
"Kenapa kamu nggak minta dianterin, kenapa keluyuran malam-malam sendirian haah!! kalau tadi kamu sampai kenapa-kenapa gimana. Kamu mikir nggak, sampai kesitu. Dasar ceroboh!!!" hardik Melvin meluapkan kekesalannya terhadap Atina. Entah apa yang membuat Melvin bersikap seperti itu. Padahal ia dan Atina tidak ada hubungan apa-apa selain hanya saling kenal karena kebetulan Atina adalah Guru chessy, putri tunggal Melvin. Mungkinkah tanpa disadari kalau sebenarnya Melvin menaruh hati kepada Atina.
"Mas, kenapa tiba-tiba marah gitu, salah aku apa? kenapa ngatain aku ceroboh??" Atina merasa kaget sekaligus bingung akan kemarahan melvin yang menurutnya tidak masuk akal.
"Masih tanya salah kamu apa, kamu nggak sadar salah kamu apa? benar-benar kamu yaa...." Melvin nampak gemas sendiri
"Iya, oke, aku akui, aku emang salah. Tapi, kesalahanku ini bukan kepada Mas Melvin. Tapi, aku salah terhadap diriku sendiri. Lantas, kenapa Mas yang marah. Apa hubungannya kejadian yang aku alami dengan kemarahan Mas yang nggak jelas ini?!!" Atina mulai terpancing emosi, dirinya baru saja kena musibah, bukannya ditenangkan hatinya malah di marah-marahi seperti ini. Jelas ia merasa kesal.
"Jelas, semua ini ada hubungannya denganku. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa karena a-aku ... a-ku ... aaaah, sudahlah tidak penting untuk dibahas," ujar melvin tak meneruskan kata-katanya.
Atina benar-benar dibuat bingung dengan keadaan ini.
Melvin merasakan lengannya semakin lama semakin nyeri dan perih sekali, ia lantas masuk ke mobil mencari kotak obat yang biasa ia bawa kemanapun pergi.
Setelah menemukan kotak obat itu, Melvin mengambil gunting kecil didalamnya. Ia terpaksa harus memotong sebagian lengan kemeja itu agar memudahkan untuk mengobati luka karena sayatan pisau ulah penjahat tadi.
Atina berdiri mematung tak jauh dari mobil Melvin, ia terus mengamati tiap gerak gerik Melvin.
Melihat melvin kesusahan mengobati luka itu, lantas Atina melangkah mendekati Melvin.
"Sini, biar aku bantu obatin lukamu." Atina menawarkan diri, tangannya hendak meraih kotak obat yang melvin pegang.
"Nggak perlu, aku bisa sendiri!" jawab melvin ketus.
Tanpa mengindahkan jawaban Melvin, Atina langsung merebut kotak obat itu dari tangan Melvin.
"Sini'in lengan kamu Mas," suruh atina dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tadi 'kan aku udah bilang, tidak perlu. Aku bisa sendiri!!" sergah melvin tak mau kalah.
__ADS_1
"Sini'in lengannya!!" ulang Atina membuat Melvin pasrah, lalu ia menyodorkan lengannya untuk Atina obati.
Atina mulai membersihkan luka itu dengan alkohol biar steril, setelahnya ia mengoleskan obat luka ke seluruh permukaan luka itu.
"Ssshh ... bisa pelan-pelan nggak, sakit tau. Kamu sengaja ya?!" celetuk melvin meringis kesakitan.
"Iya-iya ... dari tadi udah pelan-pelan kok. Udah, Mas diem aja nggak usah bawel. Diem, bentar lagi selesai. Tinggal dililit sama perban," seru atina nampak geram sembari tangannya sibuk mulai membalut luka Melvin dengan perban.
Hening seketika, tak ada lagi percakapan diantara keduanya.
Melvin yang sejak tadi diam rupanya tengah memandangi wajah Atina yang kala itu pandangan Atina tengah terfokus pada lengan melvin. Jarak mereka yang lumayan dekat, membuat Melvin leluasa untuk memandangi wajah Atina dengan lekat. Sejenak ia merasa tenang dan nyaman dalam posisi tersebut. Seakan rasa nyeri yang ia rasakan hilang dalam sekejap.
"Nah ... Alhamdulillah sudah selesai." Melvin buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika tiba-tiba Atina berucap.
Wajah melvin terlihat gugup, namum ia berusaha untuk bersikap biasa agar Atina tidak curiga kalau sedari tadi melvin terus memandangi wanita itu.
Tak lama orang suruhan melvin tiba di lokasi, Melvin menyuruh anak buahnya itu untuk memperbaiki motor Atina. Selebihnya mengantar motor itu ke alamat yang sudah Melvin beritahu di chat WhatsApp.
"Mas yakin bisa nyetir dengan lengan terluka gitu?" tanya Atina khawatir
"Bisa, udah tenang saja, lagipula cuma luka kecil gini nggak ngaruh apa-apa buat aku," jawab melvin. Atina hanya mencebik mendengar jawaban Melvin yang seolah membanggakan dirinya.
Mobil melaju perlahan menyusuri jalanan yang cukup lengang. Baik Atina maupun Melvin sama-sama diam.
"Baru kali ini setelah sekian lama, aku nggak pernah ngerasain senyaman ini berdekatan dengan wanita. Ada apa dengan hatiku, kenapa harus wanita ini. Apa aku mulai jatuh cinta pada Atina, ah ... tapi mana mungkin, nggak ... nggak mungkin kalau yang aku rasakan ini adalah cinta. Mungkin ini hanya perasaan kasihan saja. Ya, cuma sebatas kasihan, nggak lebih." Batin melvin
"Awaaas Mas!!" Pekik Atina sontak membuat melvin refleks menginjak rem mobilnya. Dag-dig-dug ... jantung Melvin berdetak kencang.
"Ada apaan sih kamu teriak-teriak, nggak tau apa aku lagi fokus nyetir. Suara kamu tuh ngagetin tau nggak. Bikin jantung mau copot. ada apaa!!" Melvin terdengar emosi, dadanya kembang kempis saking kagetnya.
__ADS_1
"Fokus kamu bilang, tadi baru saja Mas Melvin mau menabrak kucing di jalan. Apa mas melvin nggak lihat tadi ada kucing yang lari ke jalan. Untung aku cepat teriak, kalau nggak entah apa yang akan terjadi dengan kucing itu. Kamu melamun ya dari tadi??" selidik Atina.
"Ng-nggak!! Siapa juga yang melamun. Dari tadi aku fokus nyetir kok,"s sanggah melvin berbohong.
"Ah sudahlah, ngomong sama kamu seperti bumi yang kita pijaki tau nggak," potong Atina. Melvin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Atina.
"Maksud kamu apaan?" Melvin penasaran.
"Laiya, emang pada kenyataannya gitu. Ngomong sama kamu ibarat seperti bumi yang kita pijaki.ya gitu deh, nggak akan ada ujungnya," timpal Atina dengan wajah cemberut.
"Looh, kok malah diam, apa mau disini sampai pagi Mas? udah buruan jalan,ini udah mau jam 10 malam lhoo?!"
"Ah, oh ... eh i-iya, bawel banget," lantas Melvin melajukan mobilnya menuju rumah Atina yang hanya beberapa meter lagi.
Mobil sudah memasuki pekarangan rumah atina, keduanya mulai melangkah ke arah pintu.
Tok...tok..tok..
"Assalamualaikum Bu, Pak," seru Atina mengucap salam.
Terdengar langkah kaki mendekat, Cekleek ... pintu terbuka. Nampak Bu Yeni yang muncul dari balik pintu.
"Waalaikumsalam, oalah Tin ... dari tadi kamu kemana saja, katanya mau ke minimarket, kok ya lama beneeer. Ini dah jam berapa thoo. Mana ponselnya ditinggal di rumah. Bapakmu itu lhoo, dari tadi nanyain kamu terus karena udah mau jam sepuluh nggak pulang-pulang." Belum juga masuk rumah, udah kena semprot sama Ibunya. Bu Yeni belum menyadari kalau ada Melvin di sebelah kanan Atina saking semangatnya memarahi putri semata wayangnya itu. Melihat Atina diomeli Ibunya, Melvin langsung geser lebih mendekat ke arah Atina.
"Loh ... Nak Melvin, kok ada disini?" Bu Yeni nampak kaget melihat Melvin tiba-tiba muncul.
"Kan dari tadi Mas Melvin di sebelah Atina Bu,masa Ibu nggak lihat," seru atina.
"Eh, iya kah ... maaf Nak, Ibu benar-benar nggak tau kalau ada Nak Melvin juga. Ya sudah ayo masuk dulu, kita ngobrolnya di dalam saja," Bu Yeni mempersilahkan Melvin masuk, Atina mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Bu Yeni memanggil suaminya untuk ikut bergabung di ruang tamu. Atina mulai menceritakan alasan kenapa ia sampai pulang telat. Semua ia ceritakan kepada kedua orang tuanya secara detail, Bu Yeni dan Pak Roni tampak kaget karena untuk kedua kalinya kejadian yang kurang mengenakkan menimpa putri mereka. Beruntungnya ada Melvin yang lagi-lagi datang sebagai penolong.