rahangnya mengeras, tangan terkepal kuat. Ingin rasanya melvin menghadang mereka lantas bicara lantang kepada pria itu kalau dirinya tidak suka pria itu berdekatan dengan Atina. Tak mau seperti orang bodoh dengan menatap mereka, Melvin bergegas menuju ke mobilnya, ia masuk ke mobil, menutup pintu mobil lumayan keras. Ia meluapkan kekesalannya dengan memukul mukul setir mobil.


"Argh ... ada apa denganku, kenapa hanya melihat dia dengan laki-laki itu hatiku panas rasanya. lagi dan lagi aku seperti ini. Apa mungkin aku cemburu. Tapi, nggak ... nggak mungkin, memangnya dia siapa harus aku cemburui. Argh ... sial!!!" gumam melvin terlihat frustasi.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


Tiba-tiba ada seseorang mengetuk kaca mobilnya.


Melvin Perlahan menurunkan kaca mobil itu. Terlihat Atina tengah tersenyum ke arah Melvin.


"Ada apa?" tanya Melvin dengan wajah datar


Atina jadi salah tingkah sendiri.


"Ma-maaf Mas, tadi dari kejauhan aku lihat mobil Mas dari tadi diam tak bergerak, aku pikir Mas kenapa-kenapa di dalam mobil. Jadi, aku samperin ke sini. Apa Mas baik-baik saja. Apa mobil Mas mogok makanya dari tad...,"


"Aku nggak apa-apa, memangnya kenapa kalau mobilku masih disini, kamu keberatan. Jadi, mau ngusir aku dari sini gitu," tanya Melvin memotong omongan Atina yang membuat Atina tidak bisa melanjutkan ucapan yang belum selesai ia ucapkan.


"Bu-bukan gitu Mas maksud aku. Aku cuma mau mastiin aja kalau Mas nggak lagi kenapa-kenapa, udah gitu doang nggak ada maksud lain," terang atina mencoba menjelaskan.


"Ngapain kamu sok-sokan peduli, urusin aja tuh pacarmu. Sudah ya, aku mau ke kantor. Awas minggir." Usir Melvin membuat Atina nampak kaget. Atina mundur sejenak. Mobil di hadapan nya mulai melaju begitu saja. Atina masih berdiri mematung menatap kepergian Melvin. Ia bingung dengan sikap Melvin yang tiba-tiba kasar seperti itu.


"Sebenarnya kamu kenapa Mas. Apa aku salah kalau hanya mau cek keadaan kamu saja tadi. Ngomongnya ngelantur pula. Apa maksudnya bilang pacar pacar segala. Siapa juga yang sudah punya pacar, lagi single gini juga. Mmm... apa mungkin yang Mas Melvin maksud tadi itu Pak Putra, apa ia tadi sempat lihat aku yang datang dengan Pak Putra, makanya ia menyangka kalau Pak Putra itu pacarku. Ada-ada saja, lagian kalau Pak Putra tuh emang pacarku lantas kenapa dia yang marah. Atau jangan-jangan...?" Batin Atina.


"Eh, ma-maaf bu, saya ngagetin Ibu ya," suara Pak putra merasa tidak enak setelah melihat atina terkaget-kaget ulah tepukan di bahu tadi.


"Ah ... oh, eh, Pa-Pak Putra, saya kirain siapa. Pak Putra ih, bikin kaget saja. Kalau ni jantung sampai copot gimana coba. Pak Putra mau tanggung jawab?!" sungut Atina refleks memarahi Putra.


Pak Putra cuma cengengesan melihat wajah atina yang tampak lucu ketika sedang marah.


"Eh, malah ketawa-ketawa lagi," sahut Atina kesal.


"Maaf, Bu Tina yang cantik. Habis,Bu Tina dari tadi tak panggil dari seberang jalan nggak respon-respon. Ya sudah, saya samperin saja sampai sini. Lagian Bu Tina tuh ngapain coba melamun di tepi jalan kayak gini. Bahaya tau nggak. Lagi ngelamunin apa sih sampai kaget gitu pas saya tegur?"


"Ah ... nggak kok, nggak ngelamunin apa-apa, Tadi aku habis nyapa Papanya chessy aja."


"Owh, jadi yang punya mobil hitam itu tadi Papa nya chessy, anak murid yang tempo hari ngobrol dengan kita di depan perpustakaan itu?"


Atina hanya mengangguk mengiyakan ucapan Pak Putra.

__ADS_1


Lantas mereka berlalu menuju ke sekolah karena sebentar lagi bel untuk doa pagi berbunyi.


"Bu Tina ... Nanti malam ada acara nggak?" tiba-tiba Pak Putra membuka obrolan setelah beberapa detik saling diam.


"Nggak ada, memangnya kenapa Pak Putra? kok tanya begitu?" timpal Atina sembari berjalan beriringan dengan putra


"Gini ... Aku mau ngajak Bu Tina makan malam di luar, itupun kalau Bu Tina nggak keberatan. Gimana .... mau nggak?" tanya Putra dengan wajah penuh harap.


"Waah ... dalam rangka apa nih, tiba-tiba Pak Putra mau ngajakin aku makan. Tumben-tumbenan," seru Bu Atina nampak terheran-heran.


"Ya ... nggak dalam rangka apa-apa sih, cuma pengen ngajak Bu Atina aja. Itung-itung refreshing ngilangin penat."


"Oo ... mmm, okelah aku mau Pak Putra. Tapi, ngomong-ngomong, sama siapa aja nanti kita perginya?"


"Ya, kita berdua aja, nggak apa-apa 'kan?"


"Be-berdua...." sahut Atina tergagap.


"Iya berdua, nggak masalah 'kan. Kamu keberatan ya kalau kita perginya hanya berdua saja?" tanya putra sembari menatap Atina yang terlihat masih bimbang.


"Duuh ... gimana nih, masa cuma berduaan aja, seumur umur aku nggak pernah pergi sama laki-laki berduaan gini. Bisa salting nanti aku. Tapi nggak enak juga kalau nolak, napa jadi bingung gini sih!!" atina membatin antara mau menolak atau mengiyakan ajakan Putra.


"Bu tina ... Bu, kok malah diem."


"Oh ... eh i-iya pak putra gimana." Atina gelagapan.


"Laiya gimana tadi jawabannya, Bu Tina mau nggak. Aku nggak maksa loh kalau memang Bu Tina keberatan."


"Eemm ... boleh deh, aku nggak keberatan kok Pak Putra. Mau berangkat jam berapa?" akhirnya karena merasa tidak enak untuk menolak, terpaksa atina menerima ajakan Pak Putra.


"Nanti saya jemput ya. Share lok aja alamat rumah Bu Atina. Nanti malam saya otw dari rumah jam 7 Malam," ujar Pak Putra dengan wajah yang berbinar.


"Baiklah Pak Putra," jawab Atina singkat.


Lantas keduanya memasuki ruangan guru. Tak lama bel berbunyi, semua murid berhamburan keluar guna mengikuti doa pagi bersama sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

__ADS_1


__ADS_2