
Pukul dua belas tamu undangan dalam resepsi pernikahan Putra sudah semuanya pulang. Kini yang tersisa hanya petugas bersih-bersih yang sengaja orang tua Sandra sewa untuk membersihkan semua sisa-sisa pesta.
Kedua orang tua Putra malam ini akan menginap dirumah Sandra 1 malam. begitupun dengan Anjas, yang merupakan sahabat dari Putra. Ia yang awalnya berniat menginap di hotel sebelum kembali lagi ke SMG dilarang keras oleh Putra. Ia meminta sahabatnya itu untuk menginap saja meskipun cuma semalam.
"Put, sebaiknya aku tidur di hotel aja deh. Nggak enak sama mertua kamu. Masa iya aku ikutan nginap disini. Sementara aku hanya orang luar. Bukan saudara kamu. Nggak enak ah, aku pamit aja ya," kekeh Anjas dengan niatannya.
"Udah, nggak usah ngerasa nggak enak. Tadi orang tua Sandra sendiri yang nyuruh aku agar supaya kamu dan kedua orang tuaku menginap semalam disini. So, kamu nggak perlu khawatir. Udah ah sana. Masuk kamar. Tadi udah disiapin sama Mbak yang bantu-bantu disini. Sana gih...!" paksa Putra, ia mendorong bahu Anjas menuju kamar yang sudah di persiapkan untuknya. Ketika sampai depan kamar, Putra membukakan pintu. Lantas ia masuk ke kamar itu diikuti Anjas dibelakangnya.
"Nah, ini dia kamar kamu. Udah bersih, semua juga udah disiapin. Ada camilan juga, misal kalau malam kamu pengen ngemil. Ya sudah, kamu istirahat. Aku tinggal dulu," Ucap Putra hendak beranjak dari kamar yang akan ditempati Anjas. Ketika baru sampai di pintu, Anjas langsung berlari ke arah Putra yang kala itu tengah bersiap menutup pintu.
"Tunggu Put!! Jangan pergi dulu. Aku baru ingat sesuatu. Tadi aku dapat amanah dari Atina untuk disampaikan sama kamu. Tadi ia titip salam sama kamu dan Sandra. Ia juga titip doa, semoga kamu dan Sandra langgeng pernikahannya dan diberikan kebahagiaan selalu. Tadi dia nggak bisa langsung nyalamin kamu karena mendadak katanya ada urusan penting. Aku juga nggak tau pasti urusan apa. Udah, gitu aja yang mau aku sampaikan sama kamu. Yaudah sana gih, penganten baru pastinya udah nggak sabar 'kan pengen segera berduaan, he-he," ledek Anjas dengan senyum tengil. Tapi reaksi Putra justru sebaliknya. Mendengar nama Atina, ia kembali merasa sedih. Biar bagaimanapun adanya pernikahan ini bukanlah sesuatu yang Putra inginkan. Rasa cintanya, serta hatinya sudah benar-benar terukir nama wanita itu.
"loh, Put. Kok malah melamun sih. Udah sana masuk kamar kamu. Masa iya, kamu mau tidur disini sama aku. Nggak lucu dong. Nanti ada yang ngamuk, berat!!" Seketika Putra tersadar dari lamunannya.
"Iya cerewet!! Udah macam emak-emak berdaster aja kamu." Setelah mengatakan itu, Putra langsung berlalu dari kamar Anjas. Bukannya kembali ke kamar pengantin, Putra justru menuju ke taman belakang rumah Sandra. Ia terlihat duduk di kursi dekat kolam ikan. Pandangannya menerawang membayangkan saat-saat ia mengajar di sekolah yang sama dengan wanita yang diam-diam ia sukai. Atina, Wanita yang sudah berhasil mencuri hati seorang Putra hanya dengan beberapa kali pertemuan. Pesona Atina seolah seperti sihir yang mana mampu menarik siapa saja yang sekilas memandangnya.
"Setelah ini, kehidupan ku pasti akan berubah. Tapi satu hal yang nggak akan berubah sampai kapanpun, Cintaku sama kamu Tin. Semua akan terjaga dengan baik di dalam hati. Meskipun kamu tidak pernah tau akan perasaanku ini, tapi itu sama sekali tidak membuat aku menyesal karena telah jatuh cinta sama kamu. Kamu wanita pertama yang mampu menembus tebalnya lapisan hati ini. Hanya kamu..." batin Putra, wajahnya terlihat sendu.
__ADS_1
"Mas, aku cariin dari tadi. Ternyata kamu ada disini," tegur Sandra perlahan menghampiri laki-laki yang sekarang sudah sah jadi suaminya.
"Kamu kenapa nggak tidur. Aku lagi pengen disini. Ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Ingat Sandra, kamu itu lagi hamil." Ucap Putra membuat Sandra merasa tersentuh karena ucapan Putra ia anggap sebagai bentuk perhatian kepadanya.
"Apa kamu nggak capek Mas udah seharian kita nerima tamu. Sebaiknya kita tidur yuk Mas. Masa iya, kamu biarin aku tidur sendirian??" rengek Sandra. Ia mencoba merayu Putra agar ikut dengannya ke kamar.
"Kamu duluan saja. Aku sama sekali belum ngantuk, masih mau ngadem disini," sahut Putra seketika membuat Sandra kecewa. Sebenarnya ia ingin juga menemani suaminya disitu. Tapi badan dan matanya tidak bisa di ajak kompromi. Mau tak mau terpaksa ia harus segera ke kamar untuk tidur terlebih dahulu.
"Ya sudah. Aku masuk duluan. Kamu jangan terlalu lama disini Mas. Nanti kamu bisa masuk angin," bentuk kecil perhatian Sandra kepada sang suami.
"Iya," sahut Putra singkat.
Sandra segera masuk menuju ke kamar pribadinya. Namun tak disangka, ketika akan menaiki tangga, ia berpapasan dengan ibu mertuanya.
"Loh, Sandra. Kamu dari mana malam-malam gini belum tidur?" tanya sang mertua menatapnya heran.
"Sabdra dari taman belakang Bu. Manggil Mas Putra untuk tidur. Tapi Mas Putranya lagi pengen ngadem dulu di belakang katanya. Ya sudah Sandra naik duluan mau kembali ke kamar karena udah lumayan ngantuk. Ibu mau kemana malam-malam gini?"
__ADS_1
"Putra dari tadi belu masuk kamar San," tanya beliau, Sandra hanya mengangguk. "Ya sudah. Nanti biar Ibu yang suruh Putra untuk nyusul kamu ke kamar. Ini Ibu mau ambil minum dulu di dapur, tenggorokan Ibu tiba-tiba terasa gatal. Sekarang kamu istirahat dulu , San. Nggak baik wanita hamil begadang." Suruh sang mertua.
"Iya Bu. Sandra masuk kamar dulu ya Bu." Pamit Sandra. Ia langsung berlalu menuju ke kamarnya.
Sementara itu, Bu Vita yang merupakan Ibu dari Putra menuju ke dapur untuk mengambil air putih. Beliau tengguk segelas besar air putih tanpa tersisa. setelah itu, ia berniat hendak menyusul sang anak yang kini tengah berada di taman belakang rumah.
"Putra..." panggil Bu Vita kepada sang anak.
"Ibu!! Kenapa Ibu kesini? Ini sudah malam Bu, Ibu kenapa belum tidur??" Putra terkejut melihat Ibunya datang menghampiri. Putra membiarkan sang Ibu duduk di samping tempatnya duduk.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur. Malah ngelamun sendirian disini. Apa kamu nggak capek Put?? Terus kalau sampai orang tua Sandra melihat kamu disini, nanti gimana reaksi mereka. Apa kamu nggak berpikir sampai kesitu??" Rentetan pertanyaan seketika menyerbu Putra.
"Aku cuma sebentar kok Bu disini. Tadi juga aku sudah bilang sama Sandra kalau aku akan disini sebentar, habis itu akan nyusul ke kamar. Barusan Sandra juga dari sini Bu."
"Iya, Ibu tahu. Tadi Ibu sempat berpapasan dengannya di tangga ketika Ibu hendak mengambil air minum. Sudah, mending sekarang kita masuk. Kamu harus menemani Istri mu di kamar Nak. Kamu nggak boleh ngejauhin dia. Biar bagaimana juga dia itu tengah mengandung anak kamu. Ingat Itu!! Ayo, sekarang juga kita masuk. Nggak ada penolakan." Tegas Bu Vita. Tak mau berdebat dengan sang Ibu, Putra nurut saja dengan Ibunya. Ia berjalan bersisian dengan beliau.
Sebelum masuk ke kamar, Putra memastikan dulu kalau sang Ibu sudah terlebih dulu masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Ceklek ....
Perlahan putra memutar knop pintu. Pertama yang terlihat adalah sosok Sandra yang tengah terbaring di ranjang dengan selimut menutup sampai dada. Sandra terlihat sudah tertidur pulas. Putra perlahan masuk, tak lupa ia tutup kembali pintu kamar secara perlahan agar tidak menimbulkan suara. Kini ia lebih memilih tiduran di sofa panjang