
"Pa. Apa benar Papa akan menikahi Ibu Atina?" Tanya Chessy ketika mereka baru selesai mengantar Atina pulang.
"Iya. Benar Sayang. Maaf ya, kalau Papa belum ngasih tahu kamu tentang hubungan Papa dengan Bu Atina beberapa minggu ini. Apa Chessy mau, kalau Bu Atina jadi Ibu sambung buat Chessy??" Jawab Melvin sembari tetap fokus menyetir.
Chessy hanya terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.
"Sayang, kok kamu malah diam??" Tanya Melvin lagi karena melihat Chessy tak memberi respon.
"Chessy nggak tau Pa harus jawab apa."
"Mmm... Kok gitu? Kenapa? Chessy nggak mau punya Mama kayak Bu Atina. Bukankah Chessy dulu pernah bilang, kalau Chessy sangat menyukai Bu Atina karena dia orangnya baik dan menyenangkan. chessy masih ingat 'kan ucapan Chessy itu??"
"Iya. Chessy ingat kok Pa. Bu Atina memang baik. Tapi kalau Papa sampai menikah dengan Bu Atina, giman dengan Mama, Pa. Pasti Mama akan sedih." Ujar Chessy, ia tidak tahu kalau Papa dan Mamanya sudah bercerai. Yang Chessy tahu hanya Mama Alana pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, Papa dan Mama sudah bukan suami istri lagi, Nak. Kami sudah lama berpisah. Jadi, meskipun Papa nikah lagi, itu nggak ada hubungannya sama Mama kamu, Nak."
"Jadi, Papa dan Mama nggak akan bisa bersatu lagi Pa??" Tanya Chessy dengan raut wajah sedih.
Meskipun Alana sudah pernah meninggalkan dirinya. Tapi, tetap ia adalah Mama kandung Chessy yang selama ini ia rindukan. Rasa kecewa Chessy tidaklah sebesar rasa rindunya pada sang Mama. Setelah kedatangan Mamanya kembali, dalam hati gadis itu berharap kalau suatu saat nanti dirinya dan kedua orang tuanya akan berkumpul lagi seperti keluarga pada umumnya. Mempunyai orang tua yang utuh, itulah impian Chessy dari dulu.
Tapi, ketika mendengar Papanya berniat menikahi Bu Atina, membuat Chessy bingung. Dia tidak tahu, apa harus mendukung niat Papanya itu atau justru menolaknya.Chessy akui, Atina adalah orang baik, dia bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang Gurunya itu. Tapi, tetap saja sebaik apapun Bu Atina. Dia tetaplah orang lain. Berbeda dengan Alana, meskipun dia pernah jahat terhadap Chessy dan Papanya, tetap saja dia adalah Mama kandung Chessy. Orang yang akan selalu punya keterkaitan dengannya dimanapun ia berada dan dalam keadaan apapun, hubungan darah tentu akan lebih kuat.
"Iya Sayang. Papa nggak mungkin bersama Mama kamu lagi Nak. Maafkan Papa ya."
Hening, baik Melvin maupun Chessy terdiam, tak ada lagi percakapan diantara keduanya.
__ADS_1
Hingga mobil itu memasuki pekarangan rumah. Chessy masih terdiam. Ia langsung keluar dari mobil. Dan tanpa menunggu Papanya turun, gadis itu bergegas masuk ke dalam rumah.
"Chessy, kamu udah pulang Nak. Papa mana??" Tanya Bu Rumana yang tengah duduk didepan televisi.
"Lagi di teras Nek. Chessy masuk kamar dulu ya Nek. Mau ganti baju dulu." Seru sang cucu dengan wajah murung. Sang Nenek pun menatap heran ke arah Cucunya.
"Itu kenapa Chessy, pulang jalan-jalan bukannya sumringah tapi malah kayak murung gitu wajahnya." Gumam Bu Rumana menatap kepergian sang Cucu sampai tak terlihat lagi di balik pintu kamar.
"Assalamu'alaikum Bu." Ucap Melvin langsung mencium tangan Ibunya.
"Waalaikumsalam. Vin, kamu duduk dulu sini. Ada yang mau Ibu tanyakan." Bu Rumana langsung menarik tangan anaknya untuk lekas duduk disamping beliau.
"Ada apa sih Bu. Melvin ganti baju dulu aja gimana Bu." Tepis Melvin berusaha berdiri lagi.
"Udah, nanti saja. Ibu juga cuma bentaran doang tanyanya." Cegah sang Ibu.
"Ada apa Bu. Ibu mau tanya apa??"
"Ibu tadi perhatiin, Chessy kok kayak murung gitu wajahnya. Kenapa Vin, bukankah kamu baru ngajakin dia jalan-jalan 'kan. 'Kan seharusnya dia senang dong, kenapa wajahnya malah berkata lain gitu. Apa ada yang terjadi tadi?? Coba kamu cerita sama Ibu sekarang juga ya. Ibu pengen tau Chessy kenapa. Tidak biasanya dia kayak gitu kalau habis kamu ajakin jalan-jalan keluar." Bu Rumana langsung memberondong Melvin dengan sederet pertanyaan sekaligus.
Melvin menghela napas panjang, kedua tangannya ia letakkan di kepala.
"Ceritanya panjang Bu. Tapi yang pasti semua ini berawal dari pertemuan kami dengan Alana secara tak sengaja di Mall Bu." Jawab Melvin.
"Alana!! Apa dia bikin ulah lagi sama kamu dan Chessy Vin??"
__ADS_1
"Ya, kurang lebih seperti itu Bu." Sahut Melvin setengah-setengah membuat Bu Rumana terlihat gregetan sendiri.
"Aduh Vin. Kalau cerita jangan setengah-setengah gitu napa. Bikin orang penasaran saja. Udah buruan kamu ceritakan semuanya secara detail sama Ibu ada kejadian apa setelah tak sengaja kamu dan Chessy bertemu Alana di Mall."
"Iya, iya Bu. Tapi nanti saja ya ceritanya. Melvin mau ganti baju dan mandi dulu. Lengket banget ni badan Bu. Udah nggak betah aku."
"Huuft!! Yaudah sana cepetan. Nanti kalau sudah selesai buruan kesini lagi. Ibu tunggu kamu disini. Nggak usah lama-lama ya." Akhirnya Bu Rumana pun mengalah. Ia mengizinkan anaknya untuk mandi dan ganti baju duluan. Untuk beberapa menit kedepan, Bu Rumana harus menahan rasa penasarannya itu untuk sementara waktu menunggu Melvin kembali lagi kesitu.
Bu Rumana lanjut menonton televisi sembari menunggu sang anak selesai mandi. Tapi gara-gara rasa penasarannya yang tinggi, membuat beliau tidak bisa fokus sepenuhnya dengan tayangan yang ada di depannya.
Beberapa menit kemudian, Melvinpun kembali menghampiri sang Ibu. Bu Rumana yang sedari tadi tengah rebahan langsung bangkit melihat kedatangan sang anak.
"Gimana. Udah selesai. Ayo sekarang duduk. Ceritakan sekarang sama Ibu." Dengan tak sabaran, Bu Rumana langsung menyambar tangan Melvin.
"Pelan-pelan kali Bu. Nggak usah narik tangan Melvin juga kali." Sungut Melvin. "Lagian sabar dikit kenapa sih. Ibu ini nggak sabaran banget, heran. Ini juga Melvin kesini karena emang mau cerita sama Ibu." Protes Melvin. Bu Rumana nampak salah tingkah sendiri dengan sikapnya barusan.
"Kamunya sih kelamaan dari tadi." Ucap Bu Rumana.
Lantas Melvin pun menceritakan semuany kepada sang Ibu. Ia juga menceritakan tentang hubungannya dengan Atina.
"Kenapa baru bilang sama Ibu sih Vin kalau kamu menjalin hubungan sama Atina. Ibu juga nggak bakalan larang kok. Malah ibu setuju kalau kamu dan Atina bersama. Tapi dengar cerita dari kamu, sepertinya Chessy justru malah ingin kamu kembali sama Alana Vin. Buktinya ia seperti murung gitu ketika kamu bahas pernikahan dengan Atina. Ibu jadi kasihan sama dia Vin. Ibu hanya berpesan sama kamu Vin. Tolong utamakan kebahagiaan anak kamu diatas kebahagiaanmu sendiri. Jangan sampai keputusan yang kamu ambil tidak mempertimbangkan perasaan Chessy Vin."
"Jadi maksud ibu, Melvin harus kembali lagi sama Alana kalau Chessy nggak setuju aku menikah dengan Atina Bu? Ibu 'kan tau sendiri betapa bencinya Melvin sama wanita itu, bagaimana mungkin Melvin akan kembali lagi sama dia Bu. Nggak akan mungkin Bu."
"Ibu nggak bilang kamu harus kembali sama dia kok. Ibu hanya bilang, kalau apapun yang akan kamu lakukan nanti, jangan sampai membuat Chessy terluka. Udah gitu aja. Intinya kamu itu harus pelan-pelan gimana caranya agar Chessy mau mengerti dan memahami semua keputusan yang nantinya akan kamu ambil. Kalau perlu, Atina juga harus bisa membujuk Chessy agar mau menerima dirinya sebagai Mama sambung Chessy nanti."
__ADS_1
Melvin terdiam. Ia membenarkan apa yang Ibunya katakan barusan. Sebagai orang tua, Ia tidak boleh egois hanya mementingkan kebahagiaannya saja. Putrinya juga berhak bahagia, jadi sebisa mungkin apa yang akan membuat Chessy bahagia pasti akan Melvin lakukan kecuali kalau untuk bersatu lagi dengan Alana. Untuk satu hal itu, Melvin tidak akan pernah mau melakukan itu walaupun misal Chessy langsung yang memintanya. Sepertinya, jalan untuk bisa menikah dengan Atina tidak akan mulus seperti yang ia pikirkan. Ia terlebih dulu harus mendapat restu dari sang anak yang sepertinya lebih berat ke Alana dibanding dengan Atina.