
1 bulan kemudian....
"Kurang ajar. Bilang sama Papa, siapa yang sudah berani menghamili kamu, San!!!" Bentak Papa Sandra yang bernama Tio. Sandra tertunduk dengan muka merah dan tangan bergetar melihat kemarahan sang Papa yang dianggapnya sangat menyeramkan.
"Kenapa kamu diam saja San. Jawab apa yang Papa kamu tanyakan. Kamu nggak tuli 'kan!!" imbuh sang Mama dengan nada lantang mencoba menginterogasi anaknya yang sedari tadi masih memilih diam.
"Kamu benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarga ini, Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk jadi wanita murahan, San. Tapi apa sekarang, kamu bahkan sampai hamil di luar nikah. Mau ditaruh dimana muka Papa kalau sampai semua orang tau hah!! Kamu tuh mikir dulu kalau mau ngelakuin sesuatu. Sekarang juga jawab pertanyaan Papa. Siapa yang sudah menghamili kamu. Jawab!! jangan cuma diam saja!!" Bentak Pak Tio dengan amarah tak tertahankan.
Sementara sang Mama hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak menyangka, anak satu-satunya yang ia jaga dengan baik malah dengan tega melemparkan kotoran di wajahnya. Raut kekecewaan nampak sangat jelas tergambar di wajah beliau.
"A-aampun Pa. Ma-maafkan Sandra sudah bikin Papa dan Mama kecewa." Hanya itu yang mampu sandra ucapkan.
"Papa nggak butuh maaf dari kamu. Papa hanya mau kamu bilang, siapa laki-laki brengsek yang sudah lancang menghamili kamu. Jawab Papa, siapa laki-laki itu. Papa akan buat perhitungan sama dia!!" Karena sudah tidak mampu menahan amarahnya. Pak Tio langsung mencengkeram bahu sang anak secara kasar.
"Pa, sabar Pa. Jangan bersikap kasar seperti itu. Biar bagaimana pun, Sandra anak kita Pa." Cegah sang Istri mencoba menyadarkan suaminya yang terlihat mulai bersikap kasar sama sang anak.
"Bagaimana Papa bisa sabar Ma. Menghadapi anak tidak tau diri ini. Karena kebodohannya itu membuat keluarga kita harus siap menanggung malu Ma. Mama mikir nggak sampai kesitu?"
__ADS_1
"Iya, Mama tau Pa. Tapi nggak harus pakai kekerasan juga Pa. Sekarang lepaskan tangan Papa. Biar Mama yang akan bicara sama Sandra."
"Terserah kamu. Nih... urus anak sialan ini!!" Tubuh Sandra didorong sang Papa lumayan keras ke arah istrinya. Untung sang Istri langsung tanggap sehingga Sandra tidak sampai terjatuh ke lantai.
Papa Tio lantas pergi keluar rumah. Dibantingnya pintu cukup keras sehingga membuat Sandra dan Mamanya berjingkat kaget.
"Ayo duduk dulu." Mama menggandeng sandra menuju sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Sekarang bilang jujur sama Mama. Siapa ayah dari anak yang kamu kandung, Sandra. Tolong jawab pertanyaan Mama." Dengan sedikit menurunkan intonasi suaranya, beliau berusaha membuat sang anak mau mengaku.
"Ma-mas Putra Ma, ayah dari bayi ini." Jawab Sandra terbata. Ia langsung menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Mamanya.
"Kamu tidak sedang membohongi Mama 'kan, San?? Apa benar ayah dari anak yang kamu kandung itu adalah Putra??" Tanya Mama sekali lagi untuk benar-benar memastikan. Ia bahkan sangat sulit untuk percaya akan hal ini.
"Benar Ma. Sandra nggak bohong. Sandra ngelakuinnya hanya sama Mas Putra. Jadi, tentu saja anak ini jelas anak Mas Putra Ma."
"Ya ampun Sandra... Kenapa kamu bodoh banget jadi wanita. Mau-maunya nyerahin kehormatan kamu kepada laki-laki yang bukan suami kamu, ditambah laki-laki itu sama sekali nggak mencintai kamu. Sekarang, kalau sudah seperti ini siapa yang malu. Bukan hanya kamu yang malu Sandra, tapi Mama dan Papa juga akan malu."
__ADS_1
"Maafin Sandra Ma...."
"Sekarang juga kamu telepon laki-laki itu. Suruh dia datang kesini sekarang juga. Ayo cepat, telepon dia!!"
"I-iyaa Ma...." Sandra mengambil ponselnya, ia tekan nomor Putra, 1 menit, 2 menit tak ada jawaban. Bahkan sampai 10 menit justru panggilan terputus dengan sendirinya. Ia coba kembali klik tombol panggil ke nomor Putra. Nihil, tetap saja tak ada jawaban.
"Gimana, San. Nggak diangkat juga sama Putra. Apa mungkin dia sengaja menghindar. Makanya ia tak angkat telepon dari kamu." Ujar Mama Sandra dengan raut wajah agak kesal.
"Nggak tau Ma. Apa mungkin Mas Putra lagi ngajar kali Ma. Jam segini 'kan biasanya ia belum balik dari sekolah Ma. Nanti aja ya Ma teleponnya. Nunggu Mas Putra Pulang dari ngajar Ma."
"Ck... Yaudah terserah kamu. Tapi lebih cepat lebih baik. Kalau perlu Mama akan samperin kerumahnya sekarang juga buat ngasih tau kedua orang tua Putra. Agar mereka tau gimana kelakuan anak laki-laki mereka."
"Jangan Ma. Biarkan Sandra bicara dulu sama Mas Putra. Aku pengen tau gimana reaksinya kalau aku kasih tau tentang kehamilan ini. Kalau Mas Putra mau tanggung jawab. Biarkan dia yang ngasih tau kedua orang tuanya Ma. Pliis... ya Ma, jangan gegabah. Biarkan Sandra nyelesain masalah yang Sandra buat ini sendiri. Sandra beneran minta tolong sama Mama. Jangan ngelakuin hal yang justru membuat Mas Putra marah Ma." Panjang lebar Sandra membujuk Mamanya untuk tetap tenang dan tidak bertindak gegabah.
"Ya. Terserah kamu. Mama cuma mau semua ini diselesaikan secepatnya sebelum perut kamu tambah besar. Mama malu San. Ini nih, kenapa Mama selalu cerewet ngingetin kamu, membatasi pergaulan kamu. Itu untuk apa coba. Semua itu demi kebaikan kamu juga. Tapi ... Nyatanya Mama tetap saja kecolongan. Anak semata wayang Mama malah hamil di luar nikah. Ini benar-benar memalukan." Lagi, kekecewaan Mama Sandra ia luapkan semua tepat dihadapan Putrinya itu.
Meskipun dengan raut sedih yang Sandra tunjukkan di hadapan kedua orang tuanya, nyatanya dalam hati kecil ia bersorak gembira. Karena apa, semua yang ia harapkan sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Sandra tau seperti apa Putra, laki-laki itu menurut pandangan matanya adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah ia perbuat. Berstatus sebagai tunangan Putra selama hampir satu tahun membuat Sandra sedikit banyak tahu bagaimana kepribadian Putra yang selama ini ditunjukkan pada Sandra. Dengan mengatakan berita tentang kehamilannya, Sandra sangat yakin bahkan seratus persen begitu yakin kalau Putra pasti akan bertanggung jawab dengan janin dalam perutnya. Itu artinya, dapat dipastikan, lambat laun Putra pasti akan menikahinya. Bukankah itu tujuan awal Sandra rela menjadi wanita murahan dihadapan laki-laki itu hanya demi bisa memuluskan keinginannya untuk bisa bersatu dengan orang yang ia cintai. Meskipun dengan mengorbankan kehormatan dirinya sebagai wanita, tapi semua sebanding dengan hasil yang akan Sandra dapat nantinya. Segila itu seorang Sandra dalam bertindak. Demi cinta, ia korbankan hati kedua orang tuanya. Melempar kotoran tepat di muka Mama dan Papa yang selama ini begitu menjaga agar putri satu-satunya dalam keluarga itu tidak salah dalam bergaul dan melangkah.
__ADS_1
"Aku nggak masalah kalau harus hamil diluar nikah kayak gini. Yang terpenting, dengan kehadiran calon bayi di rahimku, akan membuatku bisa memiliki Mas Putra seutuhnya. Yes... Akhirnya sebentar lagi impianku akan terwujud. Aku nggak peduli dengan omongan orang nantinya. Yang aku pedulikan hanya gimana agar aku bisa mengikat Putra agar nggak pernah lagi berpikir untuk meninggalkan aku sampai kapanpun." Batin Sandra dengan binar mata penuh obsesi untuk menguasai hidup Putra nantinya.
Mama Sandra memilih beranjak pergi menuju kamarnya. Beliau terlihat frustasi dengan kejadian yang menimpa putrinya. Tubuh tiba-tiba merasa lemah seakan tak bertenaga. Tidak mau terjadi sesuatu yang fatal, beliau memutuskan untuk mengistirahatkan badannya sejenak, setidaknya agar pikirannya yang kalut bisa kembali fres sehingga beliau bisa memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan untuk Sandra dan juga laki-laki yang sudah menghamili putrinya itu. Yang pasti beliau tidak akan gegabah dalam mengambil sikap.