
Putra kembali ke rumah dalam keadaan kacau pikirannya. Ia benar-benar tidak menyangka kehidupan akan membawanya sampai ke titik ini. Kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan akan menghampiri dirinya. Suatu keadaan yang tak pernah ia inginkan sama sekali.
"Put, kamu darimana? muka kamu kusut banget gitu. Habis ngapain sih? Ibu kira kamu lagi di kamar tadi??" Suara Bu Vika, Ibu dari seorang Putra menatap sang anak dengan rasa penasaran.
"Bu, ini... Aku habis keluar sebentar ada urusan penting. Aku nggak apa-apa kok Bu. Ya sudah, aku ke kamar dulu ya Bu. Mau istirahat sebentar."
"Ya, baiklah. Nanti jangan lupa makan. Ibu tadi udah masak." Ujar sang Ibu. Meskipun di rumah beliau ada ART, namun untuk urusan makanan, beliau lebih suka memasak dengan tangannya sendiri. Ia akan meminta ART masak kalau beliau lagi sakit atau ada urusan penting di luar.
"Iya Bu."
Putra menuju kamarnya. Seketika tubuhnya ia jatuhkan ke ranjang. pandangan mata menerawang ke langit-langit kamar. Ucapan demi ucapan yang Sandra lontarkan tadi masih begitu jelas di ingatannya. Bukan hanya pikiran yang tak tenang, tapi hati juga merasa tak nyaman. Benar-benar kondisi yang sangat ia benci. Diambilnya ponsel dalam saku celananya. Buka galeri foto, klik foto seorang wanita yang tengah tersenyum membuat siapa saja yang memandangnya akan merasa nyaman. Ya... Hanya itulah satu-satunya obat yang mampu mendinginkan kekalutan pikirannya saat ini. Dengan menatap foto Atina yang ia ambil secara diam-diam itu seakan mampu menyalurkan energi positif dalam diri Putra.
"Andai kamu yang akan jadi pendamping hidupku, Tin. Pasti aku akan jadi orang yang paling bahagia di dunia ini." Gumam Putra masih terus fokus menatap potret Atina di ponselnya.
Tak lama, ia terlelap dengan memeluk ponsel yang berisi potret wanita yang sangat ia cintai, yaitu Atina.
...***************...
"Gimana San. Kamu sudah ketemu sama Putra??" Tanya Mama Sandra ketika melihat anaknya sudah pulang.
__ADS_1
"Sudah Ma." Jawab Sandra singkat.
"Terus apa jawaban dari laki-laki itu. Apa dia mau bertanggung jawab dengan menikahi kamu??"
"Iya. Mas Putra bersedia menikahi aku Ma. Tapi ia meminta waktu beberapa hari untuk ngomong sama kedua orang tuanya. Ya sudah, aku kasih waktu aja sama dia 3 hari Ma. Setelah itu, dia harus segera menikahi aku sebelum perut ini makin membesar."
"Baguslah kalau dia mau bertanggung jawab. Nanti Mama akan kasih tahu Papa kamu."
"Tapi Ma ... Kalau Papa tau sekarang, apa malah nggak tambah kacau nantinya Ma. Kalau Papa tau bahwa Mas Putra yang sudah menghamili Sandra, bisa-bisa Papa marah dan bahkan bisa saja Papa main kasar sama Mas Putra Ma. Mama ingat 'kan gimana reaksi Papa dulu ketika Mas Putra tiba-tiba memutuskan hubungan pertunangan secara sepihak. Betapa murkanya Papa waktu itu. Sandra saja ngeri liatnya Ma."
"Udah, kamu tenang aja. Mama bisa mengatasi itu. Mama jamin, Papa akan bisa mengontrol emosinya nanti."
"Iya, Mama tau apa yang harus Mama lakukan. Sekarang mendingan kamu istirahat saja dulu. Nanti Mama akan belikan kamu susu hamil dan juga vitamin, agar kandungan kamu tetap sehat. Walau bagaimana pun, janin yang ada dalam perut kamu itu adalah cucu pertama Mama."
"Makasih ya Ma untuk perhatian Mama ke Sandra. Sekali lagi Sandra minta maaf udah bikin Mama kecewa dengan kehamilan Sandra ini. Tapi, Sandra janji, ini adalah kesalahan terakhir yang Sandra lakukan. Kedepannya, Sandra akan berusaha menjadi wanita yang lebih baik lagi Ma. Apalagi kalau Sandra sudah menikah dengan Mas Putra."
" Sudahlah. Semua juga sudah terjadi. Mau mama semarah apapun sama kamu, tetap tidak bisa membuat keadaan seperti sedia kala. Mau bagaimana lagi. Sekarang Mama hanya berusaha menerima takdir ini dengan lapang dada, dibalik semua kejadian yang menimpa keluarga ini pasti akan ada hikmah yang tersembunyi. Yang penting kamu harus sadar dan benar-benar mau merubah diri menjadi lebih baik lagi. Apapun yang Mama nasehatkan ke Kamu, sebisa mungkin kamu dengarkan, jangan abai terhadap nasehat orang tua, kamu paham 'kan maksud Mama??". Setelah mengucapkan itu, Sandra langsung menghambur ke pelukan Mamanya. Ia benar-benar tidak menyangka, setelah kesalahan fatal yang ia lakukan secara sadar, sang Mama masih mau merangkulnya bahkan memberi support kepadanya. Dalam hati Sandra merasa sangat bersalah kepada wanita yang tengah ia peluk itu. Biar bagaimanapun, apa yang terjadi padanya, itu semua karena bentuk obsesinya kepada seorang Putra, dengan mengatasnamakan cinta, Sandra bahkan rela melakukan hal yang jelas-jelas sangat di larang agama.
Mama Sandra keluar dari kamar Putrinya untuk menemui sang suami guna membicarakan tentang ayah dari janin dalam perut Sandra. Beliau akan menceritakan semua kepada suaminya dengan pelan. Dan beliau juga akan menceritakan tentang Putra yang mau bertanggung jawab menikahi putrinya nanti.
__ADS_1
"Gimana Ma. Kamu udah berhasil membuat anak itu mengaku siapa laki-laki brengsek yang sudah menghamilinya??" Tanya Papa Tio melihat kedatangan Istrinya itu.
"Kita duduk dulu ya Pa. Mama akan ceritakan semuanya kepada Papa. Tapi Papa harus janji satu hal, nggak boleh marah apalagi pakai kekerasan dalam menghadapi masalah ini. Papa mau 'kan janji dulu sama Mama nggak akan mengedepankan emosi Papa??"
"Apaan sih Ma. Tinggal bilang aja langsung apa susahnya sih, pakai acara janji-janji segala. Lagipula wajar kalau Papa sampai emosi melihat kenyataan Putri kita melakukan hal yang sangat memalukan. Masa iya, Papa harus senang, ya nggak mungkinlah. Gila kali kalau Papa sampai seperti itu!!" Sungut Papa Tio. Belum apa-apa beliau sudah menunjukkan sikap emosinya di hadapan sang Istri.
"Ya sudah, kalau Papa tidak mau janji. Mama nggak akan cerita sama Papa!!" ultimatum dari sang Istri membuat Papa Tio akhirnya menyerah. Ia ikuti saja apa maunya Mama Sandra tersebut.
"Iya, oke!! Papa janji nggak akan emosi ataupun bersikap kasar sama laki-laki itu. Sudah nih, Papa sudah janji. Sekarang Mama cepetan kasih tau Papa siapa orang itu. Jangan kelamaan!!"
Mama Sandra yang bernama Qonita itu langsung menceritakan semua perihal yang ia tahu di hadapan sang Suami. Awal Qonita menyebut nama Putra, seketika itu mimik wajah Papa Tio langsung memerah menahan amarah, kedua tangannya mengepal kuat. Kalau saja ia tak berjanji kepada Istrinya untuk tidak emosi, mungkin meja kaca yang ada di depannya akan remuk seketika dihantam tangan kekar beliau. Orang tua mana yang tak akan emosi mendengar kalau laki-laki yang sudah menghamili putrinya adalah orang yang dulu pernah menyakiti Sandra dengan cara memutuskan pertunangan secara sepihak. Pastilah seorang Tio akan marah besar mengetahui kenyataan itu.
"Putra sudah setuju untuk bertanggung jawab sama anak kita Pa. Jadi, Mama harap, ketika bertemu Putra nanti Papa jangan sampai berbuat hal yang justru akan merugikan Putri kita Pa.Papa pasti tau 'kan maksud Mama ini??" Ujar Qonita kepada Tio. Yang di ajak bicara hanya diam tak bergeming sama sekali.
"Pa...!! Kok malah diam sih. Papa dengerin nggak sih apa yang Mama omongin barusan!!" Seru Qonita kepada sang Suami dengan nada suara yang nyaring.
"Iya, iya... Papa dengar. Nggak usah keras-keras juga ngomongnya Ma. Bikin telinga Papa sakit aja dengar suara cempreng Mama!!" Cetus Tio membuat Mama Qonita memelototkan matanya ke arah sang Suami.
Mungkin benar apa yang Istrinya bilang, selama Putra punya itikad baik mau bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat kepada Putrinya, dirinya harus menghargai itu dengan tidak membuat masalah yang justru hanya akan mengacaukan segalanya. Beliau harus bisa menahan emosi dalam dirinya dan juga harus berusaha legowo. Meskipun dalam hati kecil Tio masih tersimpan amarah kepada laki-laki itu, sebisa mungkin beliau harus menahan nya agar amarah itu tidak meluap tanpa bisa di kontrol.
__ADS_1