
Hari ini, Atina sedikit terlambat berangkat mengajar. Karena, semalaman ia tidak bisa tidur entah karena mikirin apa.
Dengan mengendarai motor yang lumayan kencang, Atina menuju sekolah. Tak butuh waktu lama, akhirnya ia pun sampai depan gerbang sekolah. Memasuki halaman sekolah, Atina dibuat terkejut dengan banyaknya rangkaian bunga yang biasa digunakan untuk ucapan selamat. Tapi, yang membuat Atina membelalakkan matanya adalah karena tulisan dalam rangkaian bunga itu tentang dirinya.
"Selamat Atas kesuksesan anda merebut laki orang Bu Atina(PELAKOR)"
Beberapa siswa siswi berkerumun di depan rangkaian bunga itu. Bahkan, ada sebagian orang tua murid yang mengantar anaknya ke sekolah terlihat tengah berada di sekitar karangan bunga itu, sepertinya mereka sudah membaca apa yang tertulis di sana. Tatapan sinis dari para orang tua murid tertuju pada Atina yang kala itu baru memasuki area sekolah.
Dengan langkah tergesa, Atina bergegas masuk ke ruang Guru. Sampai di dalam, semua guru telah berkumpul.
"Tin, itu di luar banyak banget karangan bunga yang ditujukan untuk kamu. Apa benar yang tertulis di karangan bunga itu, kalau Bu Tina adalah Pelakor?" Belum juga sempat duduk, Atina sudah di suguhi pertanyaan yang menyakitkan dari Bu Tia, rekan sesama Guru.
"Biarin Atina duduk dulu Bu Tia. Bu Tia ini nggak sabaran banget udah keburu nafsu mau tanya macam-macam ke Atina. Lagi pula, aku juga nggak terlalu percaya dengan yang tertulis di karangan bunga itu. Atina nggak mungkin berbuat seperti itu 'kan??" sergah Bu Fitri mencoba membela Atina.
" Namanya juga udah penasaran banget Bu Fit. Jadi, nggak sabar pengen tau kebenarannya dari Bu Atina langsung sebagai pihak yang tertuduh," tambah Bu Tia tak mau kalah.
Tiba-tiba Pak Hisyam masuk ke ruangan.
"Bu Tina, kamu dipanggil Pak Kepala Sekolah. Suruh ke ruangan beliau sekarang." Ucap Pak Hisyam Guru TU.
Dengan lemas, Atina yang baru saja duduk, bangkit lagi. Lantas ia berlalu dari hadapan Bu Fitri dan Bu Tia.
Sementara, Bu Fitri dan Bu Tia menatap prihatin kepergian Atina.
__ADS_1
"Silahkan duduk Bu Atina!!" Perintah Pak Kepala Sekolah yang bernama Pak Dikin.
" Iya Pak."
"Langsung saja ya Bu Tina. Pasti Ibu sudah tahu bukan, Kenapa Saya memanggil Ibu kemari??" Tanya Pak Dikin dengan wajah serius.
Atina hanya bisa menganggukkan kepala.
"Bisa kasih penjelasan kepada saya tentang karangan bunga di depan?"
Dengan memberanikan diri dan menguatkan hati, Atina berusaha memberi penjelasan kepada Pak Dikin.
"Saya juga nggak tau Pak, kenapa bisa ada kiriman karangan bunga ke sekolah ini dan yang lebih parahnya, semua tulisan yang tertera di sana berisi fitnahan semua. Apa yang tertulis itu tidaklah benar Pak. Saya tidak ada hubungan dengan laki-laki manapun sampai saat ini Pak. Apalagi hubungan dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan. Jelas tidak mungkin Saya lakukan. Saya ini seorang Guru Pak. jadi, saya berusaha menjaga sikap saya, baik disekolah, maupun di dunia luar sekolah." Jelas Atina dengan tegas.
Pak Kepala Sekolah manggut-manggut sejenak mendengarkan ucapan Bu Tina. Lalu, tiba-tiba Pak Dikin menyodorkan ponselnya ke arah Atina.
"Silahkan, Bu Atina Putar video di ponsel Saya itu." Suruh Pak Dikin.
Atina langsung meraih ponsel di depannya dan segera melakukan apa yang Pak Dikin perintahkan.
Video di putar, respon pertama Atina tentu saja kaget luar biasa. Mata Atina melotot dengan mulut menganga menyaksikan apa yang ada dalam video itu.
"Kurang ajar, ini pasti kerjaan Sandra, mantan tunangan Mas Putra!!" tebak Atina ketika melihat video yang berisi dirinya tengah di labrak Sandra ketika tengah makan malam berduaan dengan Putra.
__ADS_1
"Gimana Bu Tina. Apa ibu juga punya penjelasan mengenai video tersebut??" Tanya Pak Dikin, ketika melihat Atina menyudahi nonton video di ponsel beliau.
Atina kembali meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Video itu memang benar Pak, bukan rekayasa. Tapi, apa yang wanita itu tuduhkan kepada saya tidaklah benar. Disitu, saya cuma lagi makan berdua sama Pak Putra, Pak. Beliau ngajakin saya makan di situ. Sayangnya, wajah Pak Putra tidak kelihatan dalam video itu. Tapi, kalau Bapak kurang percaya, Bapak bisa tanyakan langsung sama beliau. Saya makan berdua dengan beliau juga hanya sebatas teman kerja saja Pak. Tidak lebih!!" Tegas Atina, merasa marah dengan fitnahan ini.
"Baiklah, saya tampung penjelasan dari Bu Atina. Bu Atina tahu, kejadian seperti ini sangat mencoreng citra sekolahan ini. Apalagi kasus seperti ini sangatlah sensitif sekali. Entah benar atau tidaknya, tetap saja sangat berpengaruh negatif ke depannya. Maka dari itu, untuk meredam berita ini, sebaiknya selama satu minggu, Bu Atina saya liburkan dulu untuk mengajar. Biar tugas Ibu di gantikan dengan Guru lain untuk sementara waktu. Saya harap Bu Atina mau menerima keputusan yang saya ambil ini." Apa yang Pak Kepala Sekolah ucapkan, jelas membuat Atina sedikit kecewa. Bagaimana mungkin, Pak Dikin langsung membuat keputusan begitu cepat tanpa mau mengkonfirmasi dulu sama Pak Putra yang jelas-jelas ada kaitannya dengan karangan bunga di depan sekolah. Tapi, apa boleh buat, keputusan sudah di ambil, jadi tidak mungkin kalau di tarik kembali. Dan untuk saat ini, Atina lebih memilih mengikuti dulu apa yang sudah Pak Dikin Putuskan. Untuk rencana kedepannya seperti apa, Ia akan pikirkan nanti.
"Sebenarnya Saya kecewa Pak dengan keputusan yang Bapak ambil ini. Karena itu sangat merugikan saya secara pribadi. Ibaratnya, saya ini sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah di fitnah, dikasih sanksi pula atas apa yang tidak saya lakukan. Tapi, ya sudahlah. Mau tidak mau, saya harus menerima apapun keputusan yang Bapak ambil. Apa ada hal lain yang mau di bicarakan Pak? kalau tidak ada, saya ijin keluar sekarang." Ucap Atina dengan wajah penuh kekecewaan.
"Iya, silahkan. Bu Atina boleh keluar dari ruangan saya. Sekali lagi, saya minta maaf kalau keputusan yang saya ambil, membuat Bu Atina kecewa." Tanpa menjawab, Atina langsung beranjak dari ruangan Kepala Sekolah.
Ia kembali ke ruangan Guru dimana para rekan kerjanya sesama guru tengah menunggu. Sampai sekarang yang tak terlihat hanyalah Pak Putra. Entah kemana laki-laki itu.
"Tin, gimana? Apa yang Pak Kepala Sekolah katakan sama Kamu??" tanya Bu Fitri.
"Iya Bu Tin, bilang sama kami. Apa saja yang Pak Kepala Sekolah bilang. Kamu lama banget di ruangan Pak Kepala Sekolah. Apa terjadi sesuatu tadi di sana??" tambah Bu Tia yang semakin membuat semua guru terlihat semakin penasaran dan menunggu jawaban apa yang akan Atina berikan.
"Untuk seminggu ke depan, aku libur mengajar Bu Fit. Pak Kepala Sekolah yang meminta aku meliburkan diri selama 1 minggu ke depan. Itulah keputusan yang beliau ambil." Semua Guru tampak terkejut mendengar jawaban dari Atina.
"Wah, nggak bisa begitu juga dong. Itu namanya Pak Kepala Sekolah nggak adil ngasih hukuman. Bu Atina kenapa menerima saja apa keputusan Pak Kepala Sekolah. Tolak Bu, jangan mau di kasih hukuman atas perbuatan yang nggak Ibu lakukan. Aku percaya sama Bu Atina. Kalau semua ini hanya fitnah ." Dengan menggebu, Bu Fitri Lantang mengungkapkan pembelaannya untuk Atina. Sementara, Guru lain hanya bisa diam, mereka memilih jadi pendengar setia dan enggan untuk ikut campur.
"Udah Bu Fit, nggak apa-apa. Aku udah terima semua ini. Aku nitip anak-anak di kelas Bu. Kalau mereka nanyain, bilang aja aku lagi ada urusan, makanya harus libur ngajar selama seminggu ke depan." Karena Atina sendiri sudah memutuskan menerima keputusan itu. Maka , Guru yang lain hanya bisa ngasih support.
__ADS_1
"Iya, Bu Atina tenang saja. Anak-anak biar jadi urusan kami semua di sini. Yang sabar ya Bu. Tetap semangat dan jangan menyerah hanya karena perbuatan orang yang ingin menghancurkan karir Bu Atina sebagai Guru di sini." ujar Bu Fitri sembari merangkul Atina.
Setelah itu, Atina memutuskan untuk langsung Pulang ke rumahnya. Dan Ia juga harus mempersiapkan jawaban ketika orang tuanya tahu apa yang dirinya alami hari ini.