Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 64 Galau Berat


__ADS_3

Entah kenapa meskipun Atina sudah kembali memaafkan Melvin. Tapi dalam hatinya masih ada keganjalan yang bersarang. Tapi Atina sendiri tidak tahu, apa penyebabnya.


"Kamu kenapa, Tin??" Bu Yeni menghampiri anaknya yang tengah duduk melamun di kursi ruang tamu.


Apa sebaiknya Atina membicarakan tentang keresahan hati yang ia rasakan kepada sang Ibu. Mungkin dengan bercerita, Ibunya bisa memberi solusi yang baik.


"Entahlah Bu. Atina ngerasa gimana gitu ya, susah mau ngomongnya. Yang pasti ini soal Mas Melvin Bu." Sahut Atina, wajah yang dulu selalu ceria ketika membicarakan tentang kekasihnya itu kini seolah berbanding terbalik. Ia tampak lesu dan tak bersemangat ketika menyebut nama Melvin dalam obrolannya dengan sang Ibu.


"Memang nya kenapa dengan Nak Melvin, Tin? Kamu lagi ada masalah sama dia?" Bu Yeni balik bertanya. Atina menggelengkan kepala. "Lah, terus. Kenapa? Ada apa, coba cerita sama Ibu," sambung beliau.


"Nggak tau kenapa, semakin kesini aku ngerasa tidak semangat untuk menjalani hubungan dengan Mas Melvin. Apalagi semenjak kehadiran mantan istrinya. Ditambah dengan pengakuan Chessy yang sangat menginginkan kedua orang tuanya kembali bersama. Aku hanya ngerasa, hubungan yang aku jalani sama Melvin hanya akan berakhir sia-sia, Bu. Mantan istri Mas Melvin itu selalu cari gara-gara sama Atina, seolah Atina ini adalah wanita yang sudah merebut Mas Melvin dari dia. Padahal justru dia sendiri yang dulu meninggalkan Mas Melvin dengan laki-laki lain. Menurut Ibu, Atina harus gimana? Sepertinya, hubungan antara aku dan Mas Melvin akan selalu menemui masalah tiap waktunya. Terutama masalah yang datangnya dari Alana, mantan istri Mas Melvin, Bu. Dia itu masih ngebet banget pengen kembali lagi sama Mas Melvin, Bu." Tutur Atina dengan nada serius. Bu Yeni tampak sedikit bingung untuk memberi saran. Tapi sebagai orang tua yang sudah berpengalaman dalam menjalani berbagai masalah dalam hidup, tentu sedikit banyaknya beliau tahu bagaimana cara agar bisa tetap semangat meskipun cobaan kian mendera tanpa henti.


"Itulah salah satu resiko memiliki hubungan dengan seorang duda, yang mana dudanya karena bercerai, Tin. Pasti bayang-bayang mantan istri akan selalu menyertai tiap langkah kalian berdua. Berbeda kalau Melvin duda karena ditinggal mati oleh istrinya. Akan lain ceritanya kalau seperti itu. Tapi masalalu tetaplah hanya akan jadi masalalu Tin, belum tentu kedepannya akan kembali seperti dulu. Tugas kamu sekarang hanyalah menilai Nak Melvin saja. Dia itu laki-laki yang seperti apa, tegas kah, tak mudah goyahkah, jujur kah, dan satu lagi apakah dia laki-laki yang selalu berpegang teguh sama komitmen yang ia buat. Kalau semua sifat itu ada pada dirinya, kamu pantas untuk terus mempertahankan hubungan mu dengan Nak Melvin, Tin. Karena ketiga sifat itu sudah bisa di jadikan pondasi yang kuat dalam hubungan percintaan kalian. sekeras apapun mantan istri Melvin membujuk Melvin untuk rujuk. kalau Nak Melvinya sendiri tetap berpegang teguh dengan hubungan yang ia jalani sama kamu, pasti ia tidak akan mudah goyah sama bujukan sang mantan istri. Tapi yang jadi masalah disini adalah Chessy. Seperti yang kamu bilang tadi. Anak itu menginginkan kedua orang tuanya kembali bersama. Itu artinya dia tidak menginginkan kamu menggantikan ibunya dalam mendampingi sang Papa. Hal seperti ini sangatlah sensitif, Tin. Kita harus hati-hati dalam mengambil sikap karena ini menyangkut perasaan seorang anak. Yang mana perasaan seorang anak itu lebih sensitif dibanding orang dewasa. Ini menjadi tugas Nak Melvin untuk memberi pengertian kepada Chessy agar anak itu bisa benar-benar mengerti kalau Papa dan Mamanya tidak bisa kembali bersama seperti dulu. Harus pelan-pelan ngasih pengertian kepada Chessy agar anak itu tidak salah paham. Sekarang Ibu mau tanya sama kamu, Tin."


"Tanya apa, Bu?"


"Kalau seandainya Melvin suatu saat memilih rujuk sama mantan Istrinya, apa kamu akan ikhlas menerima semua itu, Tin?" Mendadak Bu Yeni menanyakan hal itu, tentu saja Atina mengerti kenapa sang Ibu bisa bertanya seperti itu. Dengan menghela napas panjang, Atina pun berusaha menjawab sesuai kata hatinya.


"Atina nggak masalah kalau sampai itu terjadi, Bu. Berarti Mas Melvin memang bukan jodoh untuk Atina." Jawab Atina dengan nada serius. Tak ada keraguan dalam tiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Berarti kamu nggak benar-benar cinta sama Nak Melvin dong, Tin. Buktinya tadi Ibu tanya gitu jawabnya enteng banget, kayak nggak ada beban dan rasa sedih dari raut wajah kamu," tambah Bu Yeni menatap sang anak.


"Cinta 'kan nggak harus memiliki Bu. Atina mencintai Melvin pakai logika juga Bu, bukan hanya pakai perasaan. Karena kalau mencintai seseorang hanya memakai perasaan saja, ketika cinta itu tidak bisa kita miliki seutuhnya, yang ada hanya akan bikin sakit hati yang berkepanjangan. Ujung-ujungnya hanya akan berdampak negatif sama hidup kita juga. Atina nggak mau seperti itu Bu, semua yang Atina jalani harus benar-benar Atina perhitungkan. Ketika di rasa orang yang kita cintai sangat sulit untuk kita miliki, ya sudah... lebih baik di lepaskan saja. Memaksakan sesuatu agar sesuai dengan yang kita mau hanyalah membuang-buang waktu saja, Bu. Tak ada artinya." Jelas Atina. Sementara ekspresi Bu Yeni tampak seperti tak sependapat dengan apa yang anaknya itu katakan.


"Kamu ini aneh, Tin. Dimana-mana kalau sudah cinta pasti akan di perjuangkan entah bagaimana pun caranya. Mereka tidak akan menyerah sampai cinta mereka bisa di raih. Lah, kamu sendiri malah memilih melepaskan daripada mempertahankan. Bukankah ketika kita menginginkan sesuatu harus penuh dengan perjuangan, Tin. Begitu pula dengan Cinta, juga butuh sebuah perjuangan untuk bisa memilikinya. Bukan begitu??"


"Iya, tapi kalau dirasa apa yang diperjuangkan sulit untuk di jangkau. Mending lepaskan!!" Atina kekeh dengan pendapatnya.

__ADS_1


"Nah, kalau sudah seperti itu. Jadi nggak ada alasan kamu untuk galau hanya karena memikirkan hubungan mu dengan Melvin. Kalau dirasa ia tak bisa di raih, ya sudah lepaskan saja!! Iya toh? Jadi, udah ketemu dong jalan keluar dari masalah kamu ini." Ujar Bu Yeni sembari melangkah meninggalkan Atina yang masih terbengong sendiri di sofa ruang tamu.


"Aduuh, kenapa aku jadi tambah pusing begini sih. Bingung juga, tadi aku ngomong apa aja sih sama Ibu. Kenapa aku jadi lupa sendiri." Gumam Atina, mungkin saking menumpuknya masalah yang ia pikirkan sehingga apa yang ia lakukan seolah tanpa ia sadari. Macam orang yang baru siuman dari koma yang berkepanjangan.


Tak lama Atina membuka Hp nya. Ia menuju ke galeri foto. Dilihatnya foto dirinya dengan sang kekasih. Dalam foto itu keduanya tampak bahagia, tiada pertemuan selain diiringi dengan senyuman.


"Mas Melvin. Kamu sekarang lagi ngapain?? Aku kangen banget sama kamu Mas." Gumam Atina terus memandangi wajah Melvin di layar hp miliknya.


Tengah fokus menatap foto Melvin, mendadak ada panggilan masuk ke hp Atina.


"Hah!! Mas Melvin telepon, kok bisa pas sih. Lagi di kangenin, tuh anak malah telepon," Ucap Atina terkejut. Panjang umur banget kekasihnya itu. Baru juga di bicarakan, udah nongol aja di layar Hp.


"Halo, Assalamualaikum Mas!!"


[Waalaikumsalam... Kelihatannya kamu lagi bahagia banget sepertinya, Sayang...]


[Tau dong, udah bisa ditebak dari suara kamu, renyah gitu ketika nerima telepon dari Mas]


"Ya itu tandanya, Mas lah yang bikin aku bahagia. Mas tau nggak, sebelum Mas telepon, aku lagi ngeliatin foto Mas di hp aku. Eh, nggak lama kok Mas telepon kayak tau aja kalau lagi di kangenin dari tadi!"


[Haha... wah, ternyata lagi ada yang kangen nih ceritanya. Berarti pas dong, kalau Mas telepon sekarang?]


"Yups, betul banget Mas. Ini Mas lagi ngapain??"


[Mas lagi di rumah Sayang]


"Tumben jam segini udah di rumah, Mas. Memangnya Mas udah selesai kerjanya. Biasanya Mas pulang kerja 'kan jam lima sore??"

__ADS_1


[Iya. Hari ini pulang lebih awal karena tadi nganter Ibu ke bandara, Tin]


"Lah, mau ngapain ke bandara Mas? Siapa yang mau pergi? Apa Mas mau pergi??"


[Nggak Tin. Ibu Mas yang mau pergi. Beliau katanua pengen jenguk saudara yang tinggal di malaysia, Sayang. Makanya Mas nganterin ke bandara tadi].


"Ouh, kirain Mas yang mau pergi. Jahat banget kalau pergi nggak pamitan dulu sama aku,"


[Ya, nggak lah. Aku pasti pamit sama kamu kalau mau bepergian jauh. Besok hari minggu main ke rumah Mas ya Sayang, kamu bisa 'kan. Nanti aku akan suruh supir untuk jemput kamu. Gimana? Kamu mau 'kan??]


"Mau Mas. Tapi kenapa nggak Mas aja yang jemput aku, ngapain malah nyuruh supir segala?"


[Karena Mas lagi nyiapin kejutan buat kamu di rumah, Sayang. Nggak apa-apa 'kan kalau yang jemput supir Mas?]


"Kejutan apaan sih Mas. Aku nggak ulang tahun kok?"


[Ada deh... nanti kamu juga akan tahu sendiri besok] ucapan Melvin berhasil membuat Atina penasaran.


"Ya udah. Besok pasti aku ke rumah kamu Mas. oh ya, udah dulu ya Mas. Ibu manggil soalnya."


[Oke Sayang!! I love you!!]


"Yaelah... pakai love you, love you segala. Kayak bocah yang lagi kasmaran aja kamu Mas!!" Atina geli sendiri mendengar kata-kata cinta dari Melvin.


[Hmm, nggak dibalas ya sudah]


Tak lama telepon dimatikan secara sepihak oleh Melvin.

__ADS_1


"Oalah... Mas, Mas!! Gitu aja ngambek!! Dasar!! Udah mirip bocah kamu Mas. Suka ngambekan." Rutuk Atina ngomel-ngomel sendiri.


__ADS_2