Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 27 Putra Minta Maaf


__ADS_3

Seperti yang Atina duga, orang tuanya pasti akan bertanya detail tentang kepulangannya yang terlalu dini. Ia pun menceritakan semua yang terjadi di sekolah. Awalnya Bu Yeni marah, beliau tidak terima , anak satu-satunya di perlakukan tidak adil oleh pihak sekolah, memberi hukuman atas apa yang tidak Atina lakukan. Sementara sang Bapak, Beliau hanya berusaha menguatkan putrinya agar tetap sabar dalam menghadapi semua permasalahan yang menimpanya saat ini.Menurut Pak Roni, menghadapi masalah dengan emosi tidak akan menemukan jalan keluar, yang ada justru menambah masalah baru lagi.


"Yaudah Bu, Atina masuk kamar dulu ya," ucap Atina ketika ia selesai bercerita dengan kedua orang tuanya.


"Iya Tin, kamu istirahat aja dulu." Sahut Bu Yeni.


Setelah Atina masuk, Bu Yeni lantas melanjutkan obrolan dengan suaminya.


"Ibu kasihan sama Atina Pak, dia pasti terpukul banget dengan kejadian ini. Atina itu anak yang lurus, mana mungkin ia berbuat serendah itu. Kalau Ibu tau rumah si pelaku yang sudah mempermalu'kan Atina, udah Ibu maki-maki tu orang. Bahkan kalau perlu Ibu tampar berkali-kali. Kurang ajar gitu kok kelakuannya!!" Dengan amarah ber api-api, Bu yeni ngomel di hadapan Pak Roni.


"Sabar, Bu. Bapak 'kan tadi sudah bilang. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada justru malah menambah masalah baru. Ibu mau, kalau Atina kena masalah baru karena sikap emosi Ibu ini??" tanya Pak Roni, membuat Bu Yeni hanya mencebikkan bibir.


"Terus, kita harus diam saja gitu, nggak ngelakuin apa-apa. Itu maksud Bapak!!" Cetus Bu Yeni, wajahnya jelas masih menyimpan amarah yang cukup besar.


"Kita sebagai orang tua, hanya bisa mendoakan anak kita, agar ia bisa sabar dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Atina itu bukan anak kecil lagi Bu, Ingat itu. Dia pasti sudah tahu apa yang akan ia lakukan untuk bisa keluar dari masalah ini. Ibu percaya saja sama Atina. Kita serahkan semuanya sama dia Bu. Dukung dan selalu kasih support, itulah tugas kita saat ini sebagai orang tua." Terang Pak Roni berusaha meredam amarah istrinya.


"Ini nih yang tidak Ibu suka dari Bapak. Bapak ini terlalu lembek dalam menghadapi apapun, termasuk masalah serius yang Atina alami."


"Loh, ya bukan lembek tho Bu. Bapak cuma berusaha tidak mengedepankan emosi saja. Ibu ini, selalu saja seperti ini. Di kasih nasehat nggak paham-paham juga."


"Udah ah, mendingan Ibu belanja aja ke warung Bu Asri. Dengerin omongan Bapak malah semakin bikin Ibu emosi saja!!" Bu Yeni bangkit dari duduknya, ia langsung berlalu begitu saja dari hadapan Pak Roni. Sementara sang suami hanya bisa menghela napas panjang dan berkali-kali menggelengkan kepalanya menatap kepergian sang istri.


...****************...

__ADS_1


Tok ... Tok .. Tok


Bu yeni mengetuk pintu kamar Atina.


"Tin, Atina, bukain pintunya."


Atina yang ketiduran sedari tadi, lantas terbangun. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum bangkit dari ranjangnya.


"Tin, kamu tidur ya. Bangun dulu Tin. Ada Pak Putra nunggu kamu di ruang tamu Tin. Ayo bangun!!" Bu Yeni kembali berteriak memanggil Atina, karena sedari tadi tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar.


"Iya Bu, Atina sudah bangun. Ibu temui Pak Putra dulu. Atina mau ganti baju dulu Bu." Sahut atina merespon ucapan Bu yeni agar beliau tidak lagi teriak-teriak dari balik pintu kamarnya.


Bu Yeni akhirnya kembali ke ruang tamu.


Ia ngobrol sejenak dengan Putra sembari menunggu anaknya datang.


Ia duduk di sebelah Ibunya. Melihat kedatangan Atina, Bu Yeni kemudian pamit ke dapur.


" Tin, maaf kalau aku ganggu tidur kamu." Ucap putra mengawali obrolan.


"Nggak apa-apa. Ada apa Mas kemari??" tanya Atina dengan wajah datar. Melihat itu, Putra merasa bersalah, dan ia sangat memaklumi sikap Atina.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi di sekolah tadi pagi. Aku minta maaf karena pagi tadi tidak masuk kerja karena ada urusan keluarga. Bu Fitri telepon, dan mengabarkan kejadian itu. Makanya, aku langsung kemari. Maaf ya Tin, aku sudah membuat kamu berada dalam masalah seperti sekarang. Aku tahu, ini pasti perbuatan Sandra, mantan tunanganku. Aku akan buat perhitungan sama dia. Kalau perlu, akan aku bawa dia kemari untuk langsung minta maaf sama kamu Tin." Ucap Putra diliputi rasa bersalah.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu ngelakuin sejauh itu Mas. Apa Mas pikir, dengan ngelakuin itu, Sandra akan diam saja. Yang ada justru malah ia semakin bikin masalah baru lagi. Dan yang akan tambah rugi siapa coba. Aku Mas, aku yang pasti akan sangat di rugikan dalam hal ini. Aku tidak ada hubungan apapun dengan putusnya pertunangan kalian, tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Tapi kenapa wanita itu malah mengusik hidupku, bahkan tak main-main, Ia mempermalukan aku di sekolah. Dihadapan murid-murid dan juga para guru." Atina meluapkan semua amarahnya di hadapan Putra yang tampak duduk terdiam.


"Maafkan aku Tin. Semua yang menimpa kamu berawal dari ajakan aku waktu itu. Sekali lagi, aku minta maaf." Hanya itu saja yang bisa Putra katakan. Ia menatap Atina dengan perasaan bersalah. Baru pertama kali Putra melihat kemarahan yang besar dari Atina. Ia paham betul wanita dihadapannya ini pasti merasa sangat terpukul. Putra berjanji pada diri sendiri, akan selalu menjaga Atina. Dia berencana akan tetap menemui Sandra untuk memberikan pelajaran atas semua yang wanita itu lakukan pada Atina.


"Sebaiknya Mas pulang saja. Aku lagi malas membahas kejadian itu lagi untuk saat ini." Usir atina, dan putra sangat memaklumi itu.


"Iya, baiklah Tin. Aku akan pulang sekarang juga. Kalau begitu aku pamit ya. Aku akan memastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi Tin. Salam untuk Bu Yeni, Tin. Aku pamit. Assalamu'alaikum...."


"Waalaikum salam."


"Loh Tin. Pak Putranya mana? Ini ibu bawakan minum untuk Pak Putra." Tegur Bu Yeni dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.


"Udah pulang barusan Bu." Jawab Atina singkat.


Bu yeni meletakkan nampan itu di atas meja. Lantas beliau duduk di samping putrinya.


"Kok cepet banget sih Tin, baru juga beberapa menit, udah pulang aja. Padahal udah Ibu bikinin minum. Tapi ... Pak Putra pulang gitu aja bukan karena kamu usir 'kan Tin???"


"Pak Putra masih ada urusan Bu. Teh nya biar Atina yang minum ya." Atina langsung mengambil segelas teh hangat yang Bu yeni taruh di atas meja.


"Tin, kamu kalau mau makan, semua udah ibu siapkan di atas meja makan. Kamu makan dulu gih, Ibu dan Bapak tadi juga udah makan ketika kamu masih tidur."


"Iya Bu. Nanti dulu, Atina belum begitu lapar kok. Mau duduk santai dulu di sini. Bapak mana Bu??"

__ADS_1


"Kayaknya lagi kasih makan ikan di kolam belakang Tin." Jawab Bu yeni.


Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2