
Perkataan Chessy terus terngiang dalam benak Atina. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan gadis itu. Biar bagaimana pun Chessy punya hak untuk memilih mana yang terbaik untuk dirinya dan kedua orang tuanya. Mungkin dengan tidak memaksakan diri terhadap hubungan yang baru seumur jagung dengan Melvin adalah cara terbaik untuk saat ini. Atina tidak mau melukai hati seorang gadis kecil meskipun ia harus mau mengorbankan perasaannya sendiri.
"Tin, melamun aja sih. Ada apa?? Apa ada masalah??" tanya Bu Yeni menghampiri Putrinya yang tengah duduk didepan televisi tapi pandangan matanya kosong menatap ke arah berlawanan.
"ah, eh Ibu. Atina nggak ngelamun kok." Jawabnya berusaha menutupi apa yang tengah ia pikirkan dari Ibunya. Seorang Ibu mempunyai insting yang sangat kuat, apalagi kalau sudah menyangkut anaknya.
"Jangan bohong. Ibu tau, pasti kamu lagi ada masalah 'kan sampai membuat kamu melamun seperti itu. Ayo cerita sama Ibu apa yang terjadi, Tin?? Siapa tau Ibu bisa ngasih solusi dari masalah yang sedang kamu hadapi."
Atina berpikir sejenak, ia bingung apa harus menceritakan semuanya sama sang Ibu ataukah biar saja semua yang menimpanya ia hadapi sendiri. Beberapa saat Atina masih menimbang-nimbang akan hal itu. Sampai akhirnya, ia pun memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada sang Ibu, setidaknya agar ia tidak salah dalam mengambil keputusan dan sang Ibu bisa ngasih solusi yang terbaik.
Atina menceritakan semua dari awal ia berhubungan dengan Melvin. Ia juga menceritakan dirinya dan Melvin mempunyai hubungan yang bisa dikatakan pacaran selama beberapa minggu yang lalu kepada Ibunya. Tak lupa yang terakhir, ia juga cerita tentang Chessy, anak dari kekasihnya itu yang keberatan menjadikan dirinya sebagai Ibu sambung karena gadis itu masih berharap Papa dan Mamanya kembali bersatu seperti dulu. Bu Yeni terlihat mendengarkan secara seksama apa yang Atina ceritakan tanpa sedikit pun ia menyela ucapan Atina.
"Jadi, menurut Ibu apa yang harus aku lakukan? apa aku sebaiknya mengakhiri hubungan ku dengan Mas Melvin saja atau gimana Bu??" Atina meminta pendapat dari sang Ibu.
"Jangan dulu Tin. Sebaiknya kamu bicarakan dulu sama Melvin tentang perihal keinginan putrinya itu. Lalu kamu lihat bagaimana pendapat dari Melvin. Dengarkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Kalau masih ada cara lain untuk bisa membujuk putrinya itu, nggak ada salahnya untuk dicoba dulu. Namanya anak kecil, pasti apa yang mereka inginkan bisa saja sewaktu-waktu berubah. Hari ini pengen A, besoknya bisa saja berubah pengen B. Kecuali kalau ada pengaruh dari pihak lain yang membuat Chessy tetap kekeh pada pendiriannya." Ujar Bu Yeni.
"Maksud Ibu pengaruh dari pihak lain gimana?" tanya Atina masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Ibunya barusan.
"Ya mungkin saja mantan Istri Melvin itu masih menginginkan untuk bisa kembali pada Melvin lagi sehingga ia menjadikan Chessy sebagai jembatan agar bisa memuluskan niatan itu. Ya gitu, dengan membujuk Chessy agar bisa membuat Papanya mau kembali lagi sama sang Mama. Bisa jadi 'kan gitu. Namanya anak kecil, kalau di pengaruhi seperti itu ya pasti akan langsung nurut, apalagi yang nyuruh mama kandungnya sendiri." Ungkap Bu Yeni. Atina terdiam, ia berpikir apa mungkin ini semua perbuatan Alana. Apa wanita itu yang telah membuat Chessy tidak menginginkan dirinya. Tapi, mana mungkin Alana berbuat sejauh itu. Ya, walaupun ia tahu bahwa wanita itu sepertinya tidak menyukai dirinya, hal itu jelas terlihat ketika ia dan Melvin tak sengaja bertemu dengannya di Mall kemaren. Ucapan dan pandangan mata Alana sangat jelas terlihat, betapa wanita itu tidaklah menyukai kehadirannya dalam kehidupan Melvin dan juga putri mereka.
__ADS_1
"Tapi apa mungkin mbak Alana melakukan semua itu Bu?? Atina kok agak ragu. Bisa jadi ini memang murni keinginan Chessy sendiri Bu. Anak itu dari dulu belum pernah merasakan kasih sayang Mamanya. Dan begitu tahu mama kandungnya masih hidup, jelas dia sangat antusias untuk selalu bisa berdekatan dengan Mamanya itu." sahut Atina berusaha berpikiran positif terhadap Alana.
"Ya, Ibu hanya berasumsi saja Tin. Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi, bisa saja tidak. Yang terpenting, seperti yang Ibu katakan barusan. Kamu sebaiknya ngomong berdua sama Melvin. Apa langkah yang tepat untuk masalah kalian ini. Jangan memutuskan sesuatu secara sepihak. Itu hanya akan membuat orang terluka. Bukan hanya kamu, tapi juga Melvin. Ibu hanya bisa bantu doa, semoga semua masalah yang kamu hadapi akan ada jalan keluar terbaik. Kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh, pasti masalah apapun yang menimpa kalian, tidak akan mampu memisahkan kamu dan juga Melvin. Begitu pula sebaliknya, kalau kalian memang ditakdirkan tidak berjodoh, jangankan masalah yang besar, masalah sekecil ujung kuku pun akan mampu membuat kalian berpisah. Yang harus kamu lakukan adalah berdoa dan juga berusaha untuk mengatasi masalah yang ada. Untuk hasilnya nanti seperti apa, serahkan semuanya sama Allah. berusaha saja dulu, untuk hasil biarkan sang pemilik kehidupan yang menentukan." Nasehat Bu Yeni membuat hati Atina lebih adem, seakan beban di pundaknya berkurang separuhnya.Ia bersyukur memiliki Ibu yang punya pemikiran yang bijaksana. Sehingga mampu membuat dirinya lebih berhati-hati dalam mengambil sikap atas semua permasalahan yang tengah menimpanya.
Tiba-tiba ponsel Atina berdering, ada panggilan masuk dari nomor Putra tertera di layar. Atina langsung meraih ponsel yang ia letakkan di sebelahnya.
"Bu, aku angkat telepon dulu ya." Pamit Atina kepada sang Ibu. Bu Yeni menganggukkan kepala. Lantas Atina memilih beranjak masuk ke dalam kamarnya.
"Hallo, Mas Putra!!"
[Hallo Tin. Kamu lagi apa? Aku ganggu nggak ya?] sahut putra dari sambungan telepon.
"Mas, halo Mas Putra. Apa kamu masih ada disana??" karena tak ada jawaban dari Putra, Atina pun kembali memastikan dengan menyapa putra dari sambungan telepon.
[Ah, iya Tin. Aku masih disini kok].
"Syukurlah. Kirain kamu ngilang. Habis dari tadi aku ngomong, Mas nggak menyahut."
[He-he, Maaf. Makasih ya untuk doanya. Maaf tadi pagi aku hanya bisa nyuruh orang untuk nganterin undangan ke sekolah buat kamu dan semua guru. Seharusnya 'kan aku sendiri yang nganterin.]
__ADS_1
"Nggak masalah Mas. Kami juga ngerti, pasti Mas Putra lagi sibuk-sibuknya ngurusin persiapan nikahan Mas Putra.
[Tin. Apa kamu bahagia aku menikah dengan wanita lain. Ah, maksud aku menikah dengan Sandra.]
"Ya jelas aku ikut bahagia dong Mas. Akhirnya Sandra bisa memiliki kamu seutuhnya. Bukankah itu yang selama ini ia inginkan? Dan pastinya kamu juga bahagia 'kan Mas dengan pernikahan ini. Sekali lagi selamat ya Mas. Aku dan semua Guru pasti akan hadir di pernikahan kamu Mas."
[Iya, Tin. Aku juga bahagia kok. Apalagi kalau menikahnya sama kamu. Aku pasti akan jauh lebih bahagia, karena kamu adalah wanita pertama yang aku cintai dan bahkan mungkin akan menjadi wanita satu-satunya yang ada di dalam hatiku, Tin]. Ujar Putra namun hanya dalam hatinya.
"Halo Mas Putra. Masih stay disitu 'kan??"
[I-iya Tin. Aku masih disini kok. Makasih ya Tin untuk semuanya. Makasih untuk doa baik yang kamu berikan kepadaku. Aku telepon kamu setidaknya sedikit mengurangi rasa kangen aku sama kamu, Tin. Eh, bukan hanya kamu tentunya, tapi kangen sama semua Guru di sekolah. Karena mungkin setelah pernikahan ini, aku nggak bisa ngajar lagi di sekolah, Tin.]
"Loh, kok gitu. Memang nya kenapa Mas. 'Kan kamu belum lama ngajar di sekolah. Kok udah mau resign aja sih. Apa nggak sayang Mas. Terutama sama anak-anak. Mereka pasti akan sedih kalau tau Mas Putra nggak bisa lagi ngajar di sana."
[Iya Tin. Sebenarnya aku juga berat memutuskan ini. Tapi, ayah menyuruh aku untuk melanjutkan usaha beliau ketika aku sudah menikah. Beliau ingin aku bisa memberi kehidupan yang baik untuk istriku nantinya. Beliau takut kalau aku masih menjadi Guru, aku tidak bisa mensejahterakan istriku. Sebenarnya aku juga sangat nyaman dengan profesi ku sebagai Guru Tin. Tapi aku juga nggak bisa membuat ayah kecewa misalkan aku menolak keinginan beliau.]
"Owh gitu. Iya juga sih, kalau orang tua yang minta. Kita sebagai anak mau nggak mau sebisa mungkin menurut asal semua yang beliau minta tidak hal-hal yang dilarang. Ya sudah Mas. Apapun keputusan kamu, aku sebagai teman, hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik buat kamu dan juga keluarga kecilmu nantinya. Aku dan para Guru pasti akan sangat kehilangan kamu, Mas."
"Iya, aku juga pasti akan kangen sama masa-masa yang sudah aku lewati sama kalian beberapa bulan ini. Walaupun singkat, tapi aku bersyukur bisa mengenal kalian semua. Aku tunggu kedatangan kalian ya. Nitip salam untuk semua Guru di sekolah Tin. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Maaf udah nyita waktu kamu Tin. Assalamualaikum!]
__ADS_1
"Iya Mas. Nanti aku sampaikan salam dari kamu. Waalaikum salam Mas."