
Semenjak hilangnya Atina. Melvin sampai saat ini hanya bisa mengandalkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan kekasihnya itu. Bukan ia tak mau untuk mencari langsung. Hanya saja keadaan tak memungkinkan untuk melakukan itu. Saat ini sang Ibu tengah sakit akibat sempat terjatuh di kamar mandi. Entah kenapa beliau bisa jatuh. Padahal setelah di cek, kamar mandi nya nggak licin sama sekali. Kenapa pula sang Ibu bisa sampai terjatuh di dalam sana. Dan lagi peristiwa itu bertepatan dengan hilangnya wanita yang ia sayangi. Benar-benar keadaan yang membuat Melvin sempat kalut seketika. Di satu sisi ia khawatir dengan keadaan Atina di luaran sana yang belum di ketahui keberadaannya. Dan sisi lain, ia juga harus mengkhawatirkan kondisi sang Ibu yang harus rawat inap di rumah sakit karena kondisi tulang pinggul yang bermasalah akibat benturan saat terjatuh.
Malam itu, ketika dirinya masih menemani sang Ibu di Rumah sakit. Mendadak perasaan tidak enak muncul tiba-tiba. Entah karena apa, Melvin sendiri pun tak tahu penyebabnya.
"Ya Allah, kenapa aku mendadak jadi ngerasa was-was gini ya. Hati juga rasanya tak nyaman dari tadi. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaan ku seperti ini?" gumam Melvin merasa bingung dengan perasaan nya sendiri. Ia tampak mondar mandir di samping sang Ibu yang tengah tertidur pulas ketika beliau baru saja minum obat yang diberikan dokter.
Ia pun lantas mengambil ponsel miliknya dalam saku celana yang dia pakai. Tak lama, Melvin mencoba menghubungi sang anak yang saat ini berada di rumah dengan di jaga ART yang bekerja di rumah Melvin. Ia mencoba melakukan panggilan ke nomor sang anak. Tapi beberapa kali mencoba, panggilan darinya sama sekali tak di respon. Akhirnya, Melvin memutuskan untuk menelepon ke nomor sang ART. Dalam satu panggilan langsung mendapat respon.
"Assalamualaikum Bu Ijah? Bu Ijah sekarang posisi nya ada di mana?"
[Waalaikumsalam, Mas Melvin. Bibi lagi di kamar Mas. Ini bentar lagi mau tidur karena semua pekerjaan rumah sudah selesai bibi kerjakan. Ada apa ya, Mas? Tumben telepon ke nomor Bibi?]
"Ah, iya. Chessy di mana Bi. Apa dia sudah tidur. Dari tadi aku teleponin tapi nggak juga di angkat, Bi. Maka nya aku langsung hubungi nomor Bibi."
"Oh... gitu tho!! Chessy udah tidur dari tadi Mas. Nggak lama setelah makan malam, Chessy pamit mau tidur duluan katanya."
__ADS_1
Penjelasan dari ART nya itu seketika membuat Melvin merasa lega. Setidaknya sang anak di rumah dalam keadaan baik-baik saja. Lantas, kenapa perasaannya tidak enak sedari tadi. Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Atina. Pikiran buruk itu langsung menerobos masuk ke dalam benak Melvin. Ia pun memutuskan untuk melakukan sholat isya sekaligus berdoa untuk sang kekasih agar segera di temukan dan tentunya di temukan dalam keadaan baik-baik saja.
****
"Arggh... Kepalaku sakit sekali," rintih Atina ketika ia terbangun dari tidurnya. Mata perlahan ia edarkan ke sekeliling kamar yang ia tempati. Ketika ia menyibak selimut yang di kenakan betapa kagetnya dia ketika mendapati bahwa dirinya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang melekat di badannya. Dengan gerakan cepat ia kembali menutup tubuhnya menggunakan selimut. Wajahnya tampak pucat seketika, bibir bergetar dan seketika tetesan bening mengucur deras membasahi pipi nya.
"Tidak!! Tidak!! Apa yang terjadi dengan ku. Kenapa aku seperti ini!!" Atina berteriak histeris, sungguh ia sangatlah tak menyangka akan mengalami hal seperti saat ini. Dengan bibir bergetar dan penampilan yang tak karuan, ia mulai kembali mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya hingga dia harus bangun dalam keadaan tak memakai pakaian. Semakin kuat ia mencoba mengingat tapi nyatanya ingatan nya itu lemah. Nihil, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain hanya meratapi nasib. Tengah tersedu dengan wajah menunduk, mendadak pintu kamar terbuka. Muncul sesosok laki-laki yang berpakaian santai masuk ke kamar begitu saja tanpa permisi, dan yang membuat Atina merasa ngeri, laki-laki itu tersenyum menyeringai menatap ke arah dirinya yang saat ini masih terbalut selimut karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk keluar dari balik selimut itu.
"Si-siapa kamu!! kenapa kamu masuk kesini? Apa mau kamu dan aku ... di mana aku sekarang?" Atina langsung mencecar pertanyaan beruntun kepada laki-laki itu. Tanpa menjawab, laki-laki itu malah melangkah mendekati Atina yang masih terduduk diam di atas ranjang. "Ka-kamu mau apa! Jangan mendekat, atau aku akan teriak!!" bentak Atina, ia tampak ketakutan ketika laki-laki itu dengan tenang mendekat ke arah nya.
"Apa maksud kamu, hah!!" geram Atina melotot ke arah laki-laki itu.
"Ha-ha...!! Rupanya kamu nggak ingat kejadian semalam. Padahal kamu semalam sangat menggairahkan tau nggak. Aku aja sampai membuat kamu keenakan dan bahkan kamu selalu memohon untuk terus memberikan kenikmatan dan kamu tau. Kita bahkan melakukannya sampai 3 kali hanya dalam waktu semalam. Masih belum ingat juga?" tatapan nakal laki-laki itu dan ucapan lugas yang ia katakan barusan membuat Atina semakin ketakutan. Benarkah apa yang di bilang sama laki-laki itu. Benarkah kalau dia sudah melakukan hal yang seharusnya tak ia lakukan bahkan kepada laki-laki yang statusnya bukan suami. Kenal dengan lelaki itu saja tidak, kenapa bisa ia sampai terjebak di situ dan juga .... Ah, ingin rasanya Atina mati detik itu juga mengalami sesuatu hal yang bahkan ia sendiri tidak bisa mengingat nya sama sekali. Keadaannya yang kacau saat itu membuat dia merasa menjadi wanita yang paling hina detik itu juga. Kesucian yang selama ini ia jaga, nyatanya dengan mudah ia serahkan secara gratis bahkan kepada laki-laki yang sama sekali tak ia kenal. Kenapa? Ada apa? Bagaimana bisa ia berada di tempat itu.
Ketika tengah bergelut dengan pikirannya sendiri, mendadak sebuah ponsel melayang tepat di pangkuannya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau tau apa yang sudah kita lakuksn semalam. Kamu ambil hp itu. Lihat sendiri video hot antara kamu dan aku semalam. Di situ sangat jelas adegan demi adegan yang kita lakukan berdua," ujar laki-laki itu masih dengan raut wajah yang santai. Sama sekali tak ada rasa bersalah dalam raut wajahnya itu. padahal jelas-jelas dia sudah menodai seorang wanita tanpa belas kasihan dan tentunya dengan cara yang licik.
Atina hanya menatap nanar ke arah hp di depannya. Rasa takut, rasa jijik, dan rasa marah mulai menyatu seolah-olah memaksa dirinya untuk mengakhiri hidup detik ini juga.
"Ayo ambil hp itu. kenapa kamu malah diam," tegur laki-laki itu seketika membuat Atina semakin merinding dan rasa takut kian menyergap nya. Dengan tangan gemetar, wajah pucat pasi, ia pun mulai perlahan meraih benda pipih itu. Tak ada sandi untuk bisa membuka halaman utama layar ponsel. Ia dengan mudah bisa mengakses tiap aplikasi dalam ponsel itu. Tak lama ia pun menemukan sebuah video yang mungkin laki-laki itu maksud tadi.
Ketika jari itu menekan video tersebut dan untuk pertama kalinya Atina melihat. Seketika itu juga, hancur sudah hidup nya. Jijik, itulah yang ia rasakan ketika matanya menatap sebuah kenyataan yang begitu memalukan. Air mata langsung mengucur deras. Dada mendadak sesak seolah nyawa nya akan hilang saat itu juga. Bagaimana mungkin dirinya yang selama ini menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita bisa melakukan hal serendah itu. Tidak, itu pasti bukan dirinya. Video ini pasti hanya editan. Dan apa yang menimpanya saat ini pasti tindakan kriminal yang di lakukan laki-laki yang saat ini bersamanya. Pasti dirinya di perkos* ketika ia tak sadarkan diri. Ya Tuhan, kenapa nasib buruk ini harus menimpa dirinya. Kini hidupnya sudah hancur, tak ada lagi yan bisa ia banggakan sebagai seorang wanita karena mahkota yang ia jaga sudah di renggut oleh laki-laki brengsek ini.
"Nggak! Nggak mungkin. Apa yang sudah kamu lakukan. Kenapa kamu menodai aku. Apa salah ku sama kamu, hah! Apa!! bajingan kamu, laki-laki brengsek. Aku akan laporkan perbuatan kamu pada polisi. Biar kamu membusuk di penjara!!"
Braak...!! Atina langsung melempar ponsel yang ia pegang hingga ponsel itu hancur berkeping-keping.
"Heh!! Apa yang kamu lakukan dengan hp ku hah!! Berani kamu merusak barang pribadi ku. Dasar wanita ******!! Aku akan buat perhitungan sama kamu!!" dengan amarah meluap-luap, laki-laki itu langsung mendekati Atina dengan sorot mata tajam. Seketika Atina ketakutan melihat wajah menyeramkan dari laki-laki itu.
"Akh! Jangan. Kamu mau apa? tolong jangan lakukan itu," Atina memohon dengan tangisan memilukan ketika laki-laki itu menarik paksa selimut yang ia kenakan untuk menutupi tubuh polos nya.
__ADS_1