
Melihat air mata yang menetes dari seorang wanita yang merupakan belahan jiwa membuat hati Atina bergetar hebat. Wanita yang selalu memberinya kasih sayang dan cinta tulus, beliau yang tak pernah sedikit pun berkata kasar, selalu menjadi ibu sekaligus seorang sahabat untuk berbagi cerita sedih dan senang. Melihatnya kembali dalam keadaan seperti ini membuat hati seakan remuk seketika. Anakmu pulang Bu, anak gadismu ini pulang kembali. Tapi ... Anakmu ini bukanlah seorang gadis yang suci lagi seperti dulu. Anakmu ini kini sudah ternoda akibat ulah laki-laki bajingan yang tak berperasaan. Laki-laki yang juga lahir dari seorang wanita tapi mampu melukai dan menghancurkan hidup seorang wanita pula. biadab, sungguh biadab. Umpatan yang kasar pun seolah masih kurang untuk di lontarkan kepada laki-laki itu. Hanya hukuman mati yang pantas untuknya.
"Tin!! benarkah ini kamu, Nak? Ya Allah ya Robbi. Alhamdulillah... akhirnya kamu pulang juga. Ibu dan bapak sudah melakukan upaya untuk mencari mu. Tapi sama sekali tak membuahkan hasil. Sekarang, setelah melihat kamu lagi, Ibu benar-benar kaget dan sangat bersyukur. Akhirnya Allah mengabulkan doa Ibu untuk bisa membawa mu kembali pulang. Ayo masuk Tin. Bapak mu pasti senang melihat kamu sudah pulang," ujar Bu Yeni dengan kedua tangan memegang lengan Atina. Matanya sesekali meneteskan bulir bening yang bahkan sama sekali tak beliau sadari saking bahagianya bertemu kembali dengan anak semata wayang yang sudah beberapa hari menghilang tanpa kabar. Terlihat rona bahagia dari wajah beliau. Bu Yeni langsung memeluk Atina begitu erat. Pelukan hangat itu seketika menyalurkan energi positif dalam diri Atina. Ia sangat bersyukur, disaat-saat terpuruk seperti sekarang masih memiliki kedua orang tua lengkap yang pastinya akan selalu mendukung dan memberi kekuatan pada dirinya.
"Bu ... A-atina pulang. Maafkan Atina yang sudah bikin bapak dan Ibu khawatir," ujar Atina dengan tangisan yang sudah tak mampu lagi ia bendung.
"Sudah, sudah. Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu. Kamu ceritakan semua sama kami apa yang terjadi sebenarnya hingga sudah beberapa minggu kamu sama sekali tak ada kabar. Ayo kita masuk dulu, Tin." Bu Yeni merangkul Atina lantas masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, Atina dan sang ibu memilih duduk di ruang keluarga yang mana ruang itu juga merupakan ruang untuk menonton televisi.
"Kamu duduk dulu, Tin. Ibu akan ambilkan kamu minum dulu sekalian manggil bapak kamu. Pasti bapak mu lagi di belakang ngurus ikan-ikan peliharaannya," tukas Bu Yeni sembari berdiri. Atina mengangguk pelan, bu Yeni pun bergegas ke dapur untuk membuat minuman.
"Pak!! Pak!!" teriak Bu Yeni memanggil sang suami dengan suara keras.
__ADS_1
"Apa sih, Bu! Kenapa kamu teriak-teriak begitu. Kuping bapak sampai panas dengar suara cemprengmu, Bu!" sungut pak Roni sembari menatap heran ke arah sang istri.
"Atina pak! Atina!!" Bu Yeni kembali berteriak. Kali ini nama Atina beliau sebut.
"Ada apa. Atina belum ketemu, Bu. Kita sudah berupaya mencari. Tapi sampai detik ini, dia belum juga di temukan. Entah kemana menghilang nya anak itu. Bapak akan terus berusaha mencari lagi, Bu. Ibu tenang saja," sahut Pak Roni tak paham dengan maksud ucapan sang Istri. Pak Roni mungkin mengira kalau sang istri saat ini kembali kepikiran dengan Atina yang sampai sekarang belum juga di temukan.
"Bu-bukan itu maksud Ibu, Pak!"
Tentu saja hal itu langsung membuat pak Roni menatap heran ke arah bu Yeni.
Tanpa berkata apapun lagi. Dengan gerakan cepat, bu Yeni langsung menghampiri pak Roni. Ditarik nya lengan sang suami dengan cepat mengikuti langkah kakinya menuju ke arah depan rumah dimana sang anak berada.
"Apa-apaan sih, Bu. Ibu mau bawa bapak kemana? Main tarik-tarik segala. Pekerjaan bapak belum selesai lho bu??" tanya pak Roni semakin membuat beliau heran.
__ADS_1
"udah! Bapak ikut saja. Nanti juga akan tahu sendiri!" sahut Bu Yeni dengan agak kesal karena sedari tadi pak Roni tak henti-henti nya bertanya terus.
Tak selang berapa lama, seketika mata pak Roni melotot seketika ketika dirinya melihat sesosok wanita yang sangat beliau kenal tengah berdiri menatap ke arah nya dengan deraian air mata yang terus saja mengaliri pipi indah si pemiliknya. Langkah beliau mendadak berhenti demi memastikan bahwa apa yang beliau lihat benar adanya. Bukan ilusi semata.
"A-atina!! Benarkah ini kamu, Nak?!" serunya menatap tanpa berkedip ke arah sang anak. Atina hanya mengangguk pelan. Rasa rindu yang sudah menumpuk dalam dirinya seolah mampu membuat ia tak bisa berkutik lagi ketika di hadapkan dengan seseorang yang sangat ia rindukan selama ini.
Perlahan namun pasti, pak Roni langsung berhambur memeluk Atina. Tangis beliau pecah seketika ketika melihat anak semata wayangnya kini sudah kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Akhirnya kamu kembali, Tin. Kamu selama ini kemana saja. Bapak dan Ibu selalu mencari keberadaan mu tapi tak pernah sekalipun tahu kamu berada di mana." Pak Roni tak henti memeluk tubuh sang anak dengan penuh haru. Sementara itu, bu Yeni juga terlihat tengah menangis haru melihat sang suami tengah memeluk anak mereka. Sesekali bu Yeni nampak menghapus air mata yang mendadak mengalir tanpa permisi.
Setelah beberapa saat adegan kangen-kangenan antara Atina dan kedua orang tuanya usai. Atina langsung masuk ke dalam kamar pribadinya. itupun karena perintah sang bapak yang menyuruhnya untuk langsung istirahat. Beliau tak banyak tanya, seakan beliau tahu apa yang Atina butuhkan untuk saat ini. Tapi meskipun begitu, Atina tetap bertekad akan menceritakan semua yang ia alami selama ini kepada bapak dan ibu nya. Ia tak mau kalau menutupi apapun kepada mereka. Ia saat ini benar-benar butuh dukungan dari keluarganya agar ia bisa kuat menjalani ini semua kedepannya.
"Ya Allah. Tolong bantu aku agar aku mampu menceritakan kepahitan yang aku alami kepada mereka. Kuatkan aku dan juga mereka ketika tahu fakta apa yang selama ini aku dapatkan ketika berada di tangan para penjahat itu. Beri aku kekuatan dan kesabaran dalam menapaki jalanan terjal yang nantinya akan aku rasakan di kemudian hari setelah kejadian ini," doa Atina penuh harap kepada sang pencipta alam raya ini.
__ADS_1
Tak lama, ia pun terlelap dalam buaian mimpi. Raut wajah letih dan muram jelas tergambar nyata di wajah ayu nya. Rasanya dunia begitu tak adil bagi dirinya. Kenapa orang sebaik Atina harus mendapatkan cobaan seberat itu. Cobaan yang mampu memporak-porandakan hidupnya nanti.