
Mendengar ungkapan hati sang anak membuat ayah Putra tampak ikut bersedih. Tak di sangka ternyata Putranya menyimpan perasaan sedih yang begitu dalam. Namun sebagai seorang ayah tentu saja beliau tidak membenarkan sikap sang anak.
"Ayah tak menyalahkan mu karena mencintai seseorang, Nak. Hanya saja kamu harus tahu kalau saat ini kamu sudah terikat pernikahan dengan Sandra. Keadaan sudah berbeda, Nak. Kamu punya tanggung jawab yang besar terhadap istri dan calon anak kamu kelak ketika dia lahir. Jangan sampai perasaan cinta kamu kepada wanita lain membuat kamu tanpa sadar menyakiti hati istri kamu sendiri. Meskipun kamu belum bisa mencintainya, tapi kamu tidak punya hak untuk menyakiti dia dengan terus memikirkan wanita lain. Mungkin tak akan jadi masalah, kalau hal ini tidak di ketahui oleh Sandra. Tapi kalau sampai dia tahu kalau suaminya masih terus memikirkan wanita lain, tentu saja itu akan sangat menyakiti hatinya. Jadi, ayah harap mulai sekarang berusaha lah untuk perlahan mulai melupakan wanita itu. Ayah tahu mungkin itu tidak akan mudah, tapi ayah yakin kamu pasti bisa. Ingat Nak, kamu sudah punya istri. Jadi belajarlah untuk menyayangi istri kamu meskipun itu sulit buat kamu. Jangan pernah jadi laki-laki yang suka melukai hati wanita. Karena Ayah tidak pernah mengajarkan itu sama kamu," nasihat sang ayah membuat Putra terdiam. Memang tak dipungkiri apa yang ayahnya katakan semuanya benar. Tapi untuk melupakan Atina rasanya akan sangat sulit. Bagaimana mungkin dirinya mampu menghapus nama wanita itu begitu saja, sementara namanya sudah terukir lama di hatinya.
Tok... Tok...
Mendadak ada ketukan pintu. Putra dan sang ayah serempak menoleh ke arah pintu. Keduanya saling pandang sejenak.
"Mas, buka pintunya," terdengar suara Sandra dari balik pintu. Putra pun bergegas menuju ke arah pintu.
"Ada apa San?" tanya Putra ketika pintu sudah terbuka.
"Kamu kenapa nggak keluar kamar dari tadi, Mas?"
"Aku lagi ngobrol sama Ayah,"
Lantas tak lama Ayah Putra perlahan mendekat.
"Ayah, maaf Yah. Sandra kira Ayah nggak ada disini. Sandra kesini cuma mau lihat Mas Putra karena sejak tadi nggak keluar kamar. Ternyata lagi ngobrol sama Ayah. Maaf Yah kalau kedatangan Sandra mengganggu obrolan kalian," ucap Sandra merasa tak enak kepada ayah mertuanya.
"Nggak apa-apa, Nak. Lagipula Ayah juga udah selesai ngobrolnya. Ya sudah, Ayah tinggal dulu ya, yang lain masih ada di ruang tengah nggak, San?"
"Ah, iya. Masih Yah. Mereka lagi pada asik ngobrol, ada Bu Santi juga disana," sahut Sandra.
"Ya, sudah. Ayah samperin mereka dulu," pamit sang mertua.
__ADS_1
Sandra dan Putra mengangguk pelan membiarkan sang ayah berlalu dari hadapan mereka.
Setelah sang ayah tak lagi terlihat. Keduanya langsung masuk kamar.
"Baju-baju kamu sudah aku masukkan ke dalam lemari yang sebelah sini. nanti kalau kamu mau ganti baju tinggal ambil saja di lemari itu," tunjuk Putra ke arah lemari yang terletak bersisian dengan ranjang.
"Iya, makasih Mas karena sudah membantu merapikan semua baju-baju punya ku,"
"Iya, sama-sama. Mending kita keluar aja, San. Gabung sama yang lain. Nggak enak kalau hanya di kamar," ajak Putra.
"Kebetulan kalian sudah kemari. Baru juga mau Mama panggil buat makan siang. Tadi Bu Santi sudah selesai masak. Ayo, kita makan siang bersama-sama," ajak mama Sandra kepada anak dan menantu nya ketika melihat mereka baru saja muncul.
Suasana di meja makan sangat hangat, sesekali mereka bercanda bersama. Putra juga mencoba untuk menutupi kesedihannya dengan ikut bercanda kepada kedua mertua dan juga kedua orang tuanya. Meskipun hati dan pikirannya tidak berada di tempat itu, tapi ia mampu mengendalikan diri untuk tidak menampakkan perasaan yang tengah ia rasakan di hadapan keluarga besarnya.
"Mas, kamu mau makan pakai lauk apa, biar aku ambil'kan??" tawar Sandra ketika ia baru saja melihat sang suami menuangkan satu centong nasi ke atas piring.
"Iya, Mas," jawab Sandra singkat. Ia merasa senang mendapat perhatian dari sang suami.
Melihat interaksi yang begitu manis antara Putra dan Sandra membuat kedua orang tua mereka tampak tersenyum simpul. Terlihat raut kebahagiaan terpancar di wajah mereka melihat sang anak saling perhatian satu sama lain.
Setelah puas melihat rumah sang anak. Kedua orang tua Putra dan juga kedua orang tua Sandra berpamitan untuk pulang.
"Put, Ayah dan Ibu pulang dulu ya? Kalian baik-baik disini. Kalau butuh sesuatu, kalian jangan sungkan untuk minta tolong pada kami," ucap Ibu Putra memeluk anak dan menantu nya.
"Tolong jaga anak Mama dan calon cucu Mama dengan baik ya, Put. Jangan biarkan Sandra melakukan pekerjaan berat. Karena kandungannya masih muda, masih sangat rawan," sambung mama Sandra memberi pesan kepada sang menantu.
__ADS_1
"Iya, Ma. Putra pasti akan jagain mereka berdua dengan baik," sahut Putra.
"Ya sudah. Kami pulang dulu, ya,"
Putra dan Sandra menatap mobil kedua orang tua mereka sampai mobil tak terlihat lagi.
"San, Mas mau keluar dulu bentar. Kamu masuk duluan ya?"
"Mau kemana, Mas? Lama nggak??"
"Mau bertemu pemilik lama rumah ini. Cuma mau ngucapin terima kasih. Karena dia sudah membantu menyiapkan segala sesuatunya untuk rumah ini,"
"Ya, sudah. Tapi jangan lama-lama ya, Mas."
"Kamu mau nitip sesuatu nggak. Biar sekalian aku bawain kalau pulang??"
"Mm... Kayaknya nggak deh, Mas. Aku lagi nggak pengen apa-apa."
"Yaudah. Mas pergi dulu. Kamu mending masuk kamar buat istirahat. Atau kalau bosan, kamu ajak ngobrol saja Bu Santi, biar kamu nggak kesepian,"
"iya, Mas."
Sebenarnya selain untuk menemui temannya, Putra berniat ingin melewati rumah Atina. Entah kenapa, rasa rindu dalam hatinya tak lagi terbendung. padahal baru tadi ia diberi nasihat oleh sang ayah untuk tidak lagi memikirkan wanita lain selain istrinya. Tapi sepertinya Putra belum bisa mengikuti semua yang ayahnya bilang. Entah sampai kapan Putra bisa melupakan Atina. Yang pasti untuk saat ini sepertinya akan sangat sulit melakukan itu. Hatinya terlalu kuat mencintai wanita itu. Pasti akan butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa menghilangkan rasa cinta dalam hati seorang Putra.
Putra melajukan mobil menuju alamat rumah Atina. Dia tidak berniat untuk mengunjungi rumah itu. Dia hanya sekedar lewat saja, demi bisa mengobati rasa rindu nya kepada Atina. Hanya dengan melihat rumah wanita itu sudah mampu mengobati rasa rindu yang bersarang di hati Putra.
__ADS_1
Ketika mobil itu sudah dekat dengan rumah Atina. Putra sengaja memperlambat laju mobil miliknya, guna memperhatikan secara seksama ke arah rumah sang pujaan hati.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tak disangka, ketika menatap ke arah rumah itu, Putra melihat sang pujaan hati tengah berada di teras rumahnya. Wanita itu terlihat tengah sibuk menyiram tanaman dengan mulut komat kamit seperti tengah bersenandung. Melihat itu, Putra pun menghentikan mobil nya di seberang rumah Atina. Dia menatap ke arah wanita itu dengan senyum mengembang. Pemandangan seperti inilah yang sangat ia nantikan. Melihat wanita yang ia cintai tampak begitu bahagia. Andai setiap saat dia bisa melihat senyum dari wanita itu, betapa beruntungnya dia.