
"Mas melvin, dia siapa?" Seorang wanita mendadak datang, ia bertanya sembari telunjuknya mengarah ke Atina.
Atina dan Melvin serempak menoleh.
"Alana ... kenapa kamu kemari. Aku 'kan dah tegaskan, kita nggak ada urusan lagi. Mending kamu pulang, jangan ganggu hidupku lagi. Kamu ngerti kan?!" tegas Melvin nampak marah dengan wanita itu.
Sementara Atina nampak diam melihat interaksi Melvin dengan wanita yang bernama Alana.
"Apa wanita ini yang membuat kamu tidak mau memaafkan aku dan kembali sama aku Mas?Apa dia alasan kamu bersikap gini sama aku?" Wanita itu terus bertanya sembari sesekali wajahnya menatap Atina.
"Seharusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri kenapa aku bisa bersikap seperti ini sama kamu. Apa kamu lupa kesalahan apa yang sudah kamu lakukan sama aku dan chessy, kamu lupa!! apa perlu aku ingetin lagi hah. Jadi, nggak perlu kamu nunjuk-nunjuk orang lain kalau semua ini terjadi karena ulah kamu sendiri, ngerti!!"
"Tapi Mas, aku yakin kalau nggak ada dia pasti kamu bakalan langsung maafin aku 'kan dan mau balikan sama aku. Aku mohon Mas, maafkan aku dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Mas. Pasti Chessy juga akan senang Mas kalau kita bisa bersama lagi seperti dulu," ujar Alana.
"Jangan mimpi, sampai kapanpun aku nggak akan pernah mau kembali sama kamu, nggak akan. Aku sudah mati rasa sama kamu ya. Jadi, nggak ada gunanya kamu mohon-mohon untuk kembali sama aku."
"Ehm ... mm, maaf sebelumnya kalau aku potong pembicaraan kalian. Oh ya mbak, aku nggak tau kamu siapa. Tapi, yang perlu mbak tau. Aku sama sekali nggak ada sangkut pautnya dengan masalah yang kalian hadapi ya. Aku juga nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Melvin. Jadi, aku harap mbak nggak salah paham sama aku. Aku permisi dulu...." Imbuh Atina tidak mau terus-terusan berada di antara pertengkaran dua orang itu. Ia berlalu dari hadapan Melvin dan Alana.
Melihat itu melvin langsung berlari mengejar Atina.
"Mas ... Mas Melvin, kamu mau kemana. Aku belum selesai bicara!!!" teriak wanita yang bernama Alana melihat Melvin tiba-tiba pergi begitu saja.
Melvin tidak menggubris panggilan dari Alana. Ia terus mengejar Atina. Dan tak lama, ia berhasil mengejar atina yang ternyata tengah berdiri di tepi jalan.
"Atina... kenapa kamu pergi gitu aja. Tadi 'kan aku dah bilang mau nganterin kamu pulang."
"Mas ngapain ngejar aku. Terus wanita tadi mana, kok Mas tinggalin gitu aja sih. Kasian tau nggak, pasti dia akan semakin salah paham sama aku kalau sikap Mas seperti ini. Udah Mas, sana susulin aja tuh wanita tadi. Nggak usah sok-sokan mau nganterin aku segala. Aku bisa pulang sendiri."
"Nggak, nggak akan aku biarin kamu pulang sendiri," sela Melvin
"Apa hak kamu ngelarang-ngelarang aku Mas, kamu nggak punya hak apapun ya buat larang aku."
"Iya aku tau, aku cuma khawatir kalau kamu pulang sendiri."
"Ngapain kamu khawatir sama aku, apa pedulimu Mas sama aku. Lagipula aku bukan siapa-siapa kamu, terus kenapa juga kamu harus repot-repot khawatirin aku."
Tanpa aba-aba Melvin langsung menarik tangan Atina dengan cepat. Atina yang kaget sontak memberontak
"Mas ... ngapain Mas tarik aku haah, lepaskan Mas, lepas nggak!"
Atina berusaha melepas pegangan tangan melvin, tapi semakin ia berusaha memberontak, semakin kuat cengkraman tangan Melvin. Melvin menarik Atina sampai di depan mobil miliknya.
"Masuk!!! perintah melvin kepada Atina ketika dirinya sampai di sebelah mobil hitam sembari tangannya memegang pintu mobil yang terbuka.
__ADS_1
Mendengar bentakan Melvin yang cukup kencang membuat nyali Atina menciut. Lantas ia pun terpaksa harus mengikuti apa yang Melvin perintahkan.
Setelah Atina masuk, Melvin bergegas masuk dari arah pintu lain.
Mobil melaju begitu saja menyusuri jalanan yang lumayan padat. Hening tak ada obrolan apapun di antara mereka.
Mobil terus melaju, Atina baru menyadari kalau jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju rumahnya. Menyadari itu atina merasa was-was, ia takut kalau melvin akan berbuat nekat kepadanya.
"Mas, ini bukan jalan menuju rumahku, Mas mau bawa aku kemana?" tanya atina panik,ia memberanikan diri berbicara duluan.
"Kamu tenang saja, aku nggak akan nyakitin kamu atau berbuat macam-macam. Aku hanya ingin mengajak kamu ke suatu tempat."
"Nggak ... Aku nggak mau. Tadi Mas Melvin sendiri yang bilang kalau mau nganterin aku pulang, kenapa sekarang malah berubah, Mas malah mau bawa aku ke tempat lain. Kita langsung pulang saja Mas,"tolak Atina.
"Bisa nggak kamu tuh nurut, jangan selalu mendebat apa yang aku bilang. Udah, kamu diem aja, nggak usah khawatir. Nanti aku bakalan anterin kamu pulang."
"Kenapa sih Mas selalu memaksakan kehendak Mas sendiri, Mas selalu berbuat sesuka hati sama aku, kenapa?" Mata atina nampak berkaca-kaca. Sementara Melvin tetap focus menatap ke depan. Tak lama mobil berhenti tepat di sebuah danau yang cukup indah dan bersih.
Melvin menyuruh atina untuk turun, tapi Atina tetap bergeming, tak ada reaksi apapun darinya. Wajah Atina nampak sendu, ia hanya diam menatap keluar jendela mobil. Melihat hal itu, melvin merasa bersalah.
"Tin, maaf kalau sikapku kadang kasar sama kamu, suka memaksa kamu, dan bikin kamu kesal. Semua aku lakukan karena ada alasan yang kuat."
Mendengar ucapan melvin, Atina langsung menoleh.
"Aku .... Sebenarnya a-aku...." Melvin merasa lidahnya kelu, sulit sekali mulutnya berucap.
"Udahlah Mas, nggak usah diteruskan kalau kamu nggak mau ngomong. Kalau boleh tau, siapa wanita tadi Mas??" Atina menatap Melvin, entah sadar atau tidak ia tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Dia mantan istriku Tin, Mama Chessy," jawab Melvin.
"Cantik ya Mas mantan istri kamu," sahut Atina tersenyum kecut.
"Lebih cantik kamu."Sontak ucapan Melvin membuat wajah Atina bersemu.
"Kamu ngejek aku Mas?" ucap Atina pura-pura merajuk.
"Aku serius," sahut Melvin singkat.
"Kamu mau balikan sama mantan istri kamu Mas? sepertinya dia masih ada rasa sama kamu. Aku bisa lihat dari sorot matanya tadi ketika ia berbicara di hadapan mu."
"Aku sudah mencintai wanita lain. Jadi, nggak mungkin aku mau balikan sama mantan istri ku. Dia sudah jadi masa lalu buatku dan aku juga nggak akan mengulang masa-masa itu lagi."
"Siapa wanita yang Mas cintai itu." Entah kenapa ada bisikan yang mendorong Atina untuk bertanya tentang itu pada Melvin. Ia benar-benar ingin tau.
__ADS_1
"Kenapa kamu pengen tau wanita yang aku cintai hemm?" Melvin balik bertanya.
Atina kikuk sendiri, tidak menyangka kalau Melvin akan balik bertanya seperti itu.
"Aduuuh ni mulut kenapa suka nggak bisa ke kontrol sih, seharusnya aku nggak usah nanyain tentang siapa yang melvin cintai. Eh, dia malah balik tanya gitu 'kan jadinya.Aku harus jawab apa dong!" batin Atina.
"Kok diam." Melvin kembali bertanya karena Atina hanya diam tak menjawab.
"Emang nggak boleh kalau aku tanya gitu, kalau kamu nggak mau jawab juga nggak masalah kok,"jawab Atina, sebisa mungkin ia bersikap biasa di hadapan Melvin.
Melvin malah menatap atina dengan pandangan seperti tengah menelisik sesuatu. Atina yang ditatap seperti itu merasa risih sendiri.
"Apaan sih liatin aku kayak gitu banget. Udah ah, ayo pulang. Ngapain juga kita kesini. Mana sepi nggak ada orang sama sekali."
"Nanti dulu, aku nyaman berada di sini, apalagi...." Melvin sengaja tidak meneruskan ucapannya.
"Apalagi apa, kok nggak di teruskan ngomongnya?"
"Ah bukan apa-apa kok."
"Dasar aneh!!!"
Mereka sama-sama terdiam. Pada awalnya, Melvin berniat memberi tahu tentang perasaan yang ia rasakan pada Atina, sekuat tenaga ia mencoba berbicara jujur.Tapi, selalu saja lidah nya seolah kelu, sulit sekali mengucapkan kata-kata sayang sama Atina, dia jatuh cinta sama Atina.
"Ayo pulang Mas, ngapain kita berdiam diri di sini kayak gini, pulang nggak atau aku pulang sendiri saja."
"Emang kamu berani, tempat ini jauh dari jalan raya, apa kamu dari tadi nggak merhatiin jalan?"
"Aku nggak peduli Mas, aku akan jalan kaki sampai menemukan jalan utama dan akan berhentiin apa aja yang lewat, aku serius. Daripada disini terus nggak jelas." Atina lantas membuka pintu mobil, keluar dan langsung ngeloyor gitu aja.
"Dasar kepala batu, susah banget dibilangin!" gumam Melvin lantas ia buru-buru turun dari mobil, mengejar Atina yang sudah lari duluan.
Sementara itu atina terus saja berlari tanpa tahu arah mana yang sebenarnya ia tuju. Mendadak sebuah ide muncul dari benak nya, ia berencana untuk mengerjai Melvin.
"Hmm ... gimana kalau aku sembunyi dulu aja. Aku pengen tau bagaimana reaksi Mas Melvin kalau ia tidak bisa menemukan keberadaanku.Ah yaa, bener banget. Aku kerjain aja tuh orang, salah sendiri ngajak-ngajak ke tempat sepi gini. Mana nggak ada orang satupun pula," gumam Atina, seketika muncul ide jahil dibenaknya.
Atina bergegas mencari pohon yang lumayan besar untuk tempat ia bersembunyi dari kejaran Melvin. Ketika matanya berkeliling ke arah sekitar, tiba-tiba ia menemukan pohon yang pas untuk ia bersembunyi. Sembari celingukan ia berlari ke pohon yang dimaksud.
"Nah ... kalau aku sembunyi gini 'kan pasti Mas Melvin nggak akan nemuin keberadaan Ku, he-he-he," gumam Atina sambil terkekeh.
"Atina ... Atinaaa...." Terdengar teriakan dari Melvin memanggil namanya. Sontak Atina membenamkan diri dibalik pohon yang lumayan besar, sehingga mampu menutupi badannya. Sesekali ia mengintip melvin dari balik pohon.
"Atina ... Atinaa ... Jangan bercanda ya. Kamu di mana, nggak lucu!! cepat keluar nggak. Kamu pasti sembunyi 'kan?" dengan wajah panik Melvin berteriak memanggil nama Atina. Tapi Atina tetap bergeming di tempat persembunyiannya. Sementara Melvin tampak kalut, tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda keberadaan Atina.
__ADS_1
"Nggak ... nggak mungkin Atina sudah sampai di jalan utama. Nggak mungkin ia cepat banget larinya. Pasti ia cuma mau ngerjain aku. Tapi kenapa dari tadi tak panggil nggak ada jawaban juga. Apa jangan-jangan ... ah nggak, aku harus cari dia sampai ketemu, dasar ceroboh, keras kepala. Selalu saja ngelakuin sesuatu nggak pakai di pikir dulu, akh....!!!" gumam melvin nampak kacau karena sudah lima belas menit atina belum juga berhasil di temukan.