Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 52 Cemburu


__ADS_3

Atina merasa dilema dengan hubungannya sama Melvin. Haruskah ia mengakhiri hubungan itu demi kebahagiaan Chessy. Toh percuma juga menjalin hubungan yang nantinya hanya akan kandas juga.


Mumpung perasaan yang Atina rasakan belum terlalu dalam sama Melvin, mungkin sebaiknya diakhiri dari sekarang adalah pilihan yang tepat sebelum semuanya akan menjadi sulit. Cinta yang baru bersemi pasti akan lebih mudah di hilangkan daripada cinta yang telah lama terpatri dalam hati.


Hari ini selepas mengajar, Atina memutuskan untuk menemui Melvin disuatu tempat yang sudah mereka rencanakan. Sebuah taman kota yang mana terdapat banyak penjual kuliner berjejer rapi di sepanjang jalan trotoar sekeliling taman. Atina memilih duduk di bangku taman yang terdapat pohon hijau menjulang. Tapi terlebih dulu ia memesan dua minuman dalam kemasan botol yang ia beli untuk dirinya sendiri dan yang satu untuk Melvin. Sesekali Atina menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum jam menunjukkan angka tiga sore. Itu tandanya ia sudah menunggu Melvin hampir setengah jam lamanya. Atina terlihat tenang dan tak menunjukkan wajah kesal meskipun yang dia tunggu belum juga muncul. Ketika tengah asik menatap sekeliling taman yang kebetulan banyak anak-anak kecil tengah main sepedaan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendekat ke arahnya.


"Permisi Mbak. Boleh aku tanya sesuatu??" Tanya laki-laki berparas rupawan itu.


"Iya, mau tanya apa Mas??"


"Boleh aku duduk dulu disebelah sini??" pemuda itu meminta izin sembari menunjuk bangku kosong tak jauh dari Atina duduk.


"Iya boleh aja. Silahkan Mas." Seru Atina mempersilahkan laki-laki itu duduk tak jauh dari posisinya duduk.


"Gini Mbak. Aku tuh dari SMG. Ke kota ini karena dapat undangan dari teman lama. Nah, karena kebetulan aku belum pernah ke kota ini jadi aku belum begitu tau jalan Mbak. Mbak tau nggak kira-kira alamat rumah ini?? " tanya pemuda itu sembari menyodorkan selembar surat undangan pernikahan ke hadapan Atina. Atina meraih undangan ini, sejenak ia membaca alamat yang tertulis dalam undangan itu. Tak sengaja ia membaca nama kedua mempelai pengantin yang namanya tercantum jelas dalam undangan.


"Putra dan Sandra??" pekik Atina membuat pemuda tadi langsung menatap ke arah Atina.


"Mbak kenal dengan Putra??" Raut wajah sang pemuda langsung terkejut.


"Iya, Kenal. Mas Putra teman aku Mas. Dia ngajar ditempat yang sama denganku. Aku sih tau alamat rumahnya. Tapi, aku sama sekali belum pernah ke rumahnya sih Mas. Hanya tahu alamatnya saja."


"Owh gitu. Berarti Mbak juga di undang dong ke pernikahan Putra." Atina menganggukkan kepala.


"Panggil aku Atina saja Mas. Jangan panggil Mbak. He-he," seru Atina. Pemuda itu lantas mengulurkan tangannya.


"Kenalin, namaku Anjas. Kita tadi belum sempat kenalan 'kan??" tanpa ragu Atina langsung membalas uluran tangan pemuda itu.


"Aku Atina. Salam kenal juga Mas Anjas. oh ya, mengenai alamat Mas Putra. Sebaiknya Mas Anjas langsung hubungi saja orangnya. Kalau aku yang ngarahin, takutnya malah nyasar. Karena aku sendiri belum pernah main ke rumah Mas Putra." Usul Atina.


"Dari tadi udah coba aku hubungi Tin, tapi nggak di respon. Mungkin Putra lagi sibuk." Sahut Anjas.


"Mmm... gimana ya. Oh, bentar Mas. Aku hubungi temenku dulu. Beliau ini selain rekan kerja juga tetangga Mas Putra. Bentar ya, aku telepon orangnya."


"Duh... maaf ya Tin. Jadi ngerepotin kamu."

__ADS_1


"Udah, nggak apa-apa. Nggak ngerepotin kok." Beberapa saat, Atina terlihat tengah berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. Anjas yang duduk tak jauh dari Atina hanya sesekali melirik ke arah wanita itu.


"Mas Anjas. Tadi aku dah izin sama temenku untuk ngasih nomor dia ke Mas. Aku kirim nomornya sekarang ya. Nanti Mas bisa tanya sama dia pas lagi mau otw ke rumah Mas Putra. Biar dia yang ngarahin jalannya. Atau paling nggak biar dia sharelok langsung lokasi rumah Mas Putra ke WA Mas Anjas." Terang Atina.


"Oh, iya. Baik Tin. Kirim aja nomornya. Makasih ya, udah bantuin. Aku jadi nggak bingung lagi nanti."


"Ehem...!!!" Mendadak Melvin sudah berada di belakang Atina. Tatapan matanya mengarah ke Atina lantas ke arah Anjas.


"Ma-Mas Melvin. Mas udah lama disitu?? Ayo duduk sini Mas." Ucap Atina dengan raut wajah terkejut. Ia kaget tiba-tiba Melvin sudah ada dibelakangnya ketika ia tengah mengobrol dengan Anjas.


"Dia siapa??" Melvin langsung bertanya tanpa memperdulikan ajakan Atina yang menyuruhnya untuk duduk. Pandangan mata Melvin menyiratkan kecemburuan.


"Ah, iya. Kenalin Mas, dia Mas Anjas. Aku baru kenalan sama dia disini Mas. Tadi itu dia tanya Alamat rumah Mas Putra. Itu loh, temanku sesama Guru di sekolah tempatku mengajar. Kamu masih ingat 'kan Mas dengan Mas Putra??"


"Hmm... iya, ingat. Ingat banget malah!!" Tegas Melvin seolah menahan amarah dari nada bicaranya. Tegas dan tanpa senyum sedikitpun.


"Tin, sebaiknya aku permisi dulu ya. Maaf sudah menganggu waktu kamu tadi. Aku pamit dulu ya. Makasih juga udah kasih info ke aku. Permisi, mari Mas..." Seakan bisa membaca pikiran Melvin. Anjas bergegas pergi dari situ. Ia merasa tidak enak karena kehadirannya membuat seseorang salah paham. Atina hanya mengangguk pelan ketika Anjas berpamitan kepadanya. Sementara Melvin, jangan ditanya lagi bagaimana respon laki-laki itu. Dingin dan sangat kaku, tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Yang terlihat justru malah sebaliknya. Mungkin dia cemburu karena melihat Atina tengah ngobrol berduaan dengan laki-laki asing ketika dirinya baru saja sampai. Badan letih karena selesai kerja, berharap dengan bertemu Atina, segala kepenatan dan lelah dari badanya akan sirna seketika. Namun, justru pemandangan lain yang harus ia saksikan. Pemandanga yang mampu mengobarkan api cemburu dalam hatinya.


"Mas. Kok berdiri saja. Ayo sini duduk." perintah Atina. Ia heran kenapa kekasihnya itu sedari tadi hanya berdiri saja. Tanpa kata, Melvin langsung duduk disebelah Atina.


"Kamu udah lama ngobrol sama laki-laki itu?? Sejak kapan? Kenapa juga harus kenalan segala? Apa kamu bosan nungguin aku dari tadi sampai-sampai kamu mau-maunya diajakin kenalan sama laki-laki lain, hmm??" wajah datar itu tercetak jelas. Tak ada senyum yang terlihat dari diri Melvin.


"Mas marah ya karena tadi aku ngobrol sama Mas Anjas??"


"Menurut kamu??" sela Melvin tegas.


"Maaf Mas. Kamu jangan salah paham sama aku. Tadi tuh, Anjas cuma tanya alamat Mas Putra aja kok, nggak lebih??"


"Tanya alamat tapi ngajakin kenalan segala. Apa-apaan itu. Modus lama kok masih digunain aja di jaman sekarang. Dasar laki-laki nggak kelas. Lagian, di taman ini banyak orang. Bukan kamu saja, kenapa dia malah tanyanya sama kamu, bukan sama yang lain. Nooh... Kamu lihat sendiri 'kan Tin, banyak orang disini. Kayaknya laki-laki tadi memang sengaja deh deketin kamu. Sok-sok'an tanya alamat segala. Padahal sih hanya modus saja!!" Melvin meluapkan kekesalannya. Bukan kesal sih, mungkin lebih tepatnya cemburu. Laki-laki itu memang tidak bisa menahan rasa cemburunya meskipun kadang cemburunya itu terlalu berlebihan.


Kalau sudah begini, Atina hanya bisa diam sejenak. Membiarkan kekasihnya itu meluapkan semua emosi dalam dirinya. Ketika sudah mulai tenang, baru ia akan mengajaknya bicara.


Atina mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Ketika tak sengaja matanya menatap ke arah penjual es buah. Seketika timbul niat dalam diri Atina untuk membelikan kekasihnya itu Es buah. Pikirnya dengan minum Es, siapa tahu bisa mendinginkan hati Melvin yang tengah berkobar karena cemburu.


Ditariknya tangan Melvin yang tengah ngomel sedari tadi.

__ADS_1


"Hey, mau kemana. Nggak tau apa kalau aku lagi marah!!" tak sengaja Melvin sedikit berteriak ketika tiba-tiba Atina langsung menarik tanganya.


"Udah, Mas diem aja. Nanti juga Mas akan tau sendiri kita akan kemana." Tegas Atina. Akhirnya tanpa perlawanan, Melvin pun mengikuti kemana Atina membawanya.


"Pak, pesan es campurnya satu. Banyakin es batunya ya Pak biar dingin maksimal!!" Seru Atina, ia dan Melvin langsung duduk di bangku panjang yang tersedia.


"Baik Mbak. Ditunggu sebentar." Sahut bapak penjual Es.


Tak butuh waktu lama, pesanan Atina datang juga.


"Ini Mbak pesanannya. Udah tak lebihin es batunya."


"Makasih Pak!!"


Melvin menatap Atina dengan tatapan heran.


"Nggak usah ngeliatin aku kayak gitu juga kali Mas," cetus Atina agak mendelik di hadapan Melvin.


"Ngapain kamu bawa Mas kesini?"


"Loh, kok ngapain sih. Mas nggak lihat aku lagi pegang apa ini??"


"Ya aku tau Tin. Maksud aku, kenapa kamu ngajakin aku beli Es kalau kamu pesannya cuma satu doang."


"Ya karena aku emang sengaja mesenin kamu Es campur ini, hanya untukmu Mas. Udah, sekarang buka mulut kamu Mas. Biar aku suapin kamu."


"Tanpa protes, Atina langsung menyuapkan es kemulut Melvin."


"Gimana. Adem kan??" Tanya Atina.


"hmmm." Sahut Melvin. Sepertinya ia menikmatinya.


"Udah enakan perasaan Mas sekarang. Udah nggak marah lagi 'kan sama aku??"


"Masih dikit!!" seru Melvin. Refleks Atina langsung mencubit pinggang Melvin

__ADS_1


"Aduuuh duuh... Kok nyubit sih!!" Protes Melvin meringis kesakitan.


"Rasain. Habisnya Mas nyebelin sih dari tadi. Udah datangnya lama. Eh sekalinya datang malah marah dan cemburu nggak jelas gitu." Atina manyun membuat Melvin seketika tertawa. Ia tak bisa menahan tawa melihat wajah lucu sang kekasih.


__ADS_2