
"Sandra... hentikan!! kamu gila ya." Putra terus berusaha melepaskan pelukan dari sandra. Tapi, sandra enggan melepaskan pelukannya. Ia semakin mempererat memeluk putra. Bahkan yang lebih gilanya, ia mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Melihat apa yang akan Sandra lakukan, Putra langsung mencekal tangan sandra.
"Apa yang akan kamu lakukan San. Hentikan ya, atau aku nggak akan sudi lagi mengenal kamu. Jangan hanya karena aku tidak membalas cintamu, lantas kamu mau berbuat nekat seperti ini. Kamu kira aku akan tergoda. Kamu salah besar!! Dengan kamu ngelakuin ini, justru malah akan membuat aku jijik sama kamu. Kamu ini seorang perempuan, jadi janganlah melakukan sesuatu yang akan membuatmu di pandang rendah, kamu paham!!" Dengan tegas, Putra memberi peringatan kepada Sandra. Mendengar ucapan Putra, Sandra langsung terduduk di lantai, buliran bening kembali membasahi kedua pipinya.
"Kenapa Mas, kenapa kamu tidak bisa cinta sama aku?? Sementara aku, aku dengan mudah bisa jatuh cinta sama kamu Mas." Ucap Sandra dengan suara serak.
Perlahan, Putra jongkok, mensejajarkan posisinya dengan Sandra yang tengah terduduk di lantai dengan berurai air mata.
"Jangan seperti ini San. Aku yakin kamu wanita yang kuat. Lambat laun pasti kamu akan bisa menghapus perasaan itu di hatimu. Kamu hanya perlu berusaha menerima semua ini dengan lapang dada, San. Jangan mengedepankan ego kamu, yang ada hanya akan membuat kamu tersiksa sendiri." Putra menatap lekat wajah Sandra, Ia selalu berharap wanita dihadapanya sekarang, suatu saat akan menemukan kebahagiaannya bersama laki-laki lain yang mampu memberikan cinta tulus untuknya.
Semua yang Putra ucapkan tidak terlalu Sandra pedulikan. Yang ia mau saat ini adalah Putra bisa ia taklukkan, dengan cara apapun itu.
__ADS_1
"Mas, ijinkan aku memeluk dan mencium kamu Mas. Setidaknya biar aku bisa merasakan hangatnya berada dalam pelukanmu meskipun hanya sekali saja. Tolong turuti permintaan ku ini sebelum aku benar-benar belajar melupakanmu Mas, aku mohon. Setelah ini, aku janji tidak akan menganggu mu ataupun mengganggu kehidupan perempuan yang bernama Atina itu. Seperti apa yang kamu inginkan. Aku janji." Mendengar permintaan Sandra seperti itu, tentu saja Putra tidak setuju. Tapi, ketika Sandra berjanji bahwa ia tidak akan lagi mengganggu kehidupan Atina, membuat dirinya berpikir ulang. Apakah sebaiknya ia turuti saja kemauan Sandra, agar hidup Atina tidak terusik lagi. Tapi, ia juga merasa was-was dan sedikit khawatir kalau apa yang akan ia lakukan, justru akan jadi bumerang untuk dirinya sendiri. Ketika tengah dilanda kebimbangan, tiba-tiba Putra merasakan tubuhnya di dekap seseorang, semakin lama dekapan itu semakin erat sehingga putra bisa merasakan area sensitif milik seseorang yang tengah memeluknya itu. Putra mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah ia baru tersadar dari mimpi. Ia baru menyadari kalau kini dirinya tengah berada di dalam pelukan Sandra. Dan posisi itu, entah mengapa seolah membuat Putra terhipnotis , sehingga ia hanya mampu terdiam tanpa memberikan respon apapun.
Melihat Putra terdiam tanpa reaksi apapun, membuat Sandra memberanikan diri kembali mencium bib*r putra. Siapa sangka, ternyata, lagi-lagi Putra tidak menolak dengan apa yang Sandra lakukan. Dalam hati kecilnya sandra bersorak. Ia akan memanfaatkan momen kali ini untuk membuat Putra terbawa suasana sehingga ia akan dengan mudah menjerat Putra dalam permainannya.
Semakin lama, Putra merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya Ia ingin menghentikan aksi sandra sesegera mungkin agar tidak terlalu berbuat jauh. Tapi, disisi lain, justru tubuhnya seakan menyuruh dirinya untuk tetap menikmati perlakuan dari sandra tersebut. Benarkah apa yang Putra lakukan semata-mata karena janji sandra yang mengatakan tidak akan mengusik hidup Atina lagi asal Putra mau menuruti apa yang sandra mau, ataukah karena ia sendiri yang menginginkan kehangatan itu terus menjelajah dalam tiap inci tubuhnya.
Perlahan, Sandra mulai memainkan perannya , lambat laun yang awalnya putra hanya diam. Kini, ia mulai membalas perlakuan sandra kepadanya.
Kurang lebih 1 jam mereka terkungkung dalam nafsu sesaat. Sampai akhirnya, Putra yang baru menyadari bahwa apa yang barusan ia lakukan dengan sandra sudah benar-benar melewati batas. Kini yang tersisa hanyalah penyesalan.
Dengan cepat, Putra memakai kembali satu per satu pakaiannya. Wajahnya terlihat sangat frustasi. Tanpa kata, Putra langsung berlari keluar meninggalkan sandra yang tergolek diatas sofa dengan tanpa berpakaian. Bukannya penyesalan yang sandra tunjukkan, ia malah tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, misi untuk memperdaya Putra berhasil ia lakukan tanpa rintangan.
__ADS_1
Putra yang sudah duduk didepan kemudinya, dengan penuh amarah, ia memukul-mukul stir mobil berkali-kali.
"Arrrgh.... bodoh... bodoh... Apa yang sudah aku lakukan??? Kenapa, kenapa aku jadi bodoh seperti ini ya Tuhaan....!!!" Putra berteriak ,ia terlihat frustasi. kekhilafan yang baru saja ia lakukan, mampu mengguncang batinnya.
Tak lama, ia tancap gas, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan yang lumayan lengang. Disepanjang jalan, Putra hanya bisa merutuki dirinya sendiri, Ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa menahan hawa nafsunya itu.
"Bagaimana ini, kenapa bisa aku melakukan hubungan terlarang itu sama Sandra. Kalau sampai Sandra hamil gimana?? Apa yang akan terjadi nanti dengan kehidupanku selanjutnya. Ya Tuhan, kenapa aku bisa sampai terjerumus seperti ini. Kenapa aku tidak bisa menahan gejolak itu. Sekarang yang ada hanya penyesalan. Tapi apa gunanya, semua sudah terjadi. Aku harus siap bertanggung jawab dengan apa yang akan terjadi nanti. Atina... maafkan aku, mungkin perasaan cintaku sama kamu harus aku kubur, aku nggak akan mungkin bisa lagi dapetin kamu. Apalagi kalau sampai kamu tau, aku pernah melakukan hubungan terlarang dengan Sandra. Pasti kamu akan berpikiran bahwa aku adalah laki-laki brengsek."
Berbagai pikiran buruk terus menghantui Putra. Betapa rasa penyesalan itu terlalu dalam ia rasakan. Sekarang yang ada, hanya pasrah dengan yang akan terjadi akibat perbuatan yang tak ia sengaja itu.
Mobil Putra berjalan menyusuri jalanan. Ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat agar bisa menenangkan pikirannya yang kalut. Pulang dalam keadaan seperti ini hanya akan membuat orang tuanya khawatir, dan itu tentu sangat Putra hindari.
__ADS_1
Mobil putra berhenti di pelataran masjid yang ia temui, ia memutuskan untuk singgah sejenak ke masjid itu. Putra berharap, ia akan mendapatkan ketenangan ketika berada di tempat suci tersebut. Menghadap sang Ilahi, memohon ampun dan berserah diri kepada Tuhan, itulah yang pertama akan ia lakukan.