
"Darimana kamu Vin, tumben jam segini baru pulang, wajah kamu juga ceria banget seperti orang yang sedang jatuh cinta aja??" tanya ibu ketika aku baru saja masuk rumah, sekembalinya aku mengantar Atina.
"Ibu, kayak paranormal aja, sukanya nebak-nebak gitu. Lagian, Melvin ngerasa biasa aja kok Bu." Jawabku berusaha menutupi perasaan yang kini tengah aku rasakan.
"Tapi bener 'kan tebakan ibu. Atau jangan-jangan kamu baru jalan sama seorang wanita yang dulu pernah kamu ceritakan pada ibu. Itu lho, yang pernah kamu tembak tapi belum memberi jawaban apa-apa?" Nah 'kan... Ibuku ini kalau nebak sering tepat sasaran. Apa jangan-jangan ibu sebenarnya punya indera keenam, makanya suka tepat kalau menebak sesuatu. Tapi, mana mungkin juga sih.
"Mmm... ada deh?? Udah ya Bu. Melvin mau ganti baju, terus mau istirahat. Daripada Ibu nebak-nebak nggak jelas, mending sekarang juga, Ibu tidur. Jangan begadang Bu, nanti kepala Ibu akan pusing kayak tempo hari. Melvin masuk dulu ya bu." Dengan tergesa, aku langsung melangkah masuk ke dalam kamar. Sebenarnya, aku buru-buru masuk kamar agar terhindar dari interogasi Ibu. Bukannya aku tidak mau jawab jujur, hanya saja, aku merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan hubunganku dengan Atina. Lagipula, aku juga belum tau apakah atina juga punya perasaan yang sama denganku. Karena sampai sekarang pun ia belum mau memberi jawaban apa-apa.
Setelah bersih-bersih badan dan ganti baju. Kurebahkan tubuh ini ke ranjang dengan posisi telentang. Entah kenapa, malam ini hatiku merasa nyaman, enteng banget seperti tidak punya beban apapun. Apa mungkin, ini efek dari pertemuanku dengan Atina. Energi positif dari wanita itu tersalur ke tubuhku. Membayangkan wajah Atina, membuat aku kembali rindu untuk bertemu lagi. Rasanya waktu dua jam sangatlah sebentar, tau-tau udah terpisah jarak lagi seperti saat ini. Tengah asik memikirkan wanita itu, tiba-tiba ponselku berbunyi.
Triing ... triiing...
Entah siapa malam-malam telepon, ganggu orang mau istirahat saja. Dengan agak malas, kuraih ponsel yang tergeletak di atas nakas samping ranjang. Saat ku lihat di layar ponsel, tertera nomor asing memanggil. Tanpa menunggu lama, aku langsung menerima panggilan itu.
"Halo... Ini siapa??" tanyaku to the point.
__ADS_1
"Halo Mas, kamu nggak ingat dengan suaraku mas??" terdengar suara wanita dari seberang sambungan telepon. Suaranya memang tak asing di telingaku, tapi aku tidak bisa menebak, siapa pemilik suara itu.
"Ini siapa ya? maaf, aku beneran nggak tau. Ada apa telepon ke nomorku. Kalau nggak ada yang penting aku tutup sekarang!!" jawabku tegas.
"Jangan Mas, ini aku Alana Mas!!" Teriak wanita itu, membuat telingaku nyeri seketika karena suara teriakannya agak melengking.
Kenapa juga harus wanita ini yang telepon. Kenapa bukan Atina saja yang telepon, huuft... bikin bad mood saja.
"Ada apa kamu malam-malam gini telepon??"
"Tidak, aku nggak ngijinin kamu kesini ya. Jadi, jangan coba-coba ke rumah ini tanpa persetujuanku. Kamu paham?? Dan untuk masalah chessy, aku emang belum sempat menjelaskan langsung padanya, aku masih nunggu waktu yang tepat. Ku harap kamu bisa lebih bersabar lagi."
"Sampai kapan Mas, aku harus terus menunggu. Bukankah dua minggu udah terlalu lama ya, kenapa kamu masih minta waktu lagi. Sebenarnya kamu beneran akan mempertemukan aku dengan chessy nggak sih Mas. Atau jangan-jangan ini cuma alibi kamu aja, agar aku nggak nekat temui anak kita secara langsung, benar begitu 'kan Mas niatanmu sesungguhnya??"
"Tidak usah mencurigai aku tanpa bukti. Kalau emang kamu niat mau ketemu chessy, ikuti saja apa yang aku katakan. Kalau kamu nggak mau dengerin apa yang aku katakan, jangan harap aku akan ngijinin kamu ketemu dengan chessy!!"
__ADS_1
"Chessy anakku juga Mas, aku berhak untuk ketemu sama dia. Aku ini ibu kandungnya Mas, kamu jangan lupa akan hal itu. Baik, aku akan kasih waktu kamu tiga hari lagi Mas. Kalau dalam tiga hari kamu nggak kasih kabar apapun padaku, jangan salahkan aku kalau aku akan datangi chessy ke sekolahnya. Dan aku juga akan bilang semua kenyataan ini, bahwa aku, ibu kandungnya masih hidup sampai detik ini!!"
Kurang ajar, wanita ini berani-beraninya mengancamku. Tanpa salam, aku langsung menutup panggilan telepon darinya.
Benar-benar wanita tidak tau diri. Dulu, dia sendiri yang tega meninggalkan anaknya untuk kabur dengan laki-laki lain. Sekarang, setelah laki-laki itu mencampakkanya, ia kembali datang memohon-mohon untuk bertemu chessy dengan dalih karena kangen. Kenapa ia harus hadir kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Kehadirannya benar-benar menyusahkan hidupku saja. Kalau di suruh memilih, mending ia lenyap saja dari dunia ini, sehingga aku tidak perlu lagi melihat wajahnya.
Sebenarnya aku enggan mempertemukan putri ku dengan wanita itu, tapi kalau aku larang, bisa-bisa ia nekat nantinya. Jadi, untuk saat ini aku harus mempersiapkan diri untuk bilang jujur sama putriku, apa yang selama ini aku rahasiakan dari dirinya.
Karena sudah hampir larut malam, aku memutuskan untuk segera tidur, agar besok tidak telat bangun. Karena pagi-pagi ada meeting penting di kantor, Dan aku harus hadir dalam meeting tersebut.
...****************...
Mantan suamiku, Mas Melvin, langsung memutus panggilan telepon dariku begitu saja. Rasanya geram dan emosi mendapat perlakuan seperti ini darinya. Aku akui, memang aku pernah salah sama dia, tapi, tak seharusnya ia bersikap kasar seperti tadi. Aku hanya meminta kepastian darinya atas apa yang sudah ia ungkapkan padaku ketika aku ke rumahnya untuk bertemu anakku. Ia bilang akan mempertemukan aku dengan chessy, tapi sampai hampir dua minggu, sama sekali tak ada kabar darinya. Sebenarnya, keinginanku bukan hanya karena kangen sama chessy. Aku ingin, dengan kembalinya aku pada putriku, itu akan membuka peluang untukku bisa kembali rujuk sama Mas Melvin. Mudah-mudahan saja chessy mau mendukungku untuk bisa bersatu lagi dengan Papanya. Dengan cara apapun, aku akan berusaha merebut kembali hati Mas Melvin. Aku ingin, ia kembali menjadi suamiku seperti dahulu. Hidupku pasti akan kembali bahagia seandainya aku bisa kembali bersatu lagi dengan Mas Melvin dan juga putriku, chessy.
"Tunggu Mama Nak. Kalau Mama dan Papa bisa bersatu lagi, Mama janji nggak akan meninggalkan kamu dan Papa seperti dulu." Gumam Alana membayangkan kebahagiaan bersatu dengan keluarga kecilnya.
__ADS_1