
"Mas, kamu kenapa semalam tidurnya di sofa? Kenapa tidak tidur di ranjang sama aku. Apa kamu belum bisa menerima aku sebagai istri kamu Mas. Sampai tidur bareng saja kamu kayak enggan gitu," tutur Sandra ketika Putra baru saja selesai dari kamar mandi. Subuh tadi, Sandra terbangun karena kebelet pipis. Ketika baru membuka mata, ia tak mendapati sang suami berada di sampingnya. Sejenak ia edarkan pandangan, dan tak sengaja matanya menatap ke arah sofa, dimana sang suami tengah terlelap.
Apakah sang suami semalam memang sengaja tidur disana, kenapa ia tak tidur saja di ranjang bersama dengannya. Melihat itu, ada perasaan nyeri yang tiba-tiba menyentil hatinya. Malam pertama yang seharusnya di lalui dengan penuh kehangatan, nyatanya sama sekali tak ia rasakan. Memang, pernikahan yang Sandra jalani karena sebuah keterpaksaan dari pihak laki-laki. sementara bagi Sandra justru pernikahan itu sangatlah ia nanti-nanti. Tak ada rasa terpaksa dalam menjalani ini semua.
"Maaf San. Semalam aku nggak sengaja ketiduran di sana. Niatnya mau mainan HP saja, ternyata malah ketiduran," sahut Putra berusaha membuat alasan yang masuk akal agar Sandra tak lagi berpikiran negatif kepada dirinya. Yaa, meskipun semua yang Sandra katakan memang benar adanya. Tidur di sofa memang pilihan Putra sendiri. Entah kenapa, ia enggan untuk tidur di samping wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Adanya pernikahan ini juga akibat sebuah kekhilafan sesaat yang justru malah mendorongnya ke kehidupan yang sama sekali tidak Putra harapkan. Tapi siapa yang bisa melawan takdir, sekuat apapun manusia berusaha menghindar, tetap kekuatan sang Maha Kuasa di atas segala nya. Tak ada manusia yang mampu menentang akan kehendak sang Kuasa.
"Beneran hanya karena itu? kamu nggak sedang beralasan saja 'kan Mas??" Sandra kembali bertanya, ia tampak ragu dengan jawaban dari sang Suami.
"Ngapain juga aku bohong. Nggak ada untungnya. Udah sana mending kamu mandi, habis ini kita turun ke bawah. Pasti semua orang sudah pada nunggu kita untuk sarapan. Jangan lama-lama, aku tunggu!!" titah Putra kepada Sandra yang sedari tadi hanya duduk di tepi ranjang.
"Iya Mas. Aku mandi sekarang," sahutnya, ia berjalan menuju kamar mandi. Tak ingin sang Suami menunggu terlalu lama, hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, Sandra mengakhiri ritual mandinya.
Ceklek ... Pintu kamar mandi ia buka. Terlihat sang suami tengah main hp di sofa tempat semalam untuk tidur.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka, sepintas Putra melirik ke arah Sandra, lantas ia kembali menatap layar hp nya.
Sementara Sandra bergegas memakai baju. Ia sengaja memakai baju di dekat ranjang, ia ingin tau apakah sang suami akan melirik ke arahnya atau tidak. Tanpa malu Sandra melepas lilitan handuk yang di pakainya. Ia memilih baju dan perlahan memakai satu per satu. Sesekali matanya melirik ke arah Putra. Dan yang terjadi justru malah membuat Sandra kecewa. Putra sama sekali tak menatapnya. Jangankan menatap, melirik sejenak saja tidak. Sebenarnya Putra tadi sempat melirik ke arah Sandra. Karena tahu kalau istrinya itu mau pakai baju, secepat kilat ia mengalihkan pandangannya ke arah hp yang ia pegang. Ia hanya tak mau kalau sampai tergoda ketika melihat tubuh polos Sandra. Meskipun sudah sah menjadi suami istri. Tapi Putra menyakini bahwa menikahi wanita hamil tidaklah sah dalam agama. Jadi nanti setelah anak itu lahir, harus di adakan akad ulang agar bisa sah. Kalau saja bukan karena untuk menutupi aib, mungkin Putra lebih memilih untuk tidak menikah sekarang. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi. Pasti orang tua Sandra akan sangat menentang.
"Ayo Mas, kita turun sekarang." Ajak Sandra ketika ia baru selesai berpakaian dan juga sedikit berhias. Putra langsung berdiri dan melangkah dibelakang sang Istri.
Keduanya sampai di ruang makan. Terlihat semua anggota keluarga sudah berkumpul. Mereka duduk mengitari meja makan. Nampak Anjas juga sudah berada di sana.
__ADS_1
"Wah, pengantin baru udah nongol juga. Gimana semalam, terjaga sampai jam berapa?? Hingga bangunnya sampai kesiangan gini!!" Celetuk Anjas meledek kedua pengantin baru itu. Sandra hanya tersenyum kecut, karena nyatanya semalam tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan sang suami. Sementara Putra hanya menempelkan jarinya di bibir sebagai isyarat agar Anjas diam tak kepo lagi.
"Udah, bercandanya di lanjut nanti. Sekarang mending kita mulai sarapan. Berhubung Sandra dan Putra sudah disini," potong Mama Sandra berusaha mengalihkan candaan yang di lontarkan oleh Anjas barusan.
Mereka akhirnya makan dalam diam. Tak ada yang bersuara, yang terdengar hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring.
Anjas yang menyaksikan suasana yang kaku itu hanya menatap heran. Ia merasa pasti ada sesuatu yang terjadi diantara kedua keluarga ini.
Biasanya ketika sang anak baru menikah, pasti semua anggota keluarga tampak bahagia, senyum ceria dan juga akan terdengar riuh ledekan untuk menggoda sang pengantin. Tapi kini ... yang terjadi justru malah kebalikannya.
Tak mau ambil pusing, Anjas pun kembali melahap semua sarapan yang sudah berada diatas piring miliknya.
"Kamu yakin mau pulang sekarang Njas??" tanya Putra ketika melihat sahabatnya itu mulai berkemas. Setelah sarapan Pagi, kedua orang tua Putra langsung berpamitan pulang. Kini sekarang tinggal sahabatnya itu juga bersiap hendak pulang ke SMG hari ini.
"Iya Bro. Aku pulang hari ini saja. Masih banyak kerjaan yang udah nunggu. lagipula nggak enak juga kalau lama-lama di sini." Sahut Anjas sembari memasukkan beberapa helai baju ke dalam tas ranselnya.
"Ya sudah kalau gitu nanti aku anter kamu."
"Lah, ngapain nganter. 'kan aku bawa mobil sendiri," celetuk Anjas. Putra langsung menepuk keningnya sendiri.
"Oh, ya!! lupa aku kalau kamu bawa mobil sendiri. He-he!!" Putra hanya bisa nyengir.
__ADS_1
"Baru nikah udah jadi pelupa. Awas... Hati-hati lho, jangan sampai lupa kalau kamu udah punya istri. Bisa ngamuk istrimu kalau sampai kamu lupain!!" Cetus Anjas. Putra hanya menggelengkan kepala.
Setelah selesai berkemas, Anjas mulai berpamitan kepada kedua orang tua Sandra.
"Om, Tante. Saya pamit pulang dulu. Terimakasih sudah diizinkan buat nginep disini. Titip sahabat saya ini, meskipun agak dingin orangnya, tapi sebenarnya dia itu tipe laki-laki penyayang lho Om dan Tante," ujar Anjas dengan senyum menghiasi bibirnya. Papa dan Mama Sandra juga tak mau kalah, mereka terlihat senyum-senyum mendengar ocehan Anjas barusan.
"Kenapa buru-buru mau pulang. Ngineplah lagi disini barang 2 harian lagi. Kok malah buru-buru mau balik ke SMG??" tanya Mama Sandra.
"Iya Nak Anjas. Kami juga senang kamu mau menginap disini." Sambung Papa Sandra.
"Iya nih Om. Terpaksa harus pulang sekarang karena masih banyak kerjaan yang harus saya selesaikan Om, Tante."
"Oh gitu. Ya sudah, kamu hati-hati dijalan ya Nak," pesan Mama Sandra. Anjas mengangguk.
"San, saya pamit dulu ya," tak lupa Anjas juga menyalami Sandra.
"Iya Mas. Terimakasih ya, walaupun jauh tapi Mas masih nyempetin ke sini buat hadir di acara pernikahan kami." Sahut Sandra.
"Iya, sama-sama San. Aku senang bisa hadir di acara pernikahan kalian. Aku doakan mudah-mudahan pernikahan kalian langgeng dan lekas di beri momongan biar tambah rame karena tambah personil, he-he,"
"Amiin... Makasih Mas. Hati-hati di jalan." Sahut Sandra.
__ADS_1
Selesai berpamitan dengan semuanya. Anjas dengan ditemani Putra berjalan menuju teras rumah dimana mobil Anjas berada.
"Pamit ya Bro!! Mudah-mudahan pernikahan kamu dan Sandra selalu membawa kebahagiaan. Dan jangan lupa, kalau aku udah punya ponakan, kabari segera." Canda Anjas, mereka berpelukan sejenak sebelum akhirnya mobil Anjas melaju meninggalkan kediaman orang tua Sandra.