
Sore itu ketika Atina tengah fokus menonton televisi, mendadak sang Ibu datang menghampiri.
"Tin, kamu sudah mandi belum??"
"Belum, Bu. Kenapa??"
"Tolong kamu siram tanaman di depan ya. Ibu lagi nanggung banget di dapur, lagi masak buat makan malam. Tadi pagi soalnya belum sempet Ibu siram,"
"Oke, Bu. Siap laksanakan!!" jawab Atina semangat.
Tak lama kini dirinya sudah berada di teras dengan memegang selang air yang sudah ia sambung ke kran yang berada di samping kanan rumahnya.
Atina mulai menyiram tanaman bunga dalam pot yang berjejer rapi. Tak hanya bunga saja, banyak tanaman lain yang bu Yeni tanam. Saking banyaknya, Atina sendiri tidak tahu jenis tanaman apa saja yang Ibunya tanam.
Atina terus menyiram tanaman itu dengan sesekali bersenandung lirih. Mulutnya tak henti bernyanyi entah apa yang dia nyanyikan.
Ketika tengah fokus menyiram tanaman, tak sengaja matanya menatap ke arah seberang jalan di mana ada sebuah mobil tengah terparkir disana.
Atina menatap mobil itu sesaat. Dia sepertinya mengenali mobil itu tapi agak lupa siapa pemiliknya. Beberapa detik ia terus memandang ke arah mobil tersebut, berusaha mengingat, tapi nihil, ia sama sekali tak mengingat nya.
Mobil yang Atina pandang perlahan melaju meninggalkan Atina yang masih saja berdiri ke arah yang sama sejak beberapa detik yang lalu.
"Loh, kok mobil nya pergi sih!!" ucapnya lirih.
Karena mobil yang sedari tadi mencuri perhatiannya itu sudah hilang dari pandangan, akhirnya ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya menyiram tanaman.
__ADS_1
Selesai melakukan pekerjaan nya, Atina langsung merapikan selang air supaya rapi seperti sedia kala.
"Sudah di siram semua, Tin??" tanya sang Ibu ketika ia baru saja sampai di dapur dimana tempat sang Ibu tengah sibuk memasak.
"Sudah beres semua, Bu. Sekarang aku mau mandi dulu," sahut Atina, ia menyampirkan handuk di bahu nya berjalan menuju kamar mandi.
********
Ketika tengah fokus menatap wanita yang sangat Putra cintai, ia sangat terkejut kala wanita itu juga menatap ke arah mobil nya yang terletak tak jauh dari rumah wanita itu. Pandangan mata dari wanita itu seperti tengah menerka dengan mengamati setiap sudut mobil yang ia naiki. Takut dia menyadari bahwa itu adalah dirinya, Putra memutuskan untuk melajukan mobil itu menjauh.
"Atina tadi tahu nggak ya, kalau ini adalah mobil punya ku. Secara 'kan dulu aku pernah membawa mobil ini ketika mengajak dia pergi untuk makan malam berdua. Memang sih kejadian itu sudah cukup lama, tapi bisa jadi Atina masih mengingat nya. Aduh... gawat kalau sampai dia ingat. Pasti dia akan bertanya-tanya kenapa sejak tadi aku berhenti di depan rumahnya," gumam Putra merasa tak enak sendiri. Salah nya juga yang tak bisa menepis kerinduan pada wanita itu. Tapi setelah melihat Atina, meskipun hanya sebentar mampu membuat perasaannya jadi lebih tenang. Setidaknya ia tahu kalau wanita itu baik-baik saja. Senyum nya yang sangat manis membuat Putra jadi senyum-senyum sendiri ketika mengingat nya.
"Ingat, Nak. Jangan pernah kamu menyakiti hati wanita, karena ayah tidak pernah mengajarkan itu sama kamu. Ingat, kamu sudah punya Istri, Put. Jadi, lupakanlah wanita itu,"
Mendadak ucapan sang Ayah tadi siang melintas dalam benak nya. Seketika itu juga, senyum yang sedari tadi merekah mendadak lenyap seketika. Ada perasaan bersalah yang langsung menghampiri dirinya.
"Loh, Mas. Kapan pulang?? Aku nggak denger suara mobil kamu dari tadi," tegur Sandra ketika melihat sang suami baru saja masuk ke dalam kamar dengan wajah yang lesu seperti tengah memikirkan masalah yang berat.
"Barusan, aku mau mandi dulu, San!!" sahutnya langsung berlalu ke dalam kamar mandi. Sandra yang melihat raut wajah tak bersahabat dari sang suami hanya bisa menatap ke arah punggung laki-laki itu sampai menghilang dibalik pintu kamar mandi.
"Mas Putra kenapa sih? Wajahnya kusut banget kayak lagi ada masalah?" batin Sandra bertanya-tanya.
Ceklek... Pintu kamar mandi terbuka setelah lima belas menit lamanya Putra berada di dalam.
"Mau aku siapin baju buat ganti, Mas??" tawar Sandra, saking fokusnya melihat perubahan wajah Putra tadi membuat dirinya lupa untuk menyiapkan baju ganti buat sang suami. Alhasil ia baru menawarkan diri ketika sang suami selesai mandi.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa ambil sendiri," setelah berkata seperti itu, Putra langsung sibuk memilih baju mana yang akan ia pakai. Setelah menentukan pakaian yang akan di kenakan, ia kembali lagi ke kamar mandi, mungkin dia memutuskan untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi.
Setelah sang suami kembali keluar dari kamar mandi tentunya dengan memakai baju lengkap, perlahan Sandra mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu lagi ada masalah, Mas? Aku perhatikan, sedari pulang barusan wajah kamu tampak sangat kusut. Apa ada yang tengah kamu pikirkan??" tanya Sandra, ia duduk di tepi ranjang sementara sang suami duduk di sofa yang juga tersedia di kamar itu.
"Nggak... nggak ada masalah apapun. Hanya kecapaian saja," sahut Putra berusaha menutupi semua dari Sandra.
"Yakin, hanya karena itu, Mas? Kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu dari aku 'kan, Mas??"
"Nyembunyiin apaan maksud kamu. Ya nggak lah. Jangan berpikiran aneh-aneh ya. Aku nggak suka kalau kamu berpikiran yang nggak-nggak sama aku,'" tegas Putra membuat Sandra langsung terdiam. Tak lagi ada ucapan yang keluar dari mulutnya. "Ya sudah. Sebaiknya kita ke bawah buat makan malam. Inget, kamu makan bukan untuk dirimu saja, tapi juga buat bayi yang kamu kandung. Jadi jangan sampai kamu telat makan, atau bahkan nggak makan sama sekali," ujar Putra berusaha mengalihkan pembicaraan dengan tujuan agar istrinya itu tak lai bertanya macam-macam. Sebab dirinya sudah tak tahu lagi akan beralasan apa.
"Iya, Mas. Ayo kita keluar sekarang juga,"
"Malam Mas Putra, Mbak Sandra. Baru saja Ibu mau manggil kalian buat makan malam, eh... Kalian sudah muncul duluan," ucap Bu Santi ramah di hadapan kedua majikannya itu.
"Masak apa Bu, apa semua sudah siap masakannya??" tanya Putra basa basi. Padahal ia sudah melihat langsung beberapa makanan sudah terhidang di atas meja makan.
"Sudah siap semua, Mas. Ibu tadi masak lumayan banyak variasinya. Ada ayam goreng, sambal, sayur daun singkong, dan juga orek tempe, Mas. Mudah-mudahan kalian suka dengan masakan Ibu ya, ayo Mbak Sandra, silahkan duduk. Ibu tinggal dulu ke belakang, mau beresin cucian yang tadi udah Ibu masukin ke dalam mesin cuci,"
Sandra mengangguk pelan. Ia pun langsung duduk di kursi meja makan.
"Mau aku ambilkan nasi nya, Mas??" tawar Sandra ketika ia melihat sang suami belum mengisi piring nya dengan nasi.
"Nggak usah, Tin. Biar Mas ambil sendiri saja," ujarnya tanpa sadar ia salah memanggil nama sang Istri.
__ADS_1
"Tin?? Maksud Mas? Siapa itu, Tin??"
Deg... Jantung Putra mendadak berdetak dengan ritme yang cepat. Wajahnya langsung terlihat gugup.