Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 53 Jodohku Mana?


__ADS_3

Pertemuan kemaren yang seharusnya untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan antara dirinya dan Melvin harus Atina urungkan karena keadaan yang tidak tepat. Melvin yang datangnya terlambat serta kecemburuan yang tiba-tiba menghampiri laki-laki itu, membuat Atina enggan untuk mengutarakan niatannya itu kepada sang kekasih. Ketika di taman, ia hanya ngobrol biasa kepada Melvin. Setelah berhasil membuat laki-laki itu lebih tenang, ia memilih untuk beranjak pulang. Awalnya Melvin menolak dengan alasan masih kangen dengan dirinya. Tapi karena waktu yang sudah semakin sore, di tambah badan yang sudah lumayan capek membuat Atina kekeh untuk pulang saat itu juga.


"Mas, sebaiknya kita pulang aja yuk. Udah semakin sore. Kamu pasti juga capek 'kan dari kantor langsung kesini??" Ucap Atina ketika mereka selesai menghabiskan satu gelas Es buah.


"Nanti dong Sayang. Aku belum puas berduaan sama kamu. Masih kangeen," Rengek Melvin sembari mengenggam kedua tangan Atina.


"Besok-besok juga bisa bertemu lagi Mas. Lagipula tadi kamu kenapa lama banget datangnya. Aku udah nunggu kamu hampir satu jam loh disini," seru Atina memandang lekat ke arah Melvin dengan wajah dibuat kesal.


"Maaf Sayang, tadi banyak banget berkas yang harus selesaikan hari ini juga, karena biar besok ketika meeting, semua udah siap." Sahut Melvin dengan wajah memelas.


"Aturan, kalau kamu memang lagi sibuk banget. Kenapa terima ajakan aku. Kamu 'kan bisa menolaknya. Aku juga pasti akan ngertiin kamu kok Mas."


"Mana mungkin aku nolak kamu, Sayang. Se-sibuk apapun aku, pasti akan luangin waktu buat kamu. lagipula kita udah beberapa hari nggak ketemu, terakhir ketika kita jalan-jalan ke Mall bareng Chessy, Iya 'kan?? Kita pulangnya nanti malam aja gimana, Tin. Kita jalan-jalan aja dulu." Ajak Melvin.


Sebenarnya Atina juga tidak keberatan dengan ajakan Melvin. Tapi, ketika dirinya menatap wajah lelah sang kekasih, ia mengurungkan niatnya untuk menyetujui usulan Melvin tersebut. Atina merasa kasihan sama Melvin. Dia pasti lelah karena baru pulang kerja, belum sempat istirahat sudah pergi untuk menemui dirinya di taman.


"Besok-besok lagi aja ya Mas. Sekarang lebih baik kita pulang. Aku perhatiin, Mas juga kelihatan capek banget gitu. Aku pengen, Mas habis ini istirahat saja di rumah. Aku nggak mau lho kalau sampai kamu jatuh sakit karena terlalu capek badannya. Mau ya Mas dengerin omongan aku. Kita pulang saja. Bentar lagi juga udah mau masuk waktu maghrib," Atina tetap kekek menyuruh Melvin untuk pulang saja. Tak tega melihat wanita didepannya berharap seperti itu, akhirnya Melvin luluh juga. Ia mengangguk mengiyakan ajakan Atina untuk langsung pulang saja.


"Baiklah Sayang. Kalau itu mau kamu. Kita pulang sekarang. Aku akan anterin kamu dulu ya, habis itu baru aku balik ke rumah. Yaudah, yuk. Jalan sekarang aja." Ajak Melvin. Ia menggandeng lengan Atina.


...****************...

__ADS_1


Pagi ini di ruang Guru tempat Atina mengajar.


"Pagi Bu Atina. melamun aja dari tadi. Lagi ngelamunin apaan hayoo??" Tiba-tiba Bu Tia sudah berada tepat di depan meja kerja Atina.


"Ah, Bu Tia. nggak kok. Siapa juga yang lagi melamun," sahut Atina merasa kaget dengan kedatangan rekannya itu.


"Oh ya, aku kemaren sudah ketemu dengan temannya Putra, namanya Anjas. Ngomong-ngomong, ganteng juga ya tuh orang. Ngalahin Putra gantengnya. Coba kalau aku masih single, mau banget jadi istrinya Anjas. hehe...!!" Celetuk Bu Tia ganjen.


"Huus, Bu Tia ini kalau ngomong suka ngaco deh. Inget umur Bu!!" Cetus Atina membuat Bu Tia salah tingkah kalau sudah membahas tentang umurnya.


"Hehe... Namanya juga berandai-andai Tin. Ngomong-ngomong kemaren gimana ceritanya kok kamu bisa kenal dengan Anjas, Tin. Terus kenapa nggak kamu aja yang nganterin laki-laki itu ke rumah Putra. 'Kan lumayan tuh, bisa PDKT, siapa tau aja dia naksir sama kamu, Tin??" bertanya sembari meledek Atina.


"Ketemu nggak sengaja di taman. Dia tiba-tiba nyamperin aku yang kala itu lagi duduk sendirian di taman Bu Tia. Bu Tia 'kan tau sendiri, aku belum pernah ke rumah Pak Putra. Kalau yang nganterin aku, malah nanti nyasar doang. lagipula aku juga masih ada urusan kemaren. Makanya aku serahin aja Mas Anjas sama Bu Tia." Ujar Atina, tangannya sibuk membenahi hijabnya yang lumayan berantakan karena terkena angin ketika naik motor tadi.


"Tuh bibir nggak usah monyong gitu juga kali Bu Tia. Udah kayak bebek lagi ngomel aja. Hihihi..." Ledek Atina. Bukannya marah, Bu Tia malah ikutan cekikikan mendengar ledekan Atina.


Mereka ketawa bersama, disaat itu pula datanglah Bu Fitri. Bakalan tambah rame nih kalau ada Ibu satu ini.


"Wah... wah... Pagi-pagi udah ketawa renyah gitu melebihi krupuk yang baru digoreng renyahnya. Baru dapet rejeki nomplok ya. Girangnya bukan main!!" Sambung Bu Fitri setelah meletakkan tas nya di atas meja. Ia melangkah mendekati Bu Tia dan Atina.


"Eh, Bu Fitri. Baru datang Bu. Biasanya paling awal kalau datang. Tumben ini agak molor," seru Atina menjabat tangan Bu Fitri, disusul oleh Bu Tia yang ikutan menjabat tangan rekannya itu.

__ADS_1


"Yaaah... biasa lah di rumah ada aja yang harus dikerjain. Maklum, suamiku lagi dinas keluar kota." Sahut Bu Fitri, ia


duduk tak jauh dari kedua temannya.


"Pak Salim makin sukses aja ya karirnya di perusahaan. Sering banget dinas keluar kota," timpal Bu Tia membicarakan suami Bu Fitri.


"Ya, alhamdulillah Bu. Berkat kegigihan beliau semua ini bisa ia capai. Yang terpenting sesukses apapun suamiku, ia bisa tetap menjadi suami yang setia pada keluarga."


"Amiin... Mudah-mudahan Pak Salim nggak akan macem-macem sama Bu Fitri. Aku yakin suami kamu orangnya baik, dia pasti bisa selalu menjaga dirinya dari bermacam godaan diluaran." Sahut Bu Tia memberi dukungan lewat kata-kata yang membuat Bu Fitri menganggukkan kepala tanda menyetujui semua perkataan Bu Tia.


"Aduh, kalian berdua ngomongin suami. Lah, aku?? Kapan ya aku punya suami??" celetuk Atina membuat Bu Fitri dan Bu Tia menoleh secara bersamaan ke arah Atina.


"Udah... tenang aja Tin. Masih muda ini kok. Nanti kalau udah waktunya ketemu sama jodoh kamu, pasti akan disegerakan bersatu. Atau ... apa perlu aku cariin calon buat kamu. Teman kerja suamiku di kantor, banyak lhoo yang masih pada jomblo." Terang Bu Fitri. Atina langsung menggelengkan kepala tanda tak setuju dengan usulan Bu Fitri.


"Nggak ah Bu Fit. Nantj aku cari sendiri aja. Biar lebih puas, dan lebih sreg di hati." Tolaknya.


"Benar tuh yang dikatakan Bu Fitri, Tin. Kantor tempat kerja suami Bu Fitri 'kan perusahaan yang besar, pasti gaji karyawan di sana juga besar. 'kan lumayan, kalau dapat suami yang gajinya gede. Kamu nggak akan kekurangan secara materi nantinya." Timpal Bu Tia.


"Nggak ah Bu Tia. Kalau urusan pendamping, aku nggak terlalu ngutamain itu sih Bu Tia. Aku lebih konsen ke kepribadian laki-laki yang akan jadi pendamping aku kelak. Kalau masalah materi, bisa dicari kapan aja. Kalau masalah kepribadian seseorang, tidak semua memiliki kepribadian yang baik yang sesuai dengan kriteriaku Bu Tia." Baik Bu Tia ataupun Bu Fitri hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Atina.


"Ya juga sih, ada benarnya juga apa yang kamu bilang barusan. Aku doakan, semoga kamu dapat pendamping sesuai apa yang kamu inginkan, Tin." Doa Bu Fitri yang langsung di aminkan oleh Atina, tak ketinggalan, Bu Tia pun ikut mengaminkan.

__ADS_1


Obrolan mereka terpaksa harus berhenti karena bel berbunyi. Mereka harus menemani para siswa dan siswi untuk doa pagi dihalaman sekolah.


__ADS_2