Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 39 Mencoba Menghubungi


__ADS_3

"Jadi Papa selama ini udah bohongin Chessy. Tante ini beneran Mama kandung chessy Pa?" Tanya chessy, kini mereka bertiga tengah berada di ruang privat sebuah kafe ternama di kota PKL.


"Maafkan Papa Nak. Semua Papa lakukan untuk menjaga perasaan kamu. Papa nggak mau kamu sampai tahu kalau Mama kamu sengaja pergi ninggalin kamu sewaktu masih bayi. Kamu bisa tanyakan langsung sama Mama kamu, kenapa dia dulu ninggalin kamu gitu aja." Jawab Melvin. Pandangan matanya mengarah ke Alana yang tengah terisak di sebelah sang anak. Mendengar jawaban Papanya, Chessy langsung memandang lekat ke arah Alana.


Dengan mengumpulkan kekuatan dan kesiapan yang matang, Alana berusaha menjelaskan kesalahan apa yang dulu ia pernah lakukan kepada Chessy dan juga mantan suaminya itu.


"Maafkan Mama Chessy. Mama telah melakukan kesalahan sama kamu dan Papa kamu. Demi kesenangan lain, Mama sampai tega ninggalin kamu sewaktu masih bayi dulu. Mama salah Nak, kamu boleh hukum Mama apa aja chessy, asal kamu mau maafin kesalahan Mama dan mau mengakui saya sebagai Mama kandung kamu." Dengan terisak, Alana berusaha meminta maaf kepada putri satu-satunya yaitu Chessy.


Terlihat Chessy hanya bisa menangis sedih mendengar kenyataan tentang Mama kandungnya yang dengan tega pergi meninggalkan dirinya ketika ia masih sangat butuh kasih sayang seorang ibu.


"Kenapa baru sekarang Tante nemuin Chessy, kenapa nggak dari dulu. Apa Tante tau, betapa menderitanya Chessy nggak punya Mama. Melihat temen chessy yang tiap hari dianter sekolah sama Mama mereka, kadang bikin chessy sedih. Kenapa hanya chessy yang nggak bisa ngerasain gimana senangnya bisa punya Mama."


"Maafkan Mama chessy. Semua salah Mama sehingga membuat Chessy menderita. Tapi, Mama janji setelah ini, Mama akan memperbaiki semua kesalahan yang sudah Mama lakukan sama kamu. Mama nggak akan pernah ninggalin kamu lagi Nak. Mama akan selalu ada buat chessy asal chessy mau memaafkan Mama. Chessy mau kan memaafkan kesalahan Mama??"


Chessy hanya terdiam, tak sedikitpun ia menatap ke arah Alana.


"Pa, chessy mau pulang sekarang. Chessy nggak mau ada disini." Ucap chessy, ia lantas berdiri dihadapan papanya.


"Chessy yakin mau pulang sekarang??" Tanya Melvin


Chessy hanya menganggukkan kepala. Sepertinya gadis kecil itu sangat shock dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Mungkin butuh waktu buat chessy untuk menerima semua kenyataan tentang mama kandungnya yang ternyata tega meninggalkan dirinya ketika masih bayi. Meskipun chessy masih sekolah SD, tapi ia sudah cukup paham dengan apa yang menimpa kehidupannya. Hanya saja dia butuh waktu lebih untuk bisa menerima semua ini.


"Chessy jangan pergi dulu Nak. Biarkan Mama ada di deket chessy. Mama sangat merindukan kamu sayang. Maafkan semua kesalahan Mama." Alana berusaha mencegah kepergian anaknya. Ia bahkan bersimpuh dihadapan sang anak dengan deraian air mata. Chessy tak bereaksi, ia tetap diam sambil terisak.

__ADS_1


"Sudah cukup Alana!! Beri chessy waktu. Kamu nggak boleh memaksa chessy seperti itu!!" Hardik Melvin, merasa geram dengan sikap egois mantan istrinya itu.


"Mas, tolong bilang sama chessy agar dia mau memaafkan kesalahanku Mas. Jangan pergi sebelum chessy bisa maafin aku." Desak Alana, ia sama sekali tidak mengindahkan apa yang diucapkan Melvin kepadanya.


Tanpa respon, Melvin langsung membawa chessy pergi dari hadapan wanita itu.


Tubuh Alana seketika merosot ke lantai. Ia tergugu menatap nanar kepergian mantan suami dan anaknya. Ia tidak menyangka akan sesakit ini mendapat penolakan dari anaknya sendiri.


...****************...


"Loh, Vin. Kalian kok baru pulang. Kemana saja dari tadi. Ibu cemas nungguin kalian nggak juga sampai rumah. Loh... Loh... Chessy!! Kamu kenapa nangis Nak?" Seru Bu Rumana ketika melihat Anak dan cucunya baru pulang. Beliau juga merasa heran karena sang Cucu pulang dalam keadaan menangis. Tanpa mengindahkan pertanyaan sang Nenek, Chessy langsung lari menuju kamarnya.


"Ada apa Vin? Kenapa Chessy sampai nangis kayak gitu. Apa yang terjadi??" Akhirnya Bu Rum menanyakan hal itu kepada Melvin.


Melvin lantas duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya terlihat suram dan gelisah.


"Apa!! Alana ke sekolah Chessy?? Kok bisa? Terus, darimana kamu tau kalo dia kesana Vin??" Tanya Bu Rum terkejut.


"Tadi Atina yang ngasih kabar ke Melvin, Bu."


"Atina.... Atina Guru chessy yang pernah nganterin ibu pulang dari pasar itu??"


"Iya Bu."

__ADS_1


"Terus gimana Vin?"


"Gimana apanya Bu??"


"Alana dong Vin. Kamu nih pye thoo. Setelah kamu datang ke sekolah chessy, gimana reaksi Alana. Terus apa aja yang kamu omongin sama wanita itu. Apa karena ini kamu sampai telat pulang bawa chessy. Kalian darimana saja tadi??"


"Huft... Tadi Melvin ngajak Alana dan chessy ke kafe dulu Bu. Alana memaksa Melvin untuk ngasih waktu buat dia bicara sama Chessy. Karena itu, Melvin mutusin untuk bawa mereka ke kafe X dulu."


"Terus, apa yang membuat Chessy sampai nangis seperti itu. Apa Alana melakukan sesuatu sama Chessy Vin?"


"Ya, gitulah Bu. Wanita keras kepala itu terus memaksa Chessy untuk mau memaafkan dia dan mau menerima dia kembali. Tapi Melvin rasa, chessy hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang Bu."


"Kasian anak itu. Pasti dia terpukul banget dengan kejadian ini. Nanti Ibu akan coba ngomong pelan-pelan sama dia. Agar masalah ini nggak berdampak pada psikisnya. Ya sudah, mending kamu istirahat dulu aja Vin. Pasti kamu capek 'kan??"


"Nggak Bu. Habis ini Melvin mau ke kantor lagi. Masih ada kerjaan yang harus Melvin kerjakan di kantor. Nanti jam 3 juga Melvin ada Meeting Bu di luar. Kayaknya Melvin langsung pamit saja Bu, titip chessy ya Bu." Pamit Melvin langsung mencium tangan Ibunya.


"Owh gitu. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan."


Melvin pun berlalu dari Rumah menaiki mobil untuk kembali ke kantor.


"Ya ampun... Aku sampai lupa untuk ngasih kabar ke Atina. Pasti dia marah banget nih dari tadi aku sama sekali nggak ngasih kabar apa-apa sama dia. Apalagi tadi dia juga pasti sempat salah paham sama aku." Gumam Melvin sembari fokus menyetir. Lantas ia menepi sejenak untuk menghubungi Atina.


Panggilan masuk, tapi Atina belum juga mengangkat telepon dari Melvin. Mencoba sekali lagi, tetap nihil. Tidak ada jawaban dari Atina.

__ADS_1


"Ayo dong Sayang. Angkat telepon Mas. Jangan kayak gini, Tin!!" Gumam Melvin, ia merasa frustasi. Ia takut Atina akan benar-benar marah padanya sehingga hanya mengangkat teleponnya pun ia enggan. Karena sudah beberapa kali melakukan panggilan tapi tidak ada respon. Melvin memutuskan untuk kembali melajukan mobilnya. Mungkin nanti setelah semua pekerjaan di kantor selesai, ia akan kembali menghubungi kekasihnya itu. Melvin berharap, Atina tidak akan marah ataupun salah paham dengan kejadian tadi di gerbang sekolah, ketika wanita itu melihat dirinya tengah dipeluk wanita lain di depan matanya.


"Aku harap kamu nggak marah sama aku Sayang. Aku nggak mau, hubungan yang baru terjalin ini nggak baik-baik saja hanya karena kesalahpahaman."


__ADS_2